Chapter 143
"Jangan mengamati jalannya pertandingan. Semua mundur dan memejamkan mata!" Perintah ini tak perlu diulang. Pasukan yang roboh sambil memegangi kepala tiba-tiba tak kuat lagi melihat jalannya pertandingan. Hanya orang-orang seperti Hek-bong Siauw-jin dan teman-temannya yang bisa menahannya. Namun, ketika mereka pun mengeluh dan satu per satu bergelimpangan, sebagian besar orang yang ada di situ terduduk; banyak di antaranya pingsan karena rasa pening yang hebat hingga membuat kepala mereka berputar.
"Heii...!" Togura berteriak. "Jangan diam saja, Suhu. Tangkap dan bunuh Ituchi itu!"
Ituchi terkejut. Saat itu dia sedang mengamati jalannya pertandingan dan diam-diam kagum bukan main. Thai Liong dan lawannya bergerak sangat cepat hingga berubah menjadi bayangan iblis yang hampir tak dapat diikuti mata. Dia pun merasa berkunang-kunang, tetapi segera mengerahkan *sinkang*. Hanya dengan cara ini dia dapat mengikuti jalannya pertandingan meskipun mulai kabur. Kecepatan dua pemuda itu dengan *Jing-sian-eng* (Bayangan Seribu Dewa) memang luar biasa, bahkan Hek-bong Siauw-jin pun pening.
Kedua pemuda itu saling memompa kecepatan untuk mendahului satu sama lain. Siapa yang kalah, dia akan roboh. Ketika keduanya semakin mempercepat gerakan, benturan di antara mereka terdengar berulang kali, membuat masing-masing terdorong atau terpental. Saat itulah Ituchi mendengar teriakan Togura. Siauw-jin dan yang lainnya terkejut. Mereka segera sadar, menoleh ke arah putra Raja Hu itu, lalu tertawa beringas.
Ituchi dalam keadaan seorang diri. Tiba-tiba, si kakek cebol itu berkelebat. Saat dia melancarkan pukulan dan Ituchi menangkis, pemuda itu mencelat lalu roboh terguling-guling.
"Ha-ha!" Kakek iblis itu tertawa tergelak. "Sekarang kau mampus, bocah. Berlututlah tiga kali sebelum arwahmu melayang!"
Ituchi memaki. Sambil berguling dan melompat bangun, ia siap menghadapi lawannya. Empat iblis yang lain berkedip memandangnya, sedangkan Thai Liong tampak pucat. Sahabatnya itu bukanlah tandingan nenek dan kakek-kakek iblis tersebut. Ituchi memang hebat, namun masih kalah kelas dibandingkan guru-guru Togura yang merupakan pentolan sesat dengan kepandaian luar biasa.
Tanpa *Jing-sian-eng* atau *Khikang*, mustahil dapat mengalahkan mereka. Maka, begitu melihat sahabatnya diserang—serta Cam-kong dan yang lainnya saling mengedip dan terkekeh—tiba-tiba Siauw-jin si kakek cebol itu mencelat melepas serangannya lagi.
"Des! Des!" Ituchi terlempar bagai bola yang ditendang anak kecil. Dia jatuh bergulingan, dikejar, dan dipermainkan oleh Siauw-jin yang terus menyerang. Ituchi menangkis, tapi selalu kalah kuat. Ketika si cebol berkelebatan ke sana kemari dan sabit mulai dikeluarkan, Ituchi pucat melihat sambaran senjata tajam yang berkilauan.
"Ha-ha, menyerahlah, bocah. Dan kau kuampuni!"
"Tidak!" Ituchi membentak. "Kau boleh membunuhku, Siauw-jin, tapi jangan harap aku menyerah!"
"Ha-ha, kalau begitu aku membunuhmu... dess!"
Ituchi kembali mencelat terlempar oleh pukulan lawan. Dia mengeluh, dikejar kakek itu, dan melihat sabit berkilauan dengan cepat. Ituchi menggulingkan diri ke kanan. Namun, ketika sabit mengejar dan membalik ke kiri, leher baju pemuda itu tersambar. "Bret!" Ituchi terkesiap. Dia menerima satu bacokan lagi di pundaknya hingga robek. Kakek itu tertawa terbahak-bahak atas keberhasilannya mendesak pemuda ini.
Ketika Ituchi mengeluh dan bergulingan menyelamatkan diri, mendadak Toa-ci berkelebat maju menusukkan sendoknya. "Siauw-jin, jangan main-main. Bunuh pemuda ini!"
Ituchi terbelalak. Saat itu si nenek berkelebat, dan celaka sekali, Ituchi justru berguling ke arah nenek itu—bagaikan ular yang mencari gebuk. Saat Siauw-jin terbahak gembira dan pemuda tinggi besar itu pucat membelalakkan mata, tiba-tiba Thai Liong membentak dan sebuah pukulan kilat menghantam nenek ini.
"Jangan curang!" Toa-ci terpekik. Tidak waspada akan serangan itu, nenek ini mencelat dan terbanting. Thai Liong mengeluarkan *Lui-ciang-hoat*-nya dan tangan kirinya mendorong Togura hingga lawannya terhuyung. Ia pun menyerang nenek itu untuk melindungi temannya. Begitu si nenek terbanting dan menjerit, Thai Liong segera bergerak ke arah Ituchi.
