Halo!

Istana Hantu - Chapter 154

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 154

"Iblis! Kakek itu siluman. Kita tidak bertemu manusia lagi!"

"Benar, dan ilmu setannya hebat sekali, Suheng. Dua kali kita kalah oleh orang-orang yang kepandaiannya di atas kita!"

"Hm, siapa maksudmu?"

"Eh, bukankah Kim-mou-eng dan kakek itu? Kita benar-benar kalah, sungguh kepandaian kita dangkal!"

Gwan Beng menutupi mukanya. Laki-laki gagah yang sayangnya terganggu jiwanya ini tiba-tiba menangis. Entah mengapa, dia mendadak tersedu dan terisak. Ketika Sutenya terbelalak dan menyeringai aneh, tiba-tiba Hauw Kam juga menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu seperti Suhengnya.

"Benar, kita tak berdaya menghadapi orang-orang lihai seperti Kim-mou-eng dan kakek iblis itu, Sute. Kita sungguh dangkal dan bodoh sekali!"

"Dan kita hampir saja dibunuh! Ah, tak mampukah kita membalas dendam, Suheng? Apakah kita selamanya menjadi permainan orang-orang lihai?"

"Tapi Kim-mou-eng lebih baik. Pendekar Rambut Emas itu tak bermaksud membunuh kita. Dan istrinya, he!"

Gwan Beng tiba-tiba berseru sambil membuka telapak tangannya. "Apakah kau tak merasa kenal dengannya, Sute? Dia menyebut kita Suheng. Ha-ha, sandiwara gila apakah yang dilakukan Kim-hujin (Nyonya Kim) itu?"

Hauw Kam membuka pula telapak tangannya. Melihat Suhengnya tertawa setengah menangis, tiba-tiba ia pun tersenyum lebar dan tertawa. Saat dia terpingkal-pingkal dan Suhengnya menggaruk kepala, Hauw Kam melompat bangun dan berseru.

"Benar, Kim-hujin itu rupanya gila, Suheng. Tapi jika diingat-ingat, agaknya aku merasa mengenal dirinya. Ha-ha, kita orang gila bertemu dengan orang tidak waras!"

"Hm, agaknya begitu. Tapi, sst... ada orang datang!"

Gwan Beng menoleh ke kiri, cepat menyuruh Sutenya berhenti tertawa, tetapi dua bayangan yang berkelebat itu sudah menyambar tiba. Mereka terkejut dan tersentak karena salah satu dari dua bayangan itu adalah seorang pemuda berambut keemasan. Begitu pemuda ini tiba di depan mereka, Gwan Beng dan Sutenya mencelat ke belakang.

"Kim-mou-eng...!"

Pemuda itu, yang datang bersama temannya, ikut terkejut. Dia adalah Thai Liong. Kedua pemuda itu tadi sedang dalam perjalanan dan mendengar percakapan di hutan. Thai Liong berhenti karena mendengar nama ayahnya, juga ibunya, disebut-sebut. Karena penasaran, dia berkelebat ke arah dua orang itu. Dia tertegun melihat dua laki-laki setengah gembel yang langsung menyebut dirinya sebagai Kim-mou-eng. Begitu dua orang itu terkejut melihat kedatangannya, mereka memutar tubuh dan mengambil langkah seribu, lari lintang-pukang!

"Hei!" Thai Liong berseru. "Berhenti, orang tua, aku bukan Kim-mou-eng!"

Namun, dua orang itu malah melarikan diri lebih cepat. Melihat Thai Liong yang berambut keemasan seperti ayahnya, mereka langsung mengira itulah Kim-mou-eng. Mereka sudah terlanjur gentar dan lari terbirit-birit. Seruan Thai Liong yang memanggil-manggil nama mereka tak digubris; Hauw Kam dan Suhengnya sudah keburu takut.

Thai Liong mengerahkan Jing-siang-eng-nya. Seperti burung menyambar, tahu-tahu dia sudah berjungkir balik melewati kepala kedua orang itu, lalu mendorongkan kedua lengannya.

"Berhenti, kalian dengarlah kataku... bress!"

Dua orang itu terkejut, membentak, dan menangkis kedua lengan Thai Liong yang menyambar ke arah mereka. Dari kedua lengan pemuda itu menyambar serangkum angin kuat yang membuat gerakan mereka terhenti. Mereka terkejut dan membalas dengan hantaman. Namun, begitu tenaga dahsyat Thai Liong bertemu pukulan mereka, keduanya malah terlempar dan terbanting.

"Bangsat, kita lari!" teriak mereka ketakutan.

Dua orang itu terguling-guling lalu meloncat bangun dan melarikan diri lagi. Mereka sangat ketakutan dan pucat pasi. Saat mereka membalik dan lari ke arah lain, Hauw Kam dan Suhengnya berlari seperti dikejar setan.

"Kim-mou-eng, jangan seperti kakek jahat itu! Kami masih ingin hidup!"

Thai Liong membelalakkan mata. Dia melihat bahwa kedua orang ini rupanya tidak sehat jiwanya. Mereka seperti orang gila, tapi harus diakui cukup lihai. Angin pukulan mereka yang menyambar dahsyat tadi bukan main-main; kalau bukan Khikang yang dikerahkan, barangkali dia sudah terpental. Hebat!

Thai Liong membentak dan mengejar kembali. "Hei, aku bukan Kim-mou-eng! Kim-mou-eng adalah ayahku!"

"Berpencar!" Hauw Kam tiba-tiba berseru pada Suhengnya. "Kau ke kiri, aku ke kanan, Suheng. Dia datang mengejar kita!"

Thai Liong terkejut melihat dua orang itu berpencar. Mereka tak menghiraukan seruannya dan tetap menganggap bahwa dia adalah Kim-mou-eng. Thai Liong semakin tertarik sekaligus penasaran. Karena harus memilih, dia mengejar Gwan Beng yang kebetulan lebih dekat, dengan rencana menangkap orang ini terlebih dahulu sebelum mengejar yang satunya.

Thai Liong mengerahkan Jing-sian-eng-nya, berkelebat, melayang di atas kepala lawan, lalu berjungkir balik dan mendarat tepat di depan Gwan Beng. Gwan Beng terkejut karena untuk kedua kalinya pemuda itu menyambar seperti siluman. Dia membentak dan menghantam dengan kaget.

Thai Liong sudah bersiap; dia memutar pinggang, meliukkan tubuh, dan menggerakkan tangan kiri untuk menangkis serta menangkap pergelangan tangan lawannya.

"Aku bukan Kim-mou-eng... crep!"

Pemuda itu memindahkan kekuatan lawan, menerimanya, lalu secepat kilat membuang tenaga hantaman itu. Saat Gwan Beng terpekik karena pergelangan tangannya seperti diremas atau dicengkeram tanggem, Thai Liong menariknya ke depan dan jari telunjuknya bergerak menotok pundak lawan.

"Hayaa...!" Gwan Beng menggerakkan kaki dengan cepat. Saat hendak ditotok, dia dengan lihai menendang lawannya. Bukan tendangan sembarang, melainkan tendangan cangkul yang bergerak dari atas kepala ke bawah.

Thai Liong terkesiap karena kaki itu tahu-tahu sudah menghantam mukanya dengan cepat sekali. Inilah tendangan istimewa yang luar biasa! Thai Liong terpaksa melepaskan cengkeramannya untuk menangkis tendangan tersebut. Tenaga di antara mereka tak dapat dicegah untuk bertemu, dan Thai Liong mengerahkan sinkangnya.

"Dess!" Gwan Beng teriak dan terlempar. Kalah oleh Khikang yang menolak pukulan lawan, dia mencelat dan terguling-guling. Thai Liong sendiri mengusap keringatnya; tendangan itu sungguh berbahaya. Kalau dia tidak cepat bergerak, tentu wajahnya menjadi sasaran, paling tidak hidungnya bisa bocor!

Saat lawan teriak dan terguling-guling, Gwan Beng yang marah segera mencabut pedangnya dan menerjang Thai Liong dengan dahsyat. Thai Liong tertegun melihat dan mengenal ilmu pedang itu.

"Giam-lo Kiam-sut!"

Thai Liong bengong. Tentu saja dia mengenal dan hafal betul ilmu pedang itu. Itulah Giam-lo Kiam-sut atau Ilmu Pedang Maut, warisan mendiang kakeknya, Hu Beng Kui. Saat Thai Liong menghindar ke sana kemari, Gwan Beng terbelalak. Ilmu pedangnya dikenal, dan untuk kesekian kalinya, ilmu itu disebut Giam-lo Kiam-sut. Dulu oleh Soat Eng dan ayah ibunya, dan kini oleh pemuda ini.

Saat Thai Liong mengelak dan beterbangan di antara bacokan atau tusukan pedang yang ganas, Ituchi, pemuda yang datang bersama Thai Liong, berkelebat menyusul.

"Hei, siapa dia ini, Thai Liong? Dan mana yang satunya?"

"Ah, aku tak tahu. Tapi yang satu melarikan diri ke utara. Coba kau kejar!"

Ituchi terbelalak. Dia tadi melihat dua orang itu bersama Thai Liong, namun tertinggal di belakang. Begitu dia menyusul, ternyata Thai Liong sudah bertanding, tetapi orang satunya lagi tidak terlihat.

"Baik!" jawab Ituchi. "Kukejar dia, Thai Liong. Biar kubantu kau nanti!"

Gwan Beng pucat. Dia melihat bahaya mengancam Sutenya di sana, lalu berteriak dan tiba-tiba meninggalkan Thai Liong untuk menyerang pemuda tinggi besar itu. Namun, ketika Ituchi menangkis dan Thai Liong di belakang berseru mengejar, Gwan Beng terpelanting dan pedangnya tersampok miring.

"Plak-dess!"

Ituchi tertawa meninggalkan laki-laki itu. Thai Liong sudah berpesan agar dia cepat menangkap Hauw Kam. Saat Gwan Beng membentak marah dan kembali menyerang, Thai Liong bergerak maju melayani lawannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment