Chapter 127
"Hm, memang hebat!" Gwan Beng memuji kagum.
"Dan kau menghadapi calon lawan yang tangguh, Sute. Beranikah kau meneruskan main-mainmu?"
"Ha-ha, kenapa tidak? Meskipun hebat, tapi aku belum mengetahui semua kepandaiannya, Suheng. Biarlah kucoba-coba dan lihat apakah dia tidak roboh... Slap!"
Hauw Kam yang lenyap mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya tiba-tiba bergerak dan sudah menyerang. Dua jarinya menusuk dengan kecepatan dua kali lipat dibanding tadi. Sin-tung Lo-kai sekarang tak dapat mengikuti gerakannya karena tahu-tahu si gimbal itu sudah berada di depan hidung. Siang Le sendiri tersentak dan berseru keras. Namun, karena dia sudah waspada dan sejak tadi tak lengah barang sekejap, pemuda itu bergerak dan tusukan dua jari lawan cepat ditamparnya dengan pengerahan *sinkang*.
"Plak!" Kali ini si pemuda terdorong dua tindak. Siang Le tak mencelat lagi karena sudah menambah tenaganya. Tadi ia terkejut karena tak menyangka kehebatan lawannya. Maka begitu kali ini ia mengerahkan *sinkang* dan menambah tenaga, Hauw Kam tergetar. Ia memandang pemuda itu dengan marah; untuk kedua kalinya ia melihat kehebatan lawannya ini. Ia melotot dan membentak lagi.
Ketika dengan cepat ia berkelebat dan menyerang, Siang Le sudah menghadapi puluhan bayangan yang bergerak-gerak di sekitar tubuhnya. Lawan mencengkeram dan melepas pukulan atau tamparan, sementara Siang Le mengelak maju mundur. Namun, ketika lawan mempercepat gerakannya dan Sin-tung Lo-kai berteriak tertahan karena ledakan nyaring terdengar bertubi-tubi, Siang Le memekik, cepat melejit, dan memainkan ilmu silat *Sin-re-ciangnya*.
"Plak-des-dess!" Gwan Beng terkejut. Ia melihat sutenya menjerit ketika lengan si pemuda tiba-tiba mulur seperti karet, maju mundur, dan ganti pemuda itu yang menusuk atau mencolok. Karena gerakan ini sungguh tak diduga dan Hauw Kam lambat berkelit, tusukan atau colokan Siang Le mengenai pinggir matanya.
"Crat!" Hauw Kam melengking. Tiba-tiba Siang Le sudah membalasnya dan pemuda itu pun berkelebatan cepat. Karena Siang Le adalah murid See-ong dan sebagai murid datuk dari barat itu pemuda ini lihai, maka cepat dan bertubi-tubi pula Siang Le melepas pukulan-pukulan berbahaya. *Sin-re-ciang* dimainkan sepenuhnya dan terbelalaklah Hauw Kam melihat lengan yang mulur-mengkeret seperti karet. Pemuda itu sering mengejutkannya dengan serangan-serangan tak terduga. Kedua lengannya yang tiba-tiba memanjang mirip lengan lutung yang menjangkau; sekali mulur, tahu-tahu sudah di depan hidung.
Ketika Hauw Kam marah dan pria ini menjerit tiba-tiba saja gilanya kambuh.
"Weh, he-her...!" Hauw Kam mencak-mencak. Bergerak dan berkelebatan seperti monyet menari-nari, mendadak Hauw Kam yang gimbal itu marah besar. Ia terpental ketika menangkis; tenaga lawan dirasa kian kuat setiap beradu. Maklumlah, Siang Le sekarang memang mengerahkan segenap kepandaiannya setelah tadi terkejut oleh adu pukulan pertama. Ketika pemuda ini membalas dan membuat kedua lengannya mulur-mengkeret, setiap perubahan atau maju-mundurnya tangan *Sin-re-ciang* memang sering mengejutkan Hauw Kam.
"Plak-des-dess!" Mereka kembali sama-sama tergetar. Hauw Kam memekik dan menjerit seperti kera marah. Sekarang gerak-geriknya tak keruan, namun justru di balik semua kekacau-balauannya ini, Hauw Kam memainkan *Sin-kauw-kun* (Silat Kera Sakti), satu pelajaran baru ketika dia berada di hutan bersama suhengnya. Namun, ketika *Sin-kauw-kun* masih juga terpental oleh mulur-mengkeretnya *Sin-re-ciang*, Hauw Kam melengking dan mencabut pedangnya.
"Jangan membunuh!" Gwan Beng tiba-tiba berseru. "Ganti pedangmu, Sute. Jangan membunuh!"
Aneh, Hauw Kam mengangguk. Siang Le melihat lawan tiba-tiba membentak dan melengking. Pedang yang tajam tiba-tiba lenyap lagi di belakang punggung. Ketika sinar lain berkelebat dan sebatang pedang kayu sudah berada di tangan lawannya ini, si gimbal Hauw Kam terkekeh-kekeh.
"Ha-ha, roboh kau, bocah. Sekarang aku akan mainkan ilmu silatku ini... sing-wut!" Pedang bergerak, maju membacok namun ternyata berubah di tengah jalan. Dan ketika Siang Le menangkis namun pedang berputar arah, ujung pedang mencukil dan... bahu Siang Le robek terkuak.
"Bret!" Siang Le terkejut. Tiba-tiba lawan tertawa gembira dan sudah melakukan jurus-jurus aneh. Pedang bergulung-gulung dan terkejutlah Siang Le ketika ia terdesak. Ketika satu tikaman miring kembali menuju lehernya, namun saat dikelit tiba-tiba berubah menusuk dada, Siang Le kaget bukan main karena ujung pedang tahu-tahu sudah menyentuh dadanya.
"Cret!" Siang Le kelabakan. Kalau pedang itu pedang sungguhan dan dia tidak melindungi diri dengan *sinkang*, mungkin dadanya sudah berlubang oleh tusukan lawan yang amat lihai. Lawan tertawa terkekeh-kekeh dan pucatlah Siang Le ketika pedang kembali berkelebatan menari-nari. Ia benar-benar terdesak dan menangkis, tapi pedang selalu menyelinap atau melejit secara tak diduga. Rasa sakit mulai mengganggu pemuda ini; maklumlah, setiap tusukan atau tikaman pedang—meskipun hanya pedang kayu—dilandasi *sinkang* yang cukup tinggi. Pedang itu sebenarnya tak kalah ampuh dengan pedang sungguhan, hanya tajamnya saja yang berbeda.
Ketika pedang menyambar-nyambar dan perlahan tetapi pasti Siang Le semakin terdesak pucat, Soat Eng yang melihat di sana tiba-tiba gelisah.
"Lompat ke kiri, jaga lambungmu...!" Soat Eng mulai berbisik, mengerahkan ilmunya mengirim suara dari jauh. "Jangan tangkis atau pukul pedang itu, Siang Le. Banting tubuh ke kanan dan setelah itu tendang si gimbal secara bergulingan!"
Siang Le terkejut. Suara Soat Eng tiba-tiba menyusup di telinganya; mula-mula mendengung namun akhirnya jelas. Ia melirik dan melihat mulut si nona berkemak-kemik. Giranglah Siang Le dan cepat ia menuruti semua kata-kata itu. Karena Soat Eng mengenal ilmu pedang Hauw Kam dan tentu saja tahu jurus-jurus yang dipergunakan paman gurunya, maka Siang Le yang mengikuti semua kata-kata Soat Eng tiba-tiba mulai dapat meloloskan diri!
"Benar, dan sekarang ketuk pergelangan lawanmu itu. Awas, pedangnya akan memutar ke perut!"
Siang Le mematuhi. Selama hidup, pemuda ini belum pernah berhadapan dengan *Giam-lo Kiam-sut*, jadi tak aneh kalau ia terdesak dan bingung oleh gerakan-gerakan pedang yang luar biasa itu. Maka, begitu ia mengikuti kata-kata Soat Eng yang selalu menyelamatkannya dari sambaran pedang, Hauw Kam tertegun karena pemuda itu tiba-tiba sudah mengetahui ke mana ia akan menyerang. Siang Le terlepas dan kini mulai melakukan serangan-serangannya dengan *Sin-re-ciang*.
"Des-plak!" Hauw Kam terpelanting. Ilmu Silat Karet atau *Sin-re-ciang* itu tiba-tiba hidup kembali. Pedangnya mengenai tempat kosong dan lengan lawan yang mulur tahu-tahu sudah berada di depan mukanya. Hauw Kam mengelak namun kalah cepat. Ketika pundaknya terpukul dan laki-laki itu bergulingan, untuk selanjutnya Siang Le sudah mendesak dan selalu menutup serangan-serangan pedang, menjadikan *Giam-lo Kiam-sut* mati kutu!
"Keparat!" Hauw Kam melotot, gusar. "Bagaimana sekarang kau tahu gerakan-gerakan pedangku, bocah? Kau dapat membaca pikiran orang?"
"Ha-ha!" Siang Le terbahak, gembira karena petunjuk Soat Eng benar. "Aku memang dapat membaca gerakan-gerakan pedangmu, orang aneh. Dan sekarang kau tak dapat merobohkan aku!"
"Tak mungkin!" Hauw Kam memekik sambil menusuk ke kiri, tiba-tiba berkelebat dan melakukan jurus yang disebut Pedang Maut Mencari Matahari dengan gerak berputar. Siang Le terkejut. Seperti biasa, dia tak tahu ke mana pedang itu selanjutnya akan menyerang karena dia selalu mengandalkan petunjuk Soat Eng. Ketika petunjuk itu datang dan Soat Eng memerintahkan agar ia menyambut dan mencengkeram pedang—satu perbuatan berbahaya—Siang Le sudah melakukannya.
"Haiii...!" Seruan itu menandakan marahnya Hauw Kam. Sebenarnya Hauw Kam hendak melanjutkan lagi jurus mautnya dengan bacokan ke bahu. Tapi karena lawan tak mengelak dan justru menyambut pedangnya, menangkap dan siap mencengkeram, maka otomatis gerak selanjutnya menjadi gagal. Ia melengking dan mengayun pedangnya dengan ganas.
"Plakkk!" Siang Le mengerahkan Ilmu Karetnya. Pedang adalah pedang kayu, tak perlu ia takut akan ketajamannya. Karena *Tangan Karet* ini mempunyai gerakan lentur dan otomatis tak bakal terluka, pedang yang tiba-tiba disambut dan dicengkeram pemuda ini seketika tertangkap.
"Jangan diadu...!" Gwan Beng terkejut, kaget melihat sutenya marah dan kehilangan kontrol diri. Apa yang seharusnya tak boleh dilakukan ternyata malah dilakukan sutenya. Seharusnya sutenya menarik pedang dan melakukan serangan lain, jangan melampiaskan hawa marah dengan membiarkan pedang disambut lawan. Benar saja, pedang itu tercengkeram dan lengket di tangan karet Siang Le. Tiba-tiba pedang tak dapat ditarik dan terlambat bagi sutenya itu untuk menyelamatkan diri, karena saat itu Siang Le sudah melakukan tendangan bawah pusar atas perintah Soat Eng.
"Dess!" Hauw Kam mencelat. Kelihaian Siang Le dan kepandaiannya yang sudah mengetahui ke mana pedangnya selanjutnya bergerak membuat laki-laki ini mengeluh. Hauw Kam penasaran namun berkali-kali serangannya gagal. Dan ketika pedangnya tercengkeram dan tak dapat ditarik karena Siang Le membetot dengan *Ilmu Karetnya*, tendangan si pemuda tepat sekali mengenai bawah pusarnya. Hauw Kam roboh terpelanting dan terguling-guling.