"Berlindung di balik punggungku. Ambil senjata apa saja!" Ituchi tertegun.
Thai Liong berkelebatan melindungi dirinya, sementara si cebol Siauw-jin terpental. Thai Liong menamparnya pula dengan pukulan jarak jauh. Ketika kakek itu terpekik dan terguling jatuh seperti nenek Toa-ci, Thai Liong berturut-turut menyerang Cam-kong dan Nenek Naga Bumi. "Des! Des!" Dua orang itu terpelanting. Mereka terkejut oleh sepak terjang Thai Liong yang kini meninggalkan Togura dan melindungi sahabatnya.
Ketika dua orang itu mengutuk dan bangun, Togura membentak dan menyerang lawannya. "Kepung mereka, bunuh!"
Ituchi sudah terlindung. Sekarang Thai Liong berada di luar lingkaran dan Ituchi menyambar sebatang tombak, lalu menyerang lawan. Ituchi dapat melakukan ini karena di sela-sela serangan, Thai Liong selalu memberi kesempatan. Karena pukulan Thai Liong kini diselang-seling antara *Lui-ciang-hoat* yang berpasangan dengan *Khikang* serta *Cui-sian Gin-kang*, maka *Jing-sian-eng* yang digabung dengan dua ragam ilmu silat ini menjadi hebat bukan kepalang. Guru dan murid itu pun terdesak.
"Haiya, jahanam terkutuk. Keparat!" Nenek Naga memaki-maki.
Sekarang Thai Liong berkelebatan lebih cepat karena telah menggabung semua ilmu silatnya. *Lui-ciang-hoat* dan ilmu meringankan tubuh *Cui-sian Gin-kang* (Ginkang Pengejar Dewa) beraksi, digabung dengan *Jing-sian-eng*, membuat pemuda ini lenyap di balik gerakannya yang luar biasa cepat. Karena Togura hanya memiliki *Khi-bal-sin-kang* dan *Jing-sian-eng* saja, ia terpelanting oleh pukulan dan tamparan Thai Liong yang bertubi-tubi.
"Des! Des!" Thai Liong telah melakukan tindakan penyelamat. Apa boleh buat, pemuda ini sekarang mengeluarkan keempat ilmunya. Togura terlalu tangguh kalau hanya diserang dengan *Khikang* dan *Jing-sian-eng* karena lawannya itu memiliki ilmu yang didapatnya secara curang dari Cermin Naga, warisan Hu Beng Kui. Tapi begitu Thai Liong mengeluarkan dua ilmu terakhirnya dan menggabungkannya, Togura kalah cepat dan kalah kuat.
Thai Liong berkelebatan sangat cepat sementara pukulannya mendarat di tubuh kelima kakek dan nenek iblis itu. Karena gerakan pemuda ini sudah tak dapat diikuti mata, Siauw-jin mulai berkaok-kaok sementara Togura menyumpah-nyumpah. "Keparat! Jahanam terkutuk! Bedebah!"
Ituchi girang. Dia yang berada di balik tubuh Thai Liong kini melancarkan serangan dengan bebas. Tombaknya menusuk sana-sini ke arah Siauw-jin. Empat kali kakek itu menerima tusukan, tapi tubuhnya kebal karena *sinkang*. Hanya bajunya yang robek-robek. Namun, ketika Thai Liong memberi tahu agar serangan diarahkan ke mata atau hidung, Siauw-jin gugup dan menyumpah serapah. Thai Liong selalu mendahuluinya dengan tamparan atau pukulan hingga Siauw-jin terhuyung.
Ituchi mulai leluasa menyarangkan tombaknya pada hidung atau telinga musuh. "Aduh... tobat... jahanam terkutuk!" teriak Siauw-jin dan teman-temannya. Thai Liong membuat mereka lumpuh, lalu Ituchi menusukkan senjatanya ke sana kemari. Tombak mencoblos hidung atau telinga, dua kali ke mata hingga akhirnya lima orang nenek dan kakek-kakek iblis itu berdarah. Kekebalan mereka sudah dipatahkan oleh pukulan Thai Liong.
Ketika Togura memaki karena dua kali pemuda itu menghindari tusukan tombak namun terdorong angin pukulan Thai Liong, Togura tiba-tiba membentak dan memerintahkan sepuluh ribu pasukan untuk bergerak.
"Jangan *ndomblong*! Serang dan bunuh mereka ini. Hayo keroyok!"
Sepuluh ribu orang itu terpaku dan bengong. Gerakan Thai Liong tak dapat diikuti mata; yang mereka lihat hanyalah berseliwerannya baju putih pemuda itu dengan rambut keemasan. Begitu dibentak dan sadar, mereka yang tadi jatuh terduduk segera melompat bangun, siap menerjang.
"Hei, jangan tuli. Ayo maju! Atau kalian kubunuh!"
Sepuluh ribu orang itu bergerak karena takut dan gentar akan ancaman Togura.