Halo!

Istana Hantu - Chapter 136

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 136

"Heh-heh, kita bebas. Sekarang kita bebas!"

"Hei!" teriak Siang Le. "Lepaskan aku, Koai-jin. Biarkan aku di sini!"

"Tidak!" Hauw Kam tertawa terbahak-bahak. "Kau dapat menjadi jaminan kalau Pendekar Rambut Emas mengancam kami, bocah. Ayo ikut dan jangan bandel!"

Siang Le yang berteriak-teriak tidak dihiraukan. Dia akhirnya dibawa kabur dan terbang seperti siluman, lalu lenyap di luar lembah. Pendekar Rambut Emas maupun istrinya hanya bisa terpaku. Mereka bingung harus berbuat apa, maklumlah, Hauw Kam dan suheng-nya tak mau didekati.

Namun, ketika dua orang itu membawa Siang Le, Soat Eng terkejut. Tiba-tiba gadis ini berteriak dan lari mengejar. "Hei, lepaskan dia!"

Sang ibu terkejut. Soat Eng sudah berkelebat dan terbang mengejar dua orang supeknya itu sambil berteriak-teriak. Sementara itu, Siang Le yang digendong Hauw Kam tiba-tiba berseri-seri. Pemuda ini tak lagi berteriak karena Soat Eng sudah mulai membentak dan memaki. Entah mengapa, tiba-tiba saja Soat Eng khawatir melihat Siang Le dibawa kabur. Maka, begitu dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, gadis ini melesat secepat kijang betina.

"Lepaskan pemuda itu, atau aku akan membunuh kalian!"

Hauw Kam dan suheng-nya terkejut. Soat Eng mengerahkan Jing-sian-eng-nya dan sama seperti ibunya, tiba-tiba gadis ini sudah berkelebat di samping mereka. Kebetulan ia berada di sisi Gwan Beng dan membentak untuk melepas Khikang.

Namun, ketika Gwan Beng menangkis dan Jaring Naganya bergerak, Soat Eng berteriak kaget karena tubuhnya terguling dan terjerat bagai lalat di sarang yang lekat.

"Des! Des!" Gwan Beng terhuyung. Bagaimanapun juga, gadis itu adalah putri Pendekar Rambut Emas, tentu saja hebat. Tapi, ketika Soat Eng terguling-guling melepaskan diri dari jaring yang mengerikan itu, Gwan Beng mengajak sute-nya lari lagi setelah melihat bayangan Pendekar Rambut Emas dan istrinya bergerak.

"Jangan hiraukan gadis itu. Pergi!"

Soat Eng memaki-maki. Dia bingung dan gugup karena sementara dia melepaskan diri dari jaring yang seperti benang laba-laba itu, lawan melarikan diri lagi tanpa mau melepaskan Siang Le. Ketika dia terus memaki dan menangis tak keruan, ayah dan ibunya berkelebat menolongnya.

"Supek-supekmu tak dapat dibujuk. Jangan kejar, dia tak akan mau!"

"Tapi..." Soat Eng menggigil, wajahnya pucat. "Siang Le dibawa mereka, Ayah. Pemuda itu dalam bahaya!"

"Eh," ayahnya bertanya, "Ada apa dengan pemuda itu? Kenapa kau pusing memikirkannya? Dia murid See-ong, Eng-ji. Gurunya telah membunuh kakekmu. Selama ini kau tak pernah memperhatikan dan mengacuhkan dia!"

"Benar," ibunya menimpali. "Tak biasanya kau bersikap seperti ini, Eng-ji. Biarkan saja pemuda itu mampus dan kau bersama kami!"

Soat Eng tertegun. Pandangan mata ayahnya yang tajam namun lembut, disusul pandangan mata ibunya yang keras namun penuh kebencian, tiba-tiba membuat gadis ini tak dapat bicara. Entah mengapa, bentrokan pandangan dengan ayahnya yang lembut dan penuh senyum membuat dia lebih malu dan canggung dibandingkan beradu pandang dengan ibunya. Soat Eng mengeluh dengan wajah pucat.

Ketika ibunya memegang lengan dan bertanya apakah dia akan mengejar serta menyelamatkan pemuda itu, gadis ini bingung dan tak dapat menjawab.

"Kau tak perlu menghiraukannya, kecuali ada sesuatu antara dirimu dengan pemuda itu!"

"Dan kusangka kau tidak ada apa-apa dengannya," sang ayah ikut menyambung. "Biarkan saja dia bersama supekmu, Eng-ji. Dibunuh pun agaknya patut. Kakekmu dibunuh gurunya!"

"Tapi..." gadis ini gemetar. "Siang Le berkali-kali menolongku, Ayah. Dia banyak berkorban. Lagipula, bukan dia yang membunuh Kong-kong, melainkan See-ong, gurunya!"

"Benar, tapi See-ong maupun muridnya sama saja, Eng-ji. Tak ada murid yang jauh berbeda dengan gurunya. Kalau See-ong jahat, pasti pemuda itu juga tak berbeda. Dia menolongmu atau bersikap baik hanyalah pura-pura saja untuk menarik perhatianmu!"

"Hm, sekarang biarkan Eng-ji saja," ayahnya menengahi. "Kalau ingin mengejar, silakan. Kalau tidak, ya terserah. Hanya saja, kami tentu dapat menilai bagaimana bila kau bersikeras ingin menyelamatkan pemuda itu!"

Soat Eng yang tersudut dan merah padam tiba-tiba membalikkan badan, lalu pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Ia kembali ke lembah dan saat itu muncullah adiknya, Beng An. Ketika anak laki-laki itu berteriak memanggil, Soat Eng menyambar dan langsung mengajak adiknya pulang.

"Musuh sudah pergi, ayo kita kembali!"

Sambil menahan isak yang hampir berubah menjadi sedu-sedan, gadis ini terbang kembali ke lembah. Ia bingung dan gelisah bukan main. Siksaan yang dialami Siang Le saat dibawa supeknya tak dapat dia hilangkan begitu saja dari benaknya. Siang Le yang rela diseret agar bisa dibawa dengan baik adalah sikap mengharukan yang membuat gadis ini tergetar. Namun, karena perasaannya harus dikekang agar tidak malu dilihat ayah ibunya, hari itu Soat Eng menangis tak keruan. Ia melempar tubuh di atas pembaringannya dan tidak mau diganggu semalam suntuk.

Ayah ibunya memanggil, namun gadis ini diam saja. Saat ayah dan ibunya saling pandang dan mengamati dari jauh, Pendekar Rambut Emas tampak berseri-seri, sementara istrinya cemberut.

"Hm, Eng-ji jatuh cinta! Dia bingung, Istriku. Jangan kita menyudutkannya sedemikian rupa!"

"Dengan bocah she Siang itu? Hm, tidak! Tak boleh, Suamiku. Aku tak setuju dan akan menentang!"

"Jangan keras-keras," sang suami berbisik. "Aku tahu isi hatimu, Niocu. Tapi, ah... sudahlah. Aku akan melihat saja dan sekarang kita bicarakan bagaimana dengan dua suheng-mu itu!"

Sang nyonya tiba-tiba terisak. "Hauw Kam-suheng dan Gwan Beng-suheng ternyata masih hidup..." Nyonya ini menahan rasa perih di hatinya. "Dan aku ingin menyusul mereka, Suamiku. Mereka sakit, tak waras! Bagaimana pendapatmu? Maukah kau pergi mencari mereka?"

"Hm, sekarang sudah waktunya bagi kita untuk meninggalkan lembah. Eng-ji sudah kembali, tapi Liong-ji belum. Sekarang ditambah lagi dengan munculnya dua suheng-mu yang gila! Hm, kita memang harus pergi, Niocu. Kita cari semuanya!"

"Dan Beng An kita bawa!"

"Tentu saja. Masa harus ditinggal sendiri? Eng-ji pun sebaiknya mengikuti kita. Besok kita berangkat!"

Ketika sang istri mengangguk setuju, malam itu mereka meninggalkan pesan untuk para pembantu. Maklumlah, suku bangsa Tartar yang dipimpin Pendekar Rambut Emas ini tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Rencana kepergian Kim-mou-eng tentu mengejutkan mereka, apalagi ketika sang nyonya turut serta, beserta anak laki-lakinya yang gagah, Beng An. Namun, karena mereka bukan orang-orang yang picik dan kepergian pemimpin mereka bertujuan menyelesaikan masalah penting, para pembantu itu dapat menerima dengan menarik napas dalam.

"Kalau Taihiap hendak mencari Liong-kongcu dan beberapa orang lagi, tentu saja kami siap menjaga di sini. Mudah-mudahan Taihiap cepat pulang dan selamat beserta Hujin."

Kim-mou-eng mengangguk. Malam itu dia merasa lega. Malam telah larut dan sang istri sudah mulai tidur. Mereka akan berangkat pagi-pagi, namun ketika pendekar ini hendak menuju pembaringannya, terdengar sebuah suara di luar. Suara itu halus dan nyaris tak tertangkap. Tapi, begitu pendekar ini mengerti dan berkelebat keluar, sesosok bayangan tampak melesat keluar dari kamar putrinya.

"Berhenti!" Pendekar Rambut Emas membentak perlahan. "Mau ke mana kau, Eng-ji? Jangan bergerak dan katakan ke mana kau mau pergi!"

Bayangan itu, Soat Eng, sudah dicengkeram. Dengan kepandaian tinggi dan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, pendekar ini telah mengetahui siapa gerangan bayangan itu. Ketika dia berseru dan menangkap putrinya yang sedang tersedu-sedan, gadis ini menubruk sang ayah tanpa menjawab.

"Kau mau ke mana?" sang ayah tertegun. "Malam-malam begini tak pantas keluyuran, Eng-ji. Kalau ibumu tahu, tentu kau akan dimarahi!"

"Aku... aku..." gadis ini mengguguk. "Aku mau keluar lembah, Ayah. Pergi..."

"Hm, ke mana?"

Gadis itu tak menjawab. Soat Eng tersedu dan menubruk ayahnya, mengguguk. Ketika sang ayah memeluk dan mengusap rambutnya, Pendekar Rambut Emas kembali bertanya dengan lebih lembut.

"Eng-ji, agaknya aku dapat menduga ke mana kau akan pergi. Tentu mengejar dan menyelamatkan Siang Le, bukan? Kau mau melakukan itu?"

"Be... benar..." gadis itu mengguguk. "Aku... aku tak dapat melupakan Siang Le, Ayah. Aku gelisah dan khawatir akan keadaannya. Supek Hauw Kam dan Gwan Beng tak waras!"

"Hm, aku tahu gejolak hatimu. Tapi tak usah khawatir. Eh, ada sesuatu yang agaknya kau sembunyikan, Eng-ji. Masalah perasaan hatimu kepadanya! Apakah kau suka? Apakah kau, hmm... menerima cinta pemuda itu?"

Soat Eng pucat. Ditodong dan ditanya demikian langsung tanpa tedeng aling-aling membuat gadis ini gemetar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment