Chapter 134
Sang nyonya berteriak sementara Hauw Kam bersorak. Dialah yang membelit nyonya ini menggunakan Jaring Naganya.
Ketika Swat Lian mengibas, jaring laba-laba lain kembali menyambar dan mengganggu. Dua pasang lengan dari kedua lawannya pun dengan cepat menjerat dan membelit tubuhnya.
"Aihhhh...!" Nyonya atau wanita cantik ini berteriak tinggi. Ia telah digulung dan dililit benang-benang halus itu. Semuanya lekat dan lengket di tubuhnya seperti lintah. Karena ilmu aneh seperti itu baru kali ini dijumpai Nyonya ini, dan Swat Lian merasa bingung, maka Nyonya itu terbanting ketika terjaring dan tertangkap!
Namun, bayangan kuning emas tiba-tiba berkelebat.
Hauw Kam, yang terbahak-bahak girang karena berhasil merobohkan korbannya, tiba-tiba berteriak kaget ketika disambar pukulan dari samping. Dia melihat bayangan kuning emas menyambar datang, dan sebuah pukulan dahsyat menghantam. Karena saat itu seluruh perhatian dan tenaganya terpusat pada nyonya cantik ini, Khikang menghantam dan membuat tubuhnya terpental.
"Minggir, lepaskan istriku... Dess!" Si Gimbal itu berteriak, terlempar jauh dan tinggi, namun Pendekar Rambut Emas tidak hanya berhenti sampai di situ. Pendekar itu mencengkeram dan bergerak pula ke arah Gwan Beng, si Cambang. Ketika lawannya terkejut dan tak sempat mengelak, jari-jari Pendekar ini telah menancap dan mengangkat tubuh si Cambang.
"Bres!" Gwan Beng pun terpental dan roboh. Pria ini berseru tertahan, karena jari-jari Pendekar Rambut Emas bagai tanggem baja, menancap begitu kuat. Jika sinkangnya tidak kuat, mungkin tulang pundaknya itu patah, dagingnya bisa hancur. Si Cambang ini terkejut sekali melihat kehebatan lawannya.
Namun, ketika dia bergulingan melompat bangun dan sutenya juga melakukan hal yang sama, ternyata Pendekar Rambut Emas sudah menolong istrinya dan tidak menyerang lagi.
"Mundurlah, biar aku yang menghadapi mereka!" Kedua pria itu tertegun.
Swat Lian memaki-maki dan marah bukan main. Tubuhnya penuh benang, namun sang suami membantunya membersihkan diri. Nyonya cantik ini merengut dan melotot memandang kedua lawannya. Tetapi, ketika sang suami mendorong dan Soat Eng berteriak di sana, wanita ini sadar dan segera berkelebat menolong, dibiarkan saja oleh Hauw Kam dan suhengnya yang masih tertegun memandang Pendekar Rambut Emas.
"Kau hebat. Ah, gerakanmu cepat sekali, Pendekar Rambut Emas. Tetapi kami tidak takut!" Hauw Kam penasaran, marah membentak maju, dan suhengnya juga bergerak. Mereka tidak memedulikan Soat Eng yang sudah dibebaskan ibunya. Swat Lian menyelamatkan putrinya itu, namun diam saja tidak menghiraukan Siang Le, yang justru mendapat pelototan dan ketidaksenangan wanita cantik ini.
Ketika di sana Hauw Kam dan suhengnya sudah berhadapan dengan Pendekar Rambut Emas, Soat Eng meloncat dan berkelebat maju, berdiri di samping ayahnya. "Yah, mereka ini orang-orang gila yang busuk. Berhari-hari mereka menangkap dan menawan aku. Robohkan mereka, tetapi hati-hati terhadap Jaring Naganya itu!"
"Benar," Swat Lian, yang marah dan masih penasaran terhadap kedua pria ini, berkelebat pula di samping suaminya. "Kau minggirlah, biarkan aku maju kembali, suamiku. Aku masih belum kalah dan penasaran terhadap mereka ini. Biar kali ini aku menghajar mereka!"
"Tidak, mundurlah..." Sang suami berkata sabar. "Sudah cukup main-main ini, istriku. Aku ingin menghadapi mereka dan aku telah menemukan cara untuk menghadapi Jaring Naga mereka."
"Tetapi aku belum kalah, mereka licik!"
"Kau memang belum kalah, istriku, dan tidak mungkin kalah. Kau hanya bingung dan belum mendapatkan cara menghadapi benang laba-laba mereka. Sudahlah, aku menemukan caranya dan biar kucoba ini. Sebaiknya kau minggir bersama Eng-ji dan jangan ganggu konsentrasiku."
Swat Lian mundur. Jika suami sudah bicara seperti itu, tentu saja dia harus mengalah. Wajahnya merengut dan perasaan tidak puas jelas tidak dapat disembunyikan nyonya ini. Jika bukan suaminya yang meminta, tidak mungkin dia mau menyerah. Kekalahannya tadi bukanlah kekalahan, dan dia penasaran bukan main. Tetapi, melihat sang suami sudah maju dan mendorong tubuhnya dengan halus, nyonya ini berapi-api memandang kedua pria itu, geram karena melihat Hauw Kam mengejeknya dengan tawa menyakitkan.
Ketika Soat Eng juga mundur dan berbisik pada ibunya bahwa kedua pria itu memang berbahaya jika sudah mengeluarkan Jaring Naganya, Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas bertanya.
"Kalian kulihat orang-orang yang gagah, sayang tidak waras. Nah, sebelum kita bertanding, sebutkan siapa nama kalian agar baik yang kalah maupun yang menang dapat mengetahui nama musuh...."
"Aku Hauw Kam, ha-ha!" Hauw Kam tiba-tiba menari, mendahului suhengnya. "Aku tidak takut kau cari, Pendekar Rambut Emas. Dan justru kebetulan jika kau tidak takut mati!"
"Apa?" Pendekar Rambut Emas terkejut, mundur tersentak. "Hauw Kam? Kau... kau... kalau begitu ini suhengmu, Gwan Beng?"
Hauw Kam balik terkejut. Bersama suhengnya, dia mundur selangkah. Gwan Beng mendesis mencengkeram sutenya, mengapa ia memberitahukan nama mereka. Mereka sudah memperkenalkan diri sebagai Koai-lojin, cukup, tidak usah memperkenalkan nama. Maka, ketika Pendekar Rambut Emas terbelalak memandang mereka dan Swat Lian di sana juga berseru tertahan dan mundur selangkah, tiba-tiba Hauw Kam dan suhengnya malah pucat, ketakutan melirik sana-sini.
"Kau tahu nama kami?" Hauw Kam tiba-tiba menyesal, berbalik melebarkan mata dan melotot. "Kalau begitu, kau akan melaporkan kami pada nenek dan kakek iblis itu? Keparat, kalau begitu bunuh Kim-mou-eng ini, suheng. Jangan sampai dia melapor dan mencelakakan kita!"
Hauw Kam yang menubruk serta melepas Jaring Naganya tiba-tiba mendahului sang suheng bergerak, ketakutan dan membentak. Gwan Beng yang semula tenang tiba-tiba juga menjadi gugup dan beringas. Dia mengangguk dan menerjang pula, cepat menghantam, dan Pendekar Rambut Emas terkejut, lalu berkelit. Tetapi, ketika kedua pria itu mengejarnya lagi dan mereka berkelebat cepat, tiba-tiba keduanya menyerang dengan marah dan Jaring Naga dikeluarkan sepenuhnya!
"Bunuh pria ini. Awas, dia melapor pada kakek dan nenek iblis itu!"
Kim-mou-eng terkejut. Lawan sudah menyerangnya gencar, dan jaring atau benang laba-laba sudah bersiutan menyambar ke sana kemari. Bagaikan ulat-ulat kecil, benda-benda panjang itu beterbangan mengurungnya. Tak lama kemudian, benda itu sudah menutup jalan keluar, dan Kim-mou-eng tidak dapat melepaskan diri. Ketika Pendekar itu tersentak karena segala penjuru sudah dipenuhi jaring atau benang-benang ini, Swat Lian di sana cemas sementara Soat Eng juga berteriak memperingatkan ayahnya.
"Awas, jangan tertangkap!"
Kim-mou-eng bergerak cepat. Kaget dan heran bahwa kedua pria ini menyerangnya seperti gila, Pendekar Rambut Emas itu terkejut juga. Dia mendorong dan menampar, dan segera benang-benang berseliweran itu tertolak dan terpental. Sinkang yang dimiliki Pendekar ini memang lebih kuat daripada yang dimiliki istrinya. Maklumlah, Pendekar Rambut Emas adalah pria gagah yang kepandaiannya sudah sedemikian tinggi karena dia adalah murid langsung Bu-beng Sian-su, kakek dewa maha sakti itu.
Maka, begitu mendorong dan bergerak menampar sana-sini, Pendekar ini menolak atau setidak-tidaknya menjauhkan jaring laba-laba itu. Ia membentak dan girang, tetapi kaget bahwa kedua pria ini ternyata Hauw Kam dan suhengnya. Kedua pria yang dulu dicari-cari tetapi tidak pernah didapat, menghilang dan dianggap tewas karena mereka dulu diculik atau dibawa oleh nenek Naga Bumi dan Siauw-jin, iblis cebol yang amat lihai itu.
Maka, begitu berkelebatan dan menolak serta menampar benang laba-laba yang kian diperhebat oleh kedua lawannya ini, Pendekar Rambut Emas itu berseru berulang-ulang agar lawan menghentikan serangannya.
"Hei, kita kawan sendiri. Hentikan, Gwan-Twako. Hentikan! Jangan menyerang. Kalian adalah suheng dari istriku sendiri!"
Namun Hauw Kam dan suhengnya tidak percaya. Mereka terlanjur terkejut bahwa Pendekar Rambut Emas mengenal mereka, menyebut nama, dan hal inilah yang membuat kedua pria itu ketakutan. Karena mereka bertahun-tahun ini bersepak terjang aneh dan mendekati orang tidak waras karena pengaruh obat pelupa ingatan yang berlarut-larut, justru seruan Pendekar Rambut Emas diterima salah oleh suheng dan sute ini.
"Dia membujuk kita. Ah, hati-hati. Jangan percaya mulutnya. Serang! Bunuh dia, suheng. Jangan berhenti, dan kita bunuh Pendekar Rambut Emas ini!"
"Benar, dan dia tahu siapa kita, sute. Jangan-jangan dia pun komplot si nenek dan kakek iblis itu!"
"Maka, jangan berhenti. Bunuh dan robohkan dia!"
Hauw Kam yang menerjang lebih sengit dengan mata terbelalak lebar tiba-tiba membuat Pendekar Rambut Emas berkerut kening. Tidak jelas siapa yang dimaksud, tetapi tiba-tiba dia mengerti. Ah, kiranya nenek iblis Naga Bumi dan Hek-bong Siauw-jin, tentu kedua kakek dan nenek iblis itu. Tetapi, ketika dia menyebut mereka dan Hauw Kam serta suhengnya semakin terkejut dan berubah wajah, tiba-tiba mereka berteriak dan kaget melancarkan pukulan lebih ganas.
"Celaka! Benar saja. Dia komplot nenek itu dan jangan diberi ampun. Bunuh dia, suheng. Jangan biarkan dia menangkap atau merobohkan kita!"
Kim-mou-eng kewalahan. Menyebut-nyebut nama nenek Naga dan Hek-bong Siauw-jin ternyata malah menimbulkan keadaan yang runyam. Dia mengerahkan Jing-sian-engnya dan berkelebat cepat, berganti-ganti dengan Cui-sian Gin-kang hingga kedua lawannya itu bingung. Sebentar lenyap di kiri dan sebentar kemudian di kanan. Bahkan, tak lama kemudian bayangan Pendekar Rambut Emas ini sudah berpindah-pindah dari depan ke belakang, atau sebaliknya.
Ketika dorongan-dorongan Khikang atau Lui-ciang-hoat juga dipakai berganti-ganti hingga kedua pria itu bingung, tubuh Pendekar Rambut Emas yang juga berkeringat tiba-tiba tidak dapat ditempel benang atau jaring laba-laba itu!