Halo!

Istana Hantu - Chapter 159

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 159

"Crep-crep-crep!" Tujuh tubuh bergelimpangan tanpa nyawa.

Togur, pemuda bertubuh tinggi besar, bergerak ke kiri dengan lincah. Puluhan orang yang muncul dari balik menara pengawas segera disambutnya. Dengan tawa menyeramkan dan gerakan tubuh yang kilat, pemuda itu mendatangi mereka. Puluhan orang yang berteriak sambil melepaskan panah dan tombak sama sekali tidak digubrisnya. Ia terus menerjang dengan kedua tangan yang bergerak berulang kali. Ketika panah atau tombak yang runtuh mengenai tubuhnya, pukulan jarak jauh miliknya telah membuat orang-orang itu beterbangan bagai disapu angin puyuh.

"Bres-bres-plakk!" Teriakan ngeri dan jerit kesakitan susul-menyusul mengiringi orang-orang yang terlempar. Mereka mencelat dan terbanting ke sana kemari; belum sempat menyentuh tanah pun mereka sudah tewas karena kepala atau dada mereka pecah akibat dahsyatnya pukulan Togur. Ketika yang lain merasa ngeri dan pucat melihat keganasannya, mereka yang semula hendak menyerang justru membalikkan badan dan melarikan diri.

"Awas, pemuda iblis itu menyeramkan. Dia putra mendiang Gurba!" seru mereka sambil tunggang-langgang.

Togur tertawa terbahak-bahak mendengar nama ayahnya disebut. Memang benar, ia adalah putra Gurba, dan postur tubuhnya yang tinggi besar sangat mirip dengan mendiang ayahnya. Bagi siapa pun yang pernah berhadapan dengan mendiang suheng Kim-mou-eng ini, tentu akan merasa gentar saat menghadapi Togur. Pemuda itu sangat ganas dengan mata yang mencorong. Sikapnya tidak mengenal ampun; siapa pun yang menyerangnya bakal dibalas hingga tewas.

Pemuda itu bergerak dari satu tembok ke tembok lain, dari satu menara ke menara lain. Sambil tertawa-tawa, ia menggerakkan kedua lengan untuk merobohkan para prajurit sembari mencari San-ciangkun. Sementara itu, di bawah, pasukan musuh mulai berteriak-teriak dan sebagian berhasil masuk.

Kelima gurunya—nenek Naga dan kawan-kawan—telah berhasil membobol pintu gerbang. Kelima kakek dan nenek iblis ini tidak kalah ganas dibandingkan sang murid. Mereka membentak dan berkelebat, membagi-bagikan pukulan. Karena lawan yang dihadapi hanya prajurit rendahan, para kakek dan nenek iblis itu dengan mudah membuat mereka mencelat dan terkapar.

"Hi-hik, majulah kalian! Maju!" Tubuh-tubuh beterbangan ke sana kemari. Nenek Naga melepas pukulan Tee-sin-kang, membuat para prajurit menjerit kesakitan di bagian kepala atau perut, lalu tak sadarkan diri. Mereka roboh seperti batang pisang yang dibabat.

Di tempat lain, Siauw-jin berpesta pora; kakek bertubuh pendek kecil itu mencomot selangkangan lawan hingga mereka menjerit ngeri. "Ha-ha, ini penambah kekuatan. Bisa membuat tubuh semakin sehat!" kakek itu menelan sesuatu, membuat orang-orang di sekitarnya merasa ngeri. Sementara itu, Cam-kong mendengus dan melepaskan pukulan jarak jauhnya hingga para prajurit yang menghadapinya hangus dan gosong terkena Cam-kong-ciang yang berhawa panas seperti petir.

"Heh-heh, buka pintu gerbang! Ayo, buka!" Prajurit-prajurit itu mencelat tak keruan. Mereka bukan tandingan kakek tinggi kurus tersebut. Di sana, Toa-ci dan Ji-moi juga melepaskan pukulan Mo-seng-ciang hingga lawan terbanting mandi darah, terlempar seperti daun kering yang dihempas badai.

Ketika kelima kakek dan nenek iblis itu membantu Togur mencari San-ciangkun, mereka sempat dikepung ratusan orang di dekat pintu gerbang. "Heh, jangan menghalang-halangi. Mundur!" teriak Cam-kong yang meluncur dari menara tinggi. Di bawah, dua ratus prajurit dan perwira menyambut kakek itu dengan hujan panah dan tombak. Namun, serangan itu terpental saat mengenai tubuh si kakek. Cam-kong kemudian menghadapi sembilan belas perwira muda bawahan San-ciangkun. Dengan mudah ia menangkis dan mengelak, lalu memutar lengannya delapan kali. Orang-orang di depannya mencelat terkena pukulan berhawa panas hingga lima perwira tewas dengan wajah menghitam dan hangus.

Banjir darah terjadi di sana. Setelah musuh tersapu mundur, kakek itu mendekati pintu gerbang dan menampar palang pintu dengan ujung bajunya. "Kraakkk!" Palang itu hancur. Begitu engsel-engselnya lepas, pintu terkuak lebar dan pasukan penyerbu masuk dengan hiruk-pikuk.

"Serbu! Ha-ha, serang dan bunuh musuh!"

Pasukan San-ciangkun menjadi kalut. Mereka menghadapi tokoh-tokoh lihai yang tak tertandingi. Dari dalam, kakek dan nenek iblis mengacaukan situasi, sementara dari luar, pasukan musuh menyerbu. Ketika pasukan bangsa liar itu terus menerjang dengan ganas, banjir darah tak terhindarkan. Pasukan San-ciangkun kehilangan semangat setelah melihat nenek Naga dan kawan-kawan membantu penyerangan.

Saat pasukan kerajaan terdesak hebat, terdengar tawa menyeramkan dari arah barat. Terlihat Togur menenteng kepala San-ciangkun yang berlumuran darah. "Hei, lihat! Ha-ha! Lihat ini dan menyerahlah dengan baik. San-ciangkun, panglima kalian, telah kubunuh!"

Pasukan kerajaan menjadi gempar. Melihat kepala panglima mereka benar-benar dipenggal, sebagian prajurit yang berhati ciut segera membuang senjata. Namun, mereka yang setia kepada kerajaan tetap melakukan perlawanan. Di tengah kekacauan itu, Togur melihat seorang pemuda gagah perkasa mengamuk di barisan utara.

"Jangan takut! Mati dengan gagah jauh lebih baik daripada menjadi pengkhianat dan anjing pengekor. Ayo, ikuti aku dan bunuh lawan-lawan kita!" seru pemuda berbaju hijau itu.

Togur mengerutkan kening. Pemuda tampan berbaju hijau itu sangat lihai hingga puluhan orang roboh di tangannya. Togur hendak memerintahkan nenek Toa-ci untuk menghadapinya, namun sesosok bayangan mendahului. Siang Le, murid See-ong, memutuskan untuk turun tangan. Meski ia terpaksa ikut dalam serbuan karena hutang budi kepada gurunya, ia merasa ngeri dan benci melihat kekejaman Togur. Saat melihat pemuda berbaju biru itu akan menghadapi nenek Toa-ci, Siang Le segera mengibas nenek itu agar mundur, lalu ia sendiri yang menghadapi pemuda tersebut.

Siang Le berhadapan dengan lawannya dan menyuruhnya menyerah. Tentu saja, pemuda berbaju biru itu menolak dan langsung menyerang. Pertarungan sengit pun terjadi. Siang Le menyadari bahwa pemuda itu memiliki keberanian besar, namun kepandaiannya belum cukup untuk menandingi tokoh-tokoh aliran hitam tersebut, karena setiap kali Siang Le menangkis, pedang di tangan pemuda itu selalu terpental hingga hampir terlepas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment