Chapter 138
Salini dan Nangi adalah adik-adikku. Seharusnya aku yang menemukan mereka, bukan Thai Liong. Ah, sudahlah. Putera Pendekar Rambut Emas itu memang ringan hati dan ringan tangan, Mei Hoa. Marilah kita selesaikan ini dan setelah itu menyusulnya!
Mei Hoa mengangguk. Bagaimanapun, akhirnya ia dapat menerima semua ini. Ia menarik napas, lalu mereka bekerja menyelesaikan daging panggang itu. Sementara mereka bekerja sambil menunggu kedatangan Thai Liong, sang pemuda sendiri sudah memasuki perkampungan itu dengan ilmu lari cepat yang luar biasa; berkelebat, ia sudah berada di dalam.
Namun aneh, Thai Liong disambut kesunyian yang mencekam. Rumah-rumah tertutup rapat dan beberapa gulungan asap yang keluar dari cerobong tampak tak berpenghuni. Atau mungkin, penghuninya baru saja meninggalkan kampung itu, suatu hal yang mencurigakan. Ketika Thai Liong celingukan memandang ke sana kemari, tiba-tiba telinganya mendengar rintihan sayup-sayup—rintihan seorang wanita.
Wut! Pemuda ini berkelebat, lenyap menuju ke rumah sebelah kiri. Bagai siluman atau bayangan iblis, tahu-tahu pemuda ini sudah sampai di tempat rintihan itu. Ia menendang pintu dan melihat dua orang gadis tampak terikat, mulut disumbat, dan menangis. Mereka ingin berteriak namun tidak bisa, sehingga hanya terdengar rintihan yang memilukan.
Ketika Thai Liong melihat siapa mereka, tiba-tiba ia terkejut namun girang bukan main. "Salini... Nangi...!"
Dua gadis itu tampak gembira luar biasa. Mereka membelalakkan mata dan segera mengenal Thai Liong. Inilah pemuda yang dulu menyelamatkan mereka dari kemarahan Raja Cucigawa ketika sang raja diserang oleh kakaknya, Ituchi. Namun, ketika Thai Liong berkelebat untuk melepas ikatan dan sumbatan mulut mereka, tiba-tiba tanah di depan kedua gadis itu bergerak. Sebuah lubang terbuka dan menelan tubuh pemuda itu yang terjeblos ke bawah.
"Awas...!" Thai Liong terkejut. Tak menyangka akan hal itu, ia membentak keras dan menjejakkan kaki untuk berjungkir balik. Bagi pemuda selihai Thai Liong, sebuah lubang jebakan bukanlah masalah besar. Namun, ketika ia berhasil melayang keluar, enam pisau belati berterbangan dari kiri dan kanan, disusul puluhan anak panah yang melesat dari dinding-dinding sekitar.
"Ha-ha, mampus kau...!"
Dari sebelah kirinya terdengar suara tawa bergelak. Tak terlihat orangnya, namun Thai Liong cepat menampar dan menggerakkan tangan serta kakinya. Puluhan anak panah dan enam pisau belati itu ditangkis hingga mencelat, sebagian patah berantakan. Ketika pemuda itu turun kembali dengan amarah yang meluap, Nangi dan Salini yang tadi ada di depannya mendadak terseret ke belakang dan lenyap menerobos dinding.
"Kim-kongcu!" Thai Liong terkejut. Dua gadis itu hilang karena disedot keluar. Kiranya sebuah tali telah menghubungkan kedua gadis itu. Thai Liong marah bukan main. Ia membentak dan melepaskan pukulan ke arah dinding hingga roboh, berikut tiang dan genteng rumah itu ikut ambruk.
Bress! Thai Liong keluar bagai harimau yang baru terperangkap. Ia mendengar tawa yang dikenalnya. Saat ia melempar sisa-sisa bangunan yang menimpanya, tertegunlah pemuda itu melihat Siauw-jin tengah mencengkeram Salini dan Nangi. Sementara ia menggeram marah, puluhan titik tanah di situ bergerak dan muncullah pasukan pendam. Salah satunya meloncat dan muncullah Ui Kiok, wanita cabul yang dulu hampir mencekoki Thai Liong dengan obat perangsang. Ia terkekeh di samping Siauw-jin, si iblis cebol.
"Hi-hik, selamat bertemu lagi, Kim-kongcu. Dan kau tentu tak lupa padaku!"
"Ha-ha!" Siauw-jin, si iblis cebol, tertawa ngakak menyambung ucapan Ui Kiok. "Bocah ini tak mungkin melupakanmu, Ui Kiok. Apalagi kalau dia sudah kau beri kenang-kenangan yang tak akan dilupakannya seumur hidup. Aih, aku ingin melihatmu bergulingan dengan pemuda ini dalam cinta yang panas. Ha-ha, sayang dulu gagal, tapi sekarang tak mungkin lagi!"
Si cebol itu meraih dan menciumi wanita tersebut lalu meremas buah dadanya dengan gemas. "Hiih, semontok ini tak dapat merobohkan pemuda itu adalah keterlaluan, Ui Kiok. Marilah kubantu dan perlihatkan padaku nanti bagaimana kau merobohkan pemuda ini!"
Thai Liong merah padam. Mendengar kata-kata dan sikap cabul iblis itu, ia hampir tak kuat menahan diri. Ui Kiok sendiri terkekeh-kekeh saat buah dadanya diremas, tak malu dipandangi puluhan laki-laki yang mengiler melihat kepadanya. Namun, Thai Liong yang merasa muak tiba-tiba membentak.
"Siauw-jin, tak perlu banyak tingkah. Lepaskan dua gadis itu dan kuampuni kau!"
"Ha-ha, apa kau bilang? Mengampuni aku? Melepaskan gadis ini? Weh, kau terlalu bocah. Mereka adalah calon kekasihku dan tak mungkin kulepaskan begitu saja. Ha, kau menyerahlah dan bergabunglah bersama kami!"
"Hm, kalau begitu aku akan menghajarmu!"
Tanpa banyak cakap, Thai Liong langsung menghantam. Ia berkelebat dan lenyap dari tempat semula; begitu cepat, begitu luar biasa.
"Dess!" Siauw-jin menangkis, tapi terjengkang. Ketika iblis itu berteriak kaget karena Thai Liong mengerahkan Khikang-nya, pemuda itu sudah berkelebat menghajar si cebol yang tak tahu malu ini.
"Des-dess!" Siauw-jin kelabakan. Ia berteriak menyuruh semua orang maju, sementara dirinya sendiri bergulingan menghindari pukulan. Kakek itu berkaok-kaok kesakitan. Meski ia mengerahkan kekebalannya, pukulan Thai Liong tetap menembus pertahanannya.
Ketika ia memaki-maki dan memerintahkan Ui Kiok beserta puluhan laki-laki di situ untuk menyerang, Thai Liong segera menghadapi mereka. Tombak, pedang, dan golok berseliweran menyerangnya dari segala penjuru.
"Berhenti, mampus kau!" Thai Liong mendengus.
Membalikkan badan, ia mengibaskan kedua tangannya. Hujan senjata yang menyerang tubuhnya seketika patah-patah. Thai Liong mengangkat kakinya, dan puluhan orang itu terlempar bagai layang-layang putus.
"Enyahlah!"
Puluhan laki-laki itu mencelat semua. Thai Liong gemas kepada si iblis cebol yang tahu bahwa anak buahnya hanyalah kerbau dungu yang dikorbankan demi menyelamatkannya sendiri. Siauw-jin yang menyadari bukan tandingan Thai Liong, segera melompat pergi dan menghilang dari pertempuran.
"Heii...!" Thai Liong berseru. "Lepaskan dua gadis itu, Siauw-jin. Atau kau roboh!"
Thai Liong menangkap seorang pengeroyok, lalu melemparkannya bagai sebatang pisang besar ke arah si setan cebol. Orang itu meluncur kencang ke arah Siauw-jin. Namun, Siauw-jin yang kaget justru menggerakkan tangan ke belakang dan memukul orang itu dengan dahsyat.
"Krakk!" Tubuh itu ambruk dengan dada pecah, tulang dan isi dalamnya hancur, hingga nyaris tak berbentuk manusia lagi. Darah membanjiri tempat itu. Salini jatuh pingsan saat dibawa terbang oleh kakek itu, sementara Thai Liong pucat melihat kekejian sang iblis.
"Wut!" Serangan dari belakang tiba-tiba menyadarkan pemuda ini. Ui Kiok, yang selama ini menunggu kesempatan, bergerak menyerang tanpa suara. Ia melepas jarum beracun dan menyusulinya dengan pukulan tangan. Karena Thai Liong sedang tertegun melihat kekejian Siauw-jin, serangan itu hampir mengenainya. Namun, sebagai putera Pendekar Rambut Emas, syaraf pemuda ini bergerak otomatis menangkis dan memutar tubuh.
"Des-bluk!" Ui Kiok menjerit. Wanita itu terlempar, kaget sekaligus gentar. Jarumnya membalik dan mengenai pipinya sendiri, menyebabkan bengkak kebiruan akibat racun.
Saat wanita itu berguling menjauh dan Thai Liong tidak memperdulikannya karena fokus utamanya adalah tawanan si kakek cebol, pemuda ini segera melesat mengejar.
"Siauw-jin, serahkan mereka! Atau kau kubunuh!"
Kakek itu terkejut. Thai Liong tahu-tahu telah berada tepat di belakangnya. Kakek itu ngeri dan pucat pasi.