Halo!

Istana Hantu - Chapter 131

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 131

Dia melihat dua bayangan itu berkelebat luar biasa cepatnya, bagai terbang. Ketika mereka benar-benar dekat dan ternyata Soat Eng serta Siang Le berada dalam pondongan dua orang tersebut, bayangan yang datang seperti hantu itu berkelebat dan tahu-tahu sudah memasuki mulut lembah.

"Beng An, harap dijaga!" Pendekar Rambut Emas bergerak cepat melindungi istri dan anaknya. Swat Lian mengangguk. Wanita cantik itu juga bergerak, menarik Beng An ke belakang punggungnya.

Saat dua bayangan yang tertawa-tawa itu berkelebat dan langsung bertemu dengan Pendekar Rambut Emas, mereka hampir menabrak karena secepat kilat Pendekar Rambut Emas atau Kim-mou-eng memalangkan lengannya.

"Berhenti!"

*Plak! Dess!*

Dua bayangan itu terpekik, menggerakkan kedua tangan mereka, lalu bertemulah lengan Pendekar Rambut Emas dengan dua pasang tangan yang menghantam serta menolak. Mereka tadi terkejut karena Pendekar Rambut Emas tahu-tahu menghadang dari sebelah kiri, sementara mereka terhalang pohon besar di mulut lembah. Namun, begitu mereka membentak keras, dua pasang tangan sudah bertemu dengan sepasang lengan, dan mereka terpental berjungkir balik.

"Haiyaa! Haihhh!" Pendekar Rambut Emas terkejut. Dia sendiri terdorong setindak, sementara dua orang yang baru datang itu terlempar ke udara. Mereka berjungkir balik dan melayang turun dengan indah. Yang di sebelah kanan memaki-maki, dan tertegunlah Pendekar Rambut Emas melihat dua laki-laki brewok dan gimbal di lembah tempat tinggalnya. Ketika mereka melayang turun, dua laki-laki itu sudah berhadapan dengan pendekar yang matanya mencorong ini.

"Ayah!" dua orang itu tertegun. Mereka adalah Gwan Beng dan su-te-nya, Hauw Kam, dua pendatang yang memang sengaja mencari Pendekar Rambut Emas. Maka ketika Soat Eng berteriak dan gadis itu meronta turun, Gwan Beng dan Hauw Kam tergetar melihat pandangan yang mencorong dari Pendekar Rambut Emas.

Belum mereka bertegur sapa, tiba-tiba Swat Lian membentak dan menyambar Hauw Kam yang memanggul Soat Eng. "Lepaskan anakku!"

Hauw Kam terkejut. Dia tersentak saat bertemu dengan *sinkang* yang amat luar biasa dari Pendekar Rambut Emas. Kini istrinya maju, nyonya cantik itu berkelebat ke arah Hauw Kam, marah membentak sambil melepas pukulan. Karena Hauw Kam tak mengenal nyonya ini, sementara Swat Lian juga belum mengenal suhengnya yang cambang dan gimbal, Hauw Kam menangkis dan membentak nyonya itu pula.

"Dukk!"

Swat Lian dan Hauw Kam sama-sama mencelat. Hauw Kam berteriak kaget ketika pukulan panas menyambar dirinya, sementara Swat Lian juga melengking tinggi saat terlempar berjungkir balik di udara. Namun, ketika nyonya itu melayang turun dengan mata melotot beringas, tiba-tiba Gwan Beng bergerak dan membentak su-te-nya, "Berhenti, jangan menyerang dulu!"

Membalik menghadapi suami-istri itu, Gwan Beng bertanya dengan suara lirih namun lekat memandang si nyonya cantik, "Kalian siapa? Kau Pendekar Rambut Emas? Dan ini istrimu?"

"Benar!" Swat Lian membentak, mendahului suaminya. "Aku Hu Swat Lian, iblis jahanam. Katakan kenapa kau menawan putriku. Lepaskan dia atau aku akan memukulmu mampus!"

Swat Lian yang hendak menyerang lagi tiba-tiba ditahan suaminya yang lebih tenang. "Tunggu, tahan. Biarkan aku yang bicara."

Pendekar Rambut Emas yang sudah berhadapan dengan Gwan Beng mengerutkan alisnya karena wajah yang gagah itu terasa diingatnya. "Maaf, aku Pendekar Rambut Emas. Kau betul. Siapakah kalian dan kenapa datang-datang membuat marah kami? Itu adalah Soat Eng, putriku. Lepaskan dia kalau tak ingin bermusuhan, sebutkan siapa kalian dan apa maksud kalian kemari."

"Ha-ha, kau Pendekar Rambut Emas?" Hauw Kam, yang sudah melayang turun dan berdiri di sebelah suhengnya, tiba-tiba bergerak mendahului. "Kalau begitu kebetulan. Kami ingin bertempur dan menantangmu secara jantan. Kami Koai-lojin, Pendekar Rambut Emas. Anak perempuanmu ini membakar hati kami bahwa katanya kami takut kepadamu. Nah, kami datang dan ingin membuktikan bahwa kami tak takut, juga sekalian melihat kepandaianmu yang dipuji-puji setinggi langit oleh anak perempuanmu ini, ha-ha!"

Kim-mou-eng mengerutkan kening. Melihat sikap Hauw Kam yang matanya berputaran, jelas ia bisa menduga lawan bukanlah orang sehat. Si gimbal itu tampak seperti orang yang tidak waras dan tidak stabil jiwanya. Kim-mou-eng mengerutkan kening mendengar julukan Koai-lojin (Si Gila).

Ketika lawan berhenti tertawa dan dia memandang lekat-lekat, istrinya lagi-lagi hendak bergerak, namun Beng An tiba-tiba melompat maju. "Ayah, orang-orang ini gila. Daripada banyak cakap lebih baik diserang saja. Biar aku memberi adat!"

Beng An maju menubruk dan menyerang si gimbal itu, berseru agar ia melepaskan encinya. Pendekar Rambut Emas tentu saja terkejut. Swat Lian pun membentak putranya itu. Namun karena Beng An sudah maju dan kedua tinju kecil anak laki-laki ini menghantam perut Hauw Kam, Hauw Kam terkejut tapi berkelit menangkap kedua tangan anak ini sambil tertawa. "Hei, kau minggirlah!"

Swat Lian dan Pendekar Rambut Emas tak sempat menolong. Keberanian Beng An di luar penjagaan dua orang ini sungguh di luar dugaan. Beng An tiba-tiba berteriak, tertangkap, dan dilempar tinggi sekali ke udara. Namun, ketika anak itu berjungkir balik dan turun dengan cara mengembangkan kedua tangannya di kiri kanan tubuh, Beng An mendarat dengan selamat. Hauw Kam kagum dan terkekeh. "Heh, anak hebat. Ayo maju kembali dan biar tak kulepaskan kau!"

"Tidak!" Swat Lian marah, berkelebat menangkap anaknya. "Jangan kau gegabah, Beng An. Kembali dan sembunyi di punggung ibumu!"

Beng An yang ditotok roboh kemudian dilempar ke belakang. Kim-mou-eng merasa lega; ia tadi sempat ingin menangkap putranya namun sang istri sudah mendahului. Beng An memang nakal dan pemberani, seperti anak harimau.

Soat Eng di sana berseru agar adiknya tak maju dan meminta dua orang itu segera berhadapan dengan ayah ibunya. "Hayo jangan buang waktu. Serang ayahku dan biar kalian tahu rasa!"

"Heh-heh, kenapa tidak? Aku memang tak takut, siluman betina. Dan lihat siapa yang akan kuserang!"

Namun Gwan Beng menahan dan mencekal tangan su-te-nya. "Tidak, nanti dulu. Kita datang memang untuk bertanding, tapi biarkan lawan maju memilih kita."

Membalik menghadapi Pendekar Rambut Emas, si cambang yang gagah ini menyambung, "Maksud kedatangan kami sudah kau ketahui, Pendekar Rambut Emas. Anggap saja puterimu yang kami tangkap ini dijadikan taruhan. Kalau kau kalah, biarkan anak gadismu menjadi murid kami. Sedang kalau kami kalah, maka anak gadismu akan kami serahkan baik-baik."

"Tentu saja!" Swat Lian tiba-tiba melengking, berkelebat dengan *Jing-sian-eng*-nya. "Kalah atau menang gadis itu memang anak perempuanku, iblis jahanam. Daripada banyak bicara, lebih baik kau layani aku!"

*Siut! Dess!*

Swat Lian menghantam dengan pukulan *Lui-ciang-hoat*-nya. Si cambang itu menangkis namun terpental, kaget berseru keras. Swat Lian berkelebat kembali, membentak, dan mengelilingi lawan dengan pukulan yang cepat dan bertubi-tubi. Si cambang itu terkejut, mengelak, dan menangkis, namun tiba-tiba ia mencelat dan terbanting roboh. Swat Lian melengking girang.

Swat Lian terus menerjang. Si cambang itu seolah mangsa empuk yang tiada habisnya mendapat hujan pukulan dan tendangan. Namun, ketika lawan melompat bangun, Swat Lian kagum karena lawan tidak apa-apa. "Aih, kau kebal? *Sinkang*-mu kuat? Bagus, tahan lagi yang ini, setan tua bangka!"

Gwan Beng lenyap berkelebat ke kiri dan menghilang dengan gerakan luar biasa. Ia berseru pada su-te-nya, "Kam-te, layani nyonya ini. Biar kulihat ilmu silatnya dari jauh!"

Hauw Kam yang mencelat menggantikan suhengnya tiba-tiba sudah terbahak menghadang di depan, menangkis, dan menerima pukulan Swat Lian. Si gimbal yang tertawa-tawa inipun terkejut, terpental, dan terpekik. Jadilah Hauw Kam kelabakan menerima serangan berikut. Swat Lian melengking dan melepas pukulan bertubi-tubi.

Saat Gwan Beng menonton sementara adiknya berteriak-teriak, satu pukulan *Lui-ciang-hoat* dicoba tangkis oleh si gimbal ini.

"Dess!"

Hauw Kam mencelat. Sama seperti suhengnya tadi, ia tak tahan menerima pukulan *Lui-ciang-hoat* ini, bagai disambar petir. Si gimbal itu berteriak dan terpaksa melempar tubuh bergulingan. Ketika dikejar dan sebentar kemudian Hauw Kam terdesak, tiba-tiba laki-laki yang marah ini membentak dan mencabut pedangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment