Chapter 124
"Eh, kau tertawa? Tidak meringis?"
"Ha-ha, bantinganmu tidak sakit, Suhu. Boleh banting lagi kalau kurang!"
"Betul?"
"Tentu!"
Hauw Kam yang sudah menyambar serta mengangkat pemuda itu lagi, membantingnya ke lantai. Ia terheran-heran dan penasaran. Empat-lima kali putra Lauw-wangwe itu diangkat dan dibenturkan ke lantai, namun Lauw Sun justru semakin terbahak-bahak meskipun harus menahan rasa sakit sekuat tenaga. Hauw Kam kagum, lalu terkekeh memandang suhengnya yang diam-diam juga terkejut.
"Suheng, bocah ini luar biasa. Tulangnya kuat bukan main!"
"Ya, dan dia tahan sakit, Sute. Sungguh mengagumkan!"
"Ha-ha, Suhu masih mau mencoba lagi? Ayo, banting lagi, Suhu. Sampai mampus!" Lauw Sun menantang. Diam-diam ia marah dan gusar. Kalau saja dua orang ini bukan calon gurunya, tentu ia sudah memaki-maki. Bantingan demi bantingan yang diterimanya membuat tubuhnya terasa remuk.
Ketika Lauw Sun menantang kembali sebagai pelampiasan rasa marahnya, Hauw Kam yang terbahak melihat itu tiba-tiba menyambar pemuda tersebut.
"Cukup, ha-ha, cukup! Tak perlu dicoba lagi, bocah. Kami sudah cukup puas dan kau boleh menjadi murid kami berdua!"
"Dan Ayah!"
"Eh!?"
"Benar, sedikit-sedikit Ayah juga kalian perkenankan mendapat satu-dua ilmu silat kalian, Suhu. Agar kami berdua tak usah takut menghadapi lawan tangguh kalau kebetulan Suhu berdua sedang tak berada di rumah!"
"Hm, begitu?"
"Ah!" Lauw-wangwe buru-buru membungkuk. "Omongan anakku ada benarnya, Taihiap. Tapi kalau ji-wi tak setuju, tentu saja aku tak memaksa!"
"Ha-ha, jangan sebut kami Taihiap. Boleh saja, Lauw-wangwe. Tapi lihat apakah kalian mampu atau tidak!"
Hauw Kam yang terbahak membawa pemuda itu, lalu berkelebat menghilang ke luar. Ia menyatakan bahwa hari itu juga Lauw Sun resmi menjadi muridnya. Makan dan minum yang enak harus disediakan oleh hartawan itu jika ingin mereka berdua kerasan. Permintaan yang tentu saja disanggupi.
Sejak hari itu, Hauw Kam tinggal di kediaman hartawan marga Lauw. Hari demi hari dilewati dua orang murid Hu Beng Kui ini dengan senang. Segala keinginan mereka dipenuhi. Lauw-wangwe tak tanggung-tanggung melayani permintaan tamunya. Karena sepak terjang dua orang itu aneh dan mereka menolak dipanggil Taihiap, sebulan kemudian Lauw-wangwe mengubah sebutan mereka menjadi Koai-jin, yaitu orang aneh atau orang gila. Sebutan yang justru membuat Hauw Kam terpingkal-pingkal.
Kondisi jiwa Hauw Kam dan suhengnya memang tidak stabil akibat pengaruh obat pemberian Nenek Naga maupun Hek-bong Siauw-jin. Obat itu merampas dan menanggalkan ingatan mereka. Kini, dua pria berusia empat puluhan tahun itu memiliki cambang serta rambut yang panjang dan tak terurus.
Suatu hari, Lauw-wangwe mengadakan pesta pernikahan anaknya, namun suasana menjadi kacau karena gangguan Sepasang Copet Jari Seribu. Tak lama kemudian muncul Soat Eng yang mengobrak-abrik gedung hartawan itu. Namun, gadis itu akhirnya berhasil dirobohkan oleh Hauw Kam dan suhengnya yang mengandalkan Jaring Naga, ilmu silat aneh yang baru kali itu dilihat Soat Eng. Gadis itu kemudian diculik oleh sepasang suheng-sute yang ternyata merupakan paman gurunya sendiri.
"Brukk!" Soat Eng dilempar ke sudut gua. Hauw Kam mengomel panjang pendek dengan tersengal-sengal. Ia merasa tubuh gadis itu semakin berat. Ia menyerahkannya kepada suhengnya, Gwan Beng, yang juga merasakan hal yang sama. Di sepanjang jalan, gadis itu memaki-maki. Hauw Kam sempat ingin menamparnya, namun Gwan Beng mencegah.
Gwan Beng teringat wajah seseorang. Ia memeras otak; wajah Soat Eng terasa sangat dikenalnya. Ternyata, yang diingatnya adalah wajah sumoinya, Swat Lian, yang tak lain adalah ibu dari gadis tersebut. Setelah jauh meninggalkan rumah hartawan Lauw, Gwan Beng memutuskan berhenti di sebuah gua untuk mencari tahu identitas gadis itu.
"Gadis ini menarik, dia pandai memainkan ilmu silat pedang kita. Dan dia tahu namanya pula. Kita korek keterangan darinya dari mana dia tahu semua itu!"
"Hm!" Hauw Kam bersungut-sungut. "Dia menyebut ilmu pedang kita Giam-lo Kiam-sut. Gila! Apakah kita yang tak tahu namanya atau gadis ini menyebutnya secara sembarangan saja? Baik, kita istirahat dan kompres mulutnya. Kalau dia tidak mau mengaku, kita siksa!"
"Heii!" Soat Eng berteriak. "Kalian boleh menyiksa atau membunuhku, manusia-manusia siluman! Aku tidak takut! Kalian pencuri, kalian pendusta. Itu adalah Giam-lo Kiam-sut, warisan kakekku yang gagah berani, Hu Beng Kui. Kalian siluman dari mana yang mencuri ilmu pedang kakekku itu?"
"Hm, berkali-kali dia menyebut Hu Beng Kui. Siapa orang ini, Suheng? Di mana dia?"
"Aku tak tahu. Sebaiknya kita tanya dia," jawab Gwan Beng. Dengan suara halus yang berbeda dari Hauw Kam, ia bertanya, "Anak baik, siapa itu Hu Beng Kui? Di mana dia? Dan bisakah kau mempertemukan kami dengan orang yang kau sebut sebagai kakekmu itu?"
"Bangsat keparat! Lepaskan aku dulu, cambang tengik. Bebaskan aku, baru kita bicara!"
"Hm, kau liar dan amat lihai. Sementara ini tak dapat kami bebaskan. Bicaralah terus terang..."
"Terus terang apa lagi? Aku cucu Hu Beng Kui. Awas kalian kalau bertemu dengan ayahku, Pendekar Rambut Emas!"
"Hm, nama ayahmu menarik. Kami sering mendengar nama Kim-mou-eng disebut-sebut. Di mana ayahmu itu, anak baik? Dapatkah kau mempertemukan kami dengannya?"
"Kau akan segera diantarnya ke akhirat. Ayah dan ibuku tinggal di luar tembok besar. Ayo kalian ke sana kalau berani!"
"Tentu berani!" Hauw Kam tiba-tiba melompat bangun dengan muka berang. "Kami tak takut siapa pun, anak liar. Biarpun ayahmu itu lihai, kami tidak takut!"
"Bagus, kalau begitu antar aku ke sana. Kalian akan tahu rasa!" tantang Soat Eng. Ia sengaja memancing kemarahan mereka.
Gwan Beng mengulurkan lengan dan menyuruh sutenya diam. "Sute, tak perlu terbakar. Gadis ini pandai bicara. Kau tenanglah di situ, biar aku yang bertanya jawab."
Meskipun Hauw Kam masih melotot, Gwan Beng tetap tenang. Ia menatap Soat Eng. "Kau pintar dan lihai. Bolehkah aku tahu lebih banyak tentang ayah ibumu? Apakah kau tak keberatan kita bicara baik-baik?"
"Aku mau bicara baik-baik, tapi bebaskan aku dulu!"
Gwan Beng bimbang sejenak, namun akhirnya ia membebaskan totokan gadis itu sambil tetap waspada. Soat Eng menggosok-gosok tangannya yang terasa sakit.
"Awas, jangan membuat onar. Kau berjanji untuk bicara baik-baik. Nah, bicaralah, Anak Baik."
"Apa yang harus kuceritakan? Kalian tadi bilang tidak takut pada ayahku!"
"Bukan masalah takut atau tidak, melainkan ceritakanlah siapa ayah ibumu itu."
"Ibuku putri Hu-taihiap, dan ayahku adalah murid Bu-beng Sian-su!"
"Bu-beng Sian-su?" Gwan Beng mengerutkan kening. "Aku tak pernah mendengar nama itu. Rasanya semuanya asing bagi kami!"
"Sungguh buta!" Gadis itu membanting kaki. "Bu-beng Sian-su adalah kakek dewa mahasakti. Kalau kau tak mendengar namanya padahal semua orang di kolong jagat mengetahuinya, kalian bagaikan katak dalam tempurung. Rupanya kalian tak pernah melongok keluar dan selalu menyembunyikan diri bagaikan pengecut!"
"Hm, kami memang menyembunyikan diri, tapi bukan pengecut!" sahut Gwan Beng dengan mata bersinar tajam.