Halo!

Istana Hantu - Chapter 130

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 130

Dua bayangan itu masih jauh dan jaraknya barangkali masih ratusan li, satu atau dua jam jika melakukan perjalanan dengan berlari cepat, itu pun sudah mempergunakan ilmu meringankan tubuh seperti Jing-sian-eng atau Cui-sian Gin-kang.

Ketika istrinya juga tertegun dan terbelalak ke depan melihat bayangan samar-samar itu, mereka menoleh dan saling pandang.

"Aku melihat dua orang laki-laki, seorang di antaranya membawa Eng-ji."

"Hm, dan bagaimana yang satu itu, Niocu?"

"Yang satu memanggul seorang pemuda. Aku juga melihatnya. Tapi mereka masih jauh!"

"Hm, benar. Dan mereka bukan See-ong! Apa yang kau lihat lagi, istriku? Kau dapat melihat siapa pemuda yang dipanggul itu?"

"Dia... dia Siang Le, murid kakek iblis itu! Ah, siapa dua laki-laki ini, suamiku? Kau mengenalnya?"

"Hm, masih terlalu jauh. Dan mereka mendatangi tempat kita, sengaja! Ah, ini getaran yang kutangkap itu, Niocu. Kita kedatangan tamu, tapi mereka tak kukenal!"

"Hm, benar. Dan aku harus mencari An-ji!" Swat Lian bersuit melengking nyaring, memanggil seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berkelebat datang. Anak ini masih berusia dua-tiga tahun, namun gerak-geriknya gesit. Dialah Beng An, putra terkecil Pendekar Rambut Emas ini bersama istrinya. Ketika anak itu muncul dengan memanggul seekor kijang besar di bahunya, Swat Lian berseri-seri dan berkelebat menyambar anak laki-lakinya itu; bocah yang mengagumkan karena di usia sedini itu sudah dapat berburu dan mendapatkan seekor rusa besar.

"An-ji, kau tak apa-apa? Kau mendapatkan buruanmu?"

"Ah," anak ini mengomel cemberut. "Aku belum puas, Ibu. Kau menggangguku. Suitanmu membuat seekor harimau belang lari dari incaranku!"

"Tapi kau sudah mendapatkan rusa besar ini..."

"Tidak, yang kuincar adalah si raja hutan itu, Ibu. Aku meletakkan rusa ini dan hampir saja disambar si harimau loreng. Tapi kau membuatnya terkejut, dan aku gagal mendapatkan buruanku yang lebih besar lagi!"

"Hm, maaf," si ibu bersinar-sinar sambil mencium pipi anaknya. "Harimau itu dapat kau cari lagi, An-ji. Ibu memanggil karena ada bahaya datang mengancam. Ibu tak ingin kau jauh dari sini!"

"Siapa yang datang mengganggu? See-ong? Hm, aku tak takut, Ibu. Kalau dia datang, biarlah dia kuhadapi dan ingin kubalas kejahatannya dulu ketika berani menggangguku!"

"Tidak," sang ibu tertawa kagum. "Bukan See-ong, Beng An. Tapi orang lain yang belum Ibu kenal. Mereka sebentar lagi datang dan kau dekat-dekatlah dengan ayah ibumu di sini!"

"Hm," Pendekar Rambut Emas menyambung. "Apa yang dikata ibumu benar, An-ji. Dua orang akan menemui kita dan mereka membawa encimu. Kau berjaga-jagalah dan tetaplah di dekat sini!"

"Enci Eng Eng?" Beng An terbelalak, tiba-tiba marah. "Mereka menawan enci dan datang ke sini, Ayah? Keparat, di mana mereka itu? Biar kulabrak!"

"Hm, kau jangan terlampau sembrono. Kalau encimu dapat ditangkap orang dan kini dibawa ke sini, tentu orang itu lihai. Jangan terlalu pemberani, An-ji. Aku tidak melarangmu, tapi sikap hati-hati harus selalu kau tanamkan!"

"Dan Ibu tak ingin kau ikut campur. Kau anak kecil diam saja di sini dan lihat saja apa yang akan ayah ibumu lakukan. Jangan membantah!" Swat Lian merangkul pundak anaknya dengan bangga. Beng An memang menunjukkan watak yang berani. Ditunjang oleh ayah ibunya yang hebat, anak laki-laki ini berkembang amat pesat. Latihan ilmu silat yang diberikan kepadanya dipelajari dengan cepat. Anak ini sudah dapat berburu dan merobohkan harimau dewasa, bahkan orang pun dia tak takut; lawan sebangsa pengawal tentu dengan mudah ia robohkan.

"Sekarang lempar buruanmu itu ke sini. Biar ibumu menguliti dan kau cari kayu-kayu kering."

"Aku sudah mendapatkannya, Yah. Lihat itu!" Beng An berkelebat, lenyap di kerimbunan semak belukar dan tak lama kemudian muncul lagi membawa seonggok kayu kering untuk memanggang rusa buruan itu.

Ketika ayahnya tersenyum dan Swat Lian tertawa, Beng An menyerahkan rusanya untuk dikuliti sang ibu.

"Aku ingin makan enak, tapi musuh mau datang. Eh, bolehkah aku menyambut, Yah? Atau aku harus mengambil bumbu-bumbu untuk diracik Ibu?"

"Hm, memang benar. Kau harus pulang dulu mengambil semuanya itu, Beng An. Musuh akan datang masih satu atau dua jam lagi. Kau tak boleh keluar, ambil itu dan kemari lagi."

"Sudah kuduga!" Beng An membanting kaki. "Kau terlalu mengkhawatirkan aku, Ayah. Kalau saja aku sudah besar, tentu aku bebas bergerak seperti Thai Liong-koko atau Enci Eng Eng!"

"Hush!" ibunya berseru. "Sudah besar pun tak boleh sebebas-bebasnya, Beng An. Kami, Ayah dan Ibumu, sayang semuanya. Kalian tak boleh mencemaskan orang tua seperti yang dilakukan dua kakakmu itu. Hayo, ambil bumbu-bumbu itu dan kemari lagi!"

Beng An terkejut. Dia takut melihat ibunya marah, sang ayah pun mengerutkan kening dan tampak memandangnya dengan tidak senang. Menyadari telah membuat ayah ibunya marah, anak ini mengangguk dan berkelebat pergi.

Setelah satu jam berlalu, "Hm, derap langkah mereka mulai terdengar!" Pendekar Rambut Emas tiba-tiba bangkit berdiri, telinganya bergerak ke arah kiri. "Kita sisakan masakan ini untuk Cun-lopek, Istriku. Dan kau suruh Beng An membawa kembali!"

"Benar, aku juga dapat merasakan itu. Mereka terbang seperti iblis, kesiur bajunya kutangkap!"

Beng An tertegun. Anak ini melompat bangun namun tidak melihat atau mendengar apa-apa. Ia melongo mendengar pembicaraan ayah ibunya. Luar biasa. Gerakan musuh yang masih jauh sudah ditangkap dan didengar ayah ibunya.

Ketika lamat-lamat Beng An mulai melihat berkelebatnya dua bayangan di tempat yang amat jauh, anak ini terkejut dan kagum.

"Ibu, mereka datang!"

"Ssst, kau jangan berteriak-teriak. Bawa semua sisa-sisa makanan ke rumah!"

"Tapi aku ingin menonton....!"

"Eh, jangan bandel, An-ji. Kau dapat membawa itu dulu dan setelah itu kemari!"

Beng An tak berani membantah. Ketika dua bayangan itu kian dekat, di kejauhan terdengar suara terbahak-bahak disusul maki-makian nyaring.

"Heh, inikah tempatnya, kuntilanak betina? Ini tempat tinggal ayah ibumu? Haha, ingin aku segera bertemu dan melihat seberapa hebat kepandaian si Pendekar Rambut Emas itu!" Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas berdetak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment