Halo!

Istana Hantu - Chapter 157

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 157

"Jaga pinggangmu dari tusukan pedang. Awas gerakan berikutnya yang akan menyambar kaki!"

Lalu, ketika pemuda itu memperhatikan dan mengelak sesuai perintah Thai Liong, pemuda ini kembali berseru, "Tahan tikaman beranting dengan gerak melengkung dan lempar tubuh kalau benang laba-laba itu menghantammu dari kanan!"

Hauw Kam melotot. Ituchi tiba-tiba menuruti perintah Thai Liong ini; ia mengelak dan menggerakkan gendewanya secara melengkung untuk menahan tikaman beranting yang memang dilakukan lawannya itu. Ketika ia disuruh melempar tubuh karena pukulan laba-laba menghantamnya dari kanan saat menghadapi serangan pedang, pemuda ini selamat dan benang laba-laba itu menyambarnya sia-sia.

"Ha-ha!" Ituchi tertawa bergelak. "Kau beritahukan aku lagi, Thai Liong. Katakan bagaimana aku merobohkan lawanku ini!"

"Kau tak boleh menangkis benang laba-labanya. Jauhi dan jangan dihadapi secara berdepan!"

Ituchi menurut. Akhirnya pemuda ini mengikuti omongan Thai Liong; kian lama kian luwes, dan Ituchi mulai dapat mendahului lawan ketika Thai Liong memberitahukan jurus-jurus yang akan dilancarkan Hauw Kam. Giam-lo Kiam-sut yang hebat itu pun dicegat dan mati kutu. Karena Ituchi selalu mengelak atau menjauhi benang laba-laba, Hauw Kam menjadi gusar. Akhirnya, Thai Liong berseru agar temannya itu melakukan tekanan.

"Sekarang desak dia, matikan langkah-langkahnya. Pergunakan gendewamu dengan babatan-babatan lurus!"

"Ha-ha, dan tetap tidak menyambut pukulan laba-laba itu, Thai Liong?"

"Ya, jangan sambut. Hindarkan saja. Kau pasti menang!"

Thai Liong yang pandai memainkan Giam-lo Kiam-sut tentu tahu dan dapat mematikan gerak pedang itu. Pemuda ini adalah cucu Hu-taihiap, dan sebagai cucu si jago pedang, tentu saja Thai Liong hafal ke mana arah serangan-serangan pedang berikutnya. Sebagai penonton, ia dapat melihat lebih jelas pukulan laba-laba itu. Setiap kali benang menyambar, ia menyuruh temannya membanting tubuh ke kiri atau ke kanan. Thai Liong mengajari temannya untuk menekan dan mendahului gerakan lawan, membuat Hauw Kam mencak-mencak.

Setelah Ituchi mendapat petunjuk dari Thai Liong, tiba-tiba saja ia dapat menghadapi lawannya dengan baik. Thai Liong adalah pemuda lihai, bahkan lebih hebat daripada Ituchi. Kekalahan Thai Liong tadi hanyalah karena ia sedang melamun, bukan karena lawan yang lebih tinggi. Begitu Ituchi mulai menjalankan petunjuknya, ia dapat mematikan langkah lawan dan gendewa di tangannya menghantam pundak Hauw Kam.

"Dess!" Hauw Kam terpelanting bergulingan.

Ituchi tertawa bergelak dan terus melanjutkan serangan, tidak memberi kesempatan lawan mengeluarkan pukulan benang laba-labanya. Ketika pemuda itu terus merangsek dan gendewa di tangan kanannya berubah seperti gendewa malaikat yang menghajar tubuh lawan, Hauw Kam berteriak-teriak meminta bantuan suhengnya karena merasa kewalahan.

"Bunuh pemuda itu! Bantu aku! Ah, tutup mulut pemuda itu agar tidak membantu temannya, Suheng. Atau aku bakal roboh dan dua pemuda terkutuk ini mempermainkan kita!"

Gwan Beng terkejut. Ia melihat sutenya mendapat gebukan gendewa dan tidak dapat menggunakan pukulan laba-labanya karena Ituchi selalu mendahului. Celaka, itulah berkat mulut pemuda berambut keemasan ini! Ketika sutenya kembali terjungkal, Gwan Beng berkelebat dan menotok mulut Thai Liong.

"Tutup mulutmu, atau aku terpaksa membungkamnya... Dukk!"

Gwan Beng berteriak dan mencelat karena tiba-tiba Thai Liong bangkit berdiri, menangkis, dan membuat lawan terpental dengan Khikang-nya. Gwan Beng terkejut karena lawan yang tadi tertotok tahu-tahu sudah meloncat bangun. Ketika sadar bahwa pemuda itu sudah bebas, Thai Liong tertawa dan berseru padanya, "Orang tua, sekarang aku yang akan menangkapmu. Berjagalah!"

Thai Liong berkelebat dan melepas pukulan, membuat Gwan Beng berteriak tertahan karena kaget, menangkis, dan terlempar oleh pukulan Khikang yang dahsyat. Sementara Ituchi terbahak-bahak di sana, mendesak sutenya yang tak dapat memainkan Jaring Naga, Gwan Beng sendiri sudah terdesak oleh tamparan Khikang Thai Liong.

"Keparat, kalian rupanya menipu... Plak-dess!"

Gwan Beng marah dan kaget saat menerima serangan. Ketika ia memekik dan mencabut pedangnya untuk menusuk dan membacok, Thai Liong tertawa, "Orang tua, ilmu pedang ini adalah ciptaan kakekku. Aneh sekali dapat kau miliki demikian baik. Apakah kau mencurinya atau mendapatkannya secara kebetulan? Hm, aku akan merobohkanmu, dan sekarang aku tak takut menghadapi pukulan laba-labamu itu... Des-dess!"

Thai Liong merangsek dan membuat lawan jungkir balik. Giam-lo Kiam-sut dikeluarkan, tapi semua itu percuma. Thai Liong adalah putra Pendekar Rambut Emas sekaligus cucu mendiang Hu-taihiap, tentu saja ia dapat menghalau serangan-serangan pedang tersebut. Ketika lawan berjungkir balik dengan perasaan gentar dan marah, Gwan Beng mengeluarkan Jaring Naganya, sadar bahwa pemuda itu tak mungkin dirobohkan dengan pedang.

Namun, alangkah kagetnya si cambang ini. Thai Liong berseru nyaring dan tiba-tiba lenyap berkelebatan mengelilingi dirinya. Kecepatannya dua kali lipat dan Gwan Beng tak dapat mengikuti. Ia tidak tahu bahwa Thai Liong sudah mengeluarkan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Mengejar Dewa), digabung dengan Jing-sian-eng (Bayangan Seribu Dewa). Thai Liong ingin menaklukkan lawan dengan sungguh-sungguh. Ketika lawan kabur oleh kecepatannya, Thai Liong mulai menampar sana-sini, mempermainkan lawannya, dan pukulan laba-laba ditiup dengan Lui-ciang-hoat—pukulan panas yang membuat benang laba-laba yang lemas dan berperekat itu leleh!

Gwan Beng terkejut karena tiba-tiba saja ia mati kutu. Kejadian ini tak lebih dari beberapa menit. Ketika ia kaget dan pucat terlempar sana-sini, Thai Liong berseru, "Sekarang kau roboh, menyerahlah!"

Gwan Beng menjerit. Orang tua ini terbanting ketika sebuah totokan lihai mengenai jalan darah di belakang lehernya, pedang di tangannya pun terlepas. Hauw Kam yang melihat itu kaget, namun Ituchi menghantamkan gendewanya saat lawannya meleng.

"Dess!" Hauw Kam terpelanting.

Hauw Kam sudah terdesak hebat oleh serangan Ituchi yang tak kenal ampun. Ituchi tidak memiliki kemampuan seperti Thai Liong, namun setelah mendapat petunjuk, ia mampu mengunci lawannya. Ketika hantaman gendewa mendarat keras, Hauw Kam pucat dan terkunci; ia tidak dapat bergerak lagi. Ketika Ituchi menotok dengan ujung gendewa, Hauw Kam pun roboh.

"Bluk!" Ituchi tertawa bergelak.

Selisih beberapa gebrak dari Thai Liong, pemuda ini akhirnya dapat menaklukkan lawannya pula. Ketika Hauw Kam melotot dan memaki-maki, Ituchi menyambar dan menendang tubuhnya.

"Ha-ha, tak perlu marah-marah. Kau kalah dan aku yang menang... Dess!"

Tubuh Hauw Kam terlempar hingga si gimbal ini mirip Ituchi tadi yang diperlakukan seperti bola. Namun, ketika Thai Liong berkelebat menahan pundak temannya, ia menghentikan aksi Ituchi.

"Sudah, tahan kegemasanmu. Musuh sudah kalah dan tak perlu kita mempermainkan lagi!"

Ia lalu menghadapi Gwan Beng yang masih terbelalak dan gentar. "Kalian berdua siapakah sebenarnya? Kau bernama siapa dan siapa sutemu itu?"

"Hm, kau mau apa?"

"Tak apa-apa, hanya ingin mengenal dan mengetahui siapa kalian."

"Kami Siang-koai-lojin (Sepasang Kakek Gila)..."

"Aku tidak tanya julukannya, melainkan nama kalian!" Thai Liong memotong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment