Chapter 122
"Plak! Dess!" Gwan Beng ngeri. Dia merasa tubuhnya tiba-tiba panas dan tidak enak, marah kepada dua ular yang ada di punggungnya. Ular-ular itu cukup sulit diraih. Gwan Beng membalik dan menyambar ekor mereka yang kebetulan bergoyang-goyang gontai ke kiri dan ke kanan.
Ketika dia membentak dan mengerahkan sinkangnya, sesuatu yang terlambat ia sadari terjadi; ular itu terlepas karena tubuh sang pemuda tiba-tiba mengeras seperti besi. "Krak! Pletak!" Gwan Beng melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan sutenya. Dalam kemarahan dan rasa sakit, dia menyambar kepala salah satu ular, membawanya ke dekat mulut, dan menggigit lehernya sampai putus.
Setelah ular yang lain mati dibanting sementara yang seekor lagi hancur kepalanya di dalam mulut, Gwan Beng roboh. "Augh, keparat. Pusing!" Gwan Beng ambruk. Hauw Kam di sana sudah lebih dulu roboh dan pingsan. Gwan Beng menyusul hingga akhirnya dua pemuda itu tak sadarkan diri.
Mereka diserang ular-ular berbisa yang oleh ahli ular disebut Cheng-hai-coa (Ular Laut Hijau). Selama dua hari dua malam, kedua pemuda itu mengalami siksaan hebat. Mereka seakan memasuki terowongan gelap yang amat panas, terowongan maut, pintu menuju akhirat. Namun, ketika mereka tertarik mundur dan tak jadi memasuki terowongan itu, mereka diserang hawa dingin yang membuat tubuh seakan mati kaku.
Kondisi Hauw Kam dan suhengnya benar-benar kritis. Gigitan ular Cheng-hai-coa seharusnya membuat mereka binasa karena bisanya yang amat berbahaya; cukup sekali gigit, manusia bisa tewas dalam waktu kurang dari lima menit. Namun, karena di dalam tubuh mereka sudah terdapat daya penolak racun dari dedaunan Cheng-sian-bi-ceng yang mereka makan bertahun-tahun, kedua pemuda itu selamat.
Mereka tidak menyadari hal itu. Mereka juga tidak tahu bahwa ular-ular Cheng-hai-coa datang untuk membinasakan tanaman Chengceng, musuh mereka, dengan cara menyemburkan uap racun. Namun, karena Hauw Kam dan suhengnya telah bertahun-tahun mengonsumsi dedaunan itu, tubuh mereka memiliki zat penolak racun khusus. Ular-ular tersebut marah karena merasakan perlawanan di tubuh kedua pemuda ini saat racun mereka dipaksa masuk.
Akibatnya, terjadi pertarungan sengit antara zat dedaunan Chengceng melawan racun ular di dalam tubuh Hauw Kam dan Gwan Beng. Mereka tersiksa hebat selama dua hari dua malam, jatuh bangun, dan nyaris binasa. Gwan Beng sendiri mendapatkan lima gigitan, sehingga ia jauh lebih tersiksa daripada sutenya. Namun, karena kadar zat penolak racun dalam tubuh mereka lebih banyak, akhirnya Chengceng menang dan racun ular tersebut luluh serta tawar.
Ketika mereka sadar, hal aneh dan mengerikan terjadi: dari pori-pori kulit mereka muncul semacam benang atau lendir halus mirip jaring laba-laba. "Ih, apa ini?" "Hei, apa itu?" Hauw Kam dan suhengnya sadar hampir berbarengan. Mereka saling menunjuk tubuh sendiri dengan terbelalak.
Mengingat kembali serangan ular, Hauw Kam melompat bangun, sementara suhengnya tertegun melihat tujuh ekor ular Cheng-hai-coa terbujur kaku tanpa kepala. "Kita habis bertempur melawan ular berbisa," ujar Hauw Kam. Gwan Beng mengangguk. Hauw Kam yang marah menyambar bangkai ular itu dan membantingnya hingga hancur.
"Suheng, kita mengalami hal aneh. Aku mimpi bertemu pintu neraka," ujar Hauw Kam. Gwan Beng yang pucat dan menggigil menjawab, "Aku juga, Sute. Tapi aneh kita bisa selamat." Hauw Kam kemudian memutuskan untuk memanggang bangkai ular-ular tersebut. Meski awalnya sang suheng khawatir daging atau tulangnya beracun, mereka akhirnya menyantap daging ular itu dengan lahap karena merasa racun di tubuh mereka sudah tawar.
Setelah tujuh bangkai ular habis disantap, benang-benang tipis di pori-pori kulit mereka justru semakin banyak dan tebal. "Bagaimana ini, semakin tebal saja?" tanya Hauw Kam. Gwan Beng mencoba mengatur pernapasan dan mengerahkan sinkang. Ajaib, benang-benang itu tertarik masuk ke dalam pori-pori kulit.
Tiba-tiba, seekor kelinci muncul dari balik semak-semak. Hauw Kam menggerakkan tangannya, dan benang itu muncul kembali, menyambar, serta menjerat kelinci tersebut. Begitu pula Gwan Beng yang berhasil menjerat kelinci lainnya. Namun, ketika Hauw Kam hendak membunuh kelincinya, Gwan Beng segera mencegah. "Tahan, jangan bunuh! Kelinci ini sepasang, jantan dan betina. Kita bisa mengembangbiakkannya sebagai sumber makanan kita." Hauw Kam setuju dan mereka pun mulai memelihara kelinci-kelinci tersebut.