Halo!

Istana Hantu - Chapter 13

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 13

"Seolah banyak berkeliaran hantu-hantu penasaran!"

"Kau percaya adanya hantu?"

"Percaya atau tidak, tapi nyatanya tempat ini begini, Eng-moi. Kita harus keluar dan lihat ruangan apa ini!"

Thai Liong berkelebat, hafal pintu keluar, sementara adiknya mendesis dengan keringat sedingin kakaknya. Betapapun, suara-suara tanpa rupa itu menyeramkan bagi mereka. Ketika mereka sudah di luar dan obor dapat dinyalakan kembali, ternyata ruangan itu adalah ruangan jasad, seperti apa yang terpampang di pintu masuknya.

"Makam para hukuman!" Soat Eng dan kakaknya tertegun.

Sekarang mereka melihat tulisan itu, bahwa tempat yang mereka masuki tadi adalah kuburan, mungkin kuburan massal bagi para hukuman yang mati, tewas, atau mungkin dibunuh. Soat Eng terlongong, sementara kakaknya mundur dan cepat mencabut peta.

"Kita salah masuk, sebaiknya melihat peta dan mengikuti petunjuk-petunjuknya."

Soat Eng menggigil. Tempat seperti ini menyeramkan, membuat gadis itu seakan memasuki dunia asing; suatu dunia lain di mana roh-roh yang penasaran bergentayangan, ada yang tertawa dan ada pula yang berjalan-jalan. Padahal semuanya tadi tidak ada orangnya. Bahkan tadi ada pula suara seperti orang menangis.

Saat Soat Eng pucat dan kata-kata kakaknya hampir tidak didengar, Thai Liong sudah mengambil petanya dan mengamati di bawah cahaya obor yang kini tidak padam lagi ditiup setan!

"Ini kuburan massal, tempat para hukuman yang berdosa. Dan itu ruangan dalam serta tempat tinggal penghuni istana. Nah, di sini kita harus berjalan, Eng-moi. Kita harus ke kiri dan belok ke kanan."

Namun Soat Eng tidak menjawab.

"Eh, kenapa kau ini?"

"Aku masih merasa ngeri!" Gadis itu menggigil tersendat. "Baru kali ini aku membuktikan adanya dunia hantu, Liong-ko. Kukira dongeng, tapi kiranya sungguh-sungguh!"

"Sudahlah," kakaknya menenteramkan. "Aku juga ngeri, Eng-moi. Tapi hantu tidak dapat mencelakai manusia. Dunia hantu adalah dunia roh halus, mereka tidak dapat ke dunia kasar ke tempat kita."

"Benarkah? Tapi kenapa suara tawa dan orang berjalan-jalan itu terdengar? Dan tadi ada yang menangis, Liong-ko. Aku merasa seram karena tempat ini benar-benar tempat hantu!"

"Tidak perlu takut. Tadi kita salah masuk, Eng-moi. Sekarang tidak perlu ke situ lagi. Kita cari tempat yang lain. Ayo, masuki ruangan permaisuri atau raja. Aku telah menemukan petunjuknya!"

Soat Eng merasa lemah. Meskipun gagah dan pemberani, namun sebagai manusia biasa, gadis ini tidak tahan menghadapi dunia hantu. Suara-suara menyeramkan itu seumur hidup pasti akan diingatnya, tidak mungkin lupa. Ketika kakaknya menyambar lengannya dan naik ke tangga batu sebelah kiri, akhirnya dia diajak ke tempat yang lebih baik, membelok ke kanan, dan mulailah Thai Liong mengikuti petunjuk peta.

Lorong-lorong berdebu mereka masuki, namun kini suasananya lebih menenteramkan meskipun masih tetap dingin. Ketika ruangan besar dan luas mulai mereka lihat, tempatnya juga menjadi lebih terang dan jelas. Akhirnya cahaya matahari mulai masuk dan di sini obor mereka padamkan, tanda mereka telah berada di tempat yang tinggi setelah berkali-kali terus naik menanjak.

"Nah, ini taman permaisuri. Itu tentu bekas kaputren!"

Mata Soat Eng bersinar-sinar. Setelah kakaknya mengajak naik dan meninggalkan tempat di bawah, gadis ini mulai tenang dan lega. Kakaknya benar-benar mengagumkan karena tampaknya hanya sedikit saja terpengaruh oleh kejadian di tempat kuburan tadi. Begitu kakaknya menunjuk dan bekas taman masih terlihat jelas, gadis itu menarik tangannya dan meloncat ke kiri.

"Benar, ini taman, Liong-ko. Dan indah sekali patung batu ini!" seru Soat Eng memuji sebuah patung yang berada di tengah taman.

Patung itu berbentuk seorang laki-laki menunggang kuda, tidak begitu besar namun tampak hidup, halus, dan tinggi nilai seninya. Tapi begitu patung disentuh dan ditepuk kepalanya, mendadak terdengar bunyi mencuit dan tiga sinar hitam menyambar gadis ini.

"Awas!"

Soat Eng terkejut. Seruan kakaknya membuat dia tersentak, namun sudah tidak mungkin menghindari tiga sinar hitam ini. Sinar itu melesat dari mata patung dalam jarak yang terlampau dekat. Soat Eng mengibas, mengerahkan *sinkang*-nya, dan cepat dia menampar atau menyampok. Dalam kondisi seperti ini, pedang pun bisa patah jika disampoknya. Benar saja, tiga sinar hitam itu terpukul dan runtuh ke tanah. Soat Eng melihat bahwa itu adalah tiga panah kecil yang berbisa.

"Kau tidak apa-apa?"

Soat Eng menggeleng dengan muka yang agak berubah. "Tidak. Maaf, Liong-ko, aku sembrono..."

"Hm, ini seperti panah di luar tadi, Eng-moi. Panah beracun! Kau tidak terluka?"

"Tidak."

"Lain kali hati-hati, sebaiknya semua benda di sini jangan dipegang dulu!"

Adiknya mengangguk, masih tergetar oleh kejadian ini. Thai Liong mengamati sekeliling dan mulai takjub akan bentuk ruangan di tempat itu. Sambil memuji keindahannya, ia membawa adiknya masuk lebih dalam. Ketika satu demi satu kamar atau ruangan indah mereka masuki, kakak beradik ini mendapati bahwa di setiap kamar pasti ada patung atau benda-benda lain seperti pot bunga atau jambangan.

Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat di mana terdengar bunyi gemericik air yang mengalir. Begitu tiba di sana, tiba-tiba Soat Eng melengos karena tempat itu penuh dengan patung-patung telanjang, laki-laki dan perempuan. Salah satu di antaranya mengeluarkan suara gemericik tersebut; patung seorang laki-laki yang dari alat rahasianya mengucur air jernih. Patung ini seolah sedang kencing. Meskipun hanya patung, semuanya ditonjolkan begitu jelas. Tentu saja Soat Eng malu!

Gadis itu mencaci dan meloncat ke tempat lain, sementara kakaknya tertegun dan Thai Liong sendiri merasa mukanya memerah.

"Aih, patung seni bernilai tinggi!" seru Thai Liong, mengagumi keindahan patung dari kacamata seorang seniman. Bentuknya begitu halus dan pahatannya luar biasa, benar-benar seperti manusia hidup. Jantan dan perkasa!

Tapi adiknya mendengus dan mengomel panjang pendek. "Huh, seni apanya, Liong-ko? Patung itu cabul dan kurang ajar. Aku benci!"

Saat Soat Eng yang marah memandang ke tempat lain, dia melihat patung-patung serupa yang menggambarkan wanita, dan gadis itu merasa jengah sekali. Air mancurnya ada yang keluar dari telinga, hidung, mulut, atau bagian lain. Karena menganggap ada patung yang kurang ajar, tiba-tiba Soat Eng menggerakkan kaki dan menendang patung wanita yang sedang buang air itu.

"Dess!"

Thai Liong terkejut. Patung yang ini belum sempat dilihatnya. Begitu adiknya menendang hingga patung itu hancur, mendadak terdengar suara menggelegar dan bumi yang mereka injak bergetar hebat. Disusul meluncurnya sebongkah batu besar dari atas yang tepat jatuh ke arah kepala adiknya.

Thai Liong berkelebat dan menampar batu itu sambil berteriak agar adiknya menyingkir. Soat Eng melemparkan tubuhnya bergulingan. Ketika batu itu jatuh ke lantai, suaranya yang berdebum sungguh membuat semangat seakan terbang.

"Bumm!"

Suara ini sanggup merontokkan nyali seorang penakut. Ruangan bergetar hebat dan batu itu pecah, pertama oleh pukulan Thai Liong tadi dan kedua akibat benturan keras ke lantai. Soat Eng bangkit dengan wajah pucat, sementara kakaknya menegur dengan keringat di dahi. Soat Eng membela diri dengan suara uring-uringan.

"Aku menendang patung itu karena keterlaluan. Kalau tidak cabul dan keterlaluan, tidak mungkin aku menendangnya, Liong-ko. Pembuat patung ini orang tidak tahu malu dan cabul!"

"Hm, jangan menyalahkan pembuat patung, Eng-moi. Pembuat pasti membuat atas perintah seseorang. Memang patung ini rata-rata kurang ajar, tapi mereka tetaplah patung!"

"Benar, tapi kalau begini keterlaluan, Liong-ko, saru!"

"Kalau begitu kita ke tempat lain, tidak usah di sini lagi!"

Thai Liong berkelebat menyambar adiknya lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangan lain. Hatinya masih berdebar karena adiknya tadi hampir celaka tertimpa batu sebesar gajah.

Sambil mengelilingi istana, Thai Liong menemukan tempat tidur para pangeran, terbukti dari nama-nama yang terpampang di pintu masuk yang besar dan kokoh. Namun, di sini pun ada patung seperti tadi, meskipun hanya setengah telanjang. Sebagian besar adalah patung wanita dan Soat Eng kembali mengomel panjang pendek. Rata-rata patung di situ memperlihatkan bagian dada, sementara bagian bawahnya tertutup.

Lagi-lagi Soat Eng mengomel karena menganggap pembuat patung adalah seorang cabul yang pikirannya buruk. Muka Thai Liong pun memerah. Jika sebelumnya adalah lelaki telanjang, sekarang adalah patung wanita yang setengah telanjang. Memang harus diakui bahwa semua patung itu indah dan memiliki nilai seni tinggi karena tampak hidup dan bersinar.

Karena model patung rata-rata seperti itu, Thai Liong melengos dan mengajak adiknya ke ruangan atas, naik ke tempat yang menurut mereka hampir di puncak bangunan yang menonjol di permukaan tanah.

"Kita ke atas, cari tempat harta dan ruangan yang menyimpan kitab!"

"Untuk apa dengan harta? Ruang perpustakaan boleh kita cari, Liong-ko, tapi ruang harta sebaiknya tidak perlu!"

"Eh," kakaknya memperingatkan, "Ji Pin menunggu kita, Eng-moi. Dan kita telah berjanji untuk memberikan harta peninggalan padanya!"

"Hm," Soat Eng teringat. "Kalau begitu boleh, Liong-ko. Terserah padamu!"

Soat Eng mengikuti kakaknya mencari sambil membuka peta. Semakin ke atas suasana semakin terang karena cahaya matahari mulai tampak di celah-celah ruangan. Thai Liong teringat bahwa gempa telah meretakkan beberapa bagian istana ini, sehingga cahaya matahari masuk dan pandangan mereka menjadi lebih jelas. Namun, ketika ruangan yang dicari belum ketemu dan istana itu terasa terlalu luas untuk dikelilingi, mendadak mereka mendengar suara-suara aneh di atas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment