Chapter 147
"Brukk!" Siang Le mengeluh. Meskipun tidak terlalu sakit, hantaman itu terasa cukup keras.
Suhunya memang perlu melampiaskan kemarahan karena ia selalu membantah. Namun, ketika gurunya mengangkat tubuhnya dan ia berdiri, kakek itu justru melotot dengan sorot mata tajam seraya bertanya apakah ia sakit karena dibanting.
"Tentu saja," jawab Siang Le dengan nada agak manja. "Mana ada orang yang tidak sakit kalau dibanting, Suhu? Dan kau mulai kejam kepadaku, tidak kenal kasihan!"
"Maaf," gurunya mengelus. "Aku tidak bermaksud menyakitimu, Siang Le. Aku hanya gemas dan geram padamu karena suka membantah guru! Nah, sekarang ayo ikut aku mencari manusia-manusia busuk itu!"
"Siauw-jin tak ada di Sam-liong-to?"
"Tidak, mereka minggat. Muridnya juga tak ada di sana!"
"Kalau begitu, benar apa yang kudengar. Siauw-jin telah menjadi pembantu muridnya sendiri dan memimpin bangsa liar untuk menyerbu Tiongkok!"
"Apa?"
"Benar, Suhu. Aku mendengar Togur telah memimpin penyerbuan besar-besaran dibantu gurunya!"
"Ah, kalau begitu yang kudengar di tengah jalan itu pasukannya?"
"Ya, benar, Suhu. Dan aku mendengar bahwa kelima gurunya sudah begitu penurut kepada pemuda itu!"
"Keparat!" See-ong berseru keras. "Kalau begitu, cepat kita temui mereka, Siang Le. Tangkap dan bekuk mereka semua. Mereka meninggalkan Sam-liong-to tanpa izin. Aku harus menghajar dan kalau perlu membunuh mereka!"
"Hm, Suhu ditinggal pergi?"
"Benar. Aku terpaksa meninggalkan pulau karena kau pergi tanpa pamit, Siang Le. Kusuruh Siauw-jin mencari, eh, kau pun murid keparat yang membuat orang tua bingung!"
"Aku mencari gadis itu, menemuinya..."
"Sudahlah, sementara ini aku tak suka bicara tentang yang lain kecuali kelima pembantuku itu. Hayo, cari mereka dan bekuk sampai dapat!"
See-ong yang marah segera menyambar muridnya, lalu bergerak bagai terbang. Siang Le terkejut, namun ia mengangguk mengikuti gurunya. Tiba-tiba, kakek iblis itu mengerahkan *Hek-kwi-sut* dan Siang Le pun lenyap di dalam ilmu hitam gurunya.
"Terlalu lama kalau begini. Hayo, berlindung di balik *Hek-kwi-sut* dan pejamkan matamu!"
Siang Le kagum. Gurunya meledakkan kedua tangan hingga asap hitam muncul, bergerak, dan melindungi mereka. Tubuh Siang Le kini terbungkus oleh uap hitam tersebut. Ketika gurunya mencengkeram lengannya, uap hitam itu terbang seperti iblis.
"Wut-wut!"
Siang Le tak tahu apa-apa lagi. Ia telah diangkat dari tanah dan tidak lagi menginjak bumi. Gurunya membawa ia melayang di antara awan dan mega yang tinggi. Siang Le tidak tahu di mana ia berada saat itu.
"Berhenti di sini, sudah sampai!"
Tiba-tiba pemuda itu dilempar oleh gurunya. See-ong mengusap keringat, dan Siang Le keluar dari gulungan asap hitam *Hek-kwi-sut*. Ia tertegun dan terbelalak memandang ke depan; ia telah berada di sebuah padang rumput yang luas.
"Lihat kemah-kemah itu, tampaknya itulah mereka!"
Siang Le mengangguk. Ia melihat ribuan kemah pasukan Togura. Siang Le tidak tahu bahwa ia telah berada di Padang Iblis, tempat Thai Liong baru saja datang, mengamuk, dan merobohkan Togur, sebelum akhirnya pemuda itu pergi lagi.
Ketika gurunya tiba di tempat itu, See-ong dengan penuh amarah langsung meluncur ke depan, meninggalkan muridnya.
"Hei!" seru Siang Le. "Tunggu, Suhu. Jangan biarkan aku sendiri!"
"Kau lihat dan masuklah sebelah kanan," jawab sang guru. "Aku ingin ke tengah mencari lima orang itu. Buatlah keributan di pasukan itu jika perlu!"
"Tapi...!"
"Tak ada tapi. Kita berpencar. Jika kau temukan lima orang itu lebih dulu, beri tanda padaku. Slap!"
Sang kakek menghilang dengan kecepatan luar biasa. Siang Le tertegun, namun karena ia bukan pemuda penakut, ia pun berkelebat dan terbang ke kanan mengikuti perintah gurunya.
"Hei!" seorang prajurit melihatnya. "Siapa kau, anak muda? Berhenti!"
Siang Le mendengus. Tanpa menoleh, ia mendorong prajurit itu hingga roboh terjengkang. Prajurit tersebut meniup terompet, dan belasan temannya muncul dengan cepat dari kiri dan kanan.
"Ada tamu liar, awas!"
Siang Le mengerutkan kening. Ternyata di seberang padang rumput ini banyak prajurit yang berjaga. Mereka bersembunyi di balik ilalang tinggi. Kedatangan Siang Le memang sudah diketahui, begitu pula dengan gurunya. Namun, karena See-ong meluncur dalam bentuk asap hitam yang bergerak seperti iblis, para penjaga justru bengong ketakutan dan mengira itu adalah siluman atau hantu padang rumput.
Begitu Siang Le muncul dan merobohkan seorang prajurit, mereka yang bersembunyi langsung menampakkan diri. "Hei, berhenti! Atau kau mampus!"
Siang Le mengepal tinju. Tidak seperti gurunya yang bergerak dalam bentuk asap, ia bergerak seperti manusia normal dengan ilmu meringankan tubuh. Tombak dan golok segera menyambutnya.
"Plak-des-dess!"
Pemuda itu menggerakkan tangan ke kiri dan kanan. Dengan kibasan angin pukulan, lawan terlempar dan senjata mereka patah. Setelah sebelas orang terpelanting, Siang Le terus bergerak masuk ke dalam ribuan kemah tanpa rasa takut.
"Hei, cegah dia! Awas, musuh memasuki perkemahan!"
Suasana menjadi gempar. Para prajurit sedang dalam kondisi panik setelah sebelumnya dihajar oleh Thai Liong. Bahwa pemimpin mereka sampai tertangkap membuat mereka mudah ketakutan. Saat terompet ditiup gencar, ribuan orang mengepung Siang Le.
"Berhenti! Siapa kau!"
Siang Le menangkis sebatang tombak hingga patah dari tangan pemiliknya. Namun, tiba-tiba tujuh belas panah meluncur ke arah tengkuknya.
"Prat-pratt!"
Siang Le berputar dan menghantam panah-panah tersebut. Salah satu panah melesat dengan kekuatan hebat dan tidak patah meski jatuh. Ia melihat seorang laki-laki tinggi besar berkumis lebat sedang mengayunkan gendewa.
"Serang dia! Panah lagi!" perintah laki-laki itu.
Dua puluh panah menyambar bagai tanduk kijang yang berbahaya. Siang Le menangkisnya, namun laki-laki itu kembali membidik dengan empat panah sekaligus yang diarahkan ke perut dan dada.
"Ser-serr!"
Siang Le membelalak. Ia menggerakkan tangan dengan sangat cepat, bukan untuk menangkis, melainkan menangkap keempat panah tersebut. Ia membentak dan mengembalikan panah itu kepada tuannya.
"Terimalah!"
Laki-laki itu, Cucigawa, terkejut dan mencoba mengelak, namun sebuah panah menancap di pundaknya. Saat raja itu terhuyung roboh, anak buahnya menyerbu dengan panik.
"Bunuh pemuda ini! Robohkan dia!"
Siang Le bergerak, menangkis, dan mendorong lawan-lawannya. Ia terus menerobos masuk ke perkemahan, mengamuk sambil memanggil nama Siauw-jin dan kawan-kawannya. Sementara itu, di tempat lain, See-ong juga melakukan kegemparan besar. Kakek itu terus meluncur di balik bayangan *Hek-kwi-sut*, membuat para prajurit bingung dan ketakutan karena mengira ia adalah iblis yang sesungguhnya.