Halo!

Istana Hantu - Chapter 16

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 16

"Lihat, ini hasil peninggalan Raja Beng, Siang Le. Seluruh penghuni istana ini adalah orang yang benar-benar memanfaatkan hidup!"

"Memanfaatkan bagaimana?" Muridnya mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Suhu?"

"Bodoh! Yang kumaksud adalah kesenangan yang mereka peroleh, Siang Le. Raja Beng dan putra-putranya adalah orang-orang yang pintar. Mereka pandai merayu wanita dan seluruh penghuninya mabuk dalam cinta. Lihat, ini juga perwujudan cinta, muridku. Kau harus meniru raja itu yang bergelimang dalam berahi. Banyak bermain perempuan membuat lelaki awet muda, ha-ha!" Kakek itu kembali meremas dada patung sambil terbahak, sementara muridnya tetap mengerutkan kening. Tampaknya Siang Le tidak setuju karena tiba-tiba pemuda itu menggeleng.

Ketika gurunya terbelalak dan menghentikan tawanya, pemuda ini berkata, "Tidak, aku tidak setuju, Suhu. Cinta yang kau katakan itu bukan cinta. Berahi bukanlah cinta, berahi hanyalah nafsu!"

"Heh, dari mana kau mendapatkan kepintaran seperti ini? Cinta dan berahi tidak ada bedanya, anak bodoh. Cinta adalah sekaligus berahi. Tanpa berahi tidak ada cinta. Kau ngawur!"

"Tidak, Suhu, kau yang ngawur. Pandanganmu yang keliru. Berahi tidak ada hubungannya dengan cinta. Berahi adalah nafsu, dan mengumbar nafsu tidak akan membuat orang awet muda!"

"Ha-ha, kau selalu mendebat. Kau bocah ingusan, Siang Le. Masalah ini tidak mungkin kau menang diadu dengan gurumu. Sudahlah, kita ke kanan dan cari ruangan harta!" Kakek itu tidak marah; ia menepuk bahu muridnya dan berkelebat ke kanan.

Di situ ada jalan menikung yang entah menuju ke mana. Soat Eng belum pernah ke tempat itu karena istana ini memang luas; sehari berjalan-jalan di sana barangkali belum cukup untuk menjelajahi semuanya. Saat kakek itu lenyap dan Siang Le mengikutinya, Soat Eng memuji pemuda tersebut dengan rasa kagum.

"Aneh, See-ong tampaknya manusia sesat, tapi muridnya itu orang baik-baik! Eh, bagaimana pendapatmu, Liong-ko? Apakah berbeda?"

"Hm, pemuda ini menarik, Eng-moi. Tampaknya memang begitu. Kau tertarik?"

"Hm," wajah Soat Eng memerah. "Apa maksudmu, Liong-ko? Tertarik bagaimana?"

"Eh, jangan salah paham. Maksudku, pemuda ini rupanya dapat dijadikan sahabat. Dia tampaknya pemuda baik-baik, terbukti beberapa kali kata-katanya selalu bijak dan mengandung kebenaran. Bagaimana menurut perhatianmu, Eng-moi?"

"Aku merasa simpatik, tapi sayang dia murid See-ong!"

"Dan kelihaiannya itu, hm... apakah kau tidak ingin mencobanya, Eng-moi? Bagaimana kalau kita serang mereka?"

"Terserah kau, aku hanya menurut, Liong-ko. Apa yang menurutmu baik akan kulakukan juga. Tapi menyerang tanpa alasan agaknya kurang enak!"

"Benar, kalau begitu kita ikuti mereka lagi, Eng-moi. Ayo ke sana dan lihat apa yang ditemukan kakek itu!"

Thai Liong berkelebat, merangkul adiknya lagi, dan mereka berdua kembali mengikuti guru serta murid itu. Selama ini See-ong tidak menyadari kehadiran mereka karena mereka amat hati-hati, menjaga jarak, dan selalu menahan napas jika berada terlalu dekat. Orang seperti See-ong dikhawatirkan dapat mendengar gerakan bahkan napas mereka sekalipun jika tidak waspada.

Ketika keduanya bergerak mengikuti kembali, ternyata See-ong sudah berada di ruangan indah yang bertaburkan permata.

"Ha-ha, ini ruang harta, Siang Le. Lihat, pintu dan dinding-dinding itu pun penuh hiasan permata."

Siang Le tertegun. Thai Liong juga tertegun melihat kakek itu sudah berdiri di depan pintu indah penuh ukiran. Di atas pintu itu tertulis pemberitahuan bahwa ruangan di dalam adalah tempat penyimpanan harta. Semua dinding dan lantainya penuh emas bertaburan; agaknya harta di situ sangat berlimpah hingga kusen pintu pun dilapisi lantakan emas.

Ketika kakek itu tertawa bergelak dan membuka pintu, mendadak terdengar suara bergemuruh. Dari atas dan depan menyambar puluhan panah kecil disusul batu besar yang menimpa kepala kakek itu.

"Awas, Suhu!"

Namun See-ong tertawa bergelak. Kakek ini sudah berkali-kali menerima serangan senjata rahasia, bahkan tadi sempat terjeblos ke sumur dalam namun mampu menyelamatkan diri. Semuanya itu tidak membuatnya gentar, melainkan semakin sombong dan mengejek Raja Beng, sang penguasa istana. Begitu panah-panah kecil menyambar dan batu besar menimpanya dari atas, kakek ini membentak dan kedua tangannya bergerak ke atas.

"Dess!" Batu itu disangga. Thai Liong terbelalak karena batu segi empat yang amat besar itu mampu diterima sang kakek—ukurannya dua kali lebih besar daripada yang menimpa Siang Le di luar. Saat kakek itu terbahak sementara puluhan panah kecil runtuh setelah mengenai tubuhnya, tiba-tiba dari atas bergemuruh lagi sebuah batu hitam yang sama besarnya.

"Awas, Suhu!"

Namun See-ong kembali tertawa. Ia telah mengerahkan tenaganya untuk menerima panah yang runtuh mengenai tubuh kebalnya, dan kini ia bermaksud pamer dengan menahan batu besar tersebut. Namun begitu batu kedua meluncur dan menimpa batu pertama, kakek ini berseru tertahan karena bebannya menjadi sangat berat. Ia tidak menyangka akan ada batu kedua yang sama besarnya.

Itulah ujian berat baginya, namun kakek ini ternyata luar biasa. See-ong benar-benar hebat karena dua buah batu masih dapat disangganya. Namun, ketika ia hendak melontar dan membuang batu-batu itu, muncul batu ketiga yang seketika berdebum menimpa tumpukan batu sebelumnya.

"Aih!" Kakek itu terkejut. Jatuhnya batu ketiga benar-benar di luar dugaan. Ia mengira hanya ada satu batu sehingga berani bermain-main. Sebelum ia sempat membuang dua batu segi empat itu, batu ketiga sudah menimpa dengan tepat hingga lututnya tertekuk. Siang Le tersentak.

"Bress!" Kakek itu seolah Hercules yang sedang memamerkan otot. Seluruh saraf dan urat-uratnya menonjol. See-ong berseru keras mencoba membuang batu namun gagal, dan wajahnya pun berubah. Tiga buah batu yang bertumpuk di atas kepalanya itu beratnya tak kurang dari sepuluh ton—beban yang luar biasa bagi seorang manusia, betapa pun kuatnya.

Saat kakek itu berkutat dan batu bergerak sedikit, sekonyong-konyong lantai di bawahnya amblas. Terjebloslah kakek itu ke dalam lubang yang dalam.

"Suhu!" Siang Le terpekik. Thai Liong dan Soat Eng terbelalak; mereka ragu untuk bertindak karena See-ong adalah orang sesat. Namun begitu kakek itu terjeblos dan tiga batu menggencetnya, Siang Le membentak dan berkelebat maju. Dengan dua kakinya, ia menendang dua batu raksasa itu. Pemuda ini hebat sekali; dua buah batu berhasil didepak hingga terguling menimpa dinding.

Ketika batu ketiga meluncur ke bawah dan tinggal satu batu itu saja yang menimpa See-ong, terdengar seruan menggetarkan dari dalam lubang. Batu itu mendadak terlontar keluar, disusul oleh See-ong yang berjungkir balik keluar dari jebakan sambil memaki-maki. Batu yang dilontarkannya hancur berantakan setelah berbenturan dengan batu lain dan dinding.

"Bress!" Kejadian itu memukau Thai Liong dan adiknya. See-ong telah selamat. Siang Le menolongnya, dan kakek itu mengumpat seraya menghancurkan batu terakhir dengan tangannya karena marah. Jika tidak ada muridnya, ia pasti tewas di lubang itu.

Siang Le membersihkan baju gurunya sambil berkata, "Sudahlah, semuanya selesai, Suhu. Kau selamat. Lihatlah, harta karun yang kau cari ada di dalam!"

Kakek itu membanting kaki. Ia berhenti memaki saat melihat emas dan permata di ruangan yang pintunya telah terbuka itu. Ia tertawa dan meloncat masuk.

"Ha-ha, kau luar biasa, Raja Beng! Tanpa kepandaian tinggi dan nasib baik, tidak mudah bagi orang untuk mendapatkan harta ini. Aku beruntung, kini kau kalah dan semua kekayaanmu menjadi milikku!"

Thai Liong dan Soat Eng tertegun melihat tumpukan peti harta karun serta emas dan permata yang berceceran. Hiasan wanita mulai dari subang hingga kalung memenuhi dinding. Ruangan itu benar-benar berkilauan. Apa yang tercecer di lantai saja cukup untuk menghidupi seratus keluarga selama tujuh turunan.

Soat Eng membelalakkan mata; kekayaan itu sepuluh kali lipat lebih banyak daripada pemberian kaisar kepada ayahnya. Thai Liong pun kagum. Kekayaan Raja Beng jauh melampaui kekaisaran saat ini. See-ong tertawa sambil menciumi benda-benda itu, sementara Siang Le hanya tersenyum simpul, seolah sama sekali tidak tertarik pada kekayaan yang menyilaukan mata tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment