Halo!

Istana Hantu - Chapter 152

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 152

Cam-kong memang lega terlepas dari tangan See-ong, namun dia tak puas melihat muridnya membagi pasukan. Separuh dari pasukan yang ada tak kurang dari lima ribu jumlahnya. Kalau itu dipecah, maka kekuatan mereka berkurang. Hal ini tak baik bagi sebuah pasukan besar yang kini memiliki dua orang pimpinan.

Namun, ketika Togur tertawa dan menoleh pada gurunya, pemuda ini menggeleng. "Suhu, kau penakut. Memangnya apa yang dapat diperbuat See-ong meskipun dia memiliki separuh dari pasukan kita? Apa yang dapat dia lakukan? Cucigawa dan para pembantunya yang kutaruh di sana tak mungkin sepenuhnya membantu kakek itu. Kalau See-ong hendak menyerang dan menguasai kita, umpamanya, maka Cucigawa dan para pembantunya itu tak mungkin patuh. Mereka orang-orang kita, dan kita tetap dapat memakainya meskipun di kubu See-ong!"

"Aku tak mengerti..."

"Kau selamanya tak mengerti. Ha-ha, tanya saja pada Suhu Hek-bong Siauw-jin!"

Cam-kong melengak. Dia tak mengerti kata-kata muridnya ini, tapi cepat menoleh pada Siauw-jin, rekannya yang cebol itu. Ketika si cebol tertawa dan terkekeh keras, kakek pendek ini berseru, "Cam-kong, masa kau tak mengerti? Kalau begitu, lihatlah ini... wut!"

Sebutir pil hitam dilempar kepada si tinggi kurus itu. Setelah diterima, Cam-kong tertegun. Namun, ketika kakek ini mengerti dan menyeringai lebar, tiba-tiba dia berkata, "Ah, inikah kiranya? Cucigawa dan para pembantunya ini menelan Pil Maut?"

"Ha-ha, sekarang kau mengerti? Bebal amat, tak cepat tanggap!"

"Weh, ini tentu kerjaanmu, Siauw-jin. Kalau dari tadi kulihat pil ini, tentu aku mengerti. Ah, sungguh murid kita bocah yang pintar!"

"Dan kita tak usah takut. Kakek iblis itu sudah mendapat lawan setanding dengan murid kita!"

"Ya, tapi betapapun kita harus berhati-hati. Kalau kita sendirian dan tidak selalu dekat dengan murid kita ini, tentu kita celaka!"

"Tak usah ketakutan," Togur tertawa. "See-ong tak berani melakukan itu, Suhu. Kalau dia melanggar, tentu aku pun dapat menangkap muridnya. Sudahlah, kalian percaya padaku dan tak perlu takut!"

Semua menyeringai. Tiba-tiba mereka merasa bahwa keselamatan dan nyawa mereka betul-betul di tangan muridnya ini. Tanpa Togur, tentu mereka sudah dihajar See-ong, mungkin dibunuh. Karena murid mereka betul-betul lihai dan terbukti dapat mengimbangi See-ong, mereka bertanya apa yang selanjutnya hendak dilakukan pemuda itu.

"Kita menyerbu ke selatan, membalas kegagalan. Dan karena See-ong ada di sini, maka tak perlu kita takut lagi kalau Pendekar Rambut Emas muncul!"

"Tapi Thai Liong..." Toa-ci tiba-tiba merasa ngeri. "Bocah itu selihai bapaknya, Togur. Dan kau tahu bahwa dia pun bukan lawanmu!"

"Aku akan membagi tugas," pemuda ini berkerut kening. "See-ong dan muridnya dapat kugunakan, Subo. Dan kalian juga jangan tinggal diam. Tapi kuharap ayah dan anak itu tak muncul bersama-sama."

"Kalau muncul juga?"

"Hm, memang repot. Tapi See-ong akan kusuruh menghadapi Pendekar Rambut Emas, sementara Thai Liong akan kuhadapi bersama Siang Le, juga kalian berlima!"

"Tapi See-ong tak mungkin mau!" Nenek Ji-moi kini tiba-tiba berseru. "Daripada menyuruh muridnya membantu orang lain, tentu lebih baik muridnya disuruh membantu dirinya sendiri, Togur. Ingat ini dan jangan lupa!"

"Benar," Nenek Naga kini mengangguk-angguk, menyambung. "Apa yang dikata Ji-moi betul, Togur. Jangan ambil gampangnya saja dan melupakan itu."

"Ah, kalian tak usah khawatir. Aku akan membuat jebakan kalau Thai Liong dan ayahnya muncul. Kita buat sumur yang dalam dan pancing mereka agar terjeblos di situ!"

"Kalau begitu di Palung Maut!" Siauw-jin tiba-tiba berseru. "Heh-heh, di sini paling tepat, Togur. Kalau kau ingin mengubur hidup-hidup dua ayah dan anak itu, maka Palung Mautlah yang paling tepat. Semua gurumu pasti membantu!"

"Hm, Palung Maut? Di mana itu?"

"Tak jauh dari Sam-liong-to. Kami telah mengubur dua murid Hu Beng Kui yang sial. Ha-ha, tanya Nenek Naga!"

Nenek Naga tersenyum. Akhirnya dia mengangguk dan berseri menceritakan itu, tentang Hauw Kam dan suhengnya yang dikubur dan dilempar ke Palung Maut, sebuah palung atau sumur yang amat dalam di mana tak mungkin ada manusia dapat menyelamatkan diri. Mereka terpaksa membuang dua orang itu karena Hauw Kam dan suhengnya dirasa tak membawa keuntungan lagi. Membawa-bawa mereka hanya menambah beban saja.

Ketika Togur tersenyum dan bersinar-sinar mendengarkan itu, dia setuju dan mengangguk. "Hm, Kim-mou-eng memang merupakan duri bagiku. Selama dia masih hidup, maka aku memang tak dapat tenang. Baiklah, Palung Maut kita siapkan dan kalian tunjukkan padaku nanti di mana tempat itu."

"Juga Thai Liong, kita masukkan sekalian!"

"Ha-ha, bukan hanya Thai Liong saja, Suhu, melainkan semua musuhku yang berbahaya!"

"Dan See-ong!" Nenek Naga tiba-tiba berseru. "Kakek itu juga berbahaya untukmu kelak, Togur. Memecah kekuatan di sini saja sudah mengurangi kewibawaanmu sebagian. Kakek iblis itu juga harus dimasukkan daftar!"

Togur terkejut. Seperti diingatkan sesuatu, mendadak dia menoleh dan berdehem, memandang subonya itu, tapi kemudian tersenyum. Ketika dia mengangguk dan berkata perlahan, dia menjawab, "Subo benar. See-ong juga berbahaya dan patut masuk daftar. Tapi sudahlah, tak perlu kalian ribut-ribut, Subo. Siapa pun yang menjadi musuhku pasti sudah kuperhitungkan! Sekarang kalian tenang saja dan tiga hari lagi persiapkan diri kalian untuk melakukan serbuan lagi ke selatan. Kedudukan kita sekarang bertambah kuat karena See-ong ada di sini!"

"Dan kau tak khawatir kakek ini membuat sesuatu di tengah jalan? Dengan muridnya misalnya?"

"Hm, Suhu maksudkan apa?"

"Aku takut See-ong dan muridnya bersimpang jalan, Togur. Karena kita sama tahu siapa pemuda itu!"

"Benar," Cam-kong kini bicara. "Bocah bernama Siang Le itu tak pantas menjadi murid gurunya, Togur. Pemuda ini terlalu lemah dan banci seperti perempuan. Belum pernah selama ini kulihat dia berbuat jahat!"

"Hm, kalian tak perlu khawatirkan itu. Aku dapat meraba keadaan. Sudahlah, sekarang kalian istirahat dan tiga hari lagi siapkan diri kalian untuk menyerbu selatan. Panggil para penari dan penghibur itu, suruh mereka bermain di sini!"

Siauw-jin terkekeh. Tiba-tiba mendahului temannya, dia sudah berkelebat dan melaksanakan perintah itu, memanggil para penari dan penghibur yang dimaksud muridnya. Di tengah-tengah mereka memang terkumpul belasan penari dan pemain musik, semuanya wanita cantik. Terdiri dari campuran suku bermacam-macam karena Togur merampasnya dari mana-mana. Ada yang milik Cucigawa dan ada pula dari selir-selir raja liar ketika Togur dan gurunya menaklukkan suku-suku bangsa di luar pedalaman.

Ketika tak lama kemudian Siauw-jin sudah datang lagi dengan dua belas penari cantik dan penghibur yang berpakaian gemerlapan, Nenek Naga serta Toa-ci dan Ji-moi melengos, lalu berkelebat pergi.

"Aku tak mau melihat pertunjukan ini. Biarlah Togur menikmati senang-senangnya!"

"Ha-ha!" Iblis cebol itu terbahak. "Tak usah sakit hati melihat kaummu menjadi permainan Togur, nenek siluman. Kau pun di masa mudamu sering juga menghibur laki-laki!"

"Cuh!" Nenek Naga meludah. "Siapa bilang? Jaga mulutmu, atau kutampar nanti!"

Ketika nenek itu pergi sementara Siauw-jin terkekeh-kekeh, seorang di antaranya yang tercantik dan berbaju merah sudah dilempar ke arah pemuda itu, ditangkap dan diterima.

"Ha-ha, apa kabar, Wi Ni? Kau tak rindu padaku? Hayo, menyanyilah, hibur aku dengan sebuah lagu indah! Dan kalian... he!" Togur menuding yang lain. "Bermain musiklah yang merdu dan biarkan kedua guruku ikut bersenang-senang!"

Para wanita itu, yang sudah dilempar dan terhuyung di tengah ruangan, lalu tersenyum dan terkekeh manis—tentu saja buatan, karena mengeluh atau meratap di situ hanya akan menambah sengsara saja. Siauw-jin si kakek cebol meremas-remas mereka tadi dan tak ada di antara mereka yang berani menolak. Berminggu-minggu atau berbulan-bulan mengikuti pasukan besar ini dan harus melayani Togur serta dua gurunya adalah hal yang dianggap biasa, kalau mereka tak ingin mati.

Ketika Wi Ni, si cantik berpakaian merah sudah dicium dan diremas tubuhnya, musik pun ditabuh. Wi Ni menyanyi, tersenyum, dan melenggak-lenggokkan tubuhnya, sementara Togur tertawa gembira. Dalam keadaan seperti itu, tak ada jalan lain untuk mengendorkan ketegangan selain mencari dan mendapatkan hiburan, mendengarkan lagu-lagu indah serta suara merdu Wi Ni. Gadis atau wanita baju merah ini sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Ketika Siauw-jin terkekeh-kekeh dan meminta arak pada wanita yang lain, Cam-kong menyeringai dan bangkit nafsunya. "Hayo, bersenang-senang, Cam-kong. Atau kau pergi dan mendengkur di kamarmu, sendirian!"

"Heh-heh, siapa mau? Jelek-jelek kau sudah mengajari aku, Siauw-jin. Kalau Togur sudah memperkenankan kita, tak baik menolak rezeki. Marilah, berikan seorang dan biarkan aku bersenang-senang!"

Siauw-jin terbahak. Kalau sudah begitu, maka dia akan melempar seorang penari yang sudah dilirik temannya ini. Cam-kong menerima seorang wanita baju hijau dan menjeritlah wanita itu ketika dilempar ke arah kakek ini. Cam-kong adalah kakek tinggi kurus yang tentu saja tak menyenangkan mukanya. Kakek ini bermuka pucat dan penampilannya pun dingin. Namun, ketika dia disambar dan dipeluk kakek itu, maka Cam-kong dapat juga tertawa sambil berbisik.

"A-cheng, kau sudah pernah melayaniku, bukan? Nah, marilah. Kita berjoget sebentar dan setelah itu masuk kamar!"

"Ih!" Si cantik ngeri. "Jangan terlampau keras mencengkeram tubuhku, Locianpwe. Aduh, kendorkan sedikit!"

"Ha-ha, kalau begitu boleh. Tapi aku sudah tak tahan melihat kulit tubuhmu yang halus... bret!"

Cam-kong merenggut serta merobek baju pundak lawannya lalu terkekeh dan menyambar gadis ini kembali, menciumi dan mendengus-dengus. A-cheng, gadis itu, terpaksa menyambut. Menolak dan bahkan bersikap jijik terhadap kakek iblis ini amatlah berbahaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment