Halo!

Istana Hantu - Chapter 129

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 129

Namun, ketika Hauw Kam mempercepat larinya dan Soat Eng terpental-pental di tanah berbatu, Siang Le tiba-tiba menggigit dan menancapkan giginya di punggung si gimbal ini.

"Iblis kejam, lepaskan gadis itu!"

"Augh!" Hauw Kam berteriak, melepas Soat Eng, lalu menampar dan melepas pemuda itu. Ia menendang dan membantingnya hingga Siang Le mengeluh karena tubuhnya serasa remuk.

Ketika Hauw Kam terbelalak dan melotot marah, si gimbal ini menyambar Soat Eng dan ganti menyeret Siang Le.

"Sekarang kau kuhajar. Berani benar menggigit!" Siang Le yang tersentak menahan sakit kini diseret sepanjang jalan secara kasar di tanah berbatu. Pemuda itu mendesis menahan sakit.

Soat Eng sudah dipanggul, sementara Siang Le ganti terpental-pental di tanah yang keras. Baju di bagian punggung pemuda itu seketika hancur dan Soat Eng merasa ngeri. Ketika si gimbal tertawa-tawa sementara kulit dan tubuh pemuda itu lecet-lecet, Soat Eng terbelalak, bingung, dan marah.

"Ha-ha, sekarang kulihat reaksi gadis ini, bocah. Kalau dia tidak berteriak-teriak dan menyuruh aku berhenti, maka sampai di luar Tembok Besar kau akan kusiksa!"

"Siksalah!" Siang Le menahan sakit, menggigit bibir sampai pecah berdarah. "Kau boleh siksa dan bunuh aku, Koai-jin. Asal tidak membunuh atau menyiksa gadis itu!"

"Ha-ha, kau mencintainya?"

Siang Le tidak menjawab, hanya melotot. Ketika lawan mengulang pertanyaannya dan berlari semakin kencang, Soat Eng membentak dan memaki-maki lawannya.

"Tua bangka, kau gila dan benar-benar tidak waras. Tak perlu menanyakan itu kalau tak ingin membuat dia malu!"

"Ha-ha, malu apanya? Eh, aku bertanya karena aku ingin tahu, bocah perempuan. Dan aneh bahwa kau tidak ganti berteriak-teriak menyuruh aku berhenti!"

"Aku... aku tidak sudi. Tapi jangan siksa atau perlakukan dia seperti itu di depan mataku!"

"Ha-ha, kau tak mencintainya?"

"Keparat, kau orang tua bermulut busuk!"

"Ha-ha, kalau begitu kuteruskan siksaanku. Dan baru kulepas kalau dia atau kau yang minta ampun!"

Siang Le yang mengeluh karena diseret dengan cepat akhirnya merintih kesakitan; ia tak dapat mengerahkan *sinkang* karena tubuhnya dalam keadaan tertotok. Soat Eng akhirnya menutup mata ketika pemuda itu sudah berlumuran darah. Ketika perbuatan Hauw Kam semakin kejam dan ia meminta Siang Le untuk minta ampun namun mereka sama sekali tak mau menjawab, si gimbal Hauw Kam merasa gusar.

"Kalian sama-sama keras kepala? Tak mau minta ampun agar pemuda ini kulepaskan? Baik, aku akan terbang semakin cepat, bocah. Dan biar tubuhnya hancur di tanah berbatu!"

Soat Eng yang menjerit melihat bukti kata-kata itu akhirnya berteriak menyuruh Siang Le minta ampun, memaki-maki Siang Le karena pemuda itu bodoh dan tak tahu diri. Musuh akan melepas dirinya kalau dia mau bicara. Tapi ketika Siang Le tersenyum dan menggelengkan kepalanya, pemuda gagah yang kesakitan itu berkata, "Biarlah, biar aku mati, Kim-siocia. Aku tak dapat dipaksa dan jangan harap minta ampun. Kalau kau yang mau mintakan ampun terserah, tapi bukan aku!"

