Halo!

Istana Hantu - Chapter 137

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 137

Pandangan mata ayahnya yang tajam namun tidak menusuk, lain dengan pandangan mata ibunya yang beringas dan penuh kebencian, tiba-tiba membuat gadis ini serasa dihunjam sesuatu yang keras namun lembut. Entahlah, meskipun pertanyaan ayahnya itu mengejutkan, namun terasa tidak menyakitkan. Pandangan mata ayahnya yang lembut dan sejuk meskipun tajam, tidaklah sama dengan pandangan mata ibunya itu.

Namun, karena dia adalah seorang gadis dan tentu saja sukar menjawab secara terang-terangan pula, gadis ini menangis dan menyusupkan kepalanya di dada sang ayah, menyatakan tak tahu.

"Aku... aku bingung. Hanya, aku tak ingin membiarkan Siang Le celaka. Entahlah, betapapun pemuda itu telah menolongku berkali-kali, Ayah. Terakhir dengan pencuri Cermin Naga itu!"

"Ya, dan kulihat pula bahwa pemuda itu sungguh-sungguh. Hm, repot. Sayang dia murid See-ong, Eng-ji. Kalau tidak, hmm...!" Sang pendekar menarik napas panjang.

"Sudahlah," katanya melanjutkan. "Betapapun tak boleh kau malam-malam begini keluar lembah, Eng-ji. Tak baik dan tak pantas untukmu. Ibumu bakal marah, dan tak baik menyakiti hati ibumu yang sudah berbulan-bulan menunggu kedatanganmu. Besok kita semua akan berangkat, kau bersama kami dan tak boleh sendiri lagi. Nah, masuklah ke kamarmu dan bersabar bersama kami. Kau tentu tak akan memalukan ayah ibumu, bukan? Atau kau mau menjadi gadis berandal dan tak patuh pada orang tua?"

"Tidak!" Soat Eng tersedu. "Tapi aku bingung, Ayah. Siang Le..."

"Pemuda itu tak akan diapa-apakan supekmu!" Sang pendekar meyakinkan hati putrinya. "Meskipun gila, tapi kedua supekmu bukanlah orang kejam. Tidak, aku percaya pemuda itu tak akan apa-apa, Eng-ji. Kalaupun menderita, tentu hanya sekadar pukulan fisik. Dia laki-laki, tak akan apa-apa. Kau tak perlu khawatir dan kembalilah ke kamarmu untuk besok bersama-sama kami pergi meninggalkan lembah!"

"Ayah yakin?"

"Aku yakin! Nah, pergi ke kamarmu dan tidurlah!"

Soat Eng terisak. Akhirnya dia mendapat kecupan lembut di kening, ayahnya membelai dan menyuruhnya masuk. Malam sudah semakin larut karena kentongan terdengar dua kali. Namun, karena dia percaya kata-kata ayahnya ini dan agaknya sang ayah jauh lebih maklum akan perasaan hatinya, maka Soat Eng terhibur dan agak lega juga.

"Aku tak menghalangi dengan siapa pun kau menjatuhkan cinta. Tapi jaga perasaan ibumu, jangan dilukai!"

"Aku mengerti. Baik, Ayah. Terima kasih!"

Soat Eng yang bahagia meninggalkan ayahnya, lalu berkelebat dan kembali memasuki kamarnya. Tadi memang dia hendak minggat untuk mencari Siang Le. Dia terlalu khawatir dan entah kenapa begitu gelisah melihat pemuda itu dibawa supeknya. Atau, lebih tepat, gelisah karena dia ditinggal pemuda itu!

Ketika dia memasuki kamarnya dan lega menarik selimut di pembaringan, maka malam itu tak terjadi apa-apa hingga Pendekar Rambut Emas merasa lega. Betapapun diam-diam mengawasi segala gerak-gerik putrinya itu, tentu saja dia dapat merasakan kegelisahan anak perempuannya. Sebagai orang tua bijak, pendekar ini tahu apa yang terjadi, meskipun dia juga harus berhati-hati karena tampaknya dalam hal ini dia akan berbeda pendapat dengan istrinya sendiri.

Namun, karena hal itu masih berupa perkiraan dan semuanya belum konkret, maka malam itu pendekar ini memasuki kamarnya pula dan duduk bersamadhi, memperhatikan istrinya yang telah tidur pulas, dan dia menarik napas lega. Kalau dia tak mencegah kepergian putrinya tadi, entah apa yang akan terjadi dengan istrinya ini. Tentu istrinya itu akan marah-marah dan mengutuk Soat Eng habis-habisan, yang tak tahu bahwa beberapa bulan ini ibunya gelisah memikirkan sang anak gadis.

Tapi begitu semuanya tenang dan sang anak rupanya juga dapat dinasihati baik-baik, maka keesokan harinya, pagi-pagi ketika ayam jantan mulai berkokok, pendekar ini sudah menyiapkan segalanya. Begitu sang istri melompat bangun dan tertegun melihat suaminya menyiapkan kereta dengan empat ekor kuda, nyonya ini terbelalak mengucek matanya.

"Kau menyiapkan itu untuk apa?"

"Ah," sang suami tertawa. "Tentu saja untuk perjalanan jauh kita, Niocu. Untuk apa lagi?"

"Tapi kita dapat berlari cepat, bahkan terbang melebihi kuda!"

"Benar, tapi apakah Beng An juga dapat melakukan seperti apa yang kita lakukan? Tidak, aku ingin membuat perjalanan ini tak begitu melelahkan, Istriku. Terutama untuk anak-anak kita. Ingat, Eng-ji juga baru saja kembali dan tentu dia lelah kalau diminta berlari cepat. Sebaiknya dengan kereta ini saja dan setiap kali dapat melakukan pergantian kuda."

"Tapi makan waktu lama!"

"Ah, siapa bilang? Di tempat-tempat tertentu kita dapat menitipkan kereta kita, Niocu, melakukan perjalanan dengan ilmu lari cepat. Tapi di tempat-tempat tertentu pula kita memerlukan kereta ini untuk tidak menarik perhatian. Sudahlah, kau bangunkan Eng-ji dan Beng An dan kita berangkat!"

Sang istri membelalakkan mata. Nyonya ini mau tak setuju, tapi akhirnya dia mengangguk juga, mendesis, dan berkelebat membangunkan dua anaknya itu, Beng An dan Soat Eng. Ketika Soat Eng juga tertegun melihat ayahnya menyiapkan kuda, maka Beng An justru bersorak.

"Hore, kita dapat bersantai!"

"Hush!" ibunya menegur. "Bukan bersantai, Beng An, melainkan agar perjalanan jauh ini tidak melelahkan dirimu. Ayo, naik ke kereta dan ikuti Ayahmu!"

Beng An meleletkan lidah. Dibentak dan didorong ibunya, tiba-tiba anak ini melompat naik, sudah duduk di dalam. Tapi bergerak dan pindah keluar, ternyata ia ingin duduk di depan, di samping ayahnya yang menjadi kusir.

"Aku ingin di sini. Biar Ibu dan Enci Eng di dalam!"

Pendekar Rambut Emas tersenyum. Anak laki-lakinya yang bungsu ini memang nakal tapi pemberani, suka kepada petualangan dan tentu saja dia senang. Begitulah seharusnya anak laki-laki, gagah dan pemberani! Dan ketika semua sudah siap dan kereta bergerak, tiba-tiba secara diam-diam dan hanya diketahui beberapa orang pembantunya saja, pendekar ini meninggalkan lembah. Begitu kereta berderap keluar lembah, maka Pendekar Rambut Emas sudah melarikan keretanya dengan kencang.

***

"Kita berhenti di sini," dua anak muda itu melempar buntalan mereka.

Wajah yang murung dan kesal jelas menyelimuti keduanya, yang tampak sudah melakukan perjalanan jauh namun tak berhasil menemukan apa yang dicari. Ketika keduanya duduk dan menjatuhkan diri di rumput yang tebal, maka pemuda yang bicara—yang tinggi besar dan berkulit kehitaman—sudah membuang rusa yang dipanggulnya kepada seorang gadis yang berkelebat datang.

"Hoa-moi, buatlah panggang rusa. Sebentar kami istirahat dan setelah itu aku akan memasuki perkampungan itu!"

"Hm," pemuda satunya yang duduk berkerut kening bertanya, "Kau mau ke mana, Ituchi? Mau melakukan apa?"

"Aku mau mencari adikku, juga ibuku!"

"Tidak!" pemuda itu berkata. "Untuk ini serahkan padaku, Ituchi. Sudah kubilang bahwa kita harus berhati-hati memasuki daerah yang belum kita kenal. Adikmu katanya ada di sana, tapi aku belum yakin. Sebaiknya serahkan hal ini padaku dan kau bersama Mei Hoa."

"Hm, masa harus selalu begitu, Thai Liong? Aku lama-lama jadi malu kepadamu. Tidak, aku yang pergi dan biar kau menjaga kekasihku di sini!"

"Jangan," dua pemuda ini—yang ternyata Thai Liong dan Ituchi—menggeleng kepala, bersitegang. "Aku mendengar satu di antara lima Iblis Dunia berada di sini, Ituchi. Dan kalau kau bertemu dengannya tentu celaka. Tidak, kau yang di sini dan biar kau yang menjaga kekasihmu!"

Bangkit tak menunggu temannya membantah, tiba-tiba Thai Liong berkelebat dan meluncur ke perkampungan di depan.

"Hei...!" Ituchi berteriak. "Tunggu dulu, Thai Liong. Kita semua lapar dan tunggu matangnya daging rusa!"

"Biarlah, nanti saja," Thai Liong tersenyum, menjawab dari jauh. "Kalian berdua makanlah dulu, Ituchi. Dan biarkan aku mencari adikmu!"

Ituchi yang tertegun tapi mengepal-ngepal tinju akhirnya membanting kaki dan cemas namun juga bingung, di samping marah. "Terlalu Thai Liong ini. Apa-apa dikerjakan sendiri! Ah, aku jadi banyak berhutang budi padanya, Mei Hoa. Kalau begitu cepat kita bakar daging rusa ini dan setelah itu kita susul!"

"Ini semua gara-gara aku," Mei Hoa terisak. "Kalau saja aku berkepandaian tinggi dan tak perlu dijaga, tentu kau dapat menyusul temanmu, Ituchi. Ah, betapa tidak enaknya menjadi orang bodoh!"

"Sudahlah," Ituchi terkejut. "Kau tak perlu menyesali diri, Hoa-moi. Akupun juga laki-laki yang kurang berkepandaian kalau dibanding sahabatku itu. Ah, sebaiknya kutemui guruku itu dan lain kali akan kuminta tambah ilmunya!"

Mei Hoa, gadis ini, dipeluk dan dicium. Selama ini, sebagaimana diketahui, tiga orang ini selalu bersama. Sejak Thai Liong dan Ituchi menolong Mei Hoa dan Mei Ling dari keganasan Togura, maka Mei Hoa akhirnya menjadi kekasih Ituchi. Mei Ling, adik Mei Hoa, ternyata tewas tak kuat menahan derita. Mei Hoa tinggal sendiri, namun untunglah Ituchi ada di situ, jatuh cinta dan segera menghibur.

Kedukaan Mei Hoa memang beralasan. Orang tuanya terbunuh dan kini adiknya pun ikut tiada, gara-gara kebiadaban Togura, murid enam Iblis Dunia itu yang kini bagai harimau tumbuh sayap karena mewarisi pula Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, ilmu yang dimiliki mendiang si jago pedang Hu Beng Kui yang tewas di Sam-liong-to, juga gara-gara kecurangan pemuda itu, putra mendiang Gurba yang dahsyat dan kini mewarisi watak ayahnya yang ambisius dan ingin menguasai dunia!

Ketika Mei Hoa menangis dipeluk kekasihnya ini, maka Ituchi teringat daging panggang yang harus dibalik. "Hei, hampir hangus. Awas, kubalik dulu!"

Mei Hoa yang didorong dan melepaskan dirinya akhirnya menghapus air mata dan membantu kekasihnya itu, diam-diam menahan penyesalan di hati kenapa dia demikian bodoh dan lemah. Dibanding Ituchi, apalagi Thai Liong, maka ilmu silat yang dimilikinya sungguh hampir tak berarti sekali. Ah, dia mengeluh. Namun ketika Ituchi menghibur dan berkali-kali menyuruhnya menerima semuanya ini, maka pemuda itu menuturkan bahwa mereka harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini untuk segera menyusul Thai Liong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment