Halo!

Istana Hantu - Chapter 135

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 135

"Srut!" Benang atau jaring laba-laba itu luput.

Hauw Kam sudah berhasil menjerat lawan, namun ia bertemu keringat yang licin. Bukan sembarang keringat, melainkan keringat yang sudah diisi semacam kekuatan aneh, membuat keringat pendekar itu berubah seperti minyak.

Itulah yang dilakukan Pendekar Rambut Emas untuk menghadapi Jaring Naga.

Jadi, lawan otomatis tak dapat melekatkan benang laba-labanya karena dengan keringat yang licin, tak mungkin benang atau jaring laba-laba itu menempel!

Dan ketika Hauw Kam dan Suhengnya terkejut karena ilmu mereka mati kutu menghadapi kehebatan pendekar itu, Soat Eng pun bersorak karena ayahnya tak mampu ditangkap.

"Hore, kalian ketemu batunya!"

"Hi-hik, ayo perketat Jaring Naga kalian, Koai-jin. Biar kalian lihat betapa lihainya ayahku!"

"Keparat!" Hauw Kam memaki, terkejut.

"Pendekar Rambut Emas ini hebat, Suheng. Keringatnya licin!"

"Ya, dan tubuhnya juga seperti belut. Awas, dia membalas!"

Dan ketika Gwan Beng merunduk namun Sutenya terlambat, maka satu tamparan *Lui-ciang-hoat* diterima laki-laki itu. Ia menjerit dan terlempar, namun dapat bergulingan, meloncat bangun, menerjang, dan menyerang lagi. Namun, Kim-mou-eng sudah berkelebat ke arah Gwan Beng.

Laki-laki itu pun diserangnya, dan Gwan Beng mengelak.

Namun, ketika *Lui-ciang-hoat* berubah menjadi *Khi-bal-sin-kang* dan mau tak mau dia harus menangkis, maka si cambang itu terpelanting, kaget, bergulingan, dan mengeluh tertahan.

"Bres-bress!" Kedua orang itu mulai gentar.

*Jaring Naga* mereka, yang amat diandalkan dan mampu menundukkan Siang Le dan Soat Eng, ternyata kandas bertemu Pendekar Rambut Emas itu.

Dengan cerdik dan pintar, ternyata Pendekar Rambut Emas mampu "meredam" benang-benang atau jaring laba-laba itu, membuat kulitnya licin. Tentu saja menghadapi kulit selicin itu, tak mungkin jaring tersebut dapat menjerat, akan selalu meleset, serta luput menangkap sasaran.

Kim-mou-eng kiranya telah menemukan cara atau akal untuk menghadapi ilmu aneh yang dimiliki lawan.

Dan ketika mereka terkejut dan gentar memandangnya, maka Pendekar Rambut Emas itu membalas dan berkelebat mengelilingi mereka.

"Kalian berhentilah menyerang, kita bicara baik-baik. Atau aku akan merobohkan kalian dan mau tak mau harus menundukkan kalian!" Hauw Kam memekik.

Dibalas dan didesak seperti itu, tiba-tiba si gimbal itu marah. Ia mencabut pedang, dan kini dengan pedang di tangan kanan, ia memainkan *Giam-lo Kiam-sut*.

Namun, karena Kim-mou-eng hafal *Giam-lo Kiam-sut* adalah ilmu pedang yang diwarisi istrinya, maka dengan mudah ia menggerakkan ujung bajunya sehingga pedang selalu tersampok miring atau terpental. Ia pun mempergunakan kuku jarinya untuk menjentik atau menyentil, dan membaliklah pedang menghantam tuannya sendiri.

Dan ketika hal itu terjadi berulang-ulang, Gwan Beng juga mencabut pedang namun tertolak dan terkibas. Maka, kedua orang itu mulai terhuyung-huyung, sementara Swat Lian di sana berdiri terpaku.

"Suamiku, mereka tampaknya memang benar seperti Hauw Kam-Suheng dan Gwan Beng-Suheng. Tapi aku belum yakin. Bolehkah aku maju untuk membantumu?"

"Kau mau apa?"

"Mencukur mereka itu, membersihkan wajahnya!"

"Ah, dapat kulakukan! Biarlah kau di sana saja!"

Dan Pendekar Rambut Emas, yang tiba-tiba bergerak dan ingin membuktikan kepada istrinya, sekonyong-konyong menangkap pedang di tangan Hauw Kam.

Lawan saat itu menyerangnya dengan pedang menusuk leher, tak dikelit bahkan diterima. Kelima jarinya menyambut dan mencengkeram.

Dan ketika Hauw Kam terkejut karena pedang tertangkap dan tak dapat dilepas lagi, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas membetot, dan terlepaslah pedangnya.

"Hayaaa...!" Untuk selanjutnya, kedua orang itu semakin pucat saja.

*Giam-lo Kiam-sut*, yang mereka mainkan ternyata dapat dimainkan pula oleh Pendekar Rambut Emas itu. Pedang bergerak-gerak dan gulungan sinar putih biru menyambar-nyambar di atas kepala.

Gwan Beng terpental ketika pedangnya bertemu dengan pedang di tangan lawannya itu. Maklumlah, Pendekar Rambut Emas mempergunakan *khikang*-nya untuk menolak atau mementalkan pedang lawan.

Dan ketika Gwan Beng terdesak, dan Hauw Kam berteriak-teriak, maka rambut gimbal Hauw Kam mulai mendapat bagian.

"Crat!" Rambut itu tercukur.

Hauw Kam berteriak, tetapi lawan mengejar, membanting diri, namun bayangan lawan tetap menempel, begitu dekat, dan tanpa jarak.

Dan ketika pedang bergerak lagi, dan Hauw Kam mengelak, namun tetap saja tersambar, maka berturut-turut rambutnya terbabat, dan gimbal-gimbalnya di kepalanya telah bersih!

"Benar, dia Hauw Kam-Suheng!" Swat Lian berseru, tertegun membelalakkan mata, sementara Hauw Kam sendiri memaki kalang kabut.

Lawan mencukur rambutnya yang gimbal-gimbal, dan bersihlah sekarang kepala itu dari rambut yang kotor dan tak terawat.

Dan ketika Pendekar Rambut Emas berganti bergerak ke kanan, dan pedang bergerak menyilang ke muka Gwan Beng, maka Gwan Beng yang bercambang itu juga mulai dicukur dengan cepat luar biasa.

"Bret-bret!" Gwan Beng terhuyung.

Selama bertahun-tahun, barulah Kim-mou-eng yang mampu mengunggulinya habis-habisan. Pendekar Rambut Emas itu mampu menghadapi *Jaring Naga*-nya, dan kini bahkan mencukur Sutenya sampai berambut pendek.

Hal itu luar biasa, dan kini wajahnya pun "dikerjai", ah, mengejutkan sekali.

Dan ketika laki-laki itu menjadi gentar, dan tak lama kemudian cambang di wajahnya pun telah bersih, maka tampaklah wajah seorang laki-laki gagah yang berwajah cakap.

"Benar, dia pun Gwan Beng-Suheng!" Gwan Beng terhuyung.

Dicukur dan dikerjai habis-habisan begitu, tentu saja membuat laki-laki itu gentar. Gwan Beng merasa jerih, sementara Sutenya Hauw Kam juga ngeri.

Lawan mereka itu hebat sekali sehingga dapat mempermainkan mereka dengan mudah. Yang satu rambutnya dipotong, sementara yang lain cambangnya dibabat.

Siluman!

Dan ketika kedua orang itu pucat terbelalak dan bukannya menyerah atau apa, tiba-tiba Hauw Kam membalik dan sudah menyambar Suhengnya.

"Lari, kita bertemu hantu!" Gwan Beng mengangguk.

Memang dia mau memutar tubuhnya dan melarikan diri. Kepandaian dan kehebatan Pendekar Rambut Emas itu jelas bukan tandingan mereka.

Maka, begitu disambar dan terbang mengerahkan *ginkang*, tiba-tiba kakak beradik itu meninggalkan Pendekar Rambut Emas, melarikan diri.

"Heii...!" Swat Lian berteriak.

"Tunggu, Suheng! Jangan lari. Aku sumoimu, Hu Swat Lian!"

Dan si nyonya yang berkelebat mengejar dan memanggil kedua orang itu ternyata malah membuat Hauw Kam dan Suhengnya tancap gas, gentar apalagi setelah bayangan Pendekar Rambut Emas juga ikut mengejar.

Pendekar itu berseru agar mereka berdua berhenti, tak dibunuh, dan jangan takut.

Namun, karena kedua orang itu dalam keadaan tidak normal, dan Hauw Kam malah berteriak-teriak memaki pendekar itu, maka Swat Lian gemas namun juga gelisah. Ia ikut tancap gas, menggabungkan *Jing-sian-eng* dan *Cui-sian Gin-kang*-nya.

"Suheng, berhenti! Berhenti kataku!"

Bayangan nyonya itu berkelebat di atas kepala lawan, berjungkir balik, dan sudah mendahului mereka, lalu melayang turun memalangkan lengan.

Tapi begitu dia membentak dan menyuruh lawan berhenti, tiba-tiba Hauw Kam dan Suhengnya malah mengibas.

"Pergi!" Swat Lian tak berani mengambil risiko.

Ia menangkis dan mengerahkan *khikang*-nya, menerima, dan otomatis pukulan *Bola Sakti* itu membuat lawan terpental sendiri.

Dan ketika hal itu sudah dialami kedua kakak beradik itu, dan Hauw Kam mengeluh, maka Pendekar Rambut Emas juga sudah tiba menyusul istrinya.

"Kita kawan, bukan musuh!"

Namun, kedua orang itu menjadi beringas. Melihat Pendekar Rambut Emas datang dan membantu istrinya, tiba-tiba kedua orang itu bergerak menghantam.

Mereka telah melompat bangun, dan Swat Lian di sana mengeluh. Nyonya itu memang melihat ketidaknormalan Suheng-Suhengnya. Ia berseru membujuk, namun percuma saja.

Dan ketika suaminya menangkis, dan *khikang* juga dipergunakan, maka Hauw Kam dan Suhengnya mencelat ke arah tempat mereka tadi bertempur.

"Bres-bress!" Kakak beradik itu pucat.

Mereka kini membalik dan berganti melarikan diri ke selatan, tadi ke timur. Kim-mou-eng suami istri itu tertegun.

Dua orang itu seperti orang ketakutan hebat dan benar-benar tidak waras.

Namun, bergerak dan mengerahkan *Jing-sian-eng*-nya, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas telah berkelebat dan melampaui kepala lawan.

"He, kalian tak perlu melarikan diri, Gwan-Twako (Kakak Gwan). Aku dan istriku bukan musuh melainkan sahabat. Kalian adalah Suheng istriku itu!"

Namun, bergerak dan menghantam dengan marah, tiba-tiba kedua orang itu menyambut tubuh Kim-mou-eng.

"Des-dess!" Lagi-lagi mereka yang terpental.

Kim-mou-eng mengerahkan *khikang*-nya untuk menolak pukulan lawan. Mereka mencelat dan kembali terguling-guling.

Namun, ketika mereka melompat bangun dan memutar tubuh, maka mereka kini melarikan diri ke arah barat.

"Suheng!" Swat Lian akhirnya menangis. "Bagaimana kalian ini? Aku Swat Lian, Sumoi kalian! Jangan lari dan dengarlah dulu!"

Namun, kedua orang itu yang lagi-lagi menyambut Swat Lian dengan pukulan dan hantaman, akhirnya menggeram dan bergulingan terlempar jauh.

Sang nyonya melindungi diri dengan *Khi-bal-sin-kang*, dan nyonya itu bingung oleh tingkah Suhengnya yang aneh. Diajak bicara baik-baik tak dapat, dan bergeraklah suaminya di sampingnya.

Dan ketika Pendekar Rambut Emas berkata, biarlah mereka melarikan diri karena mereka dapat menguntit secara diam-diam, tiba-tiba Swat Lian meronta dan tidak setuju.

"Tidak! Tidak! Mereka itu tak sehat dan harus cepat disembuhkan. Agaknya mereka lupa atau apa!"

"Benar, tapi jangan begini, Niocu. Mereka tak mau didekati dan barangkali telah ketakutan oleh sepak terjangku tadi. Biarkan mereka menenangkan diri dan beri kesempatan agar tidak ketakutan!"

Swat Lian tertegun. Akhirnya dia berhenti dan menangis melihat kedua orang itu melompat bangun.

Hauw Kam terkekeh-kekeh, sementara Suhengnya terbelalak pucat, menggeram.

Namun, melihat suami istri itu tidak mengejar lagi dan hanya memandang mereka, tiba-tiba Hauw Kam terbahak dan berkelebat menyambar Siang Le.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment