Chapter 141
"Hm, sepatutnya aku yang harus berkata seperti itu!" Ituchi meloncat sambil memegang lengan kekasihnya.
"Jaga baik-baik dirimu, Mei Hoa. Dan hati-hati di jalan!" Mei Hoa terisak. Saat Ituchi mencium keningnya, Salini tertegun melihat itu. Barulah dia tahu bahwa gadis yang dicium kakaknya adalah calon kakak iparnya. Ketika Salini terbelalak dan Thai Liong memalingkan muka, keduanya sudah saling berpelukan.
"Ituchi, aku... aku menantimu!"
"Sudahlah," pemuda itu tak dapat menahan haru. "Aku pun akan menyusulmu, Mei Hoa. Berangkatlah dan jaga adikku itu baik-baik!"
"Aku akan menjaganya melebihi diriku sendiri. Percayalah!" Ketika Mei Hoa melepaskan diri dan didorong mundur, gadis cantik itu segera menyambar Salini. "Kita berangkat!"
Begitu Mei Hoa berkelebat pergi membawa Salini, Salini terisak sambil melambaikan tangannya. "Kakak, hati-hati...!"
Ituchi memejamkan mata. Perpisahan yang berat itu harus ia tekan. Dia baru saja bertemu adiknya, tetapi sudah harus berpisah kembali. Hatinya terguncang melihat kekasihnya terpaksa mengantar adiknya pergi. Ia tak berani memandang kepergian mereka sampai Thai Liong menepuk pundaknya. Saat Ituchi membuka mata, dua titik air mata yang menggenang di pelupuknya segera hilang.
"Thai Liong, terima kasih. Kau benar-benar sahabat yang setia!"
"Ah," pemuda itu tertawa. "Kau terlalu berlebihan, Ituchi. Wajar jika aku menolongmu. Kau pemuda yang baik, gagah, dan jujur. Lagi pula, kau pangeran yang dimusuhi Cucigawa dan antek-anteknya. Jangan berterima kasih, apa yang kulakukan adalah demi kebenaran."
Ituchi mencengkeram lengan sahabatnya. Mendengar kata-kata itu, ia merasa terharu dan kagum. Putra Pendekar Rambut Emas itu benar-benar seorang pemuda yang mengagumkan dan berbudi. Karena tak mampu berkata-kata, Ituchi hanya meremas tangan sahabatnya itu sebelum Thai Liong mengajaknya pergi.
"Ayo, kita berangkat!"
Ituchi mengangguk dan mengikuti sahabatnya. Mereka mengerahkan ginkang untuk mencari Hek-bong Siauw-jin yang masih menawan Nangi. Begitu keluar dari perkampungan itu, mereka tertegun melihat banyak perkampungan lain yang sunyi, bahkan beberapa di antaranya terbakar.
"Sst, hati-hati..." Thai Liong memberi isyarat dan menarik tangan temannya. "Kita berada di daerah terbuka, Ituchi. Rundukkan kepalamu dan lihatlah apa yang ada di depan itu!"
Di seberang padang rumput, tampak ribuan kemah besar dan kecil memenuhi daerah yang luas. Tepiannya berupa hutan tropis yang sedang kering karena musim hujan sudah lewat. Itulah Padang Iblis, tempat suku-suku liar bertempur memperebutkan wilayah atau ternak. Saat Ituchi masih terpaku, dua bayangan berkelebat bagai siluman mendekati perkemahan itu.
"Nenek Naga!" seru Thai Liong yang lebih awas. Ia melihat nenek itu berkelebat di samping seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan berkulit kehitaman. Thai Liong segera teringat pada Togur, murid enam Iblis Dunia yang kini tersisa lima orang.
"Togura, muridnya!" geram Ituchi setelah menajamkan pandangannya.
Ketika dua orang itu menghilang di dalam perkemahan, jelaslah sudah milik siapa ribuan kemah tersebut.
"Kita menemukan musuh kita, inilah biang keladi yang kita cari!"
"Sst, jangan kehilangan kontrol diri," Thai Liong menahan temannya. "Tetaplah waspada!"
"Aku tahu, tapi aku tak tahan, Thai Liong. Aku ingin segera menerkam musuhku!"
"Sabar, kita memasuki daerah berbahaya. Jangan gegabah!" Thai Liong mengamati sekeliling. "Hm, tak kurang dari sepuluh ribu orang ada di sini. Dan, he... itu Hek-bong Siauw-jin!"
Ituchi terkejut. Ia melihat kakek cebol itu sedang tertawa-tawa memanggul adiknya, Nangi, yang meronta-ronta serta menangis. Tak kuat lagi menahan amarah, Ituchi berkelebat meluncur menghadang kakek iblis itu.
"Siauw-jin, serahkan adikku!"
Thai Liong terkejut karena Ituchi sudah bergerak tanpa kendali. Saat Ituchi terbang menghadang, Hek-bong Siauw-jin menoleh, lalu berkelebat menghilang di balik gerumbul alang-alang yang tinggi karena tubuhnya yang cebol.
"Hei...!" Ituchi kehilangan lawannya. "Jangan pengecut, Siauw-jin. Lepaskan adikku dan keluarlah!"
Ituchi menerjang ke tempat kakek itu berdiri dan menghantamkan pukulan, namun yang ia pukul hanyalah angin. Siauw-jin tiba-tiba muncul di tempat lain dan terkekeh. "Aku di sini, anak muda. Kejarlah!"
Ituchi mendelik. Karena terpancing amarah, ia lupa bahwa ia sedang berada di sarang musuh. Saat Ituchi mengejar dan melancarkan pukulan, kakek itu kembali menghilang seperti siluman. Pukulan Ituchi menghantam tanah hingga batu dan pasir berhamburan.
"Ituchi, kembali...!" teriak Thai Liong memperingatkan. Namun, Ituchi tidak menggubris. Ia semakin mendekati perkemahan musuh. Tiba-tiba, Hek-bong Siauw-jin muncul di sebelah kanannya dan melancarkan serangan balasan.
"Ha-ha, sekarang kau mampus, bocah. Terima seranganku!"
Ituchi terkejut dan mencoba menangkis, namun ia terlempar karena kekuatan Hek-bong Siauw-jin jauh di atasnya. Ia mencoba bangkit, tetapi Thai Liong segera menyambar sambil melepaskan pukulan ke arah si kakek cebol.
"Jangan nekat!" bentak Thai Liong. Keributan itu memicu suara genderang dan teriakan dari pasukan musuh. Empat bayangan berkelebat, muncullah Nenek Naga dan kawan-kawannya yang dipimpin Togura.
"Ha-ha, selamat datang, Thai Liong!" Hek-bong Siauw-jin mengusap keringat.
Dalam sekejap, kedua pemuda itu dikepung. Togura menerima Nangi dari si iblis cebol. "Aku hampir gagal, tapi inilah gadis yang kau minta, Togur. Hadapi mereka biar gurumu beristirahat!"
Togura tersenyum memandang Nangi yang tertotok. Dengan kurang ajar, ia meremas tubuh gadis itu, membuat Ituchi membentak dan maju menyerang. Namun, Nenek Naga bergerak menangkis pukulan Ituchi hingga ia terpental.
Togura tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha, selamat datang, Ituchi. Kau pangeran yang pecundang. Tapi, ah... tidak. Kau sekarang calon kakak iparku karena adikmu ini akan menjadi permaisuriku!"
"Terkutuk!" geram Ituchi.