Chapter 153
Dia pernah dibanting dan dihajar hingga pingsan.
Maka, ketika Cam-kong meremas dan mencium mulutnya, gadis itu membiarkan dan pura-pura menyambut, sambil menahan napas dan rasa mual karena hampir saja ia tak kuat menahan bau busuk yang keluar dari mulut kakek itu. Cam-kong agaknya adalah iblis yang tak pernah membersihkan mulut, juga jarang sekali mandi.
Ketika gadis itu menggeliat dan mengerang menahan takut, temannya yang lain sudah disambar oleh Siauw-jin. Kakek itu menubruk dan meremas, sementara bau arak segera menguar di ruangan tersebut. Togur sendiri tertawa-tawa melihat tingkah kedua gurunya. Masing-masing kakek yang rupanya ingin menjadi muda kembali dan penuh semangat itu mulai menari mengikuti irama musik.
Saat musik ditabuh semakin riuh dan kedua gurunya itu tampak semakin bergairah, Siauw-jin membelalakkan mata dan melucuti pakaian penarinya hingga telanjang.
"Hayo, ha-ha! Menari dan tanggalkan pakaian kalian. Tunjukkan kepada kami tarian Puteri Ular!" Cam-kong tertawa aneh.
Dia sendiri sudah merenggut semua baju A-cheng hingga gadis itu telanjang bulat. Tubuh yang mulus putih itu sungguh menggetarkan setiap lelaki yang melihatnya. Gadis itu berusaha menutupi bagian-bagian tubuhnya yang terpenting, tapi Cam-kong malah tertawa-tawa menyibaknya. Ruangan menjadi hingar-bingar karena wanita-wanita itu menjerit oleh tingkah Siauw-jin yang melompat-lompat kegirangan. Sebentar kakek itu mencolek sana-sini dan menyuruh yang lain membuka pakaian. Lampu yang semula terang-benderang tiba-tiba dimatikan sebelah; suasana menjadi remang-remang, namun itulah kesukaan mereka bila sudah mulai berpesta gila. Seperti inilah biasanya nafsu mereka bangkit.
Namun, ketika Siauw-jin terbahak-bahak sementara Cam-kong terkekeh melempar-lempar A-cheng ke atas, mendadak Togur berkelebat dan berseru pada kakek cebol itu.
"Suhu, tahan sebentar nafsumu. Panggil See-ong atau muridnya kemari!"
Siauw-jin terkejut. Dua belas wanita itu sudah tidak berpakaian lagi; mereka menari sambil memainkan alat musik, tak ubahnya bayi-bayi polos yang baru lahir ke dunia. Nafsu Siauw-jin sudah menggelegak; kakek ini menenggak arak seraya menyambar tubuh-tubuh penari itu dengan tawanya yang serak parau. Namun, begitu muridnya datang mengganggu dan memerintahkan dia untuk memanggil See-ong atau Siang Le, kakek ini tiba-tiba melempar seorang penari yang baru saja dicubit ketiaknya—bukan cubitan sembarang, melainkan sebuah cubitan yang mengarah pada penyiksaan sebagai pelampiasan rasa kesal akibat perintah itu.
"Aduhh...!"
Penari yang dicubit itu menjerit kesakitan. Kakek ini tak berani membalas Togur, maka wanita itulah yang menjadi gantinya. Ketika wanita itu ditendang hingga terpental sementara suara musik mulai kacau karena kakek ini kelihatan beringas, Siauw-jin berkelebat keluar sambil membetulkan celananya yang kedodoran. Tak lama kemudian, ia datang lagi dengan membawa Siang Le. See-ong tidak ditemukan, dan kakek itu berkata kepada Siang Le bahwa Togur mengundangnya.
Keributan di ruangan itu memang menarik perhatian pemuda tersebut. Namun, begitu Siang Le melihat wanita-wanita yang telanjang bulat, ia terkejut dan marah sekali.
"Keparat, untuk apa kau membawaku kemari, Siauw-jin? Kau menghinaku?"
"Ha-ha, sabar. Yang memanggilmu adalah Togur, bocah, bukan aku. Kau akan diajaknya bersenang-senang, marilah masuk ke dalam!"
"Bedebah, terkutuk! Aku tak mau!"
Namun, saat Siang Le hendak pergi dari tempat itu, ia mendengar jerit tertahan dari seorang penari dan melihat sesosok tubuh dilemparkan ke arahnya oleh Togur. Togur berseru agar Siang Le berhenti; wanita itu dilempar dan akan terbanting jika Siang Le tidak menangkapnya. Paling tidak, wanita itu akan pingsan, atau salah-salah luka parah. Ketika Siang Le terkejut dan menangkap tubuh itu untuk menyelamatkannya, tubuh-tubuh yang lain mendadak ikut dilemparkan ke arahnya.
"Ha-ha, jangan pergi, Siang Le. Aku mengundangmu baik-baik untuk menikmati pertunjukan ini. Marilah, masuk dan bawa mereka kembali ke dalam!"
Siang Le merah padam. Tubuh-tubuh telanjang yang dilemparkan kepadanya—tidak kurang dari tujuh orang—membuat pemuda ini panas dingin. Siang Le belum pernah melihat wanita telanjang sebanyak itu; tujuh di luar dan masih lima di dalam. Rata-rata memiliki tubuh yang menggairahkan, kencang, dan berisi. Ia tak tahan! Karena menyadari hendak dijebak ke dalam perbuatan kotor, pemuda ini membentak dan melempar wanita terakhir kepada Togur. Lalu, begitu Togur menangkapnya, pemuda ini berkelebat dan menyerang!
"Togur, aku bukan pemuda hidung belang. Kalau kau menghinaku dan hendak memaksa agar aku mempermainkan wanita-wanita ini, kau salah besar. Mampuslah!"
Togur mengelak. Ia terkejut, namun segera tertawa ketika serangan-serangan lain susul-menyusul. Tentu saja dengan mudah ia menghindari serangan lawannya. Ketika satu serangan kilat tak dapat dielak kecuali ditangkis, Togur mengerahkan tenaga dalamnya dan mengejek.
"Sudahlah, kalau kau tak suka, silakan pergi. Kita bukan musuh...."
*Duk!*
Siang Le terpental dan berjungkir balik ke belakang, lalu dihadang oleh Siauw-jin dan Cam-kong. Kedua iblis itu segera melindungi Togur karena itu tugas mereka. Saat Siang Le marah-marah dan Cam-kong membujuk agar pemuda itu keluar baik-baik, Siang Le justru membentak dan menyerang kakek itu.
"Kau pun keparat! Kalian semua iblis, Cam-kong. Bedebah!"
Cam-kong menangkis. Suasana menjadi ribut karena Siang Le mengamuk. Pemuda itu gusar dan terus menyerang. Namun, ketika Cam-kong menangkis serangan-serangannya dan Siauw-jin maju sambil tertawa lebar, Siang Le terdesak. Ia bukan tandingan kedua kakek itu yang maju berbarengan dan mengerahkan kepandaian masing-masing. Siang Le terdesak terus, hingga akhirnya menerima satu pukulan keras. Pemuda itu mengeluh. Saat ia terlempar dan Cam-kong membujuk agar dia keluar baik-baik disertai maaf dan sikap hormat, Siang Le terhuyung, melotot pada mereka, dan tahu diri.
"Baiklah, aku mau keluar. Tapi kalian harus mencium kakiku sebagai tanda maaf!"
Siauw-jin terkejut. Kakek ini terbelalak dan merah mukanya. Tapi karena Togur tertawa dan menyuruh mereka melakukan itu—karena tidak ingin ribut lantaran See-ong ada di belakang pemuda ini—Siauw-jin berlutut dan, mau tak mau, mencium kaki Siang Le, begitu juga Cam-kong.
"Nah, lain kali jangan main-main denganku. Atau aku akan bersikap lebih kejam kepada kalian!"
Kedua kakek itu melotot. Mereka menahan gusar, tapi tak berani macam-macam lagi ketika Siang Le melompat pergi. Togur tertawa merasa geli kepada kedua gurunya yang marah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia sama sekali tidak merasa kasihan, bahkan menertawakan mereka. Ketika pesta dilanjutkan lagi dan kedua kakek itu melampiaskan geram kepada penari-penari cantik yang tadi sejenak tertegun, Siang Le sudah keluar dari ruangan itu.
Pemuda ini merah padam dan berkerot gigi. Ia tadi didatangi Siauw-jin dan diajak ke tempat itu; katanya dipanggil Togur untuk suatu keperluan penting. Ia tak menduga bakal disuguhi belasan penari telanjang bulat dan diajak melakukan kecabulan. Togur memang sudah didengarnya sebagai pemuda bejat yang suka mempermainkan wanita. Ia marah dan menolak. Saat ia berkelebat dan mengutuk sambil mengepalkan tinju, tiba-tiba terdengar rintihan dan kekeh aneh di balik gerumbul sebelah kiri.
Apa yang terjadi? Siang Le ingin tahu. Ia menahan langkahnya untuk berbelok ke tempat itu. Namun, begitu ia melihat apa yang terjadi, Siang Le mengutuk dan mengumpat. Apa yang ia lihat? Pergumulan Nenek Naga dengan seorang prajurit muda yang sedang birahi! Nenek itu terkekeh-kekeh dan bermain cinta dengan seorang prajurit muda yang disuruhnya melayani; tentu saja mempergunakan kepandaiannya dan nenek itu mencekoki pula obat perangsang. Tanpa begitu, tak mungkin prajurit muda itu bangkit nafsunya. Nenek ini sudah kempong peyot, mukanya penuh keriput. Siapa yang mau melayani kalau tidak dipaksa dengan obat atau kepandaiannya?
Ketika Siang Le tahu itu dan meninggalkan tempat menjijikkan tersebut sambil memaki sang nenek, di tempat lain ia melihat pula Toa-ci dan Ji-moi melakukan hal yang sama. Rupanya, untuk melampiaskan kegeraman dan benci melihat Siauw-jin dan Cam-kong mempermainkan penari-penari cantik, ketiga nenek ini ganti mempermainkan tiga laki-laki muda sebagai balas dendam. Hal itulah yang dilihat Siang Le, dan tentu saja pemuda ini semakin muak. Apa yang dilihat sungguh tokoh-tokoh yang amat jahat. Baik Togur maupun guru-gurunya sama-sama orang yang tidak kenal malu. Ketika pemuda itu meninggalkan tempat tersebut sambil memaki habis-habisan, di sana Togur dan guru-gurunya berpesta dalam suasana gila.
"Berhenti, aku capai. Kakek itu iblis dan sungguh-sungguh siluman!"
Hauw Kam, yang gemetar dan melemparkan tubuh di mulut hutan setelah berlarian tiga hari tiga malam karena rasa takutnya yang hebat kepada See-ong, meminta suheng-nya berhenti dan megap-megap di situ. Laki-laki ini pucat, dan tiga hari tiga malam berlarian tanpa henti sungguh membuatnya kelelahan. Gwan Beng sebenarnya juga begitu, namun si cambang bermuka gagah ini menguat-nguatkan tubuhnya. Ia lelah lahir batin dan juga ketakutan hebat. See-ong yang mempergunakan ilmu Hek-kwi-sut dan mampu menghilang seraya melepas pukulan-pukulan di balik ilmu hitamnya sungguh membuat ia gentar bukan main. Maka, begitu sutenya mengeluh dan roboh melemparkan tubuh di sana, di mulut hutan kecil, Gwan Beng pun terhuyung dan jatuh terduduk.