Soat Eng melotot dengan muka merah padam. Dia bingung dan tentu saja tahu apa yang dimaksud pemuda ini. Hauw Kam telah memaksa mereka minta ampun. Siang Le ditantang kegagahannya, sedangkan Soat Eng ditantang pernyataan cintanya. Kalau gadis itu mencintai pemuda ini, Hauw Kam menghendaki Soat Eng bicara, karena tentu dia akan segera membebaskan mereka. Tapi karena Soat Eng marah dan bingung—terlebih paksaan si gimbal itu membuat mukanya merah padam—akhirnya dia mencoba menutup mulut rapat-rapat, lalu memaki Siang Le yang dianggap tidak tahu diri dan ingin mati.

Ketika Siang Le menanggapi semua makian itu dengan senyum tenang dan tabah, akhirnya Soat Eng mulai tak tahan saat pemuda itu pingsan untuk pertama kalinya.

"Biarlah, aku boleh mati, Nona. Asal jangan kau yang diseret!"

"Tapi kau akan mati, tubuh dan tulangmu akan hancur!"

"Tak apa, aku siap berkorban, Nona. Kalau ini untukmu, biarlah kutahan... augh!"

Siang Le yang berlumuran darah mengeluh perlahan, lalu tiba-tiba tak dapat melanjutkan bicaranya lagi dan pingsan. Hauw Kam menyeretnya terus sambil tertawa-tawa tanpa peduli. Soat Eng menggigit bibir dan akhirnya menangis. Ketika Siang Le sadar lalu pingsan sampai tiga atau empat kali, akhirnya gadis ini berteriak.

"Berhenti! Lepaskan dia! Jangan seret lagi! Aku... aku mencintainya...!"

Hauw Kam yang tertawa tergelak menghentikan larinya, lalu tiba-tiba melepas Siang Le yang segera terguling roboh. Ia mengeluh, namun pemuda itu berseri-seri memandang Soat Eng. Gadis itu tersedu-sedu dan si gimbal ini berjingkrak girang, merasa kemenangannya mutlak. Dia tak peduli ketika sejak tadi *suheng*-nya menegur dan membentak, bahkan mengejarnya, namun dia justru berlari semakin kencang.

Ketika Soat Eng mengakui cintanya dan berhasil dipaksa meminta ampun, si gimbal Hauw Kam menari-nari. "Ha-ha, benar... benar, *suheng*. Dua sejoli ini sebenarnya saling mencinta. Lihat, gadis ini akhirnya tak tahan dan mengaku juga. Bukankah tebakanku tepat? Ha-ha, kalau tadi-tadi siluman betina ini mengaku, tentu si pemuda tak perlu kusiksa. Ah, perempuan memang aneh dan minta dipaksa dulu!"

Hauw Kam yang merasa berhasil lalu berkelebat dan menolong Siang Le. "Kau dengar kata-katanya?" serunya terkekeh. "Bocah perempuan itu akhirnya jatuh ke tanganku, anak muda. Dia kalah, mengaku. Dan sekarang aku harus mengobatimu!"

Siang Le yang diurut serta dibalur obat tidak menghiraukan semua pekerjaan si gimbal itu; ia terus berseri-seri dan bahagia memandang Soat Eng. Gadis itu menangis tapi melotot padanya. Ketika Siang Le tersenyum dan mengangguk terima kasih, tiba-tiba Soat Eng mendamprat, mempergunakan ilmu *Coanbit*-nya.

"Siang Le, jangan girang oleh pernyataanku ini. Aku hanya berpura-pura. Aku hanya ingin membalas budimu. Setelah bebas, tentu aku akan berurusan lagi denganmu!"

"Hm...!" Pemuda ini mendesah, matanya tiba-tiba muram. "Kau tetap memusuhiku, Kim-siocia? Kau... kau hanya dusta belaka?"

"Memangnya aku sungguh-sungguh? Cih, manusia sesat macam dirimu tak mungkin kucinta, Siang Le. Tengok dirimu itu dan jangan merasa besar kepala!"

Siang Le tertegun. Dia telah selesai diobati dan Hauw Kam kini memanggulnya sambil menepuk-nepuk pinggulnya. Ketika laki-laki itu tertawa dan berkata bahwa mulai sekarang dia tidak akan diseret lagi, Hauw Kam menendang Soat Eng ke arah *suheng*-nya.

"Pemuda ini harus kurawat, aku akan menebus dosa. Ha-ha, terima bocah perempuan ini, *suheng*. Dan sekarang kita masing-masing mendapat seorang!"

Gwan Beng menggeleng-gelengkan kepala. Untuk kedua kalinya dia menerima gadis itu dan memanggulnya. Ketika *sute*-nya berkelebat dan minta agar mereka pergi lagi, dia mengangguk dan berseru, "Baik, tapi jangan siksa lagi dua anak muda ini, *sute*. Aku tak suka kau membuat gadis ini menangis. Kalau kau melanggar dan tidak mendengar kata-kataku, maaf saja, kau akan kuhajar!"

"Ha-ha, boleh. Kali ini aku menurut!"

Hauw Kam yang berkelebat membawa Siang Le akhirnya tertawa. Dia tidak melihat pertengkaran tadi; dia tidak melihat muka Soat Eng yang merah padam dan Siang Le yang murung. Murid See-ong ini terpukul karena dia dinyatakan sebagai orang sesat dan tak layak mencintai gadis seperti Soat Eng. Puteri Pendekar Rambut Emas itu adalah gadis baik-baik, bukan seperti dirinya yang merupakan murid seorang kakek iblis, bahkan gurunya telah membunuh kakek gadis itu, Hu Beng Kui atau Hu-taihiap si jago pedang.

Ketika Siang Le menggigit bibir dan menunduk di gendongan lawannya, Gwan Beng di sana juga berkelebat dan menyusul *sute*-nya, terbang menuju tempat Pendekar Rambut Emas berada.

Di luar Tembok Besar, tepatnya di sebuah lembah yang sunyi, dua orang duduk bersila. Keduanya tampak memusatkan perhatian pada *samadhi*, duduk tak bergeming. Namun, yang di sebelah kiri, seorang wanita cantik berusia empat puluhan tampak gelisah.

Ketika dua jam mereka bersila namun wanita ini tak dapat memusatkan diri, akhirnya ia terisak dan gemetar, memanggil laki-laki yang duduk di sebelah kanannya.

"Suamiku, aku tak berhasil. Bangunlah, aku gagal...!"

Laki-laki itu membuka mata. Dia terkejut dan mengerutkan kening ketika melihat istrinya menangis tersedu-sedu dan menubruk dirinya. Laki-laki itu, yang bukan lain adalah Pendekar Rambut Emas, mengusap rambut istrinya yang bernama Swat Lian.

"Hm, ada apa lagi, *niocu*? Kau gagal bersamadhi?"

"Benar, aku... aku tak tenang. Aku teringat anak-anak!"

"Hm, sudah berkali-kali kau nyatakan ini. Dan sudah kubilang pula bahwa kita tak perlu khawatir. Kenapa kau tak dapat mengendalikan dirimu, *niocu*? Kenapa kau berlebih-lebihan begini? Tenanglah, aku akan mengikuti apa kehendakmu bila kau ingin aku mencari mereka!"

"Aku... aku tak dapat terlalu lama tidak bertemu anak-anakku. Aku cemas akan nasib mereka. Ah, kita harus mencari mereka, suamiku. Thai Liong sudah setahun ini tak pulang!"

"Ya, dan Soat Eng juga. Tapi aku tak khawatir. Aku tak merasakan apa-apa..."

"Ah, kau lelaki tak merasakan dukanya ibu, suamiku. Kau tak tahu perasaan perempuan. Kau selalu menghiburku tapi aku tak merasa tenteram. Aku ingin meninggalkan tempat ini, apalagi setelah kau bicara tentang Togura itu!"

"Hm, tenang," sang suami, Pendekar Rambut Emas, tiba-tiba bangkit berdiri. "Aku merasa getaran sesuatu mendekatiku, *niocu*. Ada orang akan datang menemui kita!"

"See-ong?" Sang istri meloncat bangun, tiba-tiba beringas, cuping telinganya bergerak naik turun. "Aku juga merasakan itu, suamiku. Dan, ah... agaknya mereka membawa Eng-ji!"

Sang suami menoleh ke kiri. Dari sana getaran itu dia tangkap. Sang istri menyusul dan tertegunlah Pendekar Rambut Emas melihat dua bayangan mendekati mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment