Halo!

Istana Hantu - Chapter 150

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 150

"Aku bersumpah!"

"Dan kami ikut denganmu!" Nenek Naga tiba-tiba berteriak. "Katakan bahwa kami tetap pembantu-pembantumu, Togur. Biarlah kami semua bersamamu dan tidak dengan kakek itu!"

"Benar!" Toa-ci tiba-tiba juga berseru. "Kami pembantu-pembantumu, Togur. Biarlah kami tetap denganmu dan tidak dengan See-ong!"

Togur tertawa. Dia segera maklum dan teringat bahwa guru-gurunya ini akan sangat ketakutan jika harus diserahkan kepada See-ong. Kakek ini tentu mencari mereka, dan maksud kedatangannya ke situ juga karena ingin menghajar kelima gurunya. Maka, sambil mengangguk dan sadar akan hal itu, pemuda ini berkata, "Benar, mereka tetap guruku, See-ong. Mereka adalah pembantuku. Kau memiliki setengah pasukan di sini, tapi kelima guruku tetap menjadi milikku!"

"Hah, licik!" See-ong menggeram. "Kalau kau tidak membelanya, tentu aku tetap meminta mereka, Togur. Tapi karena kau sudah bicara, baiklah, aku setuju!"

"Dan hentikan serangan!" Togur membentak. "Kita sahabat, See-ong. Berhenti dan jangan menyerang lagi!"

*Plak! Plak!*

Togur menangkis dua buah pukulan. Dia melihat bayangan hitam berkelebat, dan benturan pukulan itu mengeluarkan ledakan kuat yang membuat orang-orang seperti Nenek Naga dan Toa-ci terjengkang. Bukan main! Ketika See-ong muncul di balik Hek-kwi-sut-nya dan tertawa bergelak, Togur tertawa menahan kekagetan hatinya.

"Kau luar biasa, kau hebat!"

"Ha-ha, tak usah memuji. Kau pun hebat, Togur. Kalau tidak melihat sendiri, tentu aku tak percaya. Sudahlah, mana muridku dan hentikan ribut-ribut di luar!"

Togur memberi tanda. Keempat gurunya yang ada di situ sudah berkelebat dan berteriak menyuruh pertempuran di luar berhenti. Siang Le, yang dikeroyok ratusan orang, tertahan oleh majunya salah satu guru Togur. Dia bertahan tapi terdesak. Ketika dia pucat mengelak sana-sini sementara hujan senjata atau panah mengacau dari segala jurusan, saat itulah Nenek Naga berkelebat dan menyuruh yang bertanding berhenti.

"Jangan menyerang. Kita semua kawan!"

Siauw-jin, yang ada di sana, terkejut. Dia tadi menahan laju murid See-ong itu dan diam-diam kebat-kebit karena takut raja iblis itu muncul. Kalau See-ong datang dan keempat temannya yang lain tidak dapat menghadang kakek itu, tentu keadaan berbahaya bagi mereka. Kakek ini cemas karena pertandingannya dengan Thai Liong masih membekas kuat. Kekalahan muridnya di tangan putra Pendekar Rambut Emas itu baru berlalu beberapa hari. Sesuatu yang mengguncangkan sering kali menjadikan orang mudah kaget dan waswas.

Namun, ketika Nenek Naga berseru bahwa semua adalah kawan, kakek ini berhenti juga, disusul munculnya bayangan Togur dan yang lainnya.

"Siang Le adalah sahabat. Togur telah mengikat persahabatan dengan See-ong dan kita tak boleh saling menyerang!"

"Mengikat persahabatan? Maksudmu..."

"Benar, See-ong tak lagi marah kepada kita, Siauw-jin. Murid kita telah memberikan separuh pasukannya kepada kakek itu. Kita semua kawan!"

Siauw-jin terbengong-bengong. Dia kaget tapi juga heran. Namun, ketika Toa-ci berbisik bahwa Togur telah "menukar" jiwa mereka dengan separuh pasukan dan kini kakek itu memimpin bersama Togur, Siauw-jin terkejut sekaligus gembira.

"Jangan ribut-ribut. Kita semua telah bebas dari cengkeraman kakek itu. Kita tetap bersama Togur. Kau tak perlu takut lagi dan kita semua tak perlu cemas. Togur dan See-ong seimbang!"

"Ah, ha-ha!" Siauw-jin tertawa bergelak girang. "Begitukah kiranya, Toa-ci? Kita bebas dari kejaran See-ong?"

"Ya!"

Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan kakek ini. "Kalian bebas, Siauw-jin. Kalau saja bukan berkat kepandaian murid kalian, tentu tak semudah ini kalian bebas dariku... *Dess!*"

Siauw-jin mencelat; tahu-tahu disambar sebuah bayangan hitam dan See-ong muncul di situ. Tadi kakek ini bersembunyi di balik Hek-kwi-sut-nya dan muncul seperti iblis. See-ong memang iblis! Ketika kakek itu bergulingan lalu meloncat bangun, See-ong sudah berkelebat ke arah muridnya dan menyambar pemuda itu.

"Jangan menyerang, kita kawan. Togur telah memberikan separuh pasukannya untuk kita!"

Siang Le bermandi keringat. Menghadapi Siauw-jin yang lihai, dia cukup kerepotan. Kakek itu dibantu ratusan orang yang mengacau dengan hujan panah atau tombak; dia tak takut dan terus melawan. Tapi begitu gurunya muncul dan memberi tahu bahwa mereka kawan, hal yang mengherankan dan mengejutkan pemuda ini, Siang Le terbelalak memandang gurunya, seolah tak percaya.

"Apa? Suhu tak membekuk iblis-iblis itu? Suhu membiarkan saja Siauw-jin dan kawan-kawannya itu?"

"Sudahlah," sang guru mengibas. "Bocah itu menjadi batu sandunganku, Siang Le. Togur benar-benar lihai dan amat hebat sekali. Kami bertanding dan tak ada yang kalah atau menang!"

Siang Le mendelong. Memang dia sudah mendengar kehebatan pemuda tinggi besar itu, yang katanya dapat mengalahkan guru-gurunya sendiri hingga semua guru itu tunduk, bahkan kini menjadi pembantu pemuda itu dan diperkuda seolah pelayan dan majikan. Tapi ketika pemuda ini bengong, Togur sudah berkelebat dan tertawa di depannya.

"Siang Le, tak usah heran. Aku dan gurumu setanding. Ha-ha, kami sahabat. Kelima guruku telah kutukar dengan separuh pasukan ini!"

Lalu, ketika Siang Le melotot namun tak dihiraukan, Togur sudah menghadapi pasukannya, berseru dengan suara lantang bahwa mulai hari itu mereka dipecah menjadi dua, memiliki dua pemimpin. Satu oleh dirinya sendiri, sedang yang lain oleh kakek tinggi besar ini, meskipun mereka masih tetap dalam satu panji dan wadah yang sama.

Togur menutup pengumumannya sambil menuding See-ong, "Lihat, inilah See-ong, kakek gagah perkasa itu. Siapa membangkang padanya sama halnya membangkang kepadaku. Kalian harus tunduk dan taat kepadanya!"

See-ong tersenyum-senyum. Togur langsung membagi pasukannya menjadi dua. Horok dan Ramba mengikuti kakek itu, berikut Cucigawa. Ketika ribuan orang tertegun karena secepat itu nasib mereka berubah, See-ong tertawa bergelak menerima penghormatan pasukannya atas perintah Togur.

"Hei, nanti dulu. Yang menjadi pemimpin di sini bukanlah aku, tetapi muridku. Lihatlah padanya dan beri hormat padanya!"

Siang Le terkejut. Lima ribu orang yang tercengang segera dibentak kakek itu agar memberikan hormat kepadanya. See-ong sendiri menolak karena dia tak bermaksud menjadi pemimpin di situ. Togur juga tercengang, tapi ketika kakek itu berkata bahwa tua bangka macam dirinya tak patut menjadi pemimpin, Togur tersenyum mengangguk-angguk mengerti.

"Aku sudah tua, tak berambisi menjadi penguasa. Kalau kekuasaan itu diberikan padaku, biarlah sekarang juga kulimpahkan pada muridku. Nah, ketahuilah dan harap kalian mengerti!"

Siang Le gugup dan wajahnya memerah. Dia segera menerima penghormatan separuh pasukan yang besar jumlahnya itu. Hal ini pun tak disangkanya, tapi dia tak dapat menolak. Gurunya sudah berkata seperti itu dan dia seakan disudutkan. Ketika Togur tertawa bergelak dan ikut memberi hormat padanya, Siang Le tersipu dan buru-buru mengangkat tangannya, melirik dan diam-diam mendongkol pada gurunya.

"Sudahlah, aku tak menyangka semuanya ini. Guruku memang aneh dan terlalu. Terima kasih!"

Semua orang diliputi kebengongan. Sikap Siang Le yang dingin dan acuh tak acuh membuat mereka melengak. Menjadi pemimpin pasukan sedemikian besar tidaklah gampang. Pemuda itu seolah menerima berkah dari langit tapi dingin-dingin saja. Hal yang mengherankan semua orang.

Hari itu, keributan sudah berakhir. Pasukan girang karena memiliki dua pemimpin yang sama-sama hebat, pemimpin yang diharapkan dapat menghadapi orang-orang lihai seperti Thai Liong atau Pendekar Rambut Emas. Setelah dibubarkan Togur, semuanya mundur dan kembali ke tempat masing-masing.

Malam harinya, Siang Le duduk cemberut di depan gurunya. "Suhu terlalu, sungguh terlalu!" Demikian pemuda itu menegur gurunya dalam satu omelan pendek. "Kenapa malah bergabung dan membantu Togur itu? Bagaimana suhu tiba-tiba berubah begini?"

"Wah!" Sang guru melotot. "Kau bodoh, Siang Le! Kau tak tahu artinya siasat! Kau seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa!"

"Hm, apa maksud Suhu? Bukankah kedatangan Suhu kemari adalah hendak menangkap bekas pembantu-pembantu Suhu itu? Kenapa malah membebaskannya dan tidak membekuk lawan yang sudah di depan hidung?"

"Ha-ha, inilah anak yang tidak tahu tingginya langit dalamnya bumi. Bocah bernama Togur itu hebat sekali, Siang Le, dan aku tak dapat mengalahkannya. Dia memiliki Khi-bal-sin-kang, juga Jing-sian-eng. Bocah keparat itu mendapatkan ilmunya dari mencuri mendiang Hu-taihiap. Dia lihai dan berbahaya, dan aku mendapat saingan berat dari bocah ini..."

See-ong mengurut-urut jenggotnya; seminggu ini tidak mencukur dan matanya yang bersinar-sinar itu tampak jengkel dan geram. Ada sorot kebencian tapi juga kagum, sorot seorang tokoh tua terhadap seorang tokoh muda yang agaknya sedang "naik daun".

Ketika Siang Le mengerutkan kening dan mengeluarkan suara mengejek dari hidung, gurunya melotot.

"Jangan bersikap sok. Aku lihat inilah pilihan paling baik di mana aku dapat mengangkat tinggi-tinggi derajatmu!"

"Apa maksud Suhu?"

"Dengarkan. Bocah itu amat lihai, Siang Le. Aku tak dapat merobohkannya meskipun dia juga tak dapat merobohkan aku. Kami seri, berimbang. Dan karena dia menawarkan sebuah persahabatan di mana separuh dari pasukan ini diserahkan kepadaku, maka timbul niatku untuk mengangkat tinggi-tinggi derajatmu sebagai orang yang hebat."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment