Halo!

Istana Hantu - Chapter 14

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 14

"Ada orang," Thai Liong tertegun.

"Tidakkah salah pendengaran kita?" "Hm," adiknya kebat-kebit, teringat suara-suara hantu di ruang bawah.

Kuburan masal.

"Apakah tidak salah, Liong-ko? Aku khawatir jangan-jangan hantu di bawah itu kini mengganggu kita dengan suaranya di atas!"

"Entahlah, coba dengar." Dan Thai Liong yang mempertajam telinganya mendengarkan itu tiba-tiba mendengar pula suara Tin Tin dan Gosar.

"Kau tahu itu?" Tanyanya pada adiknya.

"Suara apa yang kautangkap?"

"Gosar dan Tin Tin!" Adiknya tertegun.

"Apakah mereka bertemu hantu, Liong-ko?"

"Sst, tak mungkin. Dua binatang itu seakan di bawah pengaruh seseorang, Eng-moi. Gorila-gorila itu tampaknya kesakitan!"

"Benar, mereka menguik!" Soat Eng yang terkejut mengenal suara gorila-gorila itu segera mendengar geraman atau semacam suara kesakitan, perlahan namun jelas dan terdengarlah suara orang bercakap-cakap.

Di atas tampaknya ada tiga atau empat orang, lebih jelas lagi karena orang-orang itu kini berhenti di puncak bangunan. Teringatlah Soat Eng bahwa di atas sana memang atap atau puncak istana ini telah menonjol, mencuat dari permukaan tanah. Dan ketika gadis itu mendengarkan dan kakaknya mengerutkan kening, maka suara yang berat diimbangi suara yang terang dan halus, suara dari dua orang yang bercakap-cakap antara seorang tua dengan seorang anak muda.

"Heh, bagaimana pendapatmu, Siang Le? Bukankah ini yang kita cari-cari? Lihat, ini Istana Hantu, puncak bangunannya mencuat!"

"Benar, dan kurasa tidak salah, Suhu. Tapi kenapa di bawah tanah?"

"Heh, Istana Hantu memang terpendam, Siang Le. Sekarang muncul ke permukaan setelah Pulau Sam-liong-to naik! Kita menemukan apa yang kita cari, ha-ha...!"

Soat Eng terkejut. Suara di atas sana tiba-tiba menggetarkan tempat mereka, ruang bawah tanah itu bergetar oleh tawa orang ini. Soat Eng saling pandang dengan kakaknya dan Thai Liong pun terkejut. Itu tanda khikang yang hebat sekali, sanggup merobohkan sebuah batu karang di tengah laut. Dan ketika mereka tertegun dan mendengarkan lagi, maka orang ketiga bicara tentang gorila itu.

"Hewan ini menguik-nguik, mengganggu saja. Bagaimana kalau dilepaskan, See-ong?"

"Hah, tanya Siang Le, Thian Cong. Dialah yang menundukkan binatang-binatang itu!"

"Bagaimana, Siang Le. Apakah telingamu tidak terganggu oleh binatang ini?"

"Hm," pemuda itu, yang bersuara tenang dan halus, menjawab. "Aku khawatir binatang ini menyerang kalian, Thian Cong. Kalau dilepas dia mau pergi tentu saja boleh dilepaskan. Cobalah."

Orang itu mengangguk. Soat Eng dan kakaknya mendengar sebuah tendangan, Gosar dan pasangannya berdebuk. Dan ketika dua binatang itu ngak-nguk dan lari pergi, tiba-tiba Thian Cong, laki-laki ketiga, tertawa.

"Ha-ha, tak berani menyerang lagi, Siang Le. Mereka ketakutan padamu!"

"Tapi bagaimana kalau hilang? Aku tertarik memelihara mereka, Thian Cong. Sebaiknya adikmu mengawasi."

"Hm," suara berat itu, gurunya, menggeleng. "Pulau ini kecil, Siang Le. Mencarinya mudah dan tak perlu menyuruh Thian Po pergi. Nanti ditangkap lagi dan kau pusatkan perhatianmu ke sini. Istana Hantu telah di depan kita dan sebaiknya kita masuk!"

"Baik." Dan Thai Liong yang mendengar ledakan ujung baju di atas sana, tiba-tiba mendengar mereka menuding celah di puncak bangunan, yakni bagian yang hendak dimasuki adiknya, tetapi disambar tiga panah beracun; tempat yang berbahaya karena istana ini ternyata penuh jebakan. Di mana-mana ada alat rahasia dan pemuda yang dipanggil Siang Le rupanya melihat itu lebih dulu. Gurunya tertawa dan kakek yang rupanya tinggi besar itu mengebut.

"Hei... plak-plak-plak!" Soat Eng dan kakaknya sudah menduga.

Kakek yang rupanya hendak memasuki celah itu lagi-lagi diserang panah yang terpasang di bawah tanah. Atap bangunan itu akan menggerakkan senjata-senjata rahasia setiap disentuh tangan yang lancang, seperti halnya Soat Eng dan kakek itu. Dan ketika kakek itu menyumpah-nyumpah, namun tujuh panah beracun berhasil ditangkis hingga patah, maka muridnya berkata agar gurunya berhati-hati.

"Jangan gegabah. Istana Hantu masih menyimpan misteri, Suhu. Tubuhmu terlalu besar untuk memasuki celah itu. Sebaiknya biarkan aku saja dan kau mundur!"

Soat Eng berdebar. Sekarang pemuda yang bersuara halus dan tenang ini hendak masuk, gurunya masih mengumpat-caci dan marah-marah di luar. Memang, tadi kakek itu tak dapat masuk karena tubuhnya terlalu besar, kini muridnya mengajukan diri dan dua yang lain setuju. Dan ketika lubang di atas tertutup bayangan pemuda itu dan Soat Eng mendengar gerakan perlahan, maka pemuda di atas mencoba masuk dan kedua kakinya dilonjorkan ke bawah, hati-hati.

"Bagaimana, Liong-ko?" Soat Eng berdebar, bertanya kepada kakaknya.

"Apakah kita membiarkan orang-orang ini masuk?"

"Hm," Thai Liong bingung. "Semestinya kita mencegah mereka, Eng-moi. Tapi biarlah dulu. Aku ingin melihat siapa mereka."

"Mereka See-ong (Raja dari Barat) dan muridnya bernama Siang Le."

"Benar, tapi kita belum melihat muka mereka, Eng-moi. Dan aku juga belum pernah mendengar nama See-ong ini. Sebaiknya diam dan kita lihat, sesuatu...!"

Kakaknya menuding, melihat sepasang kaki mulai masuk namun tiba-tiba terdengar bunyi menjepret. Siang Le rupanya menginjak alat rahasia dan menyambarlah beberapa sinar hitam ke tubuhnya itu, cepat dan luar biasa. Tapi ketika pemuda ini menggerakkan kakinya dan sinar-sinar hitam itu runtuh ditendang, maka Soat Eng kagum memuji perlahan.

"Hebat, rupanya Siang Le ini cukup lihai!"

"Diamlah..." kakaknya berbisik. "Aku merasa kedatangan orang-orang berbahaya, Eng-moi. Suara See-ong yang dahsyat dan kelihaian muridnya ini rupanya mengharuskan kita memasang kewaspadaan ekstra."

"Dan kita tak tahu mereka orang jahat atau bukan!"

"Sudahlah, kau diam dan kita lihat saja!" Thai Liong menghentikan adiknya, memberi isyarat, dan See-ong berseru dari luar. Tadi kakek itu mendengar suara sambaran senjata-senjata rahasia ini, mengkhawatirkan muridnya namun Siang Le menjawab tenang, menyatakan kakinya telah menendang senjata-senjata rahasia itu. Dan ketika See-ong tertawa bergelak, sementara perlahan-lahan dan amat hati-hati pemuda itu memasuki celah, mendadak tanpa sengaja tangannya tergelincir dari pinggiran lubang yang longsor. Dan begitu pemuda itu terjeblos ke bawah, tiba-tiba atap bangunan bergetar dan runtuhlah sebuah batu menimpa kepala pemuda itu.

"Heii...!" Thai Liong mendekap mulut adiknya dengan cepat. Di luar terdengar teriakan kaget dan pemuda itu sendiri juga berteriak. Dia terjeblos dan gurunya serta dua temannya yang lain berseru keras. Yang di luar tak mengetahui apa yang terjadi di dalam, hanya Soat Eng dan kakaknya itulah yang melihat jelas. Dan ketika Soat Eng terkejut dan tadi tanpa sengaja mengeluarkan jeritan kaget, maka pemuda itu meluncur lurus sementara batu di atas kepalanya menghantam dan menimpa dengan deras.

"Bumm!"

Thai Liong melihat sesuatu yang mengagumkan. Siang Le, murid See-ong yang tak mungkin mengelak ini sudah kejatuhan batu. Pemuda itu tiba di lantai namun tak sempat menghindarkan diri lagi, bergulingan menjauh, misalnya. Dan pemuda itu yang cepat berseru keras dan membungkuk memasang punggungnya, tiba-tiba menerima batu itu yang berdebum menggetarkan bumi, kontan menimpanya dan Soat Eng hampir menjerit. Pemuda itu tertimpa dan terbungkuk semakin ke bawah, punggungnya menerima batu sebesar gajah, segi empat. Tapi begitu pemuda itu membentak dan mengangkat bangun tubuhnya, tiba-tiba batu itu roboh di sebelahnya dan pemuda ini tak apa-apa, selamat!

"Siang Le, kau tak apa-apa?" Soat Eng kagum. Gadis ini bengong karena apa yang ditunjukkan pemuda itu luar biasa sekali. Orang lain tentu sudah mampus tergencet. Pemuda ini sudah membersihkan bajunya dan tertawa mendengar seruan gurunya dari luar. Dan ketika Soat Eng kagum dan Thai Liong juga memuji kelihaian pemuda ini, maka Siang Le, pemuda yang gagah dan tampan itu, menjawab tenang dan halus.

"Tak apa-apa. Aku selamat di sini, Suhu. Tak usah khawatir."

"Apa yang menimpamu tadi? Suara apa yang berdebum dahsyat itu?"

"Batu, aku tertimpa batu, Suhu. Tapi tak apa-apa dan selamat."

"Ah, bagus!" Suara tawa bergelak di luar lubang tiba-tiba disusul seruan. "Aku masuk, bocah. Minggir...!"

Dan See-ong yang berkelebat memasuki lubang tiba-tiba meluncur di situ dan sudah berdiri di dekat muridnya, membuat Soat Eng dan kakaknya tertegun karena mereka melihat seorang kakek tinggi besar yang gagah namun menyeramkan. Tingginya hampir dua meter dan mata kakek itu berkilat-kilat seperti naga, menyambar dan akan membakar siapa saja yang berani beradu pandang dengannya. Dan ketika Soat Eng dan kakaknya terkejut karena itulah tanda lweekang yang hebat, maka kakek ini tertawa dan memandang sekeliling, berseru ke atas.

"Heh, kalian menjaga di luar, Thian Cong. Amati dan jaga di atas dan jangan ke sini!"

"Baik." Thian Cong tampaknya kecewa. "Kami di sini, See-ong. Dan silakan di situ bersama muridmu."

"Ha-ha, bagus!" Kakek itu yang memandang sekeliling tiba-tiba berkelebat menyambar muridnya. "Hayo, kita temukan harta karunnya, Siang Le. Tapi hati-hati kalau ada musuh di dalam... wut!" Kakek itu menghilang begitu cepat, tahu-tahu sudah di undak-undakan batu di dekat Thai Liong dan Thai Liong tentu saja menarik kepalanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment