Halo!

Istana Hantu - Chapter 146

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 146

Ah, mereka memang orang gila!

Namun, melihat keduanya begitu sungguh-sungguh dalam menangis dan sesuatu yang dalam tiba-tiba menyentuh perasaan pemuda ini, maka Siang Le menekan guncangan tawanya dan menarik napas kuat. Harus membuang jauh-jauh rasa ingin tertawanya itu karena sikap dan tindak-tanduk dua orang ini memang lucu. Gwan Beng mengajak sutenya menangis dan sang sute pun mengikuti. Sungguh lucu!

Tapi ketika keduanya bersungguh-sungguh dan Siang Le terharu juga, maka sebuah bentakan tiba-tiba terdengar. "Hei, siapa ini, Siang Le? Kenapa mereka?" Siang Le terkejut. Sebuah bayangan hitam bergerak, angin berkesiur, dan muncullah di situ seorang kakek tinggi besar yang mukanya menyeramkan. Itulah See-ong dan Siang Le terkejut melihat kedatangan gurunya ini. Dan ketika dia berseru girang dan suhunya sudah menggerakkan kaki, maka sang murid pun ditendang dan... Siang Le bebas dari totokan kedua lawannya itu.

"Bedebah, kau rupanya menjadi tawanan! Eh, kuhajar mereka ini, bocah. Dan lihat berapa lama mereka menghirup udara... wut-wut!" Sang iblis bergerak, tubuhnya menyambar ke sana-sini dan tiba-tiba Hauw Kam maupun suhengnya sudah menerima pukulan dahsyat. Dan ketika mereka berteriak dan kaget bukan main, menangkis, maka mereka mencelat dan terlempar bergulingan.

"Des-dess!" See-ong tak memberi ampun. Kaget dan marah melihat muridnya ditotok musuh, tiba-tiba kakek ini berkelebatan dan melepas pukulan-pukulan lagi. Cepat dan bertubi-tubi ia menghajar Gwan Beng dan sutenya. Dan ketika dua orang itu berteriak dan kaget terguling-guling, maka See-ong sudah menghajar lawannya dengan marah dan penuh kemurkaan.

"Jahanam terkutuk, bedebah! Tidakkah kalian tahu siapa yang kalian tangkap ini? Kalian berani main-main dan menghina See-ong? Keparat, kubunuh kalian, orang-orang gila. Dan pergilah kalian menghadap Giam-lo-ong... des-plak!" See-ong marah besar, melepas pukulan-pukulannya, dan sebelas jurus pertama Hauw Kam dan suhengnya ini jatuh bangun. Mereka terlalu kaget ketika tiba-tiba kakek iblis itu muncul tanpa didengar. Kedatangannya tahu-tahu seperti siluman dan mungkin mereka tak mendengar karena sedang menangis mengguguk.

Tapi begitu See-ong menghajar mereka jatuh bangun dan dua kakak beradik ini kaget dan marah, tiba-tiba mereka membentak dan pukulan keras menyambut hantaman kakek itu.

"Dess!" See-ong terbelalak. Hauw Kam dan suhengnya yang menangkis dan menggabung tenaga mereka tiba-tiba dapat menahan pukulannya, tergetar, dan terhuyung mundur tapi tidak roboh. Dan ketika kakek itu mendelik dan berteriak gusar, tiba-tiba lawan telah membalas dan membentak menyerangnya, berkelebat, dan lenyaplah dua suheng dan sute itu melakukan serangan-serangan cepat. See-ong menangkis tapi dua orang ini hanya tergetar saja, kuat menerima.

Dan ketika keduanya berseru keras dan pukulan demi pukulan dilepas dan menghantam kakek ini, maka See-ong berlompatan ke sana-sini merasa pukulan-pukulan panas, menggeram, dan membentak lawan, lalu bergeraklah dua kakak beradik itu mempercepat gerakan. Mereka akhirnya lenyap dan sudah mengelilingi kakek ini. Dan ketika See-ong menjadi silau dan mulai menerima satu dua pukulan, maka kakek ini tergetar dan kumis di atas bibirnya terangkat naik!

"Des-dess!" See-ong merasa pukulan-pukulan yang kuat juga. Dia tergetar dan terdorong mundur. Dan ketika dua kakak beradik itu tertawa bergelak dan menyerangnya seperti orang gila, maka kakek ini terdesak dan See-ong menyumpah-nyumpah!

"Hei, jangan serang. Jangan menyerang...!" Siang Le, yang terkejut dan melihat kumis suhunya terangkat naik, tiba-tiba berseru dengan cemas dan penuh kekhawatiran. Dia tahu apa artinya itu meskipun suhunya tampak terdesak, mendelik, dan memandang dua orang itu penuh kemarahan. Dan ketika kakak beradik itu justru tertawa-tawa dan mengejek Siang Le, berkata bahwa tak usah pemuda itu berkaok-kaok karena gurunya sebentar lagi roboh, maka See-ong membentak dan ilmu hitamnya dikeluarkan, *Hek-kwi-sut*.

"Wut!" Kakek ini lenyap. Seperti iblis atau siluman saja, tahu-tahu kakek itu menghilang. Hauw Kam dan suhengnya kaget berseru keras karena pukulan mereka menyambar angin kosong. Dan ketika mereka membalik dan mencari musuh mereka itu, tahu-tahu sebuah pukulan menghantam tengkuk dari belakang.

"Dess!" Hauw Kam dan suhengnya berteriak kaget. Seperti palu godam saja mereka itu menerima serangan lawan, terjungkal, dan roboh, memaki-maki, bergulingan, meloncat bangun, tak melihat di mana lawan, dan kembali sebuah pukulan tahu-tahu menghantam mereka, lebih dahsyat dari pertama, dan terpelantinglah dua orang itu berteriak-teriak. Dan ketika mereka jatuh bangun menerima pukulan-pukulan lagi, maka See-ong tertawa bergelak di balik bayangan *Hek-kwi-sut*-nya.

"Ha-ha, lihat, tikus busuk. Siapakah yang roboh dan menderita kekalahan!" Hauw Kam dan suhengnya pucat. Mereka tak melihat di mana lawan mereka itu dan tahu-tahu dua tiga pukulan menghantam mereka. Kian lama kian keras saja hingga mereka kesakitan, sudah mengerahkan *sinkang* namun tetap saja tak tahan. Akibatnya mereka ini menjerit-jerit dan gentarlah dua orang itu oleh kelihaian See-ong. Dan ketika See-ong tertawa menyeramkan dan berkelebat menghantam ubun-ubun, siap membunuh, tiba-tiba Siang Le berteriak mencegah gurunya.

"Jangan bunuh... plak-dess!" Dan Siang Le yang melompat di tengah pertandingan dan menerima pukulan suhunya tiba-tiba mencelat dan terlempar mencegah kematian dua orang itu, mengeluh dan mendekap dadanya, dan tentu saja gurunya terkejut. See-ong berteriak tertahan dan muncul lagi menampakkan diri, kaget melihat muridnya menangkis pukulannya tadi dan kakek ini tertegun. Namun begitu muridnya terbanting dan tidak bergerak di sana, maka kakek ini berkelebat dan memeriksa muridnya itu.

"Kalian pergi... lari!" See-ong menggeram. Muridnya berseru lemah mengusir dua orang itu. Hauw Kam dan suhengnya terbelalak. Tapi ketika melihat kakek iblis itu menolong muridnya dan menampakkan diri setelah menghilang tiba-tiba, keduanya angkat kaki dan kabur seperti dikejar setan.

"Hantu... iblis! Kakek itu siluman...!" See-ong tak menghiraukan. Dia tadi melancarkan pukulan berat dan muridnya muntah darah menerima pukulannya ini. See-ong menyumpah-nyumpah dan memaki muridnya itu. Namun, karena dia sayang pada muridnya itu dan Siang Le pun merupakan murid tunggal, maka kakek ini sudah berlutut dan memeriksa muridnya itu, cepat mengulurkan lengan mengerahkan *sinkang*.

"Kau gila!" kutuknya. "Kenapa kau melakukan itu, Siang Le? Memangnya siapa dua manusia jahanam itu hingga patut memperoleh pembelaanmu untuk tidak dibunuh? Keparat, telan pil ini dan terima *sinkang*-ku!" Siang Le tersenyum, menahan sakit.

"Kau memang tak boleh membunuhnya, Suhu. Mereka... mereka supek dari gadis yang kucinta!"

"Gila! Siapa yang kau maksud?"

"Soat Eng... Kim Soat Eng...!"

"Hah! Puteri Pendekar Rambut Emas, Kim-mou-eng itu?"

"Benar, dua kakek tadi adalah supeknya, Suhu. Soat Eng tentu akan marah kepadaku kalau kau membunuhnya. Itulah sebabnya aku mencegah dan kau tak boleh membunuh mereka... augh!" Siang Le mengeluarkan teriakan tertahan, suhunya marah dan mencengkeram pundaknya. Kakek ini baru tahu cerita muridnya, geram dan mencengkeram muridnya itu hingga mengaduh. Namun begitu sang murid menjerit dan dia sadar, maka kakek ini membentak melepaskan tangannya.

"Lain kali tak usah menolong orang lain. Biarkan saja dia mampus atau tidak. Apa perdulimu untuk itu? Heh, bangkitlah, muridku. Lukamu sudah tak berbahaya dan ceritakan padaku ke mana saja selama ini!"

"Aku... aku mencari kekasihku itu...."

"Kekasih apa? Bukankah puteri Pendekar Rambut Emas itu tak mencintaimu?"

"Tidak... tidak, Suhu. Kau salah! Gadis itu telah berusaha menyelamatkan aku dari tangan dua orang supeknya yang gila tadi. Dia mulai menerima aku!"

"Ha-ha, siapa bilang? Kau harus ingat bahwa aku telah membunuh Hu-taihiap, Siang Le. Dan tak mungkin gadis itu menerima cintamu. Kebencian telah tertanam dan keluarga Pendekar Rambut Emas tak mungkin dapat menerimamu. Hayoh, jangan mengimpi dan kita tangkap serta bekuk lagi dua orang itu!"

"Tidak, jangan, Suhu. Tak boleh!" Dan Siang Le yang bangkit serta mencengkeram lengan suhunya tiba-tiba berapi memandang gurunya itu. "Sekarang tak boleh kita menambah permusuhan lagi. Atau aku akan marah padamu dan siap kau bunuh!" Dan See-ong yang tertegun serta terbelalak memandang muridnya ini berkata, "Kau gila? Kau mau melawan gurumu sendiri?"

"Tidak, kalau kau tidak mencari dan mengejar dua orang itu, Suhu. Betapapun mereka cukup baik kepadaku dan selama ini tak pernah menyiksa...!"

"Tapi kau kelaparan! Kau lemah!" suhunya memotong, mendelik. "Jangan macam-macam, Siang Le. Aku tahu apa yang terjadi dan tak usah kau membela dua orang itu!"

"Aku memang lemah, kelaparan. Tapi mereka tetap bersikap baik, Suhu. Artinya selama ini tak pernah membunuhku karena kalau tidak, tentu kau sudah tak akan bertemu denganku lagi...!"

"Tapi mereka tadi hampir membunuh!" Sang suhu kembali melotot, menyergap muridnya. "Kau hampir dibunuh dan tentu sudah terbunuh kalau aku tidak datang, Siang Le. Dan ini tak usah kau sangkal untuk berlebih-lebihan membela dua manusia keparat itu!"

"Benar, tapi jangan salah paham, Suhu. Aku yang tadi minta dibunuh dan membuat marah mereka itu. Aku yang menantang, dan aku memang telah memanaskan hati mereka. Kalau tidak, tentu juga tak akan dibunuh!"

See-ong tertegun. Muridnya itu bicara sungguh-sungguh dan melototlah dia. Siang Le tak mau dibantah dan tetap saja dia membela dua orang itu. Dan ketika muridnya berkata bahwa dua orang tadi tak bersalah, maka tiba-tiba kakek ini membanting muridnya, tapi tidak dengan tenaga penuh.

"Baiklah... baiklah. Kau memang selalu membela kerabat Pendekar Rambut Emas dan aku gurumu sekarang ingin mengajar adat. Kau terima ini dan setelah itu ikut aku mencari Siauw-jin dan kawan-kawannya...."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment