Chapter 123
Itu konsumsi makanan mereka, makanan berdaging dan berprotein tinggi!
Begitu mengerti maksud suhengnya, Hauw Kam terbahak-bahak. Pemuda ini berseru kegirangan, dengan cepat menguasai binatang-binatang gemuk itu, membuatkan kerangkeng, dan selama satu bulan dua pemuda ini menunggu perkembangbiakan kelinci jantan dan betina tersebut.
Ketika beberapa bulan kemudian sepasang kelinci itu benar-benar beranak-pinak, Hauw Kam dan suhengnya mendapatkan konsumsi makanan baru. Daging kelinci yang gemuk dan lezat menjadi pengganti dedaunan Cheng-sian-bi-ceng yang lama-kelamaan membuat mereka jemu. Makanan yang itu-itu saja memang mudah membuat mereka bosan dan menginginkan pengganti.
Tak lama kemudian, meski suheng dan sute ini tidak lagi kekurangan masalah makanan, mereka merasa risi oleh benang laba-laba yang sering keluar dengan sendirinya. Gwan Beng akhirnya mengajak sutenya melatih dan menguasai benang-benang aneh tersebut, menciptakan sebuah kepandaian langka yang mereka namakan Jaring Naga. Setelah pandai menguasai benang-benang itu, suheng dan sute tersebut pergi melaut, menangkap dan menjaring ikan dengan kepandaian mereka yang aneh.
Lima tahun kemudian, setelah keduanya berhasil menciptakan ilmu silat Jaring Naga yang merupakan kepandaian khas dan tidak ada duanya di dunia, Hauw Kam mengajak suhengnya meninggalkan pulau.
"Lihat, hiu sebesar ini dapat kutangkap dengan mudah, Suheng. Kita sudah dapat menangkap atau menjala apa saja dengan Jaring Naga! Kita keluar, kita main-main lebih jauh, jangan di sini saja!"
Sang suheng mengerutkan kening, selamanya ia amat berhati-hati. "Aku takut bertemu suhu atau subo, Sute. Aku khawatir bertemu mereka."
"Takut apa? Untuk apa? Mereka dulu hendak membunuh kita, Suheng. Sekarang pun jika bertemu, aku tidak takut. Bahkan hendak kubalas kekejaman mereka itu!"
"Hush, jangan begitu. Tak boleh!" Gwan Beng membentak, terkejut. "Jelek-jelek mereka adalah guru, Sute. Tak patut murid melawan guru!"
"Tapi mereka kejam, kita hendak dibunuh!"
"Hm, mungkin ada dasarnya, Sute. Barangkali kita memang salah dan telah melanggar aturannya!"
"Ah, kau selalu menyalahkan diri sendiri," Hauw Kam mengomel tidak puas. "Kau selalu membela begitu, Suheng. Padahal sepatutnya mereka itulah yang tidak bisa dibenarkan. Guru yang baik tak seharusnya melakukan itu, membunuh murid sendiri!"
"Sudahlah," sang suheng menggelengkan kepala. "Murid melawan guru adalah tak benar, Sute. Kalau kau ingin jalan-jalan dan keluar sedikit jauh dari tempat ini, silakan sendiri. Aku tak ikut, puaskan hatimu."
"Mana bisa? Aku di sini selalu berdua denganmu, Suheng. Kalau kau tak mau, maka aku pun tak sudi berangkat!"
Gwan Beng terkejut melihat sutenya tidak senang dan berkelebat pergi dengan wajah gelap. Ia tahu sutenya kecewa. Setelah berhari-hari sutenya tidak tampak gembira dan sedikit bicara, hal yang membuat Gwan Beng tidak enak hati, pemuda ini akhirnya menyetujui keinginan sutenya dengan menepuk pundak sang sute perlahan.
"Baiklah, kita pergi. Aku tidak tahan melihat kau cemberut begini. Mari, kita berangkat, Sute. Kita tinggalkan pulau!"
Hauw Kam terkejut. "Kau sungguh-sungguh?"
"Hm, pernahkah aku main-main?"
"Tapi, aku tak bermaksud main-main lalu kembali ke sini, Suheng. Aku bermaksud meninggalkan pulau ini untuk mencari kesenangan di luar!"
"Aku tahu, marilah!" Sang suheng tersenyum dan berkelebat ke depan. Ia segera menyambar sebuah perahu dan meminta sutenya naik. Hauw Kam girang bukan main; ia berteriak dan kontan melesat ke atas perahu sambil berjungkir balik. Saat Hauw Kam terbahak-bahak sementara suhengnya menggerakkan dayung dengan kuat dan bertenaga, pemuda itu menciumi wajah suhengnya dengan perasaan girang luar biasa.
"Suheng, kau baik. Ah, kau manusia yang memang baik!"
Gwan Beng yang tertawa mendorong sutenya lalu memberikan dayung yang lain. Tak lama kemudian, perahu itu melesat bagai didorong tangan raksasa. Hauw Kam tertawa bergelak mengayun dayungnya. Ketika perahu melesat di tengah ombak samudra, dalam waktu satu dua bulan, kakak beradik seperguruan ini segera menjadi perhatian orang lain. Mereka naik turun daratan, menyambar makanan-makanan enak seperti bakpao yang dijajakan di pinggir jalan.
Hauw Kam yang merasa paling lapar dengan rakus menyambar ini-itu dan diteriaki para penjual karena mereka tidak membayar. Tentu saja, orang-orang geger melihat sepak terjang kakak beradik ini. Gwan Beng pun akhirnya tertarik dan ikut-ikutan menyambar makanan, tertawa, dan menganggapnya milik sendiri. Meski mereka sering membuat keributan kecil, mereka selalu menghindari keributan besar. Mereka dikejar-kejar, namun tak ada satu pun yang dapat menangkap suheng dan sute ini.
Hauw Kam dan suhengnya memang bertahun-tahun hidup terlampau sederhana di Pulau Hijau, sehingga wajar jika mereka menjadi lahap melihat makanan enak. Ketika mereka bertemu Lauw-wangwe, hartawan itu menyadari bahwa dua orang lihai sedang berada di depannya. Cepat-cepat hartawan ini mengambil hati dengan menyuruh putranya maju, berlutut, dan menyebut "Suhu".
Hauw Kam merasa geli dan terkekeh karena panggilan itu serasa menggelitik telinganya. Namun, ketika Lauw-wangwe berlutut dan puluhan penampan berisi makanan enak disodorkan, terutama kepada Hauw Kam, hartawan itu mulai menjalankan aksinya.
"Ji-wi taihiap (dua pendekar besar) boleh tinggal di gedung kami. Boleh makan dan ambil apa saja sepuas hati. Tapi tolong, berikan sedikit kepandaian kepada putraku yang bodoh ini, dan syukur kalau aku juga mendapat pelajaran."
"Ha-ha, kau bicara apa? Eh, aku melihat bahwa kau dan putramu ini sudah memiliki dasar-dasar silat yang cukup, Wangwe. Tak usah menyuruh kami tinggal di sini atau apa!"
"Tidak! Kami tahu kesukaan Ji-wi yang aneh akan makanan-makanan enak dan luar biasa. Bukankah Ji-wi belum menikmati sup naga atau hati burung hong goreng? Bukankah Ji-wi juga belum menikmati empedu singa masak kecap? Nah, tinggallah di sini bersama kami, Ji-wi Taihiap. Kami jamin kesenangan Ji-wi di tempat ini. Marilah, inilah empedu singa dan hati burung hong goreng. Coba Ji-wi cicipi, di istana pun tak mungkin ada!"
Lauw-wangwe membujuk buru-buru. Sebelumnya, dua pembantunya melapor bahwa toko makanannya diserbu dua orang gila yang mengambil makanan tanpa membayar. Penjaga yang mencoba mencegah justru terpental. Lauw-wangwe yang marah dan sempat mengeroyok mereka bersama putranya justru ikut terpelanting. Sadar bahwa yang dihadapi adalah orang luar biasa, hartawan itu menggunakan akal licin untuk menjadikan mereka "pembantu" sekaligus guru bagi putranya.
Hauw Kam sebenarnya tidak berniat menerima tawaran itu. Namun, ketika mendengar nama masakan seperti empedu singa dan hati burung hong, pemuda yang kini berusia empat puluhan itu bangkit seleranya.
"Ha-ha, mana empedu singa? Yang mana hati burung hong goreng?"
"Ini dan itu, Taihiap. Mari, silakan cicipi!" Lauw-wangwe girang melihat kesempatan itu. Dengan cekatan, hartawan tersebut melayani Hauw Kam dan suhengnya. Hauw Kam tertawa bergelak saat mencicipi masakan yang luar biasa itu.
Lauw-wangwe segera memberi kode pada putranya agar memanggil mereka "Suhu". "Maaf, boleh ambil semuanya, Taihiap. Masih banyak masakan istimewa kami. Ada jantung beruang masak kuah, ada kaki gajah saus tomat. Ji-wi tentu belum menikmati ini, bukan? Tinggallah bersama kami, Taihiap. Kami akan menyajikan semua itu tanpa bayar!"
"Benar, dan aku akan menurut segala perintahmu, Suhu. Apapun yang kalian berikan pasti kuterima!" Lauw Sun membenturkan dahi ke lantai.
Hauw Kam terbelalak. Gatal telinganya mendengar sebutan itu. Ia tertawa bergelak dan menyambar Lauw Sun, lalu membantingnya ke lantai. Lauw-wangwe berteriak kaget, mengira putranya mau dibunuh.
"Ha-ha, pintar bicara kau bocah, manis benar mulutmu. Aih, ayahmu pandai membujuk. Kalau begitu kulihat dulu seberapa kuatkah tulangmu... Brukk!"
Lauw Sun mengeluh dan kaget, tapi ia segera teringat bahwa orang-orang aneh biasanya harus dilayani dengan cara aneh pula. Jika tubuh sakit, sebaiknya tertawa; jika hati ingin tertawa, sebaiknya menangis. Maka, Lauw Sun terbahak-bahak meski tubuhnya kesakitan, membuat Hauw Kam membelalakkan matanya melihat keadaan ganjil tersebut.