Halo!

Istana Hantu - Chapter 128

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 128

Siang Le ragu untuk mengerahkan semua tenaganya karena tendangan itu dapat membunuh lawan. Namun, ketika Hauw Kam melompat bangun dan terhuyung dengan mata mendelik—tanda bahwa lawan benar-benar orang yang amat kosen—Gwan Beng berkelebat dan membentak menyerang pemuda itu sambil mengeluarkan Jaring Naga.

"Sute, tangkap pemuda ini dengan Jaring Naga. Kita bekuk dia!"

Siang Le terkejut. Lawan tiba-tiba menggerakkan kedua tangan untuk menghantam. Siang Le menangkisnya, tetapi tiba-tiba dari kedua lengan itu muncul benang laba-laba yang menggubat dan segera merekat di tangannya. Ketika Siang Le berteriak kaget karena tangannya tidak dapat digerakkan, terbungkus, dan sebentar saja dililit benang laba-laba itu, Hauw Kam tertawa bergelak lalu berkelebat menendang perutnya.

"Dess!" Siang Le mencelat.

Pemuda ini mengeluh dan Soat Eng terkejut. Sekarang Siang Le bukan menghadapi permainan pedang biasa, melainkan silat Jaring Naga, ilmu silat yang mengeluarkan benang laba-laba. Karena Soat Eng sendiri justru tertangkap dan roboh oleh ilmu silat ini, gadis itu tidak dapat memberi tahu lagi apa yang harus dilakukan Siang Le.

"Bret-plak!" Siang Le berseru keras.

Dia sedang bergulingan ketika dikejar dan menerima pukulan itu. Dia berteriak karena Hauw Kam tiba-tiba juga mengeluarkan Jaring Naganya. Si gimbal ini sudah menyimpan pedang dan tertawa-tawa melihat kekagetan Siang Le. Ketika Siang Le bingung dan gugup, Gwan Beng berkelebat menyerang lagi sehingga ratusan atau ribuan benang laba-laba sudah mengurung pemuda ini dari segala penjuru.

"Kim-siocia, tolong. Bantu aku!"

Soat Eng pucat. Dia tidak dapat menolong kalau Gwan Beng dan sutenya sudah mengeluarkan ilmu silat yang aneh itu. Dari sepasang lengan dua orang ini menyambar-nyambar benang-benang aneh yang daya rekatnya kuat. Ketika Siang Le sibuk, benang laba-laba itu terus mengejar dan mendesaknya hingga akhirnya kaki dan tangan pemuda ini tergubat.

"Ah, keparat!" Siang Le memaki. "Ini ilmu setan, manusia-manusia busuk. Kalian siluman dan benar-benar iblis!"

"Ha-ha!" Hauw Kam tertawa bergelak. "Boleh kau memaki-maki kami, bocah. Tapi sebentar lagi kau mampus!"

"Jangan bunuh!" Gwan Beng berseru, memperingatkan sutenya. "Tangkap hidup-hidup anak ini, Sute. Aku jadi curiga dan ingin tahu bagaimana dia tahu ilmu pedang kita!"

"Benar," Hauw Kam teringat, mengangguk berseri. "Kau benar, Suheng. Aku juga jadi penasaran dan ingin tahu bagaimana tiba-tiba dia dapat mengetahui lebih awal semua jurus pedangku tadi!"

Sambil terkekeh dan mempergencar serangan, akhirnya Siang Le menjadi sibuk dan kewalahan. Dia tak mampu berkelit lagi ketika benang laba-laba yang keluar dari Hauw Kam maupun Suheng-nya itu semakin tebal, mengurung, dan sudah menggubat bahu serta lehernya. Ketika Siang Le tidak dapat bergerak karena sudah digubat begitu banyak benang laba-laba, akhirnya pemuda itu jatuh berdebuk setelah sebuah totokan dilepas Gwan Beng.

"Bluk!" Siang Le mengeluh. Sekarang pemuda ini tak berdaya dan memaki-maki kedua lawannya. Namun, ketika Hauw Kam tertawa dan menggaplok mukanya, pemuda ini mendesis dan melotot.

"Bocah, jangan macam-macam. Sekarang aku tak tahan mendengar semua makianmu. Nah, ikut baik-baik semua perintah kami!"

Lalu, menghadapi Suheng-nya untuk bertanya apa yang harus dilakukan, si gimbal Hauw Kam berseru, "Diapakan bocah ini, Suheng? Dipanggang atau diasapi seperti babi disembelih?"

"Hm, itu nanti. Sekarang bagaimana dengan tiga tikus busuk itu?"

"Oh, pengemis ini? Ha-ha, lempar mereka ke sungai, Suheng. Atau suruh pemuda ini menyeret ketiganya!"

"Tidak!" Soat Eng tiba-tiba melengking. "Kalian telah berjanji untuk melepaskan mereka, Koai-jin. Bebaskan mereka atau aku akan mengamuk!"

"Hm, gadis yang binar," Hauw Kam mengomel geregetan. "Gara-gara siluman betina ini kita jadi repot, Suheng. Sebaiknya bocah ini diseret pula!"

"Tidak," Suheng-nya menggeleng. "Kita memang telah berjanji, Sute. Sebaiknya mereka dibebaskan dan biar dua anak muda ini saja menjadi tawanan!"

"Kalau begitu biar kutendang mereka!" Hauw Kam yang sekali lagi menendang Sin-tung Lo-kai dengan marah membentak, "Kalian pergi, pengemis busuk. Dan jangan perlihatkan tampang kalian lagi di depanku. Enyah!"

Sin-tung Lo-kai mengeluh. Kakek pengemis ini mencelat dan segera dua muridnya menyusul. Kiat Ma dan Suheng-nya mengaduh ditendang si gimbal. Tapi ketika mereka dapat berdiri dan terhuyung bangun, guru mereka tampak ragu-ragu memandang Soat Eng, yang segera berseru, "Kalian jangan di sini. Tak usah khawatir, mereka akan membawaku menghadap ayah-ibuku!"

"Apa benar?" Kakek ini tak percaya. "Hanya orang gila yang berani menemui ayah-ibumu, Siocia. Dan Lohu tak gampang percaya!"

"Cerewet!" Hauw Kam berkelebat. "Kau masih juga pentang mulut? Eh, pergi, pengemis busuk. Atau aku tak dapat menahan sabar dan kau kubunuh... des-dess!"

Sin-tung Lo-kai menjerit, langsung terbanting empat tombak, dan Kiat Ma serta Suheng-nya pucat. Mereka melihat guru mereka itu merintih dan tulang pundaknya retak. Mereka tak ayal melompat kaget dan menolong guru mereka itu. Ketika Soat Eng kembali berseru supaya mereka cepat pergi, Kiat Ma menangis dan memanggul gurunya.

"Baiklah, kami pergi, Siocia. Dan maaf bahwa kepandaian kami yang rendah sama sekali tak berguna!"

"Ha-ha, memang tak berguna!" Hauw Kam tertawa bergelak. "Kalian cepat enyah, tikus-tikus busuk. Atau kalian kupatahkan kakimu dan menyesal tak dapat pergi lagi!"

Lu Sam mengumpat. Suheng Kiat Ma ini cepat membantu Sute-nya dan dipondonglah guru mereka itu. Ketika mereka pergi dan tersaruk-saruk melangkah, Soat Eng lega melihat mereka akhirnya lenyap.

"Nah, kau," Hauw Kam membalik, menghadapi tawanannya berdua. "Ceritakan bagaimana kau tahu jurus-jurus ilmu pedangku, bocah. Dan bagaimana kau dapat berkelit sebelum seranganku berikut tiba!"

"Aku yang memberi tahu!" Soat Eng tiba-tiba berseru, takut si pemuda disiksa. "Pemuda ini tidak tahu apa-apa, Koai-jin. Jangan marah kepadanya, marah-marahlah kepadaku!"

"Apa?" Hauw Kam terbelalak. "Kau?"

"Ya, aku. Nah, kau boleh marah kepadaku dan bebaskan pemuda ini. Dia tidak tahu apa-apa!"

"Ha-ha!" Hauw Kam tiba-tiba tertawa bergelak memandang Suheng-nya. "Bagaimana pendapatmu, Suheng? Apakah bocah ini yang gila atau aku yang tak mengetahui perasaan muda-mudi?"

"Hm, mereka jelas telah saling mengenal dengan baik. Dan Tangan Karet pemuda itu, hmm... kau pernah mendengar murid siapa kiranya pemuda ini, Sute? Apakah ada hubungan dengan Kim-mou-eng?"

"Aku tidak ada hubungannya dengan Kim-mou-eng!" Siang Le tiba-tiba berseru. "Aku dan putrinya adalah sahabat, Koai-jin. Kami bukan kerabat, melainkan sahabat!"

"Hm, sahabat yang istimewa," Hauw Kam tiba-tiba tertawa mengejek. "Dan kau ikut-ikutan memanggil Koai-jin! Eh, siapa gurumu, anak muda? Berani kau mengatakan siapa gurumu itu agar kami dapat membawa kepalamu ke sana?"

"Dia murid See-ong!" Soat Eng mendahului, coba menggertak. "Kalian berani mati menanam permusuhan dengan kami berdua, Koai-jin. Lepaskan dia dan jangan ganggu lagi!"

"See-ong?" Kali ini Gwan Beng mengerutkan kening. "Siapa ini? Di mana tinggalnya?"

"Suhu tinggal di Istana Hantu. Dan kuminta kalian bebaskan Kim-siocia ini kalau ingin bertemu guruku!"

"Hm, Istana Hantu? Eh, tempat apa itu, anak muda? Di mana?"

"Di Sam-liong-to. Kalian dapat bertemu guruku kalau minta kuantar. Tapi bebaskan dulu nona ini dan kubawa ke sana!"

"Tidak," Soat Eng tiba-tiba berseru marah. "Mereka akan membawaku ke ayah-ibuku, Siang Le. Jangan dibujuk ke sana dan biar kau saja yang dibebaskan!"

"Tapi aku ingin menolongmu..."

"Aku tak butuh pertolonganmu!" Soat Eng tiba-tiba membentak memotong. "Aku tak ingin hutang budi padamu, Siang Le. Kau lancang dan kini merepotkan aku!"

"Lho, merepotkan?" Pemuda ini tertegun, tak mengerti. "Bagaimana bisa begitu?"

"Bagaimana tidak?" Soat Eng marah-marah. "Gara-gara kau datang ke sini untuk menolongku, maka kau tertangkap, Siang Le. Kalau kau tidak datang ke mari dan kita tidak bertemu, tentu aku tak harus merasa bersalah kalau bertemu gurumu!"

"Ah, Suhu tak tahu apa-apa. Aku datang karena kebetulan melihat dua orang ini menawanmu!"

"Itulah! Siapa suruh kau datang? Kalau kau tak ke sini dan tak tertangkap, tentu aku tak harus merasa berhutang budi, Siang Le. Tapi karena kau ingin menolongku dan kini tertangkap, maka aku merasa berhutang budi!"

"Aku tidak bermaksud menghutangkan budi," Siang Le tertegun. "Aku menolongmu dengan ikhlas, Nona. Tak usah dipikirkan masalah budi atau tidak."

"Siapa harus begitu? Memangnya aku orang sesat yang tak harus menghitung kebaikan orang? Keparat, dua kali kau menolongku, Siang Le. Dan dua kali aku jadi gemas padamu!"

Soat Eng tiba-tiba menangis, memaki-maki, dan mengepalkan tinjunya. Terbelalaklah pemuda itu. Siang Le bengong, dan Hauw Kam serta Suheng-nya juga tertegun. Tapi ketika Hauw Kam tertawa dan terkekeh-kekeh, tiba-tiba si gimbal ini melompat.

"Ha-ha, cinta! Ini gara-gara cinta, Suheng. Kalau bocah laki-laki ini tidak mencintai si perempuan, tentu dia tidak senekat ini. Eh, kau jangan marah-marah kepadanya, siluman cilik. Kau harus berterima kasih karena dua kali dia sudah menolongmu. Ha-ha, aku jadi ingin melihat kelakuan pemuda ini kalau dia membelamu!"

Soat Eng yang seketika menghentikan tangisnya karena mendelik dengan muka merah, tiba-tiba terkejut karena Hauw Kam si gimbal itu mencengkeramnya.

"Kau kuseret, dan pemuda ini akan kugendong!"

Hauw Kam yang sudah terkekeh menyeret Soat Eng, tiba-tiba menyambar dan berkelebat memanggul Siang Le.

"Suheng, ayo pergi. Kita lanjutkan perjalanan!"

Soat Eng yang tentu saja terkejut tapi tidak berdaya, tiba-tiba memaki-maki karena bajunya robek-robek sepanjang jalan diseret saja, sementara Siang Le juga terkejut. Pemuda ini dipanggul sementara Soat Eng diseret, hal yang membuat pemuda ini marah dan tiba-tiba membentak agar si gimbal itu berhenti.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment