Chapter 149
Kakek itu mendelik tak percaya, sementara Nenek Naga tiba-tiba terkekeh. Bersama tiga temannya yang lain, nenek ini mulai memercayai Togur. Muridnya itu mampu menguasai lawan hingga See-ong terus terdesak hebat. See-ong memaki dan menggeram karena silat Tangan Karet miliknya tiba-tiba tak berdaya. Kakek ini kalah cepat oleh ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng.
Ditambah dengan pukulan-pukulan Khikang dari pemuda itu yang membuat See-ong tergetar dan terhuyung-huyung, kakek itu melotot gusar sementara lawannya terbahak-bahak.
"Ha-ha, sekarang kau menjadi pembantuku, See-ong. Dan aku tak akan membunuhmu!" Atau, ketika kakek itu mendelik dan memaki gusar, pemuda ini berkata lagi, "Atau kau menyerah baik-baik, dan kita bersahabat!"
"Keparat!" See-ong memekik. "Aku belum roboh, bocah. Dan aku masih belum mengeluarkan semua kepandaianku. Lihatlah, apakah kau dapat menyerangku kalau sudah begini... Wut!"
Si kakek menghilang dengan Hek-kwi-sut-nya, membuat Togur terkejut karena lawan tak dapat diserang dan keberadaannya tidak diketahui. Inilah yang memang dikhawatirkan pemuda itu. Togur tahu See-ong memiliki Hek-kwi-sut dan belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya; itulah sebabnya ia menawarkan persahabatan. Ketika kini si kakek memekik gusar dan lenyap menggunakan Hek-kwi-sut, tentu saja Togur kehilangan sasaran, dan pukulan-pukulannya menghantam tempat kosong.
"Dess!" Togur terpental. Ia terkejut ketika tiba-tiba lawan memukulnya di balik ilmu hitam itu. Terdengarlah See-ong terbahak-bahak. Togur berseru tertahan, dan sekarang kakek itulah yang ganti menyerangnya. Bayangan hitam berkelebat, dan pemuda tinggi besar ini kembali menerima pukulan. See-ong tertawa bergelak saat pemuda itu mulai menerima hujan pukulan yang keras dan berat. Ketika Togur terguling-guling dan meloncat bangun sambil memaki, sebuah tamparan kembali mengenainya.
"Dess!" Pemuda ini mengeluh. Sekarang Nenek Naga menjadi pucat, sadar bahwa See-ong memang bukan iblis sembarangan dan Hek-kwi-sut-nya amat ditakuti. Muridnya kini menjadi bulan-bulanan pukulan. Namun, ketika nenek ini berseru tertahan dan Togur teringat Khikang-nya untuk bertahan, pemuda itu tak terpental lagi, melainkan hanya terhuyung dan tergetar mundur.
Tadi ia lupa menggunakan tenaga sakti itu, sebab dengan sinkang biasa saja tak mungkin ia dapat bertahan. Kini, pemuda itu menggunakan Khi-bal-sin-kang dan benar saja, pukulan-pukulan lawan dapat ditahan. See-ong tergetar dan ganti tertolak balik ketika semua pukulannya mengenai tubuh pemuda itu. Kakek ini mengumpat-umpat. Ketika Nenek Naga berseri-seri karena hal itu berarti menyelamatkan muridnya, pertandingan menjadi imbang; seri!
"Ha-ha, lihatlah, See-ong. Kaupun boleh pukul aku sesukamu. Lihat apakah pukulan-pukulanmu dapat merobohkan aku!"
"Bedebah! Terkutuk!" Kakek ini memaki-maki. "Kaupun boleh serang aku kalau bisa, Togur. Perlihatkan kelebihanmu bahwa kau pun dapat merobohkan aku!"
"Kau bersembunyi di balik Hek-kwi-sut-mu, licik!"
"Dan kau pun berlindung di balik Khikang curianmu, pengecut!"
Keduanya saling maki, namun akhirnya sama-sama mengagumi lawan. See-ong mulai menyadari sesuatu dan diam-diam kagum kepada murid Enam Iblis Dunia ini. Ia teringat akan kejadian di Sam-liong-to dan tiba-tiba sadar bahwa lawan yang dulu dihadapinya adalah pemuda ini. Terkutuk, baru sekarang ia sadar. Ketika kakek itu bertanya dan Togur menjawab sambil tergelak, pemuda itu tak dapat menahan gelinya.
"Benar, itulah aku, See-ong. Sekarang agaknya baru kau tahu kenapa kelima guruku ini ikut denganku!"
"Jahanam!" Kakek itu mengutuk. "Kiranya kau pemuda siluman, Togur. Kau mengecoh orang tua habis-habisan, namun kuakui kehebatan dirimu ini. Ah, kau pantas menggantikan iblis-iblis tua macam guru-gurumu itu. Terkutuk!"
Togur tertawa-tawa. Pertandingan berjalan imbang karena baik ia maupun See-ong tak dapat mengalahkan satu sama lain. Kakek itu hebat dengan Hek-kwi-sut-nya, tapi ia hebat dengan Khikang-nya. Pukulan-pukulan kakek itu selalu mental tertolak Khikang, dan karena Togur pun tak dapat menyerang kakek itu yang berlindung di balik Hek-kwi-sut-nya, masing-masing hanya membuang tenaga jika pertandingan dilanjutkan.
"He...!" Togur berseru. "Kau dan aku tak dapat saling mengalahkan, See-ong. Seharusnya kau tahu dan jangan nekat. Kita imbang, dan sebaiknya kita bersahabat!"
"Aku tak mau menjadi pembantumu!" See-ong membentak, mengira pemuda itu akan menghinanya dengan menjadikan ia sebagai pembantu seperti guru-gurunya. "Aku boleh kehabisan tenaga, bocah. Tapi kau pun tak akan bertahan lama dan kita sama-sama mampus!"
"Jangan bodoh!" Togur tertawa. "Kenapa mengira aku akan menjadikan dirimu sebagai pembantu? Kita sama kuat, See-ong. Dan kita pun mempunyai musuh yang sama. Berhentilah, dan kita bersahabat. Aku tak mungkin menaklukkan dirimu untuk menjadi pembantuku karena kita imbang. Berhenti, dan jangan menyerang!"
See-ong ragu-ragu. Sebenarnya ia juga melihat kenyataan itu dan diam-diam menaruh kagum yang besar kepada pemuda ini. Inilah tipe pemuda yang pantas menjadi tokoh sesat. Sayang muridnya tak seperti itu. Padahal, ia menginginkan agar Siang Le pun dapat bersikap seperti pemuda ini: culas, licik, serta tak segan-segan menggunakan segala tipu muslihat untuk memperoleh kepandaian. Sekarang ia tahu apa yang telah terjadi. Pemuda ini mencuri Khi-bal-sin-kang melalui Hu-taihiap. Dan teringat bahwa pemuda itulah yang dulu membawa Hu-taihiap ke Pulau Tiga Naga, akhirnya See-ong menjadi kagum sekaligus gemas kepada lawannya ini; pemuda yang cerdik dan berwatak keji!
"Hei...!" Togur berseru kembali padanya. "Bagaimana jawabmu, See-ong? Kau masih tak dapat melihat kenyataan?"
"Hm!" Kakek ini menggeram, gemas dan kagum. "Aku sudah melihat kenyataan, bocah. Tapi aku belum melihat jelas apa maumu!"
"Bodoh! Kita bersahabat, itulah mauku. Bukankah sudah kukatakan?"
"Ya, itu benar. Tapi apakah persahabatan itu hanya sebegini saja? Artinya, apakah aku hanya sebagai tamu dan kau tetap raja di sini?"
"Maksudmu?"
"Ha-ha! Kalau kau mengakui bahwa kita imbang, maka apa yang ada di sini juga harus dibagi adil, bocah. Kau pemimpin dan aku pun juga pemimpin. Kalau begitu baru aku terima tawaranmu!"
"Ah, kau ingin memperoleh pasukan?"
"Cerdas, kau pintar! Begitulah maksudku, ha-ha!"
See-ong yang terbahak menyatakan maksudnya dan diam-diam kembali kagum karena sekali bicara pemuda itu sudah dapat menangkap. Memang ia tak mau di bawah pemuda itu, dan tentu saja apa yang ada di situ harus dibagi rata. Kelima Iblis Dunia yang ada di situ adalah pembantu-pembantunya. Hanya karena adanya pemuda itu maka Nenek Naga dan lain-lain membangkang. Kini, setelah menyatakan keinginannya, See-ong tak ragu-ragu menuntut apa yang ia maui.
Dihitung-hitung, kalau pemuda ini tak selihai sekarang, Togur adalah juga "anak buahnya". Pemuda itu murid dari kelima pembantunya, dan kalau saja pemuda itu tak memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, tentu lawannya ini tak akan sepongah itu. Tapi karena Togur telah memiliki kemajuan pesat, kecerdikan, serta keberhasilannya, mau tak mau memang harus diakui pula maka See-ong ingin agar kekuasaan yang dimiliki pemuda itu dibagi dengannya. Ia adalah Raja Iblis, dan See-ong tentu saja tak mau di bawah pemuda ini. Ia tetap pemimpin, dan kelak akan dicarinya akal agar pemuda itu dapat disingkirkan.
Betapapun See-ong melihat ancaman bahaya dari murid Enam Iblis Dunia ini, yang sekarang tinggal lima orang. Dan ketika Togur tampak ragu atau bimbang, sebuah pukulan menghantam tengkuknya.
"Dess!" Pemuda itu tergetar. Sama seperti tadi, ia hanya terdorong dan terhuyung saja, tidak terpelanting. Khikang telah melindunginya sedemikian rupa, dan See-ong mengumpat. Kakek ini melakukan lagi serangan-serangannya, namun pemuda itu hebat benar. Khikang melindunginya, dan ke mana pun ia menyerang, di situ pula ilmu Bola Sakti itu menyelamatkan pemuda ini. See-ong sudah melakukan totokan-totokan pula, tapi pemuda ini lihai dan cerdik. Tidak seperti Soat Eng yang dulu roboh oleh totokannya, Togur menggelincirkan jalan darahnya hingga totokan selalu meleset. Pemuda ini rupanya menggabungkan semua ilmu yang dipunyai gurunya untuk akhirnya berhasil menguasai ilmu menggelincirkan jalan darah, semacam Ihiat (ilmu memindahkan jalan darah). Karena pemuda ini memang lebih cerdik dibanding Soat Eng yang polos dan kurang pengalaman, totokan-totokan yang dilancarkan selalu gagal di tengah jalan.
Akibatnya, kakek ini merah mukanya dan Togur tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu dalam posisi bertahan, tapi lawan juga sia-sia menyerangnya. See-ong mengutuk dan menggeram tak habis-habisnya. Ketika pemuda itu mengatakan sebaiknya mereka berbaik dan tak usah bermusuhan, kakek itu membentak menanyakan tawarannya tadi.
"Aku berhenti kalau kau menyetujui permintaanku tadi. Atau aku terus menyerangmu dan lama-lama kau roboh kehabisan tenaga!"
"Baiklah," Togur tertawa. "Untuk masalah kecil begini, kenapa aku tak dapat memenuhi permintaanmu, See-ong? Kita berbagi kekuasaan, kau dengan separuh pasukan yang ada di sini, sedang aku separuh yang lainnya!"
"Kau tak berbohong?"
"Ha-ha, tentu tidak, See-ong."