Halo!

Istana Hantu - Chapter 121

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 121

Hauw Kam tampak gelisah dan mengerang tak keruan; bukan karena kesakitan, melainkan ketakutan. Pemuda itu merasa seolah tubuhnya tidak menapak di bumi, melainkan melayang-layang di ruang hampa udara. Tentu saja, ia sangat terkejut.

Mereka berdua tidak menyadari bahwa itu adalah efek dari "sayur bergizi", dedaunan hijau segar yang mengandung semacam gas atau zat peningkat semangat. Perut yang tidak tahan akan segera bereaksi mulas, persis seperti yang dialami Hauw Kam dan suhengnya tadi. Setelah isi perut terkuras dan tubuh mereka terbiasa, reaksi berikutnya adalah perasaan ingin melayang hingga sulit berdiri tegak. Akibatnya, kedua pemuda itu terhuyung-huyung.

Gwan Beng, yang lebih tenang, berusaha mengendalikan perasaannya, namun lama-kelamaan ia pun merasa cemas. Ia sempat berpikir bahwa mereka keracunan, padahal sebenarnya tidak. Ketika gas atau zat peningkat semangat itu bekerja dengan intensitas tinggi hingga mereka tidak sanggup berjalan, keduanya ambruk. Hauw Kam mengeluh panjang pendek, merasa seolah berada di dunia lain yang ringan dan merampas kesadarannya.

Saat Gwan Beng ikut "teler" dan setengah sadar, mereka berdua seperti orang mabuk. Mereka mengeluh dan berada dalam keadaan tidak pasti selama sehari semalam. Keduanya roboh tak bergerak sambil terus memanggil satu sama lain seperti orang linglung. Namun, setelah semalam berlalu dan tubuh mereka mulai terbiasa dengan reaksi gas tersebut, keesokan harinya kedua pemuda itu pulih dan sadar seperti sediakala.

"Aduh, aku bermimpi bertemu dewa-dewi yang cantik dan gagah. Sialan, mimpi apakah aku semalam, Suheng?"

"Hm, aku juga. Aku bertemu empat dewi cantik jelita, Sute. Mereka mencumbu dan merayuku."

"Ah, aku juga! Aku juga dirayu dan dicumbu! Ha-ha, kalau begitu mana mereka, Suheng? Dan mana pula kekasih-kekasihmu itu?"

"Aku mimpi, aku hanya mimpi... ah, sayang sekali!"

Hauw Kam tertegun sekaligus kecewa. Ia menyadari bahwa mimpinya tadi sangat indah namun kosong. Saat mereka saling pandang, Gwan Beng tiba-tiba teringat sesuatu dan menunjuk dedaunan yang mereka makan.

"Kita rupanya korban dedaunan ini. Makanan ini beracun!"

"Hm, kukira tidak. Kalau beracun, tentu kita sudah mati, Suheng. Tapi nyatanya kita masih hidup! Makanan ini tidak beracun!"

"Tapi membuat perut kita mulas, juga pusing!"

"Benar, tapi setelah itu kita mendapat mimpi indah, Suheng. Ha-ha, mimpi yang indah sekali. Aku ingin memakannya lagi biar mabuk!"

"Jangan...!" Suhengnya mencegah dan menyambar tangan adiknya agar tidak menjamah daun itu. Namun, perut mereka kembali keruyukan karena lapar. Setelah sehari semalam teler tanpa makanan, Gwan Beng akhirnya mengajak sutenya mencari sumber makanan lain. Namun, mereka terkejut karena sebagian besar pulau itu hanya ditumbuhi jenis tanaman tersebut.

Karena mencoba jenis tanaman lain rasanya pahit dan tidak enak, Hauw Kam mengomel. Akhirnya, Gwan Beng mengalah saat sutenya bersikeras untuk memakan daun-daun tersebut.

"Aku lapar, tak tahan lagi. Kalau Suheng takut, biarlah aku yang mencoba dan kau lihatlah."

"Hm, bagaimana kalau mulas lagi?"

"Tak apa, Suheng. Tinggal buang hajat, selesai!"

Gwan Beng menarik napas panjang. Setelah sutenya bicara demikian, ia pun terpaksa ikut memakan daun-daun itu. Namun, ketika rasa mual tidak muncul lagi, pemuda itu menjadi heran.

"Bagaimana, Suheng? Sudah tahan, bukan?"

"Hm, rupanya begitu. Bagaimana perasaanmu, Sute? Kau juga tidak apa-apa?"

"Aku justru merasa enteng. Tubuhku rasanya lebih ringan!"

"Dan tidak ingin melayang-layang?"

"Kali ini tidak, Suheng. Tapi justru aku ingin menikmati perasaan seperti itu lagi!"

"Hush, kau ingin mimpi dan bertemu dewa-dewimu itu? Kau mau kencan?"

"Ha-ha, benar, Suheng. Aku ingin mabuk lagi. Aku ingin bertemu mereka!"

Meskipun Hauw Kam merasa kecewa karena efek "melayang" itu tidak muncul lagi, ia tetap memakan daun itu dalam jumlah banyak. Tenaga mereka pun terasa pulih dan semangat bertambah. Selama bertahun-tahun, dua pemuda murid Hu Beng Kui ini bertahan hidup di pulau terpencil tersebut hanya dengan memakan daun Chengceng—daun Dewa Hijau yang memiliki khasiat luar biasa untuk memberikan tenaga ringan (ginkang tingkat atas) dan kesegaran alami.

Sayangnya, karena mereka hanya menjalani hidup dalam keadaan linglung dan berlandaskan kebiasaan sehari-hari, mereka tidak menyadari potensi peningkatan ilmu silat yang mereka miliki. Mereka hanya bermain-main dan sesekali berlatih pernapasan untuk melawan hawa dingin.

Sampai suatu hari, Hauw Kam dikejutkan oleh serangan belasan ular laut yang tiba-tiba muncul. Selama tujuh tahun, mereka tidak pernah menemukan binatang hidup di pulau itu.

"Ser-ser!"

Pemuda itu mengelak. Secara otomatis, gerakan ahli silatnya ia gunakan untuk menghindari serangan dari kiri, kanan, belakang, dan depan. Namun, seekor ular yang tidak terlihat di bawah kakinya tiba-tiba menggigit dan melilit kakinya.

"Augh!"

Teriakan Hauw Kam menggetarkan pulau. Dalam kemarahannya, ia membungkuk, mencengkeram ular tersebut, lalu menggigit leher ular itu hingga putus dan mengunyah kepalanya. Ia tidak peduli pada ular lain yang menyerang, ia bahkan menghisap darah ular yang membanjiri mulutnya.

Tiba-tiba, Gwan Beng datang dan terkejut melihat sutenya sedang mengunyah daging ular mentah. Namun, sutenya limbung dan seekor ular lain berhasil menancapkan taring di lengan kirinya. Gwan Beng segera berkelebat dan memukul ular itu hingga pecah kepalanya.

"Suheng, bunuh mereka semua!" teriak Hauw Kam sambil mendekap perutnya karena merasa pusing, menduga darah ular itu beracun.

Saat Gwan Beng lengah karena memperhatikan sutenya, empat ekor ular laut yang ternyata bisa terbang tiba-tiba menancap di punggung, lengan, dan kaki Gwan Beng layaknya lintah.

"Keparat! Jahanam kalian, ular busuk! Enyahlah!"

Gwan Beng berusaha menarik paksa ular-ular tersebut. Meskipun ia berhasil melepas dan membanting ular-ular itu hingga remuk, taring binatang itu tetap menancap di lengannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment