Chapter 125
"Tak dapat kami sangkal bahwa belasan tahun kami tak menengok dunia kang-ouw, Nona. Tapi kami sama sekali bukan pengecut. Kami sungguh tak tahu apa-apa dan justru muncul untuk mencari tahu!" Soat Eng tertegun.
"Kalian berdua ini siapakah? Apakah nama sendiri pun tak diingat-ingat?"
"Aku Hauw Kam!" Hauw Kam tiba-tiba meloncat maju, seakan hendak menerkam mangsanya. "Dan itu suhengku..."
"Stop!" Gwan Beng mencegah sutenya. "Tak perlu memperkenalkan nama, Sute. Kalau gadis ini berbahaya bagi kita, sebaiknya tak usah menyebut nama. Siapa tahu ayah ibunya adalah musuh kita!"
"Hm!" Hauw Kam teringat; bayangan Nenek Naga dan Hek-bong Siauw-jin segera terlintas. "Maaf, Suheng. Aku hampir saja salah langkah."
"Sudahlah, kau mundur, biar aku yang bicara dengan bocah ini." Hauw Kam mundur, mengangguk, dan mengerti maksud suhengnya. Memang mereka tak tahu apakah gadis ini musuh atau bukan, terutama dalam kaitannya dengan Nenek Naga atau Hek-bong Siauw-jin—suhu dan subo yang mereka takuti.
Ketika Soat Eng tertegun dan membelalakkan mata karena bingung, pria bercambang itu menghadapinya kembali dan tersenyum ramah. "Maaf, siapa kami sebaiknya ditunda dulu. Kami tak tahu siapa kau dan ayah ibumu. Kami masih gelap, tak tahu apakah kau lawan atau bukan."
"Hm, bukankah sudah kuberi tahu bahwa ayah ibuku adalah Kim-mou-eng? Bukankah sudah kuberi tahu pula bahwa kakekku adalah Hu-taihiap, Hu Beng Kui yang gagah perkasa?"
"Benar, tapi kami belum pernah bertemu atau berkenalan dengan orang-orang yang kau sebut itu, Nona. Kami hanya mendengar di luaran saja dan tak tahu apakah mereka itu orang baik atau bukan!"
"Apa? Kau menganggap ayahku orang jahat dan ibu atau kakekku orang-orang golongan sesat? Keparat, hati-hati, Cambang! Aku bisa marah dan menyerangmu nanti!"
"Hm, sabar. Tahan dulu!" Si cambang menggoyang lengan. "Benar atau tidak, barulah yakin kalau sudah kami buktikan sendiri, anak baik. Seperti halnya kau melihat kami berdua ini..."
"Aku menganggap kalian jahat, jelas berbeda dengan ayah ibuku, juga kakekku!"
"Terserah, tapi kami tak mengganggu atau membunuhmu. Bukankah kau bebas juga berkat kebaikan kami? Bukankah kau bisa bicara adalah berkat kemurahan kami pula? Tak perlu berdebat, ceritakan lagi tentang ayah ibumu itu, anak baik. Karena aku serasa mengenal wajahmu, dirimu!"
Soat Eng terdiam. Jika dia tidak tahu bahwa dua orang ini amat lihai dan "Jaring Naga" benar-benar membuatnya tak berkutik, barangkali dia sudah menyerang musuh-musuhnya ini. Namun, karena maklum bahwa kedua orang itu memang lihai, akhirnya gadis ini mengepal tinju dan duduk membanting tubuh di sudut.
"Sudah kuberi tahu tadi, tak usah cerita lagi!"
Si cambang tertegun. Sikap Soat Eng dan keberaniannya yang mengagumkan sungguh membuatnya terkesan. Gadis ini pemberani dan gagah; ilmu kepandaiannya juga tinggi. Maka, melihat Soat Eng marah dengan muka yang ditekuk cemberut, si cambang justru tersenyum.
"Baiklah," dia tidak marah. "Maaf kalau kami membuatmu tak senang, Nona. Tapi harap jangan coba-coba lari kalau ingin beristirahat."
"Siapa mau lari?" Soat Eng melotot. "Asal kalian tidak menggangguku, aku tak akan lari, Cambang. Tapi sekali kalian kurang ajar, jangan harap aku akan menepati janjiku lagi!"
"Hm, aku tahu." Gwan Beng menarik napas di sebelah adiknya, lalu berbisik, "Dia ingin beristirahat tanpa diganggu. Biarlah dia sendirian, setelah itu kita melanjutkan perjalanan."
"Ke mana?"
"Ke tempat ayah ibunya, Sute. Ke tempat Kim-mou-eng!"
"Mau menyerahkan bocah siluman itu?"
"Tidak, melainkan untuk menunjukkan pada gadis ini bahwa kita tak takut, bahkan terhadap ayah atau ibunya. Sekalian mencari tahu siapa orang tua gadis ini, karena aku serasa sudah mengenalnya!"
Hauw Kam terbelalak. "Kalau kita mau ke sana, sebaiknya gadis ini disembunyikan, Suheng. Jangan dibawa serta!"
"Kenapa?"
"Dia dapat membantu ayah ibunya nanti, merepotkan kita!"
"Hm, kalau dia kita totok dan kuasai, tak mungkin hal itu terjadi. Aku tak khawatir."
"Tapi Pendekar Rambut Emas kudengar amat lihai, dan isterinya juga tak kalah hebat!"
"Kau takut?"
"Bukan takut, melainkan semata berhati-hati!"
"Sudahlah. Kalau gadis ini dirasa membahayakan, boleh saja kita sembunyikan dia sebelum bertemu ayah ibunya. Tapi, hmm... kau tidak merasa pernah melihat gadis ini, Sute? Kau tidak merasa pernah mengenal wajah itu?"
"Aku... hmm... aku serasa mengenalnya. Tapi aku tak tahu di mana dan kapan!"
"Cocok, aku juga begitu. Karena itu, jangan bertindak gegabah sebelum kita tahu benar siapa sebenarnya gadis ini!"
Soat Eng mendongkol. Percakapan itu tak terdengar lagi. Dia merasa girang karena mereka akan menuju ke tempat ayah ibunya, namun juga mendongkol karena dua laki-laki itu tetap menguasainya. Soat Eng berharap dua laki-laki itu tidak berbohong dan tidak takut menghadapi ayah ibunya. Namun, membayangkan bahwa dia akan disembunyikan sebelum bertemu orang tuanya membuat perasaan gadis ini terbakar. Ketika malam tiba dan dia tetap dijaga, Soat Eng akhirnya mendengus dan tidur nyenyak.
"Ssst, jangan berisik," Sin-tung Lo-kai memberi isyarat kepada dua muridnya. "Aku mencium bau manusia, Lu Sam. Kalian hati-hati dan lihat gua di depan itu!"
Lu Sam bersama sutenya, Kiat Ma, melihat ke arah yang ditunjuk gurunya. Mereka telah berkumpul kembali setelah melakukan tugasnya masing-masing. Sepasang copet ini telah membagikan pundi-pundi uang milik Lauw-wangwe kepada fakir miskin. Mereka memang penolong kaum lemah, dan perbuatan mereka direstui oleh gurunya. Saat menyusur jejak Hauw Kam dan suhengnya, malam itu mereka tiba di gua tersebut dan melihat api unggun yang menyala samar di depan gua.
"Kalian di sini saja, Lohu akan melihat ke dalam!"
Kiat Ma dan suhengnya mengangguk. Mereka melihat guru mereka berkelebat cepat ke arah gua, ringan namun hati-hati. Sin-tung Lo-kai melongok ke dalam dan girang melihat Soat Eng meringkuk di sana seorang diri. Kakek ini segera menggapai dan berkelebat masuk.
"Kalian ke sini, Kim-siocia ada di dalam!"
Kiat Ma dan suhengnya berlomba memasuki gua dan benar saja, mereka melihat Soat Eng di situ. Mereka langsung berteriak memanggil Soat Eng. Saat Soat Eng terkejut dan terbangun dengan membelalakkan mata, ia sadar dirinya tak dapat bergerak karena sudah ditotok. Ia girang melihat kedatangan mereka, namun sekaligus mengeluh.
"Kim-siocia, kami datang. Syukur tak ada apa-apa!"
"Dan di mana si gila yang lihai itu? Ha-ha, kau agaknya dapat melepaskan diri, Siocia. Kami sudah khawatir setengah mati!"
Soat Eng berkejap-kejap. Kiat Ma dan suhengnya tertawa-tawa. Sin-tung Lo-kai memandang tersenyum, namun kakek ini tertegun melihat Soat Eng tidak bangkit duduk, hal yang membuatnya curiga. Ketika dua muridnya menubruk si nona, sementara Soat Eng memandang lurus ke belakang, kakek itu menoleh dan terkejut melihat dua orang "gila" itu sudah berdiri di mulut gua, menutup jalan lari mereka!
"Kiat Ma, si gila ada di sini! Cabut senjata kalian!"
Kiat Ma dan suhengnya terperanjat. Begitu sadar gadis itu tertotok, Lu Sam dan sutenya bagai disengat aliran listrik.
"Koai-jin ada di sini, ahh...!"
Kiat Ma dan suhengnya mencabut tongkat, namun didahului oleh gurunya. Sin-tung Lo-kai menghantam dan melepas serangan, yang segera dielak oleh Gwan Beng. Hauw Kam tertawa mengejek dan menyambut pukulan tongkat itu dengan tangannya. Begitu tongkat itu menyentuh tangan Hauw Kam, Sin-tung Lo-kai mengerahkan seluruh tenaga, namun tongkat itu justru meledak dan hancur di tangan Hauw Kam yang lihai.
"Kraakk!" Sin-tung Lo-kai kaget sekali.