Chapter 156
Dia roboh karena tadi tertegun oleh Jaring Naga itu, ilmu silat aneh yang belum pernah dilihatnya seumur hidup.
Begitu dia roboh, tenaga sinkangnya diam-diam dikerahkan. Dengan khikang yang sebenarnya, dia mementahkan totokan lawan. Thai Liong tersenyum ketika ditanya.
"Aku Thai Liong, Kim Thai Liong. Sedangkan temanku itu, hmmm... kau tanya saja dia!"
Gwan Beng terbelalak. Dia heran sekaligus kagum melihat sikap pemuda ini yang begitu tenang dan tidak terlihat takut. Sikapnya seperti bukan tawanan, melainkan orang bebas. Tentu saja Gwan Beng tidak tahu bahwa jika mau, Thai Liong dapat membebaskan dirinya dengan mudah. Pemuda itu hanya berpura-pura karena ingin melihat apa yang akan dilakukan dua orang ini, lawan-lawannya yang memiliki Giam-lo Kiam-sut, ilmu pedang warisan kakeknya.
Ketika dia menjawab dengan tenang sementara lawannya membelalakkan mata, Hauw Kam yang berwatak keras berteriak, "Hei, kurang ajar! Lebih baik kutampar mulutnya... plak!"
Hauw Kam berkelebat marah dan menempeleng pemuda itu hingga terpelanting dengan mulut bengkak. Untunglah Thai Liong segera bertahan; jika sinkangnya tidak bekerja, mungkin mulutnya sudah pecah.
Laki-laki yang satu ini lebih ganas! Namun, ketika Thai Liong melotot gusar dan menahan kemarahannya, si cambang membentak sute-nya, "Sute, jangan main kasar! Dia tawananku!"
"Maaf, he-he!" Hauw Kam tertawa. "Aku tak sabar melihat sikapnya, Suheng. Menyebalkan. Sialan, sebaiknya kau lempar pemuda itu dan tak perlu bertanya-tanya lagi!"
"Tidak, mereka ini menarik. Aku masih ingin tahu kenapa mereka berada di sini..."
Lalu, dia beralih bertanya kepada Ituchi, "Kau, siapa namamu? Kau bukan bangsa Han asli?"
Ituchi tidak seperti Thai Liong. Ditangkap dan dirobohkan seperti itu membuatnya marah besar. Begitu ditanya, dia langsung mendamprat, "Hei, kau! Tak usah tanya nama jika ingin membunuh. Aku tak suka memperkenalkan diriku kepada kalian. Bebaskan atau bunuh aku!"
"Ha-ha!" Hauw Kam tertawa bergelak. "Bocah ini galak dan sombong sekali, Suheng. Berani dia bicara seperti itu. Biarlah kupencet hidungnya... cet!"
Hauw Kam benar-benar memencet dan mencengkeram hidung Ituchi. Pemuda itu tidak dapat bicara lagi, suaranya menjadi bindeng. Hauw Kam terbahak-bahak kegelian. Sikap gilanya muncul dan ia menggerakkan tangannya yang lain untuk menggelitik ketiak pemuda itu.
Ituchi merasa geli sekaligus marah. Setelah hidungnya dilepas, terdengarlah makian bercampur tawa yang tak karuan. "Hei, bangsat! Lepaskan aku! Aduh, ha-ha... keparat!"
Ternyata Hauw Kam menotok jalan darah di bawah ketiak pemuda ini agar dia terpingkal-pingkal. Tawa itu bukan tawa sehat, melainkan tawa yang bercampur rasa sakit. Jika dibiarkan selama satu jam, pemuda ini bisa mati lemas. Hal ini berbahaya, dan Thai Liong yang menyadari hal itu menjadi terkejut.
Saat temannya tersiksa dan Hauw Kam tidak membebaskan totokannya, tiba-tiba Gwan Beng bergerak dan si cambang itulah yang membebaskan Ituchi.
"Sute, jangan siksa pemuda ini. Biarkan mereka kepadaku!"
Ituchi terengah-engah. Dia melotot gusar memandang Hauw Kam, yang hanya memandang balik dengan tatapan tidak waras sambil menggaruk-garuk rambutnya. Saat Ituchi hampir memaki, Thai Liong segera berseru kepadanya agar tidak melawan melalui tenaga dalam pengirim suara. Pemuda itu pun tertegun.
"Jangan gusar, tidak perlu marah-marah. Kita tidak berada dalam bahaya karena setidaknya aku tidak tertawan!"
Ituchi tertegun dan melihat Thai Liong menggerakkan tangannya secara rahasia. Benar, temannya itu bebas! Ituchi terkejut sekaligus girang. Namun, Thai Liong yang mengedipkan mata berseru lagi dengan tenaga *Coan-im-jip-bit*, "Jangan cemas, Ituchi. Tenanglah dan biarkan dua orang ini menawan kita. Aku ingin mengetahui siapa mereka sebenarnya."
Ituchi tertegun dengan mata bersinar. Ketika dia tersenyum dan urung memaki, Gwan Beng, si cambang, mengusap pundaknya dengan sikap yang lebih baik.
"Katakanlah siapa namamu dan apa hubunganmu dengan Pendekar Rambut Emas. Benarkah pemuda itu puteranya, dan apa tujuan kalian datang mengganggu kami?"
"Hm, siapa yang mengganggu? Aku Ituchi, putera Raja Hu!"
Gwan Beng tidak mengenal nama raja itu karena mendiang Raja Hu sudah lama tidak terdengar namanya. Dia mengerutkan kening sambil menarik napas. "Aku tidak kenal siapa itu Raja Hu. Tapi kau gagah. Hm, kalau begitu benar kau bukan orang Han asli. Baiklah, siapa temanmu ini, anak muda? Apakah dia benar putera Pendekar Rambut Emas?"
"Benar, dan kalian tadi sudah melihat kepandaiannya!"
"Ha-ha, kepandaian apa!" Hauw Kam tertawa mengejek. "Dia roboh oleh Suhengku, anak muda. Tak perlu berlagak!"
"Kalian curang!" Ituchi memaki. "Bagaimana bisa merobohkan putera Pendekar Rambut Emas jika tidak bersikap licik? Kalian menggunakan benang laba-laba itu, tidak ksatria!"
"Ha-ha, bocah tak kenal puas! Eh, apakah kau masih penasaran? Boleh, maju lagi, bocah. Aku tidak takut!"
Hauw Kam berkelebat dan membebaskan totokan Ituchi. Pemuda tinggi besar itu tertegun, lalu meloncat bangun dengan gembira. Gwan Beng mengerutkan kening namun tidak khawatir pemuda itu bebas sejenak. Hauw Kam yang tertawa-tawa segera menantang berkelahi.
"Hayo, maju lagi. Boleh kalah untuk kedua kalinya!"
Ituchi mengerling. Dia mendengar bisikan Thai Liong agar berhati-hati dan menggunakan kesempatan ini. Hauw Kam dan suhengnya yang mengira Thai Liong masih tertotok, menganggap hanya Ituchi yang harus mereka hadapi.
Ituchi mengambil kembali gendewanya yang terpelanting di tanah. Tanpa banyak cakap, dia menerjang maju, membabat dan memukulkan gendewanya sambil menjaga tangan kiri dari serangan benang laba-laba yang aneh itu.
Hauw Kam tertawa dan melompat ke kiri. "Waspadalah, aku akan merobohkanmu kali ini dengan lebih cepat!"
"Jangan banyak mulut!" Ituchi membentak. "Kau yang akan kutangkap dan kurobohkan, gimbal busuk!"
"Ha-ha, berani takabur? Kau yang akan kalah... plak!"
Gendewa itu disambar dan terpental, lalu diayunkan kembali dari atas ke bawah hingga terdengar suara mendesing keras. Ituchi tak menggerakkan tangan kirinya karena waspada terhadap pukulan laba-laba. Lawan mulai terdesak.
"Baiklah, kau yang minta!" seru Hauw Kam.
"Crang!"
Pedang bertemu gendewa hingga mengeluarkan pijaran api dan sama-sama terpental. Hauw Kam segera mengimbangi dengan permainan Giam-lo Kiam-sut. Thai Liong tertegun melihatnya.
"Hm, siapa mereka ini? Dari mana mereka bisa memainkan Giam-lo Kiam-sut dengan baik? Laki-laki itu tidak kalah hebat dari temannya. Sinkangnya kuat dan sambaran pedangnya mantap. Jika Ituchi tidak memiliki daya tahan yang seimbang, tentu dia sudah roboh!" batin Thai Liong dengan mata terbelalak.
Ituchi bertempur sengit untuk menebus kekalahan. Saat tangan lawan menyambar dan segumpal benang laba-laba melecut, Ituchi terkejut dan menggerakkan gendewanya untuk menangkis.
"Plak-bret!"
Gendewa Ituchi lengket dan tidak dapat ditarik. Dia berseru keras dan menendang lawannya, namun Hauw Kam menarik benang laba-labanya sambil terbahak-bahak.
"Ha-ha, lihat, Bocah! Kau tetap tidak menang!"
Ituchi terdesak dan mundur. Begitu benang laba-laba keluar, dia menjadi gugup dan panik. Benang-benang itu menempel dan sulit dihalau; karena sifatnya yang elastis, benang itu justru membalik dan mengganggu. Ketika pedang di tangan lawan ikut menyambar, Ituchi terjengkang saat harus menghindari lecutan benang.
"Bret!" Baju Ituchi robek terkena pedang.
Dia melotot penasaran. Thai Liong mulai melihat kekalahan temannya. Benang laba-laba itu memang sulit dihindari karena jika ditangkis akan lengket, dan jika tidak ditangkis akan terus memburu. Karena fokus pada benang, Ituchi mengabaikan serangan pedang hingga terkena jurus Giam-lo Kiam-sut yang hebat. Thai Liong tak tahan lagi dan berseru untuk membantu.