Halo!

Istana Hantu - Chapter 139

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 139

Maklumlah, dia sudah tahu bahwa pemuda ini bukanlah tandingannya. Ketika Thai Liong sudah tinggal dua meter di belakangnya, pemuda itu membentak serta mengayunkan lengan, membuat kakek ini gentar dan menggerakkan lengan untuk menangkis.

"Dess!" Siauw-jin terpental.

Thai Liong memukulnya dengan *khikang*; tangkisan si kakek berbalik dan mengenai dirinya sendiri. Tentu saja, iblis cebol itu berteriak dan bergulingan menjauh. Ketika dia meloncat bangun dan memaki-maki, Thai Liong membentak dan menyuruhnya menyerahkan tawanan.

"Serahkan, atau kau kubunuh!"

"Keparat!" Kakek ini mencabut sabitnya, senjata andalannya. "Berani membunuhku berarti membunuh dua orang gadis ini, bocah. Ayo, kau bunuh aku dan aku akan membunuh mereka lebih dulu!"

Thai Liong terkejut. Si kakek memutar sabitnya dengan sangat cepat; gerakan-gerakannya menyerempet dua kakak beradik itu. Satu bacokan akhirnya mengenai kerah baju Nangi, yang pucat dan sejak tadi menangis tak henti-hentinya. Ketika suara "bret" itu seakan membuat nyawa gadis ini terbang dari tubuhnya, Siauw-jin terbahak-bahak melihat wajah Thai Liong yang pucat.

"Ha-ha, membunuh aku berarti membunuh dua gadis cantik ini dulu, bocah. Ayo, kau buktikan ancamanmu dan aku juga akan membuktikan ancamanku... bret!"

Kali ini sabit dibelokkan arahnya ke dada Salini yang pingsan. Ketika baju gadis itu terkuak lebar dan Thai Liong terkejut, pemuda ini berseru marah membentak lawannya, "Siauw-jin, sekali kau membunuh mereka, aku tak akan mengampunimu lagi. Serahkan baik-baik, dan kau dapat pergi dengan aman!"

"Ha-ha!" Kakek ini merasa di atas angin. "Mana mungkin itu, bocah? Togur menyuruh aku mendapatkan mereka, dan aku tentu harus menyerahkannya kepada muridku!"

"Kalau begitu, aku akan menghajarmu!" Thai Liong yang marah berkelebat maju. Tiba-tiba, ia menerima sambaran sabit yang menuju kepalanya. Ia mengelak sedikit dan sabit pun lewat sejengkal di atas kepalanya. Ketika si kakek terkejut dan menarik serangannya, Thai Liong sudah mengetuk siku kakek itu.

"Aduh!" Siauw-jin menjerit. Kalah cepat dengan gerakan pemuda ini, tahu-tahu siku si cebol tertotok. Thai Liong melakukan itu dan Salini yang ada di tangan kanan kakek ini pun terlepas. Siauw-jin bergulingan dan kaget melihat seorang tawanannya terlepas. Kakek ini memaki-maki, meloncat bangun, serta menyambitkan lagi sabit-sabit kecilnya.

"Wut-wut!"

Thai Liong waspada. Dengan mudah ia menampar jatuh tiga buah sabit yang menyambar ke arahnya, lalu bergerak menyambar Salini yang terlepas dari tangan kakek itu. Namun, ketika ia memeluk dan menangkap gadis ini, sekonyong-konyong tujuh buah sabit bercuitan menyambar tubuh Salini.

"Keparat!" Thai Liong marah. "Kau benar-benar keji, Siauw-jin. Tak berperasaan dan tak berperikemanusiaan sama sekali. Rasakanlah, dan jangan main-main lagi... plak!"

Tujuh sabit yang ditangkap dan diraup Thai Liong tiba-tiba dilempar balik ke arah kakek itu. Kecepatannya dua kali lipat karena Thai Liong gemas menggunakan *sinkang* sepenuh tenaga. Saat Siauw-jin menjerit karena tujuh sabitnya tak dapat dielak dan menancap di sekujur tubuhnya, menembus kekebalan *sinkang*-nya, kakek ini roboh. Namun, hebatnya, ia dapat bergulingan, meloncat bangun, dan lari lagi.

"Thai Liong, kau bocah keparat. Jahanam, terkutuk kau...!"

Thai Liong kagum. Tertancap tujuh sabit kecil yang tak sempat dicabut karena terburu-buru melarikan diri, kakek iblis itu jatuh bangun meninggalkan pertempuran. Thai Liong merasa kasihan dan geli juga. Namun, melihat Nangi masih dibawa kakek itu dan Siauw-jin yang lintang-pukang tak mau melepaskan tawanan, pemuda ini bergerak dan mengejar lagi. Siauw-jin dibentak dan diminta menyerahkan gadis itu, namun ia terus melarikan diri. Ketika kakek itu mulai masuk-keluar memasuki rumah-rumah penduduk, Thai Liong kebingungan mencari keberadaannya.

"Kau serahkan gadis itu, dan kau dapat pergi baik-baik!"

"Keparat!" Kakek itu bersembunyi di sebuah rumah besar. "Aku tak mau menyerahkannya kepadamu, bocah. Lebih baik mampus di tanganmu daripada mampus di tangan muridku. Majulah, dan kau akan melihat gadis ini mampus sebelum aku terbunuh!"

Thai Liong bingung. Sudah dua kali ia hampir menangkap kakek ini, namun si kakek selalu menggunakan Nangi untuk membuatnya mundur. Kakek itu mengancam dan Thai Liong percaya. Iblis macam Siauw-jin tak akan segan-segan membunuh korbannya kalau ia terdesak.

Ketika kakek itu lolos lagi sementara Nangi menangis dan berteriak-teriak di gendongan kakek ini, gadis itu berseru agar Thai Liong menyelamatkan kakaknya dulu. "Biarkan aku... biarkan aku. Kau pergilah bersama kakakku dan lain kali saja kau cari!"

"Ha-ha!" Si cebol tertawa bergelak melihat kebingungan pemuda itu. "Kau dengar, bocah. Gadis ini lebih suka kepadaku daripada kepadamu. Kau pergilah, dan lain kali memang dapat kau cari lagi!"

"Hm!" Thai Liong melotot. "Kau licik, Siauw-jin, juga curang. Awas kau, aku akan membekukmu dan biarlah sementara ini kau boleh kucing-kucingan lagi denganku!"

Thai Liong mengejar, memburu, namun lawan terus lari. Nangi sudah tak terdengar suaranya lagi karena setiap jeritan atau teriakannya berarti memberitahukan keberadaan kakek itu; Siauw-jin rupanya membungkamnya dengan sebuah totokan.

Ketika suara gadis itu tak terdengar lagi dan Thai Liong bingung, bayangan Ituchi dan Mei Hoa akhirnya muncul.

"Heii...!" Pemuda tinggi besar itu berteriak. "Di mana kau, Thai Liong? Sudah kau dapatkah adikku?"

"Eh!" Suara Mei Hoa terdengar menjerit lirih. "Ada mayat di sini, pecah dadanya. Aih, Kim-kongcu rupanya bertempur sengit, Ituchi. Mari kita bantu dan cari dia!"

Thai Liong melihat bayangan dua sahabatnya itu. Ituchi dan Mei Hoa sudah bergerak memasuki perkampungan, berteriak, dan memanggil-manggil namanya. Karena kehadiran dua orang itu, terutama Mei Hoa, bakal memberinya beban untuk melindunginya dari keganasan Siauw-jin, akhirnya pemuda ini muncul dan berkelebat keluar.

"Adikmu kutemukan, tapi hanya seorang!"

"Ah!" Ituchi girang, melompat mencengkeram sahabatnya. "Siapa ini, Thai Liong? Ah, Salini...!"

Ituchi yang girang tapi terkejut melihat adiknya yang pingsan segera mendapatkan adiknya itu, menotok, dan memeriksa sana-sini. Thai Liong mengusap keringatnya. Mengejar dan mencari si iblis cebol yang kucing-kucingan dengan mengancam keselamatan Nangi sudah membuatnya gemas. Pencariannya gagal dan hanya Salini itulah yang berhasil diselamatkan.

Ketika Ituchi girang dan sudah menolong adiknya, gadis ini sadar. Ia terkejut, namun kemudian girang dan menangis tersedu-sedu menubruk Ituchi.

"Kakak...!"

Ituchi terharu. Ia merangkul dan meremas adiknya ini, bertanya di mana Nangi, adik satunya. Namun, ketika Salini terkejut dan menoleh pada Thai Liong, karena pemuda itulah yang menyelamatkannya, Thai Liong menarik napas dalam membuang kekecewaan.

"Nangi dibawa Siauw-jin. Iblis cebol itu memaksa aku mundur dengan mengancam keselamatan adikmu. Maaf, aku gagal, Ituchi. Baru adikmu inilah yang berhasil kuselamatkan!"

"Ah," Ituchi tertegun, tapi cepat membuang kekecewaannya. "Terima kasih, Thai Liong. Ini sudah cukup. Kalau aku sendiri belum tentu berhasil menyelamatkan adikku ini! Ah, cukup. Kau sudah memberi budi terlalu banyak!"

Pemuda itu cepat merangkul dan mendorong adiknya lalu menoleh pada Mei Hoa. "Dapatkah kau menjaga adikku?"

"Kau mau ke mana?"

"Mengejar iblis cebol itu, membantu Thai Liong!"

"Hm!" Thai Liong mengerutkan kening. "Memberikan Salini pada Mei Hoa tak mengurangi bahaya, Ituchi. Lebih baik kau jaga mereka dan aku melanjutkan pencarianku!"

"Tidak, jangan!" Ituchi menggoyang lengan, mencekal tangan Thai Liong. "Cukup kau membantu kami, Thai Liong. Sekarang bagianku dan biarkan aku yang bekerja!"

"Tapi iblis cebol itu bukan tandinganmu," Thai Liong mengerutkan kening. "Tidak, jangan, Ituchi. Biarlah kau di sini dan aku melanjutkan pengejaranku!"

"Kau terlalu banyak memberikan budi!" Pemuda ini mencengkeram lengan Thai Liong. "Jangan tambah lagi budi itu, Thai Liong. Atau aku tak akan mempunyai muka lagi dan bisa mati karena malu! Kau bersamaku atau tidak sama sekali!"

Thai Liong tertegun. Saat ia tergetar menarik tangannya, Mei Hoa terisak dan berkata, "Ituchi benar, Kim-kongcu. Jangan menambah lagi kebaikan-kebaikanmu atau kami sama sekali tak akan mempunyai muka lagi menemuimu. Biarkan Ituchi bersamamu dan masalah aku dan Salini ini dapatlah kupikirkan. Bukankah masih ada ibunya yang harus dicari pula? Bukankah kami dapat bergabung kalau Salini memberi tahu di mana ibunya?"

"Benar!" Ituchi tiba-tiba menepuk kepalanya, girang. "Kau benar, Mei Hoa. Ah, kutanya dulu adikku ini di mana ibu!"

Membalik menghadapi adiknya, pemuda ini bertanya, "Salini, di mana ibu? Kau tahu?"

Salini terisak. "Aku tak tahu, tapi... tapi kudengar kabar ibu ke tempat kakek...."

"Apa? Memasuki Tiong-goan?"

"Benar, tapi benar atau tidak aku tak tahu, Kak. Aku hanya mendengar kabar angin yang lewat."

"Ah!" Ituchi yang tertegun melepas adiknya lalu bingung memandang Mei Hoa. "Bagaimana ini? Kita sudah terlanjur di sini, di luar tembok besar. Kalau kita kembali, maka tempat itu jauh bukan main!"

"Begini saja," Mei Hoa memberi jalan. "Biarkan aku mengawal adikmu, Ituchi. Dengan menyamar dan membuang pakaian kami seperti petani, barangkali tak akan ada orang mengganggu. Lihatlah, aku mendapatkan pakaian ini di rumah itu!"

Mei Hoa menyambar sepasang pakaian petani, mengenakannya, dan dengan cepat serta tidak ragu-ragu, ia pun menggosok mukanya dengan debu. Ketika tak lama kemudian gadis cantik ini sudah berubah sebagai gadis dusun yang amat bersahaja, Ituchi tertegun namun Thai Liong tersenyum.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment