Chapter 144
Pemimpin mereka marah, dan Thai Liong berkali-kali mencoba merobohkan lawannya, namun dengan licik Togura selalu menghindar. Setiap kali Thai Liong mendekat, pemuda itu meloncat dan menyelinap di belakang guru-gurunya. Tak ayal, guru-gurunyalah yang terkena serangan, jatuh bangun, roboh, dan terlempar oleh pukulan atau tamparan Thai Liong.
Begitu pasukan bergerak dan Togur berteriak menyuruh Horok serta Raja Cucigawa muncul, dua orang itu keluar dengan rasa ngeri dan gentar untuk menyerang.
"Buta mata kalian semua! Tidak tahukah kalau aku dan guru-guruku dipaksa jungkir balik? Hayo, serang mereka, Cucigawa! Lepaskan panah dan jangan biarkan mereka merobohkan kami!"
Sebatang panah menjepret. Cucigawa membentang gendewanya; ia memang ahli panah. Serentak, pasukan panah yang lain ikut melepaskan anak panah. Mereka adalah pasukan khusus yang sangat mahir memanah. Namun, begitu semua panah menyambar, Thai Liong yang berkelebatan di depan Ituchi segera memukul dan mendorong runtuh puluhan panah yang berhamburan itu dengan kebutan atau pukulan jarak jauhnya.
"Plak! Plak! Plak!"
Thai Liong mengejar Togura lagi. Lawannya itu dengan licik menyelinap dan bersembunyi di belakang guru-gurunya, menyerang dan melepas pukulan jarak jauh menghantam Ituchi. Namun, karena Ituchi selalu dilindungi Thai Liong, setiap kali pemuda itu menangkis, Togur mencelat dan terpental bergulingan.
"Dess!"
Thai Liong membentak lawannya, membuat Siauw-jin dan yang lain gentar. Mereka sudah berkali-kali dipukul roboh, dan setiap tamparan atau pukulan Thai Liong membuat mereka kesakitan. Kekebalan yang sudah mereka pasang tetap tak mampu menahan serangan tersebut; pertahanan mereka tembus dan mereka selalu kesakitan.
Karena tubuh mereka perlahan mulai lebam membiru dan mereka terus mendesis kesakitan, Siauw-jin akhirnya mulai menjauhkan diri. Togur kini tinggal dilindungi oleh empat gurunya yang lain. Celakanya, satu per satu dari mereka secara licik melakukan hal yang sama seperti Siauw-jin, yakni mundur dan menjauhkan diri dari Thai Liong.
Thai Liong lebih mengincar Togura daripada guru-gurunya. Togura terkejut ketika Thai Liong sudah berkelebat di depannya, mencengkeramnya, dan membentak, "Togur, kau menyerahlah. Dan robohlah!"
Togura tersentak. Kelima gurunya sedang bergulingan menjauh karena pukulan Thai Liong membuat mereka terpental. Melihat kesempatan itu, begitu lawannya terkejut dan berseru keras, Thai Liong segera menangkap, membanting, dan menotok Togura hingga roboh tak berdaya.
"Berhenti semua!" seru Thai Liong bagaikan guntur. "Pemimpin kalian telah kutangkap, tikus-tikus bodoh. Lihatlah ini dan berhentilah kalian menyerang!"
Semua orang tertegun. Thai Liong mengangkat dan memutar-mutar tubuh Togura. Tubuh yang tinggi besar itu diangkatnya dengan mudah, sementara Togura memaki-maki dalam cengkeraman Thai Liong. Dia telah tertangkap dan untuk pertama kalinya dibekuk, roboh tak berkutik karena serangan cepat Thai Liong.
Setelah pertempuran berhenti dan pasukan besar itu terkejut, Thai Liong tertawa mengejek, "Lihat, siapa yang macam-macam akan kubunuh musuhku ini, orang-orang bodoh! Aku tak akan mengampuni kalian karena kalian pun tak dapat mengalahkan kami!"
Ia lalu membalikkan badan menghadapi Siauw-jin yang bengong di sana. "Siauw-jin, sekarang kalian pun menyerahlah. Atau Togur kubunuh dan kalian kuhajar!"
"Ha-ha!" Togura tiba-tiba tertawa tergelak, mengejutkan semua orang. "Jangan terpedaya olehnya, Suhu. Kalian tak apa-apa dan aku juga selamat. Hei, perlihatkan gadis itu dan ancamlah dia bahwa kalian akan membunuhnya kalau Thai Liong berani membunuhku!"
Thai Liong terkejut. Lupa oleh kesibukannya dalam pertandingan tadi, ia tidak ingat akan Nangi. Yang ia ingat hanyalah urusannya di Sam-liong-to dan Cermin Naga. Dia ingin membekuk dan menangkap lawannya karena Togura telah mencuri cermin itu serta menguasai ilmu-ilmunya.
Begitu Camkong tertawa nyaring dan berkelebat menyambar Nangi—yang tadi diletakkan dan disembunyikan di belakang batu—kakek ini ganti mengancam dengan mengejek, "Bocah, apa yang dikatakan muridku betul. Kami juga menangkap dan menawan gadis ini. Nah, jangan bergerak atau sedikit gerakan saja, dia akan kubunuh!"
"Tar!" Cam-kong meledakkan jari-jarinya, mengeluarkan pukulan Pembunuh Petir.
Thai Liong terkejut karena teringat akan hal itu. Namun, belum sempat dia bertindak, tiba-tiba Ituchi bergerak dan menyerang kakek itu. "Cam-kong, serahkan adikku!"
Thai Liong semakin terkejut. Karena gegabah dan tidak melihat keadaan, Ituchi menerjang ke depan, keluar dari perlindungannya. Ketika Thai Liong berteriak untuk mencegahnya, sahabatnya itu sudah tidak dapat dihentikan. Nenek Naga melepas pukulan Tee-sin-kang dan tertawa, berkelebat menyambut Ituchi.
"Hi-hik, makanan empuk, Cam-kong. Biarlah dia kutangkap dan kau bunuh gadis itu kalau bocah she Kim beranjak dari tempatnya... dess!"
Ituchi mencelat, roboh terlempar ke kiri. Nenek Ji-moi segera menyambut pemuda ini, melepas pukulan Mo-seng-ciang (Pukulan Bintang Iblis). Karena Ituchi diserang dan dikeroyok dua nenek sekaligus, pemuda itu terjengkang dan roboh tertawan musuh!
"Hi-hik, lihat kami, Thai Liong. Dua tawanan ada di tangan dan kau semakin tak dapat berbuat apa-apa!" Ji-moi menendang dan memberikan Ituchi pada kakaknya. Ituchi menerima pukulan itu dan mengeluh menahan sakit. Dua kali dia menerima pukulan dan dua kali pula dia merasa dadanya sesak, hampir batuk dan muntah darah.
Ketika pemuda ini menyesal, nasi sudah menjadi bubur. Lima iblis itu berlompatan maju mengelilingi Thai Liong.
"Heh-heh!" Siauw-jin terkekeh-kekeh. "Mujur benar nasib kami, Bocah. Menangkap adiknya sudah, menangkap kakaknya pula. Nah, kau lepaskan muridku dan kita tukar-menukar!"
"Keparat!" Thai Liong tertegun. "Kalian curang, Siauw-jin. Berikan mereka dan kulepaskan muridmu!"
"Ha-ha, nanti dulu!" Togura tertawa tergelak sambil menggoyang lengannya. "Nanti dulu, Suhu. Thai Liong harus diikat syarat baru tukar-menukar itu terjadi. Kalau tidak, biarlah aku mampus dan kalian bunuh dua orang itu. Mati seorang mendapat dua orang, tak rugi!"
Lalu, dengan terbahak-bahak dan tidak menghiraukan Thai Liong yang gemetar, ia melanjutkan, "Aku pemimpin di sini, dan aku yang menentukan. Boleh tukar-menukar ini terjadi, namun bocah ini harus berjanji untuk tidak mengejarku lagi. Kalau dia tak sanggup, biarlah aku mampus dan kalian bunuh dua kakak beradik itu!"
"Apa?" Thai Liong melotot. "Kau minta bebas? Aku tak boleh mengejar-ngejarmu lagi sementara kau mencuri dan memiliki Cermin Naga? Tidak, hutangmu bertumpuk-tumpuk, Togura. Dan kau juga sudah melakukan dosa tak terampuni dengan merampas dan memimpin suku-suku bangsa ini. Kau iblis yang sebenarnya tak patut dilepaskan lagi. Membebaskanmu dengan tukar-menukar ini saja sudah cukup, atau aku akan membunuh semuanya dan kelima gurumu itu pun jangan harap dapat hidup!"
"Omong kosong!" pemuda itu membentak. "Kau boleh membunuh semua orang di sini, Thai Liong. Dan aku juga tak takut mampus! Tinggal kau menerima atau tidak. Masalah guru-guruku, hmmm... kau pun boleh saja membunuhnya. Tapi Ituchi dan adiknya akan mampus lebih dulu. Hayo, jangan berikan dua kakak beradik itu kalau Thai Liong tak menerima syaratku, Suhu. Boleh semua kita mampus dan aku tak takut mati!"
Thai Liong menggigil. Siauw-jin dan kawan-kawannya juga tergetar dan surut selangkah. Mereka terkejut dan membelalakkan mata memandang sang murid. Namun, ketika Togura memandang mereka dengan mata berapi-api dan tetap mendesak agar Thai Liong menerima penawaran bersyarat—atau semuanya mati—kakek dan nenek-nenek iblis ini tercekat. Tentu saja mereka tidak setuju karena mereka melihat pandangan Thai Liong yang bagaikan seekor naga murka. Orang lain boleh saja mati, tapi mereka pribadi? Tentu saja tidak mau.
Siapa yang mau mati meskipun hidup rasanya tak enak? Bukankah tak ada manusia yang mau berhadapan dengan Giam-lo-ong (Raja Akhirat) kalau umur masih panjang? Maka, ketika sang murid siap menyuruh mereka mati sementara mereka tentu saja tidak ingin buru-buru mati, Siauw-jin dan kawan-kawannya saling pandang; bingung, gentar, dan gelisah.
Murid mereka memang pemberani, demikian pemberaninya hingga mati pun rela dilakukan, semata-mata menuruti hawa marah dan siap mengorbankan yang lain untuk sama-sama mati. Ah, ngeri!
Ketika mereka terbelalak bingung dan diam-diam tidak ada yang ingin mengikuti perintah Togura, tiba-tiba Ituchi berteriak agar Thai Liong membunuh saja pemuda itu.
"Bunuh dia, dan habis perkara! Aku juga tak takut mati, basmi semuanya ini. Jangan laksanakan tawarannya itu karena pihak kita pun tak rugi. Mereka hanya akan membunuh aku dan adikku, tapi kau dapat membunuh enam jiwa! Lakukan itu dan jangan terima permintaan si jahanam itu!"
"Hm!" Thai Liong bersinar-sinar. Sebenarnya ia bingung, tapi ia berpura-pura mengangguk. "Kalau mereka berani mengganggumu, tentu iblis-iblis ini tak akan kuampuni, Ituchi. Kau tenanglah karena aku tak akan menerima permintaan Togura. Aku menghendaki tukar-menukar, tapi bukan bersyarat!"
"Ha-ha, kalau begitu bunuhlah aku! Eh, bunuh mereka itu, Suhu, dan biar Thai Liong membunuhku. Kalian mengiring aku ke akhirat!"
Gila! Siauw-jin dan kawan-kawan hampir berteriak.