Halo!

Istana Hantu - Chapter 142

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 142

"Lepaskan adikku, Togur. Dan hadapi aku secara jantan!"

"Ha-ha, kau marah? Eh, di sini ada banyak pembantuku, Ituchi. Tak baik marah-marah begitu. Tenanglah sedikit. Aku ingin bicara baik-baik, kebetulan kau berdua ke sini," Togur tertawa seraya melempar Nangi pada Camkong, gurunya.

Pemuda itu membalik dan sudah menghadapi dua pemuda itu, waspada terhadap Thai Liong. "Hm, kalian kemari mau apa?" Tanyanya pura-pura. "Ingin bergabung dan membantu aku?"

"Terkutuk!" Ituchi membentak. "Aku datang untuk mengambil adikku, Togur! Dan juga suku bangsaku yang kau rampas!"

"Ha-ha, dan kau?" Pemuda ini memandang Thai Liong. "Juga mengincar adik Ituchi yang cantik ini dan ingin membantu Ituchi, Thai Liong? Atau mau mengambil alih pimpinan dan memimpin pasukan besar ini?"

"Hm!" Thai Liong marah, sama sekali tak gentar. "Aku datang memang untuk membantu Ituchi, Togur. Tapi juga sekalian menangkap dan membekukmu. Aku ingin kau mengembalikan Cermin Naga yang kiranya kau dapat secara curang dari mendiang kongkongku!"

"Ha-ha!" Pemuda tinggi besar itu tertawa tergelak. "Mencari Cermin Naga? Menangkap dan merobohkan aku? Ha-ha, tak usah sombong, Thai Liong. Kau belum dapat menangkap atau merobohkan aku. Kepandaianmu belum cukup, meskipun lihai. Kau tak dapat menangkap atau merobohkan aku biarpun ayahmu sendiri membantu. Kita sama-sama memiliki Khikang dan kemenanganmu dulu belumlah berarti kau mampu membekuk aku!"

"Hm, benar," Thai Liong berapi-api. "Tapi kalau kau tidak melarikan diri, tentu waktu itu aku sudah membekukmu, Togur. Kau licik dan pengecut, curang! Kau tak tahu malu dan sungguh tak pantas mewarisi Khikang maupun Jing-sian-eng!"

"Ha-ha, kalau begitu mau apa? Dulu aku meninggalkanmu karena terpaksa, Thai Liong. Tapi sekarang tidak! Aku memiliki gadis itu dan dengan dia di tanganku, kau tak dapat menghinaku lagi seperti dulu. Ha-ha, sekarang aku memberikan penawaran: menyerahlah dan baik-baiklah bersama kami atau Nangi kubunuh!"

"Keparat!" Ituchi tiba-tiba berteriak. "Pengecut kau, Togur! Jahanam tak tahu malu!"

Pemuda yang marah ini melengking tinggi, tiba-tiba tak tahan dan untuk kedua kalinya menyerang lawannya itu. Ia menghantam dan berkelebat menerjang. Namun, Nenek Toa-ci, salah satu guru Togur, mendengus berkelebat menghadang. Nenek itu bermaksud menangkis, tetapi Togur tertawa pendek, mendorong gurunya, dan sudah menerima pukulan atau hantaman Ituchi itu.

Ketika pemuda ini mengerahkan Khibalsinkang dan Ituchi tentu saja menjerit, pemuda itu terbanting dan terlempar roboh.

"Dess!" Ituchi mengeluh terguling-guling.

Tadi yang menangkis dan menerima pukulannya adalah Siauw-jin. Kini Togur sendiri yang mengeluarkan Khikang, ilmu yang akan menolak setiap pukulan atau serangan lawan. Maka, begitu Khikang dikeluarkan dan Ituchi tentu saja tak kuat, pemuda itu terbanting dan bergulingan serasa remuk tulang-tulangnya.

"Togur, kau licik dan pengecut!" Thai Liong marah, lalu berkelebat menolong temannya. Tentu saja ia kaget karena tadi Ituchi tak mau mendengar kata-katanya. Temannya ini main hantam kromo saja dan akibatnya dirinya yang menderita.

Ketika ia menolong sahabatnya itu dan Ituchi menggigil memandang lawan, melotot dan mendelik gusar, Thai Liong cepat memberikan sebutir obat untuk segera ditelan, guna meredam bekas pukulan Khikang. "Kau telan ini, dan cepat mundur!" Ituchi menggeram.

Kalau bukan Thai Liong yang menyuruhnya, belum tentu pemuda ini mau. Ituchi mendengar sorakan dan tawa mengejek ketika ia terbanting tadi. Namun, ketika pemuda ini mendelik dan melotot pada yang bersorak, semuanya diam. Thai Liong sendiri sudah berhadapan dengan lawannya itu, lawan yang tangguh, berbahaya, tapi juga licik.

"Togur, urusan ini tak seharusnya melibatkan wanita. Bertandinglah secara jantan! Di mana watak kegagahan mendiang ayahmu? Bukankah Supek Gurba dikenal sebagai laki-laki kosen yang lihai dan jujur dalam bertanding? Tengoklah dan contohlah mendiang ayahmu itu. Kalau kau tak ingin malu menghadapnya di neraka sana, sebaiknya kau hadapi aku secara ksatria! Dan kau...!" Pemuda itu menuding Siauw-jin, kakek cebol itu. "Kau melarikan diri terbirit-birit, Siauw-jin! Kau tak pantas lagi berada di sini kecuali untuk berbuat curang. Ajaklah teman-temanmu yang lain itu dan majulah bersama Togur. Aku ingin menghajar kalian lagi seperti dulu dan jangan melibatkan siapa pun. Kalau aku kalah, biarlah aku menjadi pembantu kalian. Tapi kalau kalian kalah, hmm... serahkan gadis itu dan menyerahlah kutangkap!"

"Ha-ha!" Siauw-jin, kakek cebol itu, tertawa tergelak. "Aku selamanya pandai melihat keadaan, bocah. Kalau kau lebih unggul, maka aku lari bukan karena takut, melainkan semata menyelamatkan diri saja, menyusun dan mengatur strategi agar bisa mengalahkanmu. Sedangkan kalau kau kalah, ha-ha... boleh saja kau meniru sikapku ini dan melarikan diri!"

"Kau akan kuhajar!" Thai Liong menggigit bibir. "Kau dan muridmu sama-sama licik, Siauw-jin. Kalau kali ini kau kembali mengeroyok, maka aku tak akan memberi ampun!"

"Hi-hik!" Nenek Toa-ci tiba-tiba terkekeh. "Untuk apa banyak bicara lagi, Siauw-jin? Serang dan bunuh bocah ini!"

"Benar," Thai Liong menantang. "Serang dan majulah kalian, Toa-ci! Dan jangan minta Togur membantu kalau ingin mampus!"

"Keparat, si mulut lancang!" Nenek itu mengibas dan melepas tujuh sendok kecil, lalu tiba-tiba menyerang Thai Liong dengan sengit.

"Plak-plak-plak!" Thai Liong menangkisnya hingga runtuh. Dua di antaranya dipukul balik dan menyerang nenek itu serta Siauw-jin, yang tentu saja memaki dan melemparkan tubuhnya ke kiri. Ketika Toa-ci juga melakukan hal yang sama dan dua senjata rahasia itu mendesing dan menancap di tanah, api pun berpijar karena sendok-sendok kecil itu ternyata menghunjam batu.

"Des-klap!" Orang-orang pun meleletkan lidah. Mereka ngeri dan pucat melihat perbuatan Thai Liong ini. Sendok-sendok itu amblas dan menghilang di bawah tanah.

Tapi ketika Togur tertawa menyeringai dan berseru perlahan, tiba-tiba pemuda itu bergerak dan menghantam Thai Liong.

"Awas!" Thai Liong tahu. Ia tahu pukulan itu, dan seruan Ituchi tentu saja tak membuatnya terkejut. Toa-ci dan Siauw-jin sudah mulai dihajarnya dan kini pemuda itu sudah mulai bergerak, menyerang dan dengan curang melepas pukulan dari samping. Tapi karena Thai Liong bukanlah pemuda sembarangan dan sejak tadi dia waspada, maka pukulan itu ditangkisnya dan pemuda ini mengerahkan sinkangnya.

"Dess!" Keduanya terpental. Baik Togur maupun Thai Liong ternyata sama-sama mempergunakan Khikang mereka. Dua pemuda itu sama kuat, tapi ketika Togur berjungkir balik di udara, tiba-tiba dia melepas serangan lagi. Hebat pemuda ini. Masih di udara ia mampu mempergunakan tenaga benturan itu untuk menghantam lagi. Tapi karena Thai Liong sendiri sedang berjungkir balik dan jelas tak dapat dibokong, maka Ituchi-lah yang mendapat serangan itu!

"Awas!" Ituchi ganti terkejut. Dia sedang terbelalak dan kagum melihat dua pemuda itu terpental tinggi di udara, melihat Thai Liong melayang turun, dan saat itulah perhatiannya tak melihat Togur. Maka begitu Thai Liong berteriak padanya dan kesiur angin pukulan menghantamnya dari arah Togur, tak pelak pemuda ini menjadi kaget dan terkesiap, lalu kontan membalik dan menerima serangan itu.

"Dess!" Pemuda itu mengeluh. Ituchi mencelat dan tak kuat menahan pukulan lawan. Khikang memang hebat, dan pemuda itu terlempar untuk kedua kalinya, merasa sesak dan terguling-guling.

Ketika Ituchi mendekap dadanya sementara Thai Liong terkejut karena lawan menyerang temannya, secepat kilat ia membentak dan menyerang Togur. Begitu berkelebat serta mengerahkan Jing-sian-engnya, tiba-tiba putra Pendekar Rambut Emas ini lenyap mengelilingi lawan. Ketika pukulan atau tamparan bertubi-tubi menyerang Togur dan murid enam Iblis Dunia ini tak diberi kesempatan untuk mengganggu atau menyerang Ituchi lagi, pemuda tinggi besar itu menangkis dan segeralah keduanya bertanding hebat!

"Ha-ha, bagus, Thai Liong! Sekarang aku akan membunuhmu dan tak mungkin kau menang!"

"Terkutuk!" Thai Liong memaki. "Kau boleh buktikan ancamanmu, Togur! Justru kaulah yang akan kurobohkan. Kali ini tak mungkin kau lolos!"

"Ha-ha, sombong...!" Keduanya yang sudah terlibat pertandingan seru dan saling melancarkan serangan akhirnya mengeluarkan benturan-benturan keras. Tanah di sekitar mereka bergetar, kian lama kian hebat, dan akhirnya letupan-letupan api pun muncul, memercik dan sambar-menyambar. Para penonton pun menyingkir, menjauh, pucat dan ngeri melihat pertandingan dua anak muda itu. Untuk beberapa saat Thai Liong tak dapat mendesak lawan.

Khikang yang bertemu Khibalsinkang sama-sama mengeluarkan ledakan keras. Ketika bertemu, keduanya menggelegar dan pasukan besar yang ada di situ terhuyung. Barisan paling depan bahkan ada yang mulai terpelanting. Siauw-jin menyuruh mereka mundur, terus mundur saja karena tiba-tiba orang-orang itu roboh. Mereka tak kuat menahan dentuman-dentuman pukulan itu dan suara ini saja sudah cukup membuat dada mereka terguncang. Jantung seakan dipukul-pukul dari dalam. Ngeri sekali orang-orang itu melihat jalannya pertandingan ini.

Ketika dua pemuda itu juga sudah sama-sama mempercepat gerakan mereka dan bayangan mereka lenyap bagai iblis yang berseliweran ke sana kemari, semuanya tak dapat mengikuti lagi. Satu per satu orang-orang ini roboh, pening!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment