Chapter 148
"Siauw-jin, Cam-kong, keluarlah. Ini aku datang!"
Penjaga atau pengawal terkejut. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali gulungan asap hitam yang bergerak dan tiba-tiba memasuki kemah, menggeram, serta memanggil-manggil nama lima kakek dan nenek iblis tersebut. Ketika kemah roboh dan tiga penjaga terpental tanpa sebab, See-ong muncul sambil menggeram.
"Heh, mana para pemimpinmu? Mana Siauw-jin dan teman-temannya!"
"Aku... aku tidak tahu!" sahut seorang penjaga dengan suara tercekik karena disambar oleh kakek itu.
Saat kakek itu melotot dan memaki, penjaga tersebut dibanting hingga tewas dengan kepala pecah. Suasana menjadi geger. See-ong berkelebat ke kemah sebelah, membentak, dan mencari Siauw-jin. Ketika buruannya tidak ditemukan, ia melampiaskan kemarahan kepada orang-orang di sana. Semua orang yang menghalanginya dibanting dan dilempar hingga tewas.
Kondisi perkemahan menjadi gempar. Belasan jiwa melayang sia-sia dan banjir darah mulai terjadi di tengah perkemahan.
"Hayo, mana pembantu-pembantuku itu? Suruh mereka keluar atau semua akan kubunuh!"
Keadaan benar-benar panik. Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kakek ini. Jangankan mereka, Siauw-jin dan kawan-kawannya sendiri pun mungkin tidak akan mampu. Ketika seratus jiwa melayang dan puluhan kemah disapu roboh, orang-orang menjadi kacau.
"Panah kakek itu! Serang dan bunuh dari jauh!"
Namun, See-ong tertawa bergelak. Komandan yang berseru itu tiba-tiba disambar, dibanting, dan diinjak hingga tewas. Saat yang lain terkejut dan gentar, kakek itu berkelebat menantang.
"Ayo, serang aku dari jauh. Bunuh aku!"
Pasukan terbelalak. Mereka melihat kakek itu menghilang dan tiba-tiba muncul di sebelah kiri, menangkap serta membanting lagi beberapa pengawal. Ia tertawa, lalu menghilang dan muncul di sebelah kanan seperti siluman. Ribuan orang merasa gentar dan akhirnya kocar-kacir. See-ong menggunakan Hek-kwi-sut untuk menghilang dan menangkap para perwira.
"Setan... kakek itu setan! Dia iblis!"
"Benar, dia iblis! Lari, kawan-kawan. Kakek itu bukan manusia!"
See-ong terbahak-bahak. Dalam kemarahannya, ia merasa geli melihat ribuan orang melarikan diri seperti tikus yang digebah. Kemah-kemah yang dirobohkannya sudah tak terhitung jumlahnya. Saat kakek itu tertawa sambil memaki Siauw-jin, empat bayangan berkelebat dan muncullah nenek Naga bersama muridnya.
"See-ong, berhenti. Atau kau mampus!"
Kakek itu terkejut. Ia melihat Togur berkelebat dan menghantamnya dengan gerakan yang luar biasa cepat. See-ong menangkis, tetapi saat benturan terjadi, ia terpental dan berjungkir balik. Kakek itu berubah mukanya; ia mengenali pukulan itu dan merasa kaget serta marah. Togur menggunakan Khikang, ilmu yang dimiliki keluarga Pendekar Rambut Emas.
Kakek itu melotot dan memaki nenek Naga. "Nenek siluman, baru sekarang kau muncul? Kau tidak menghadap padaku dan tidak memberi laporan lagi?"
"Hm!" Togur, yang mewakili gurunya, mendengus pendek sambil tertawa mengejek. "Guruku adalah hak-ku, See-ong. Kau hanyalah tamu, harap datang dengan cara baik-baik!"
"Apa? Kau anak kecil bicara besar? Keparat, kubunuh kau!" Kakek yang penasaran dan marah itu bergerak menghantam lawannya.
"Dess!" Togur kembali mempergunakan Khikang. See-ong mencelat. Khikang memang ilmu yang mampu menolak balik pukulan lawan. Kakek itu sadar akan kedahsyatan ilmu tersebut.
"Jahanam, Khikang!" See-ong terpekik. Ia menggigil saat memandang lawannya. "Kau... kau memiliki Khikang? Kau bocah keparat memiliki ilmu ini?"
"Ha-ha!" Togur tertawa bergelak. "Jangan main-main denganku, See-ong. Benar, itulah Khikang. Sekarang kau tahu kenapa aku tidak takut kepadamu!"
"Keparat! Dari mana kau dapatkan itu? Kau bocah kemarin sore berani kurang ajar kepadaku?"
"Jangan sombong," sahut Togur dengan mengejek. "Aku sekarang bukan bocah kemarin sore lagi, See-ong. Melainkan kaulah kakek bangkotan yang tidak tahu kemajuan anak muda. Aku di sini pemimpin suku bangsaku, kalau kau ingin menjadi tamu yang baik, harap bersikap sopan!"
"Keparat!" Kakek itu menggigil dan memandang nenek Naga. "Begini cara murid kalian menyambut aku, nenek busuk? Dan kau diam saja?"
Nenek Naga merasa gentar. Ia takut pada See-ong karena kakek itu amat lihai, tetapi ia membiarkan muridnya bicara karena merasa Togur mampu melindunginya.
"See-ong, tak usah bicara kepada guruku. Mereka tunduk kepadaku. Kalau ingin bicara, silakan kepadaku, jangan kepada yang lain."
"Bagus, kalau begitu..." Kakek itu tiba-tiba berkelebat. "Aku ingin membunuhnya dulu, Togur. Kutarik lidahnya agar dapat bicara!"
See-ong menghantam nenek Naga hingga nenek itu terpekik dan bergulingan, namun ia sempat berteriak meminta bantuan. See-ong kembali menyerang, namun Togur bergerak cepat dan menyambar punggung kakek itu.
"Berhenti!"
See-ong terpaksa menangkis pukulan Togur. Dua pukulan dahsyat bertemu hingga menggetarkan jantung.
"Dess!"
See-ong terpental tinggi, tertolak oleh Khikang. Kakek itu memaki, sementara Togur terhuyung setindak. See-ong menyerang lagi dengan mengeluarkan Sin-re-ciang, ilmu silat Tangan Karet, di mana kedua lengannya bergerak maju mundur dengan cepat. Sepuluh kuku jarinya menyambar-nyambar, membuat Togur sibuk menghindar.
See-ong mengeluarkan tenaga amis yang membuat lawannya mual. Ketika Togur mengelak menggunakan Jing-sian-eng, kakek itu kembali melotot.
"Jahanam! Bedebah! Kau pun rupanya menguasai Jing-sian-eng!"
"Ha-ha, tak salah!" Togur tertawa. "Dua ilmu ini kukuasai baik, See-ong. Mari kita lihat siapa yang lebih cepat!"
Togur mengerahkan tenaganya, menambah kecepatan, dan tubuhnya lenyap, berseliweran mengelilingi See-ong. Kakek itu pun terkurung. Tamparan-tamparan panas mulai mengenai tubuhnya.
"Ha-ha, lihat, See-ong. Lihat!"
See-ong terpukul pulang-balik. Meski kakek itu tergetar hebat, ia tidak roboh berkat sinkang yang kuat. Togur terus mempercepat serangan, membuat See-ong semakin terdesak.