Chapter 145
Togur telah memerintahkan mereka untuk membunuh dua orang itu, dan sebentar lagi mereka pun akan dibunuh Thai Liong. Bayangan kematian ini tentu saja membuat ngeri kakek dan nenek iblis tersebut; baik Ji-moi maupun Toa-ci terbelalak. Mereka mendesis dan tiba-tiba saling berbisik.
Ketika Togur berteriak lagi agar gurunya membunuh Ituchi dan adiknya, tiba-tiba nenek Toa-ci mengerahkan ilmunya untuk mengirim suara, *Coanbit*. "Bocah, buatlah murid kami itu pingsan. Kami tak dapat membantah selama dia masih berkaok-kaok. Kita tukar-menukar dengan wajar atau kami semua siap terbunuh, dan kau pun akan kehilangan dua temanmu ini!"
Thai Liong tertegun. Dia menoleh dan melihat mulut nenek itu bergerak-gerak. Ia tiba-tiba sadar dan maklum bahwa inilah jalan terbaik. Togur termasuk pemuda yang tidak waras, berani, dan siap menantang maut. Sayang, pemuda sehebat itu tidak ditunjang oleh watak yang baik dan gagah. Karena ia melihat bahwa nenek dan kakek iblis itu gentar terhadap Togur, serta mereka rupanya juga akan melaksanakan perintah dengan terpaksa yang akan menimbulkan korban jiwa, tiba-tiba Thai Liong menggerakkan jarinya dan... *krek*, terkulailah Togur. Tulang pundaknya dicengkeram hingga patah.
"Toa-ci, kau benar. Nah, terima muridmu dan berikan mereka berdua kepadaku!"
Siauw-jin dan yang lainnya terbelalak. Mereka tidak tahu isi percakapan itu, namun terkejut dan girang melihat Togur pingsan. Murid mereka itu sudah tak dapat berkata-kata lagi, dan tenteramlah mereka karena keadaan yang menjepit sudah lewat. Ketika Thai Liong melempar murid mereka dan segera ditangkap oleh nenek Toa-ci, nenek itu berkelebat dan berturut-turut tubuh Ituchi serta adiknya melayang, ditendang ke arah Thai Liong.
"Heii...!" Nenek Naga terkejut. "Jangan serahkan begitu saja, Toa-ci. Awas kalau pemuda itu tak menepati janjinya!"
"Hm!" Thai Liong mendengus setelah menerima keduanya. "Aku bukan penjilat janji yang rendah, Nenek Naga. Tapi aku tidak berjanji untuk tidak menghajar kalian... *des, des, des!*"
Thai Liong berkelebat, menendang, dan membagi-bagi pukulan. Ia tiba-tiba menghajar kelima iblis itu hingga jatuh bangun, membuat mereka terkejut. Toa-ci serta yang lainnya terpelanting bergulingan. Pasukan pun gempar dan kehilangan bayangan Thai Liong yang berkelebat dengan kecepatan luar biasa. Terdengar teriakan mengeluh dari kelima nenek dan kakek iblis itu. Namun, ketika bayangan kuning emas meloncat tinggi dan berjungkir balik terbang di atas kepala mereka, tiba-tiba pemuda itu sudah lenyap meninggalkan musuh-musuhnya.
"Siauw-jin, kali ini aku pergi. Tapi lain kali aku tak akan mengulang kejadian ini!"
Ributlah semua orang. Thai Liong telah pergi; apa boleh buat, pemuda itu melepas Togur dan kehilangan Cermin Naga yang seharusnya diperolehnya. Ia kecolongan dua kakak beradik itu dan semuanya harus dibayar dengan tukar-menukar. Ituchi dan adiknya telah kembali dengan selamat, tetapi Togur dan guru-gurunya terpaksa dibiarkan hidup. Satu hal yang sebenarnya mengecewakan!
Ketika Thai Liong pergi dan terbang meninggalkan Padang Iblis, Ituchi diam-diam mengeluh karena lawan yang dibencinya tidak dibunuh oleh Thai Liong. Begitu Thai Liong berkelebat dan berhasil kembali merampas adiknya, pemuda itu pun dibebaskan dan Nangi segera diterima oleh kakaknya. Karena Thai Liong rupanya juga masygul dan tak ingin banyak bicara, pemuda ini mengajak temannya ke Kota Chi-cou. Ituchi sempat tertegun, namun teringat adiknya yang lain dan Mei Hoa, kekasihnya, maka apa boleh buat pemuda ini pun mengikuti dan berkelebat mengerahkan ginkangnya. Begitu Ituchi sudah mengikuti sahabatnya, tanpa banyak cakap mereka berdua meninggalkan tempat itu.
"Hei, lepaskan aku!" Siang Le berteriak ketika tak dilihatnya lagi Soat Eng mengejar. Dia kecewa dan kini meronta di bawah panggulan Hauw Kam.
Tiga hari ini mereka melakukan perjalanan dan dua kakak beradik itu tak banyak cakap di sepanjang jalan. Mereka rupanya terpukul oleh kekalahannya di tangan Pendekar Rambut Emas. Maka ketika hari itu pemuda ini berteriak dan memaki-maki sepanjang jalan, tiba-tiba Hauw Kam menampar pantat pemuda ini.
"Diam, atau kau kubunuh!"
Siang Le menjerit. Ditampar dan ditepuk sedemikian keras, sementara tiga hari tiga malam dibiarkan kelaparan dan kehausan, tentu saja membuat pemuda ini kesakitan. Tubuhnya lemah dan dipanggul dengan kepala di bawah kaki di atas, membuat pemuda ini marah. Dia seperti ayam yang siap dijual ke pasar, atau barangkali binatang buruan yang siap disembelih. Maka begitu ditampar dan menjerit kesakitan, Siang Le malah berteriak-teriak dan memaki semakin keras.
"Keparat, jahanam terkutuk! Hayo kalian bunuh aku dan jangan menggertak saja. Eh, lakukan ancamanmu, Koai-jin. Bunuh aku dan pukullah sampai mampus!"
"Apa?" Hauw Kam terbelalak. "Kau minta mampus? Kalau begitu baik, aku akan membunuhmu dan sekarang kau robohlah!"
Siang Le dilempar dan dibanting; pemuda itu kembali menjerit. Lemparan kali ini lebih keras dari sekadar tepukan tadi. Tubuhnya serasa remuk dan Siang Le terguling-guling hingga menabrak pohon. Mukanya lebam biru dan pemuda ini tak dapat bangkit berdiri. Dia lunglai dan menderita sekali. Ketika Hauw Kam berkelebat dan berhenti berlari, suhengnya juga tertegun dan menghentikan larinya.
"Nah," Hauw Kam mengangkat sebelah tangannya. "Sekarang pilih minta mampus dengan cepat atau lambat, bocah. Juga pilih tangan kiri atau kanan. Cepat, aku habis sabar!"
"Kau boleh pukul aku dengan cepat atau lambat. Juga boleh dengan tangan kiri atau kanan. Pukullah, aku tak takut menghadapi kematian!"
"Begitu? Baik, kalau begitu kau mampuslah!" Hauw Kam menggerakkan tangan kirinya, hendak menghantam kepala Siang Le dengan gemas. Dia marah dan terganggu oleh maki-maki pemuda ini, ditambah pemuda itu menantang untuk dibunuh. Keparat!
Namun, ketika tangannya bergerak dan Hauw Kam benar-benar siap untuk membunuh, tiba-tiba suhengnya bergerak dan menangkis pukulan maut itu. "Sute, tahan... *duk!*"
Pukulan Hauw Kam terpental oleh tangkisan suhengnya. Laki-laki itu tergetar dan terhuyung mundur, marah memandang suhengnya, namun Gwan Beng cepat mengulurkan lengan. Dia menyambar dan menarik berdiri pemuda ini. Ketika sutenya melotot dan marah membentak suhengnya, Gwan Beng berkata, "Bocah ini kekasih siluman putri Pendekar Rambut Emas itu. Jangan dibunuh. Nanti kita kena marah gadis itu! Tahan dan redakan kemarahanmu, Sute. Mulut lancang bocah ini tak usah dihiraukan dan biar saja dia bercuap-cuap!"
"Apa?" Hauw Kam membelalak. "Membiarkan saja bocah ini dan membuat gatal telingaku? Persetan dengan gadis siluman itu, Suheng. Aku tak tahan oleh maki-makiannya dan ingin membunuh!"
"Tidak," sang suheng tiba-tiba menarik napas. "Kau dengar sendiri apa yang terjadi, Sute. Gadis itu keponakan murid kita sendiri. Ibunya, istri Pendekar Rambut Emas itu, ternyata sumoi kita. Berarti pemuda ini masih kerabat dan tak boleh dibunuh!"
Duduk melempar Siang Le di samping tubuhnya, si cambang yang gagah ini tiba-tiba berlinang air matanya. Ketika sang sute tertegun dan kaget memandang suhengnya, mendadak suhengnya menangis!
"Sute, aku merasakan getaran itu. Aku merasa dekat dengan wanita itu! Ah, tak tahu aku bagaimana semuanya ini terjadi. Bagaimana istri Pendekar Rambut Emas itu tahu-tahu mengaku sebagai sumoi kita. Bagaimana pendapatmu, Sute? Tidakkah kau merasa dekat atau pernah dekat dengan wanita cantik itu? Aku serasa kenal, dan serasa pernah dekat sekali!"
Hauw Kam tiba-tiba mengguguk. Aneh dan luar biasa, mendadak si gimbal ini pun menangis. Ketika Siang Le tertegun dan mengamati orang-orang gila itu, keduanya sudah tersedu-sedu.
"Hu-huu... aku... aku juga begitu, Suheng. Tapi aku tak ingat siapa wanita itu. Aku serasa pernah dekat dengannya pula. Tapi... tapi aku tak ingat siapa dia!"
"Dia sumoi kita. Dan kita suheng-suhengnya. Eh, apakah tak sedikit pun ingatan menempel di otak kita yang bebal ini, Sute? Ada apakah sebenarnya dengan diri kita ini?"
"Aku tak tahu. Tapi... tapi orang-orang menganggap kita gila, Suheng. Padahal kita tak merasa gila! Ah, mereka itulah yang gila, menyebut orang waras dengan gila, keparat. Hu-huu...!"
Keduanya kembali menangis dan saling bertanya-tanya, akhirnya membuat Siang Le tertegun dan terharu. Memang benar, ia mendengar nyonya Pendekar Rambut Emas itu memanggil "Suheng" pada dua orang ini. Si gila Hauw Kam dan suhengnya itu dipanggil-panggil, tetapi malah melarikan diri. Ketika keduanya mengguguk dan Siang Le merasa kasihan, tiba-tiba pemuda ini ikut menangis dan mencucurkan air mata pula.
"Eh!" Hauw Kam tiba-tiba melotot. "Kau ada apa ikut-ikutan menangis, anak muda? Kau gila?"
"Aku terharu..." Siang Le terkejut, gemetar menjawab. "Kalian sungguh patut dikasihani dan agaknya sesuatu memang telah terjadi dengan kalian. Eh, apakah tak sebaiknya kalian kembali ke sana lagi, Koai-jin? Bukankah istri Pendekar Rambut Emas itu memanggil-manggil kalian?"
"Kau mau apa?" Hauw Kam tiba-tiba membentak. "Kenapa ikut campur dan memerintah kami? Biarkan kami mau berbuat ini atau itu, bocah. Tak usah kau ikut campur dan main perintah!"
"Aku tak memerintah..."
"Tapi kau menyuruh kami kembali! Apakah itu bukan perintah?"
Ketika Siang Le tertegun dan tutup mulut, akhirnya Gwan Beng menarik tangan sutenya ini dan menyuruhnya diam. "Kau tak usah menggubris dia. Kesinilah, dan kita menangis lagi!"
Siang Le hampir tersedak. Dia nyaris terbahak mendengar itu. Bayangkan, orang bicara tiba-tiba diajak menangis! Tapi ketika Hauw Kam menuruti suhengnya dan menangis seperti apa yang diminta, Siang Le nyaris saja meledak dalam tawa yang lebar. Hampir pemuda ini tertawa geli melihat dua orang itu sudah mengguguk dan bertangis-tangisan lagi.