Halo!

Istana Hantu - Chapter 15

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 15

Pemuda ini menahan napas dan menjaga diri baik-baik. Jantungnya berdebar karena dia menyadari bahwa seorang lawan tangguh ada di depan mata.

Dia memberi isyarat kepada adiknya agar tidak mengeluarkan suara. Mereka sama-sama menahan napas karena memaklumi bahwa orang seperti See-ong dapat mendengar setiap gerakan mencurigakan.

*Lweekang* yang terlihat di mata kakek itu cukup membuat dua muda-mudi ini waspada. Melihat kakek itu berkelebat ke bawah, Soat Eng semakin jelas memandang murid kakek tinggi besar ini—pemuda bernama Siang Le yang gagah dan tampan, yang tadi telah mengagumkannya dengan menahan runtuhan batu besar hanya dengan punggungnya.

Saat Soat Eng berdebar dan entah mengapa merasa tertarik kepada pemuda ini, See-ong sudah membawa muridnya menuruni istana tersebut. Mereka turun naik melalui tangga-tangga batu, dan mulailah Thai Liong maupun adiknya melihat cara bekerjanya alat-alat rahasia.

Kakek itu agaknya sombong dan mengandalkan kepandaiannya. Pada satu saat, ia menginjak alat rahasia dan belasan panah beracun menyambarnya dengan suara mencuit, namun dengan kebutan ujung bajunya, rontoklah semua senjata rahasia itu.

Ketika dia menyentuh lagi alat rahasia di dinding ruangan yang meluncurkan tombak atau benda-benda lain, kakek itu justru menamparnya sambil tertawa bergelak.

"Ha-ha, kau tak dapat mencelakai aku, Raja Beng. Permainanmu ini hanya dapat mencelakai anak kecil!"

Soat Eng dan Thai Liong kagum. Kakek itu dengan mudah meruntuhkan semua senjata rahasia dan terus maju, sementara muridnya juga menggerakkan lengan ke kiri dan kanan. Pemuda ini pun menerima serangan, tetapi dengan mudah mematahkan semua serangan itu—sama seperti gurunya, dengan menyampok atau mengebut.

Ketika mereka terus semakin ke bawah dan Soat Eng maupun kakaknya harus mengikuti dengan hati-hati, mendadak kakek ini terjeblos ke sebuah lubang saat lantai tiba-tiba menganga karena alat rahasianya terinjak.

"Awas...!" Siang Le berseru memperingatkan gurunya.

Namun kakek itu justru mencaci maki. Terjeblos ke sumur ini bukannya membuatnya kaget, ia malah marah-marah memaki Raja Beng sambil berjungkir balik. Pintu lubang hendak menutup, namun dia menghantamkan lengannya. Terdengar suara keras saat kakek itu menghantam lantai, lalu dia sudah keluar dan melayang turun berjungkir balik di dekat muridnya.

"Bedebah, keparat!" maki kakek itu. "Sudah kubilang kau tak dapat mencelakai aku, Raja Beng. Dan jangan harap kau dapat mencelakai aku. Ayo, tunjukkan lagi alat-alat rahasiamu dan seranglah aku!"

Thai Liong kagum. Kakek ini mendelik dan menyumpah serapah meskipun selamat, sementara muridnya tersenyum. Soat Eng terkesiap melihat senyum itu; manis dan tenang. Ah, agaknya pemuda ini orang baik-baik, dan mulailah dia merasa tertarik. Perasaannya berdegup dan dia mulai memperhatikan pemuda itu lebih dari yang lain.

Ketika See-ong maju lagi, segala jebakan atau alat rahasia yang menyerangnya selalu dapat dipatahkan. Akhirnya kakek itu tiba di bagian bawah dan terpaksa memasang obor tepat di depan kuburan yang konon banyak hantunya.

"Sial, gelap sekali, Siang Le. Mata tuaku tak dapat melihat jauh lagi. Buatkan obor!"

Siang Le mengangguk. Pemuda ini segera membuatkan obor, satu untuk gurunya dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Kini ruangan menjadi terang. Kakek itu tertegun melihat tulisan di atas pintu yang menyatakan bahwa dia berada di makam para terhukum yang berdosa.

Ketika muridnya mengerutkan kening dan bertanya apakah mereka perlu memasuki tempat itu, See-ong tertawa dan bertanya balik, "Kau sendiri, bagaimana pendapatmu, Siang Le? Perlukah kita masuk atau tidak?"

"Hm, aku pribadi tinggal mengikutimu, Suhu. Ke neraka pun aku ikut!"

"Ha-ha, kau belum mendengar tentang keseraman tempat ini?"

"Seram bagaimana?"

"Di dalam kuburan ini katanya banyak hantu, Siang Le. Aku mendengar bahwa roh-roh penasaran masih bergentayangan di situ. Ada suara-suara tanpa rupa, tangis, atau tawa. Aku pribadi belum membuktikannya, tapi kalau kau berani, biarlah kita coba!"

"Hm, aku tak percaya hantu, Suhu. Kalau kau ingin mencoba, silakan!"

"Eh, bukan aku, bocah, melainkan kau! Aku ingin kau masuk ke situ dan membuktikan keberanianmu!"

"Suhu mau menguji?" Pemuda ini tertegun. "Baik, aku tidak takut, Suhu. Biarlah aku masuk dan Suhu di sini!"

Siang Le berkelebat membawa obor di tangannya, tetapi tiba-tiba dia terkejut. Tawa dan suara-suara seperti yang disebutkan gurunya mendadak terdengar. Angin bertiup dan obornya pun padam. Ketika pemuda itu keluar untuk meminta api, gurunya tertawa bergelak melihat kejadian itu.

"Ha-ha, setiap obormu dipasang, ia akan mati, Siang Le. Seribu kali kau hidupkan, seribu kali pula akan padam!"

"Aku tidak percaya!"

Siang Le meloncat ke dalam dan memasuki lagi makam itu. Tiba-tiba ia berseru tertahan; obornya padam lagi dan pemuda itu merasa geregetan. Untuk ketiga kalinya ia menyulut api, namun tetap saja obornya padam. Entah bagaimana, obor itu seolah ditiup seseorang. Siang Le bahkan mendengar kekehan seorang wanita yang halus di telinganya bersamaan dengan padamnya obor tersebut.

Saat gurunya tertawa bergelak sementara pemuda itu mulai marah, tiba-tiba Siang Le membanting obornya dan masuk ke tempat yang gelap gulita itu!

"Ha-ha, ujian bagimu, Siang Le. Kau akan menghadapi hantu-hantu yang mengamuk!"

Soat Eng merasa ngeri. Siang Le yang diuji gurunya tiba-tiba lenyap ke ruangan gelap tersebut. See-ong sendiri terbahak-bahak di luar; tampaknya kakek tinggi besar itu merasa bangga. Pemuda itu sudah menghilang dan kini terdengarlah sambutan-sambutan yang menyeramkan.

Soat Eng dan Thai Liong mendengar kekehan yang aneh, bentakan, serta tangis yang memilukan. Tidak diketahui apa yang terjadi di dalam, namun terdengar suara gaduh di sana. Siang Le sedang diserang hantu karena bayangan-bayangan aneh muncul dan hilang di depannya dengan cepat dan mengejutkan hingga pemuda itu berkeringat. Angin dingin menerpa tubuhnya hingga bulu romanya berdiri, sementara keluhan dan suara aneh terdengar susul-menyusul.

Apa yang terjadi tidak diketahui oleh orang di luar. Tapi ketika terdengar suara bantingan dan pemuda itu terlempar keluar, terlihatlah wajahnya pucat pasi dengan keringat sebesar biji jagung.

"Iblis! Aku menghadapi suara tanpa rupa, Suhu. Mereka menyerangku tapi aku tak dapat membalas!"

"Ha-ha, tentu saja tidak. Dunia hantu berbeda dengan dunia kita, Siang Le. Mereka tak dapat diserang karena bertubuh halus. Kalau kau mau mempelajari *Hek-kwi-sut*, maka kau dapat mengusir mereka!"

"Tidak, aku tidak suka ilmu itu, Suhu. Kalau Suhu mau membalaskan perbuatan mereka, cobalah serang mereka!"

"Kau tidak ingin melakukannya sendiri?"

"Aku enggan memasuki dunia setan, Suhu. Aku tidak suka *Hek-kwi-sut*, biar Suhu sajalah yang membalas perbuatan mereka!"

"Baik, lihatlah, muridku. Inilah *Hek-kwi-sut*—Melebur Bersama Setan!"

Begitu kakek ini membentak sambil meniup ke depan, mendadak See-ong lenyap. Tubuhnya berubah seperti asap yang mengecil, melesat, dan memasuki ruangan hantu itu. Terdengar jeritan atau semacam pekik kaget. See-ong yang sudah berubah wujud menghajar hantu-hantu di dalam; mereka ditendang dan dipukuli hingga terdengar teriakan serta tangis di dalam ruangan.

Soat Eng meremang melihat semuanya itu. Ini baru pertama kali dia melihat seorang manusia dapat mengubah wujudnya menjadi makhluk halus melalui perantara ilmu hitam. Ketika suara kegaduhan tiba-tiba menjauh dan akhirnya lenyap, berkelebatlah asap atau bentuk halus dari tubuh See-ong.

"Ha-ha, selesai!" Kakek ini muncul lagi seperti iblis. "Sekarang tak ada lagi hantu di situ, Siang Le. Kau dapat menyalakan obor tanpa padam!"

Muridnya terbelalak. "Suhu apakan mereka?"

"Kuhajar dan kupukuli!"

"Mereka benar-benar pergi?"

"Cobalah. Selama aku masih di sini, mereka tak berani kembali, Siang Le. Tempat itu telah bersih dan mereka telah kuusir!"

"Siapa pemimpinnya?"

"Orang marga Lay. Eh, jangan bertanya saja, anak bawel. Ayo masuk dan nyalakan obormu!"

Siang Le mengangguk. Dia menyalakan obor yang tadi selalu padam. Ketika dia melompat masuk dan obornya tidak tertiup apa pun, benarlah bahwa semua roh halus di situ sudah diusir gurunya. Pemuda itu tertegun dan bengong.

See-ong tertawa bergelak dan meminta agar muridnya masuk lebih ke dalam. Perintah itu dituruti, dan benar saja tidak ada suara apa pun. Angin juga tidak berkesiur dingin, sehingga Siang Le tersenyum. Ketika ruangan itu terlihat jelas, di sana-sini berserakan ratusan tengkorak. Pemuda itu tertawa dan meloncat keluar.

"Hebat, Suhu benar. Semua hantu di dalam sudah lenyap!"

"Dan kau masih tidak mau mempelajari *Hek-kwi-sut*?"

"Ah, aku tidak suka..."

"Bodoh!"

Gurunya memaki namun sambil terbahak. Ia menyambar muridnya dan mengajak pemuda itu mencari tempat penyimpanan harta. Mereka berkelebat pergi, meninggalkan Soat Eng dan kakaknya yang merinding. Mereka melihat ilmu aneh namun mengerikan yang dimiliki kakek ini; See-ong ternyata memiliki ilmu hitam yang hebat pula.

Ketika dua orang itu lenyap dan turun ke bawah, Soat Eng memandang kakaknya dengan wajah yang berubah.

"Iblis, kakek itu iblis. Dia memiliki ilmu *Hek-kwi-sut* segala!"

"Hm, mengerikan. See-ong ternyata sesat, Eng-moi. Kita harus hati-hati menghadapinya."

"Bagaimana sekarang?"

"Tetap kita ikuti mereka, Eng-moi. Namun peringan langkah kakimu agar tidak terdengar olehnya!"

Soat Eng mengangguk. Thai Liong berkelebat mengikuti lagi dengan mengerahkan *ginkang*-nya. Bersama adiknya, mereka berdua membuntuti kedua orang itu. See-ong kini memasuki taman di mana patung-patung telanjang berada. Muridnya berseru tertahan, namun kakek itu justru tertawa bergelak.

Saat Siang Le tertegun dan cepat memalingkan wajah ke tempat lain, kakek itu justru mengusap-usap buah dada sebuah patung dengan mata bersinar-sinar, meremasnya, dan berkata pada muridnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment