Chapter 158
"Aku tak akan mengapa-apakan kalian, orang tua. Dan tak perlu kalian takut. Aku melihat bahwa kalian sebenarnya orang baik-baik." "Ha-ha, tak usah memperkenalkan nama, Suheng. Biarkan saja kita dibunuh. Rupanya bocah itu ingin tahu bagaimana kita memiliki Giam-lo Kiam-sut!" Hauw Kam, yang melotot dan gusar di sana, tiba-tiba berteriak. Dia tak menginginkan Suhengnya bicara, dan Gwan Beng sadar sambil mengerutkan keningnya. Ketika apa yang dikatakan Suthenya dianggap benar, Gwan Beng bersikap dingin dan tak acuh.
"Benar, kami tidak mau bicara, anak muda. Kalau tidak senang, silakan bunuh, kami sudah kalah!" "Hm, kalian bodoh. Kenapa tidak mau bicara baik-baik? Memang tidak dapat kusangkal bahwa aku ingin tahu bagaimana kalian dapat memiliki Giam-lo Kiam-sut itu, tetapi bukan berarti bermaksud untuk mencelakakan atau menyiksa kalian. Kalian sebutkan saja siapa diri kalian dan aku tidak akan marah!" "Memangnya kenapa kalau kau marah?" Hauw Kam tertawa mengejek, lagi-lagi mendahului. "Kami dua orang tua bangka sudah jatuh di tangan kalian, bocah. Kami tidak takut mampus atau takut kemarahanmu itu. Ayolah, Suhengku tidak mungkin mau bicara dan kalian tidak perlu memaksa!" "Hm, si gimbal ini menyebalkan!" Ituchi tiba-tiba marah. "Bagaimana kalau kugelitik dia, Thai Liong? Tadi dia menyiksaku, menyuruh tertawa tidak wajar. Aku ingin membalas dan izinkan aku menghajarnya!" "Tidak, jangan!" Thai Liong, yang lembut dan penyayang, tiba-tiba mencekal lengan temannya. "Biarkan mereka dengan sikapnya, Ituchi. Kalau tidak mau bicara, biarlah kita biarkan mereka."
"Dan kau mau apa? Menawan mereka? Membawa mereka sepanjang jalan?" "Hm, tadinya begitu, tetapi sekarang tidak. Sebaiknya mereka dibebaskan dan biarkan pergi!" "Apa?" Ituchi terkejut. "Dibebaskan? Setelah dengan susah payah kita merobohkan mereka?" Thai Liong tersenyum. "Bagiku tidak susah payah, Ituchi. Aku dapat menguasai mereka, tidak usah khawatir. Aku melihat mereka orang baik-baik, sepantasnya dibebaskan. Dan lagi, mereka pun tadi membebaskanmu!" "Tapi itu lain. Si gimbal ini membebaskan aku karena dia ingin mempermainkan dan menghina aku, dengan ilmu silatnya!" "Sudahlah, bagaimanapun mereka bukan orang-orang jahat, Ituchi. Kita tidak dibunuh ketika tertangkap. Aku ingin membebaskan mereka hitung-hitung sebagai pembalas budi!" Ketika Ituchi bengong dan melotot tidak puas serta kecewa, Thai Liong sudah membebaskan totokan Gwan Beng, dan dari jauh ia menggerakkan jarinya pula menyentil jalan darah di pundak Hauw Kam, yang segera melompat bangun.
"Kalian tidak mau bicara, tidak apa-apa. Dan aku juga tidak merasa mempunyai ikatan permusuhan dengan kalian. Pergilah, dan maafkan kami berdua yang mungkin telah menghina kalian!" Hauw Kam bengong. Dia tidak menyangka bahwa pemuda itu begitu mudah membebaskan dirinya, juga Suhengnya. Ketika Suhengnya juga bengong dan tertegun di sana, tidak percaya, Thai Liong mundur dan menjura di depan mereka. "Silakan, kalian sudah bebas. Aku tidak mempermainkan atau menipu kalian." Hauw Kam sadar. Tiba-tiba dia memekik gembira dan terbang meloncat pergi, menyambar tangan Suhengnya. Namun, ketika sang Suheng memberontak dan melepaskan diri, Suhengnya itu berkelebat dan meloncat membalik, menghadapi Thai Liong lagi, menggigil dan menahan keheranannya.
"Anak muda, kau... kau sungguh-sungguh membebaskan kami? Kau tidak dusta?" "Hm, untuk apa dusta? Kalian boleh pergi dan kami tidak akan mengganggu, orang tua. Dan percayalah bahwa aku tidak mempermainkan kalian. Kenapa?" "Kalau begitu... terima kasih!" Gwan Beng yang membungkuk dan melipat punggungnya tiba-tiba mengucapkan terima kasih dengan suara serak, mengejutkan Thai Liong karena keharuan tiba-tiba menyelinap di hatinya. Gwan Beng kembali dilihatnya sebagai orang tua yang baik, meskipun Hauw Kam tidak boleh dibilang jahat. Ketika dia tertegun dan mendorong lawannya itu, Gwan Beng mengusap air matanya dan melompat pergi. "Anak muda, kau persis ayahmu. Ah, semoga aku benar dan terima kasih atas kebaikanmu ini!" Ituchi tertegun. Dia melihat Thai Liong mengangguk dan mengejapkan matanya yang berair. Aneh, Thai Liong tiba-tiba juga menangis!
Namun, ketika mereka melompat pergi dan terbang bergandengan tangan, Ituchi membanting kakinya dan menegur temannya itu. "Thai Liong, kau keterlaluan! Kenapa melepas dan membebaskan mereka begitu saja? Bukankah sudah jelas mereka mencuri dan mendapatkan Giam-lo Kiam-sut? Kalau kakekmu masih hidup, tentu kau akan dimarahi habis-habisan. Mereka tidak boleh dilepas begitu saja dan harus dipaksa mengaku dari mana mendapatkan atau mencuri ilmu pedang itu!" "Kau keliru," Thai Liong sadar, matanya tiba-tiba bercahaya dan bersinar-sinar. "Aku tidak membebaskan mereka begitu saja, Ituchi. Melainkan justru menyelidiki dan ingin tahu siapa mereka itu dengan caraku yang lain." "Maksudmu?" Ituchi terbelalak. "Membohongi mereka dan akan menangkap lagi?" "Tidak." "Lalu bagaimana? Dan kenapa kau menangis pula? Eh, aneh kau ini, Thai Liong. Sungguh tidak dapat kumengerti dan membuat bingung!" "Aku merencanakan sesuatu, dan mereka tidak ingin kusakiti. Aku merasa dekat dengan mereka, dan entah mengapa, aku merasa lebih dekat dengan si cambang itu." "Dan kau menangis?" "Aku terharu, kakek itu orang baik-baik..." "Ah, dan mereka sudah pergi, Thai Liong. Kau sudah membebaskan mereka!" "Salah, aku tidak berkata begitu. Aku... ah, sudahlah. Ikuti aku dan kita kejar mereka, Ituchi. Kita kuntit mereka secara diam-diam dan di perjalanan nanti akan kuceritakan!"
Thai Liong yang berkelebat menyambar temannya tiba-tiba mengajak Ituchi terbang ke depan, mengerahkan Jing-sian-eng-nya. Ituchi berteriak karena tubuhnya tiba-tiba terangkat dari atas tanah, tidak menempel bumi lagi, dan bergerak di gandengan temannya ini. Ketika Thai Liong menjelaskan apa yang dia maui dan berkata bahwa dua orang itu sebenarnya akan diikuti dan diselidiki secara diam-diam, karena orang seperti mereka tidak mungkin mau dipaksa begitu saja, Ituchi mendusin ketika Thai Liong menutup pembicaraan. "Aku memang membebaskan mereka, membiarkan mereka pergi. Tetapi bukan berarti membiarkan rahasia ini tidak kuketahui dan melepasnya begitu saja. Karena itu ketahuilah bahwa gerak-gerik mereka akan kuikuti secara diam-diam, Ituchi. Aku ingin mendapatkannya secara tidak melukai lawan dan dengan baik menemukan siapa mereka itu sebenarnya!" "Ah, begitukah?" "Ya, dan lagi, kalau kita menawan atau menangkap mereka, kita akan mendapat beban karena dua orang itu tentu harus kita panggul atau bawa, tidak mungkin kita menyeret-nyeretnya sepanjang jalan. Daripada begitu, lebih baik kulepaskan mereka dan biarkan berjalan sendiri, tetapi diam-diam kita mengikuti di belakang dan hasilnya akan sama saja nanti!" Ituchi mengangguk-angguk. Memang, sekarang dia mengerti. Dia tahu Thai Liong ini pemuda yang berwatak halus dan lembut, tidak suka menyakiti lawan, dan kiranya pemuda itu bermaksud membebaskan lawan, tetapi bukan berarti membiarkan rahasia itu lewat begitu saja. Memang mengherankan bahwa Giam-lo Kiam-sut bisa dipelajari lawan, hal yang memang harus dicurigai. Namun karena dia juga melihat bahwa bagaimanapun kedua kakek itu rupanya bukan orang-orang jahat, dan Thai Liong juga melihat hal ini, itulah akal yang dipergunakan temannya. Begitu dia sadar dan mengerti, Ituchi pun tidak banyak bicara, dan segera keduanya terbang menguntit perjalanan Hauw Kam dan Suhengnya!
"Serbu! Bunuh mereka, gilas! Ha-ha-ha!" Sebuah pasukan besar mendobrak benteng di perbatasan Tiongkok, melaju, dan ribuan orang berteriak-teriak mengawali serangannya. Ratusan orang merayap ke atas, tetapi enam bayangan bergerak dengan caranya yang luar biasa mendaki tembok tebal yang menjadi batas pemisah ini. Mereka bukan mendaki seperti ratusan orang-orang lain yang menggunakan tali, melainkan merayap dan menempel seperti cicak, lekat, dan naik dengan cepat mendaki tembok besar itu. Bagian yang dinaiki juga tidak tanggung-tanggung, bukan tempat kasar yang mudah dilekati kaki atau tangan, melainkan justru tempat berlumut yang orang biasa pasti tidak mampu melakukannya. Enam bayangan ini enak saja merayap, dan setiap kali tangan mereka menepuk, bergetarlah dinding tembok itu. Lumut yang menempel tiba-tiba rontok terkena tepukan, hancur, dan bekas jari atau tangan yang menepuk dinding ini selalu meninggalkan lubang. Dengan lubang itulah mereka menekan dan mengangkat tubuh naik, tidak peduli pada hujan serangan yang diluncurkan dari atas, karena panah atau tombak akan terpental atau patah-patah bertemu tubuh keenam orang ini. Ketika mereka hampir tiba di puncak dan pasukan di atas tentu saja terkejut, yang ada di depan, yang paling gesit dan ringan, sudah menggerakkan tubuhnya dan berjungkir balik di atas sana.
"Ha-ha, mana San-ciangkun itu? Suruh dia menyerah atau kubunuh kalian semua! Plak-plak-plak!" Bayangan ini, pemuda tinggi besar yang ganas dan tidak kenal ampun, sudah mengibas ke kanan tiga kali. Angin yang dahsyat menyambar dari tangan kanannya, dan tujuh prajurit berteriak setelah terlempar roboh. Mereka langsung terpelanting dan jatuh keluar dari atas tembok yang letaknya begitu tinggi itu. Ketika pekik atau jerit kematian mereka disusul tubuh yang berdebuk di bawah, lima bayangan yang lain, yang juga sudah melempar tubuh dan berjungkir balik di situ, tertawa menyeramkan. "Togur, cari dan bunuh San-ciangkun (panglima San). Kami akan membuka pintu-pintu gerbang dan membiarkan pasukan masuk!" "Bagus, baik, Suhu, dan bantai siapa saja yang tidak mau menyerah! Prak-bluk!" Dua orang prajurit menerima sasaran. Mereka ditangkap dan diadu kepalanya, dan pecahlah kepala kedua prajurit itu. Mereka tidak sempat berteriak lagi, dan tubuh mereka ditendang mencelat, roboh menumbuk dinding. Pemuda itu tertawa tergelak sambil menyambar tujuh panah yang mendesing menyerang mukanya. Ketika dia menangkapnya, dan dua di antaranya diterima dengan cara digigit, panah-panah itu sudah digerakkan kembali dan ketujuh pemanah yang tadi menyerangnya tiba-tiba roboh terkapar karena anak panah mereka sendiri sudah menyambar dan menancap di dada kiri dengan kecepatan setan.