Chapter 126
Memang dia tahu bahwa lawan yang dihadapi ini amat lihai. Namun, ketika tongkatnya hancur dan tidak dapat digunakan lagi hanya dalam sekali gebrakan, kakek ini kaget bukan main, di samping marah. Ia marah karena menghadapi lawan yang lihai, yang sudah diketahui kelihaiannya dan jelas bukan tandingannya.
Akan tetapi, karena kakek itu bukanlah seorang penakut dan merupakan seorang yang gagah, ia membentak dan mencabut tongkat yang lain, lalu menghantam dan menyerang lagi. Kali ini, lawan mengelak ke sana-sini. Hauw Kam tertawa mengejek dan merendahkan lawannya itu.
Ketika Kiat Ma dan suhengnya ikut membantu dan menerjang kedua orang itu, Gwan Beng mendengus dan berkelebat lenyap entah ke mana.
"Sute, robohkan tiga orang ini. Tangkap mereka!" Hauw Kam tertawa bergelak.
Tongkat yang menyambar naik turun sudah diketuk atau disentil. Sin-tung Lo-kai terkejut karena ketukan atau sentilan itu selalu menggetarkan tangannya. Kian lama kian hebat hingga telapaknya terasa pedas, perih, dan terluka karena terbeset. Namun, ketika kakek itu menggeram dan nekat memegang tongkat seerat-eratnya, Kiat Ma dan suhengnya juga ikut membentak dan merasakan serangan yang lebih dahsyat daripada gurunya.
Mereka bertiga terus menyerang, namun lawan benar-benar bukan tandingan. Hauw Kam memuji kagum karena lawan benar-benar keras hati, padahal telapak tangan mereka sudah pecah-pecah berdarah. Ketika pertandingan dirasa cukup dan ia gemas melihat kenekatan tiga orang ini, Hauw Kam membentak. Satu tendangan keras membuat tongkat mencelat dan Sin-tung Lo-kai bersama dua muridnya terlempar.
"Haihh, sekarang kalian roboh... des-des-plakk!" Kiat Ma dan suhengnya mengeluh, jatuh terbanting di sudut gua, dan terkapar sambil mendesis kesakitan. Sin-tung Lo-kai sendiri mencelat dan akhirnya pingsan. Kakek itu mendapat pukulan amat keras di mana tongkatnya tiba-tiba membalik dan menghantam dada sendiri.
Ketika kakek itu terjengkang dan semuanya roboh tak berdaya, Gwan Beng muncul dan menyuruh sutenya mengikat tiga orang itu.
"Tak perlu dibunuh. Ikat saja menjadi satu dan lempar mereka di sana!" Hauw Kam tertawa-tawa.
Ia telah melakukan apa yang diperintahkan suhengnya. Kiat Ma serta gurunya kebetulan berada paling dekat dengan Soat Eng. Karena kakek pengemis itu pingsan dan Kiat Ma meringis menahan sakit, Lu Sam memaki-maki, namun tidak dihiraukan oleh dua orang itu.
"Kalian bodoh," Soat Eng bersinar-sinar, kagum namun kecewa. "Kenapa datang dan kurang hati-hati? Sekarang kita berempat menjadi tawanan, Kiat Ma. Aku menyesal karena kalian tak dapat kutolong."
"Tak apa." Kiat Ma meringis. "Kami datang memang siap menanggung risiko, Kim-siocia. Kalau gagal, itulah nasib kami."
"Tapi dua orang ini cukup baik. Mereka tidak suka membunuh."
"Siapa takut dibunuh? Kalau pun mati, aku tidak takut, Siocia. Mati membelamu adalah sebuah kehormatan bagiku!"
"Hm!" Soat Eng merah mukanya. "Kenapa kau bicara begitu?"
"Kenapa tidak?" si copet bersemangat. "Kau adalah putri Pendekar Rambut Emas, Nona. Dan kau cucu Hu-taihiap yang gagah perkasa pula. Mati membela orang baik-baik macam dirimu ini adalah satu keberuntungan besar!"
"Hm, sudahlah," Soat Eng tiba-tiba muram. "Kakekku tiada lagi, Kiat Ma. Tapi kalau dua orang ini bertemu ayah atau ibuku, tentu mereka tahu rasa. Kalian diam saja, suruh suhengmu berhenti memaki-maki karena gatal rasanya telingaku!"
Kiat Ma tertegun. Memang suhengnya memaki-maki, namun dua orang itu tidak ada di tempat. Tadi kedatangan mereka sebenarnya diketahui, dan orang lihai macam Hauw Kam atau suhengnya tentu saja tertawa melihat Sin-tung Lo-kai dan dua muridnya ini. Mereka membiarkan dua orang itu masuk lalu berkelebat menampakkan diri setelah menotok Soat Eng karena dikhawatirkan gadis itu membuat repot jika membantu si pengemis dan dua muridnya.
Begitu mereka muncul dan Soat Eng terbelalak melihat kedatangan teman-temannya, gadis itu mengeluh karena Sin-tung Lo-kai tidak mungkin dapat menolongnya. Benar saja, mereka dirobohkan dan kini tiga orang itu tergeletak di dekatnya. Ia merasa bangga sekaligus kecewa karena orang-orang macam guru dan murid ini tidak mungkin mampu menghadapi Hauw Kam dan suhengnya.
Ketika mereka meringkuk dan malam itu semuanya menjadi tawanan, keesokannya mereka diseret, sementara ia dipanggul oleh si cambang, Gwan Beng.
"Kalian harus dihukum karena berani coba-coba menolong tawanan. Nah, rasakan sepanjang jalan dan siapa yang tidak kuat sakit boleh berteriak-teriak, ha-ha!" Kiat Ma dan suhengnya mendelik.
Mereka diseret dan diejek untuk berteriak jika sakit. Namun, karena guru mereka tidak berteriak meskipun sakit, dan mereka diminta untuk menggigit bibir menahan sakit, Kiat Ma dan suhengnya tidak berteriak-teriak. Yang mereka lakukan adalah memaki-maki penawannya, namun Hauw Kam terkekeh-kekeh. Gwan Beng tersenyum-senyum sementara pakaian guru dan murid itu sudah robek-robek.
Kulit mereka pecah berdarah dan hanya Sin-tung Lo-kai yang dapat bertahan. Kakek itu dapat mengerahkan sinkangnya hingga batu-batu tajam atau kerikil tidak dapat "menggigit" tubuhnya, lain dengan Kiat Ma maupun suhengnya yang tentu saja tidak sekuat guru mereka. Ketika Soat Eng tidak tahan melihat siksaan itu karena dirasa kejam—tak ingat diri sendiri yang pernah melakukan hal yang sama terhadap Ituchi—gadis itu berteriak dan minta berhenti.
"Bebaskan mereka, biar aku saja yang kalian bawa!"
"Hm, apa maksudmu?"
"Maksudku jelas, Cambang. Mereka tidak bersalah dan akulah yang kalian inginkan. Ayo bebaskan mereka dan berhenti!"
Gwan Beng berhenti. Tapi sutenya yang terus menyeret dan tertawa-tawa tiba-tiba dibentak Soat Eng. "Gimbal, dengar kata-kataku. Berhenti atau aku mampus menggigit telinga suhengmu!"
Hauw Kam terkejut. Suhengnya berseru tertahan karena Soat Eng tiba-tiba menggigit telinga Gwan Beng hingga suhengnya tersentak. Ketika ia berhenti dan tertegun melihat itu, Soat Eng mengancam, "Nah, kau turuti kata-kataku dan bebaskan mereka atau aku akan menggigit putus telinga suhengmu ini dan dia menghantam mampus aku!"
Hauw Kam tertegun. "Bagaimana, Suheng?"
"Kau berhenti, dan lepaskan mereka!"
"Kau takut akan ancamannya?"
"Tidak."
"Kalau begitu pukul mampus dia, atau aku..."
"Tidak!" Gwan Beng tiba-tiba membentak. "Aku tidak tahan melihat gadis ini menangis, Sute. Bebaskan mereka dan biarkan mereka pergi!"
Hauw Kam melongo. Suhengnya tiba-tiba menangis ketika melihat Soat Eng menangis. Memang gadis itu menangis karena tidak tahan melihat penderitaan Kiat Ma dan suhengnya. Gurunya sendiri dapat bertahan dan Sin-tung Lo-kai baik-baik saja, meskipun tentu saja kakek itu juga tersiksa dan diam-diam mengeluh.
Ketika Hauw Kam tertegun melihat suhengnya menangis sementara ia dibentak untuk membebaskan tiga orang itu, tiba-tiba Hauw Kam tertawa bergelak menendang guru dan murid ini sambil berseru, "Heh, kalian beruntung, orang-orang sial. Kalau tidak heran melihat suhengku menangis gara-gara seorang perempuan, tentu kalian sudah kuseret dan kusiksa sepanjang jalan lagi. Baiklah, kalian bebas dan cepat pergi dari sini.... des-des-dess!"
Hauw Kam menendang guru dan murid-muridnya itu hingga mencelat. Mereka bakal terbanting kalau saja sesosok bayangan tidak berkelebat dan menerima Sin-tung Lo-kai serta dua muridnya. Seorang pemuda menyambar di situ dan menurunkan guru serta murid ini.
Ketika Hauw Kam terkejut sementara Sin-tung Lo-kai sendiri melongo dan membelalakkan mata lebar-lebar, jeritan atau teriakan tertahan terdengar dari mulut Soat Eng yang segera mengenali pemuda itu.
"Siang Le...!"
Gwan Beng ikut terkejut dan tertegun. Di depan mereka berdiri seorang pemuda gagah yang matanya bersinar-sinar. Tadi ia menerima dan menangkap kakek pengemis itu beserta muridnya, menurunkannya, dan kini sudah tegak dengan mata bersinar marah.
Ketika Hauw Kam maupun suhengnya terkejut dan membelalakkan mata, Siang Le menoleh dan mengangguk pada Soat Eng sambil tersenyum. "Ya, aku, Kim-siocia. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?"
"Ah, cepat serang dua orang ini, Siang Le. Tapi hati-hati karena mereka tangguh dan berbahaya!"
"Hm, aku memang akan melakukan itu. Aku tidak takut!"
Siang Le yang sudah membalik dan menghadapi dua lawannya ini lalu berkata dengan suara geram, "Iblis-iblis busuk, kalian melakukan apa terhadap Kim-siocia? Kalian melakukan apa pula terhadap kakek pengemis dan murid-muridnya itu? Kalian suka menyiksa orang? Kalian tidak berperikemanusiaan?"
"Hm, siapa kau?" Hauw Kam membentak, sudah hilang kagetnya. "Kau teman bocah perempuan ini? Kau kekasihnya?"
"Bukan," Siang Le merah mukanya. "Tapi aku teman baiknya di mana aku tak akan membiarkan kalian berbuat sesuka hati."
"Ha-ha, kalau begitu kau bohong!" Hauw Kam yang berkelebat dengan tawanya yang besar tiba-tiba menjulurkan lengan dan sudah mencengkeram pemuda ini dengan cepat dan kuat. Sin-tung Lo-kai kaget karena gerakan itu amat cepatnya. Siang Le sendiri terkejut dan tidak sempat mengelak. Namun, karena pemuda ini adalah murid See-ong dan bukanlah pemuda sembarangan, Siang Le menggerakkan lengan dan menangkis.
"Dukk!" Siang Le mencelat!
Hauw Kam sendiri tergetar dan terdorong setindak, berseru tertahan karena sesungguhnya ia memang ingin mencoba, melihat gerakan ringan dan kepandaian Siang Le ketika menerima dan menangkap Sin-tung Lo-kai dan murid-muridnya tadi. Ketika cengkeramannya ditangkis dan Hauw Kam merasa betapa kuat dan hebat sinkang pemuda ini, dia tergetar dan berseru kagum memuji lawan yang mencelat dan jatuh berdiri dengan tubuh tidak bergoyang, seperti arca besi!
"Wah, hebat, Suheng. Pemuda ini juga calon lawan yang berat!"
Gwan Beng terkejut. Ia melihat mencelatnya pemuda itu namun tidak melihat si pemuda terpelanting atau terjengkang, apalagi terguling-guling. Ketika Siang Le tegak berdiri bagai arca besi, pemuda itu seolah patung yang dipindah atau diangkat tanpa bergeming. Gwan Beng melihat *Jing-kin-kang* atau Tenaga Pemberat Seribu Kati yang telah diperlihatkan pemuda ini, sama seperti ketika Soat Eng juga melakukan itu saat digendong.