Halo!

Istana Hantu - Chapter 151

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 151

"Aku ingin mengangkatmu sebagai kaisar!"

"Suhu gila?" Siang Le terkejut, melonjak dari kursinya.

"Suhu mau..."

"Dengar!" Sang guru menyambar pundak muridnya, menekan agar Siang Le duduk kembali. "Aku tak mau kalah dengan pemuda itu, Siang Le, dan aku terus terang kecewa padamu! Kenapa kau tidak sehebat dan seambisi Togura itu? Kenapa kau demikian lemah dan melempem seperti layaknya pemuda tak bersemangat? Lihat, sebagai murid Enam Iblis Dunia, bocah itu menunjukkan jati dirinya. Dia sungguh pantas menjadi murid orang-orang sesat dan kelak menggantikan kita yang harus masuk liang kubur! Kau tak pantas bersikap dingin karena kau adalah murid See-ong, si Raja Iblis! Kau harus menunjukkan watak dan semangat seperti pemuda itu!"

"Aku tak butuh nama besar, aku tak ingin menjadi raja!"

"Goblok! Itulah satu di antara sekian watakmu yang mengecewakan aku, Siang Le. Sebagai murid dari seorang tokoh macam aku, seharusnya kau menunjukkan keberingasan dan kekejaman sebagaimana layaknya murid seorang sesat. Tapi kau lain, kau seperti perempuan dan bukannya laki-laki! Kau tak boleh menolak rencananku; niat ini timbul setelah aku melihat kehebatan si Togura itu!"

"Suhu mau apa?"

"Sudah kubilang, ingin menjadikan dirimu sebagai kaisar. Aku ingin mempergunakan ambisi serta serbuan pemuda itu untuk mengangkatmu, menyerang kota raja, dan menggulingkan kaisarnya!"

"Dan suhu mau memberontak? Ikut-ikutan menjadi pengkhianat dan melawan pemerintah?"

"Bodoh! Aku selamanya tak ada hubungan dengan pemerintah, Siang Le. Aku adalah orang bebas yang tak terikat!"

"Tapi suhu hidup di negeri ini, suhu makan dan minum di negeri ini. Dan suhu orang Han!"

"Hm, aku tergelitik setelah melihat sepak terjang pemuda itu. Dan sudah kubilang, semua ini kulakukan untukmu, bukan untukku!"

"Benar, tapi... ah!" Siang Le bangkit berdiri. "Aku tak setuju dengan semua ini, Suhu. Kita selamanya tak pernah bermusuhan dengan kaisar. Aku tak ingin menjadi kaisar, aku tak ingin merebut kekuasaan!"

"Inilah yang menggemaskan aku!" See-ong mulai gusar. "Kau selamanya tak sejalan dengan gurumu. Mana ciri-ciri dirimu sebagai murid seorang tokoh sesat? Mana kekejaman dan kelicikan yang seharusnya dimiliki seorang murid tokoh sesat? Kau menjengkelkan, Siang Le. Kau selamanya ingin membuat aku marah. Sungguh aku kecewa melihat dirimu yang berbeda jauh dengan si Togura itu. Kau tak mengangkat nama gurumu, melainkan malah membuat malu!"

See-ong menghantam pecah permukaan meja, melotot dengan wajah merah padam. Siang Le tertegun sejenak melihat sinar mata gurunya yang berapi-api. Pemuda itu menarik napas, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya.

"Suhu, aku tahu kau kecewa sekali kepadaku. Tapi inilah watakku. Sudah kubilang berkali-kali bahwa aku tak dapat melakukan sepak terjang yang jahat. Maaf, aku memang mengecewakan. Kalau kau tak suka padaku, lebih baik bunuhlah aku daripada hanya membuatmu marah. Aku sadar budi kebaikanmu yang besar, dan aku tak ingin mengecewakanmu. Aku siap mati di tanganmu!"

See-ong tergetar. Mendadak ia sadar bahwa muridnya memang tak pernah sejalan dengannya. Keganasan dan kekejamannya tak pernah dicontoh oleh Siang Le. Pemuda ini justru lebih pantas menjadi murid seorang pendekar daripada dirinya yang sesat. Saat See-ong tertegun, ia melihat mata Siang Le berlinang. Kakek itu terkejut dan tiba-tiba merasa terharu, lalu menyambar serta mengangkat muridnya bangun.

"Cengeng, jangan menangis! Bersikaplah keras dan tegas sebagaimana layaknya laki-laki!" Namun, See-ong diam-diam mengusap dua titik air matanya.

Kakek itu membentak muridnya agar tidak menangis, namun ia sendiri menitikkan air mata karena keharuan. Siang Le duduk dengan lesu di hadapan gurunya.

"Aku tak dapat menyenangkan hatimu, aku selalu mengecewakan..."

"Sudahlah," potong gurunya. "Kau selamanya begitu. Tapi kali ini kau tentu akan berusaha menyenangkan hati gurumu, bukan?"

"Aku enggan membantu Togura..."

"Bukan membantu Togura, melainkan membantu gurumu! Aku ingin mengangkat namamu dalam serbuan besar-besaran ini, dan kuminta kau tidak menolak. Lihat, bangkai macam gurumu ini tak mungkin hidup lebih lama. Puaskanlah hati gurumu dengan menuruti rencanaku. Aku ingin menunggangi ambisi si Togura untuk kepentingan kita. Aku ingin mengenyahkan kaisar, dan kalau berhasil, aku ingin melihat kau menduduki kursi singgasana itu!"

"Aku tak bernafsu, Suhu..."

"Ah, kau selamanya begitu. Tapi sekali ini tidak! Kau harus mengikuti gurumu atau aku bakal mati tak tenang jika kau selalu mengecewakan hatiku! Heh, mana balas budimu kepada gurumu? Jangan membantah lagi, turutlah kata-kataku dan besok kita menyerbu ke selatan!"

Siang Le mengerutkan kening. "Kau tak setuju?"

"Hm..." Pemuda itu menarik napas dalam. "Banyak hal yang tak kusetuju kalau menyangkut sepak terjangmu, Suhu. Tapi karena kau sudah membawa-bawa tentang balas budi, baiklah, aku setuju."

"Ha-ha, bagus! Kau selamanya akan mengalah kalau sudah kusebut tentang balas budi itu. Sekarang satu lagi permintaanku: kau harus mempelajari Hek-kwi-sut!"

"Tidak!" Siang Le terlonjak kaget. "Aku tak suka mempelajari ilmu itu, Suhu. Hek-kwi-sut terlampau keji bagiku karena harus bertapa di atas sepuluh mayat! Aku tak mau mewarisi ilmumu itu!"

"Hm, jangan bodoh. Lihat kepandaianmu sekarang. Betapa kau tak mungkin menang melawan si Togura. Menghadapi Siauw-jin atau kawan-kawannya saja kau susah, lebih baik latihlah ini untuk keselamatan dirimu juga!"

"Tapi aku tak suka, Suhu. Ilmu itu terlampau keji!"

"Siapa bilang? Keji atau tidak hanya pandangan orang lain. Masih ada hal-hal yang lebih keji daripada melatih ilmu ini. Kau akan tahu kelak!"

"Tapi aku tetap tidak suka..."

"Kau harus suka! Kau tak boleh memalukan aku kalau tak ingin jadi pecundang oleh Togura!"

"Hm, memaksakan ilmu kepada orang yang tidak mau tak akan membawa hasil baik. Aku tidak cocok dan justru muak dengan Hek-kwi-sut itu!"

"Keparat! Kau demikian sombong dan sok suci? Kau tak ingat budi gurumu yang telah membesarkan dan mendidikmu?"

"Suhu," Siang Le bersikap keras. "Kalau berkali-kali kau menyinggung tentang balas budi, maka kukatakan di sini tak ada yang lebih berharga untuk membalas budimu selain nyawaku. Nah, ambillah itu dan bunuhlah aku agar hutang budiku impas!"

"Kau...?" See-ong terkejut. "Berani seperti itu? Keparat, kalau saja aku memiliki murid lain, tentu kau benar-benar kubunuh. Tapi karena muridku hanya kau seorang, biarlah kau berbangga hati dengan menentang gurumu... plak-plak!"

See-ong melompat, menampar muridnya dua kali hingga pemuda itu terpelanting. See-ong berkelebat pergi meninggalkan muridnya dengan perasaan gusar dan dongkol.

Jika saja Siang Le tidak disayangi begitu rupa, barangkali ia benar-benar akan membunuhnya. Namun, Siang Le adalah murid yang amat dicinta. Ada sesuatu yang mengagumkan hati sang kakek; muridnya adalah pemuda baik yang setia pada kebenaran dan selalu menolak ketidakbenaran. Aneh, seorang tokoh sesat memiliki murid yang justru tidak mencontoh sepak terjang gurunya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Setiap kali See-ong bersikeras dan memaksa, muridnya selalu minta dibunuh. Keparat, Siang Le selalu mempergunakan hal itu sebagai senjata, dan sang guru selalu mati kutu. Murid macam apa ini? Bukankah ia kurang ajar? Tapi di balik umpatan itu, See-ong diam-diam kagum dan bingung.

Di tempat lain, Togura sedang bersidang dengan guru-gurunya.

"Kau gegabah dan terlalu tergesa-gesa. Kenapa menyerahkan separuh pasukan kita kepada See-ong, Togura? Apakah tidak berakibat buruk di kemudian hari?" Cam-kong, gurunya yang tinggi kurus, menegur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment