Halo!

Istana Hantu - Chapter 160

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 160

Setelah Siang Le berkelebatan dengan ilmu meringankan tubuhnya dan berkali-kali pemuda itu diminta membuang senjata namun tetap menolak, murid See-ong yang lihai ini akhirnya berhasil merobohkan serta mengalahkan lawannya. Ia menotok hingga pedang di tangan si pemuda berbaju biru itu terlepas.

"Baiklah, lepaskan pedangmu dan robohlah!"

*Bluk!* Pemuda itu menjerit, pedangnya terlepas. Siang Le telah mengakhiri pertandingan tersebut dengan singkat.

Ketika pasukannya bersorak dan nenek Toa-ci berkelebat untuk menghabisi pemuda itu, tiba-tiba Siang Le membentak dan menampar nenek tersebut.

"Jangan lancang!" *Dukk!*

Nenek Toa-ci yang tergetar dan terhuyung mundur tiba-tiba melengking marah kepada pemuda itu. Tidak menghiraukan kemarahan sang nenek, Siang Le segera menyambar lawannya. Pemuda berbaju biru itu tertangkap, dan Siang Le segera menyuruh pembantunya untuk mengikat pemuda tersebut lalu membawanya pergi dari area peperangan yang masih berkecamuk.

Siang Le memberi isyarat bahwa siapa pun yang mengganggu tawanannya akan berhadapan dengannya, tidak peduli meski itu nenek Toa-ci. Karena nenek itu gentar terhadap See-ong dan menghormati kakek iblis tersebut, ia hanya bisa mengumpat dan menahan kedongkolan hati. Sementara itu, Siang Le pergi ke tempat lain untuk menghadapi musuh yang masih berani melawan. Namun, jatuhnya pemuda tadi telah membuat sisa-sisa pasukan kerajaan menyerah. Mereka membuang senjata, dan hari itu kemenangan mutlak diperoleh pasukan penyerbu.

Nenek Toa-ci dan rekan-rekannya berkumpul membicarakan kemenangan itu, sekaligus mengeluhkan perbuatan Siang Le yang menghina sang nenek saat memperebutkan pemuda berbaju biru tersebut. Namun, ketika Togur tertawa dan membiarkan Siang Le menawan musuhnya, di tempat lain Siang Le telah menyelidiki dan mendapatkan keterangan bahwa pemuda berbaju biru itu adalah San Tek, putra San-ciangkun.

"Mau apa kau menangkap pemuda itu? Buat apa lagi? Bunuh dan habisi dia, Siang Le. Tak perlu ditawan!"

Gurunya, yang sejak siang tidak ikut pertempuran karena malas melihat lawan yang tidak sepadan, menegur muridnya dari barak. Kakek ini hanya makan dan minum saat orang lain bekerja keras, mendengarkan hasil peperangan dan kabar bahwa muridnya menangkap San Tek, putra panglima yang telah dibunuh Togur. See-ong memang mewakilkan tugas kepada muridnya untuk menumpas musuh selama belum ada lawan yang berat. Kakek ini tiada ubahnya raksasa yang sedang bermalas-malasan atau singa yang belum kelaparan.

Ketika Siang Le berkata bahwa musuh yang kalah tidak perlu dibunuh atau disakiti, kakek itu mendengus. "Kau berhati lemah, tak pantas menjadi pemimpin. Huh, coba bawa bocah itu dan perlihatkan ke sini!"

"Suhu mau apa?"

"Melihat macamnya, Siang Le. Bagaimana kau sampai melindunginya sedemikian rupa? Katanya kau menyerang Toa-ci saat memperebutkan pemuda itu!"

"Hm, aku memang tak suka pada nenek itu, juga Togur. Mereka terlampau ganas dan tak kenal ampun!"

"Ha-ha, aneh sekali kau ini, juga memalukan! Eh, tak pantas kau bicara seperti itu, Siang Le. Justru kau harus memuji dan mencontoh mereka. Kau murid See-ong, tokoh sesat. Jangan memalukan gurumu dengan bicara seperti itu lagi. Bawa dan suruh tawananmu itu kemari!"

Siang Le memutar tubuhnya. Ia melihat wajah gurunya yang merah meskipun tertawa; ia tahu gurunya gusar dan tidak senang melihat sikapnya. Memang sepatutnya sebagai murid See-ong, ia harus bersikap kejam dan berwatak keji seperti Toa-ci, Togur, dan lainnya. Gurunya bahkan tampak bersinar dan bangga melihat kekejaman, sayangnya bukan pada muridnya sendiri.

Melihat watak tersebut tidak ada pada Siang Le, diam-diam kakek ini kecewa, namun ada perasaan lain di hatinya. Entah mengapa, See-ong tidak puas sekaligus sayang kepada muridnya. Bantahan dan perdebatan muridnya jelas menunjukkan keberanian yang tidak perlu diragukan, bahkan mungkin setara dengan Togur. Namun, karena Siang Le tidak seganas atau sekejam yang diharapkan dari seorang murid tokoh sesat, kakek itu diam-diam gemas.

Tak lama kemudian, Siang Le muncul membawa tawanannya. "Nih," Siang Le melempar pemuda itu di depan gurunya. "Kau boleh melihat dan memeriksanya, Suhu. Tapi jangan sekali-kali mengganggu atau membunuhnya. Dia milikku, tak boleh diganggu!"

"Hm, bebaskan totokannya," kakek itu bersinar matanya. "Coba lihat seberapa keberaniannya itu, Siang Le. Kudengar dia amat gagah dan pemberani!"

Siang Le membebaskan totokan. Karena sejak tadi San Tek terus memaki dan memberontak, begitu dibebaskan, pemuda itu langsung melompat bangun. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia menerjang kalap. "Aku boleh dibunuh tapi tak boleh dihina. Mampuslah!"

Siang Le berkelit, dan dengan mudah pemuda itu terhindar. San Tek menyerang lagi membabi buta, namun tiba-tiba See-ong membentak. Kakek itu menggerakkan tangannya ke depan, dan seketika serangkum angin dahsyat menyedot pemuda itu. San Tek terkejut dan roboh di depan kakek yang kini berwajah menyeramkan seperti iblis.

"Kau di sini bukan untuk kurang ajar. Berlutut dan menyerahlah baik-baik!"

"Keparat, kau siapa? Siapa mau berlutut dan menyerah kepada musuh? Aku tak sudi memenuhi permintaanmu, kakek jahanam. Bunuh dan habisilah aku, aku tak gentar!"

"Hm, berlutut kataku."

"Tidak!"

"Kalau begitu kupatahkan kakimu!"

See-ong bergerak cepat, mengerotokkan buku jarinya, lalu menampar San Tek. Pemuda itu menjerit tinggi ketika tempurung lututnya retak. Ia terguling dan akhirnya terpaksa berlutut di depan See-ong sambil mengaduh. Siang Le terkejut dan berkelebat di depan gurunya, namun kalah cepat. Ketika gurunya tertawa bergelak dan mengibaskan lengan, Siang Le terdorong mundur.

"Minggir, aku tak membunuh tawananmu!"

Siang Le terhuyung, matanya membelalak. Ia melihat gurunya memang tidak membunuh tawanan, melainkan menciderainya. Ia hendak membantah, namun gurunya sudah mengibasnya ke pinggir. Saat See-ong menghadapi San Tek, pemuda itu tergetar oleh sorot mata lawannya yang dingin, mencorong, dan seolah menembus sumsum tulang belakangnya.

"Kau tak perlu macam-macam di sini, tak perlu sombong. Kalau kau minta mati tentu mudah, tapi muridku tidak mengizinkan. Hm, siapa namamu, anak muda? Kau bisa bicara?"

"Kau kakek jahanam keparat! Aku tak perlu menyebut namaku di depanmu!"

"Hm, jangan berlagak. Aku dapat memukul pecah mulutmu nanti!"

"Aku tak takut!"

Baru saja ucapan itu selesai, See-ong menggerakkan tangannya dan pemuda itu terpelanting. San Tek berteriak karena mulutnya pecah berdarah. See-ong benar-benar membuktikan ancamannya. Namun, ketika kakek itu terkekeh dan pemuda itu kesakitan sambil terus memaki, Siang Le berkelebat menolongnya.

"Suhu tak boleh kejam, atau aku terpaksa melawanmu!"

"Heh!" Kakek ini terbeliak. "Apa kau bilang, Siang Le? Kau mau melawan gurumu sendiri?"

"Kalau Suhu menyakiti dan sekali lagi menyiksa pemuda ini, maka aku akan terpaksa melawan dan menghadapimu. Tahanlah tanganmu atau aku akan marah!"

"Ha-ha!" See-ong tertawa bergelak. "Kenapa baru sekarang kau dapat bersikap seperti ini, Siang Le? Hah, kau mulai kurang ajar, mulai tak tahu aturan. Tapi bagus, aku senang. Itulah seharusnya yang kau perlihatkan sebagai murid See-ong!"

Kakek itu tampak berseri-seri, dan Siang Le pun sadar bahwa kata-katanya tadi justru membuat gurunya senang. Orang seperti See-ong memang aneh, dasar seorang tokoh sesat. Siang Le kemudian membangunkan pemuda itu dan berpesan agar San Tek bersikap baik kepada gurunya.

"Kau tak usah menunjukkan kesombongan di sini. Tahu dirilah. Dia adalah guruku, harap pandang mukaku kalau kau seorang pemuda baik-baik."

San Tek tertegun. Melihat dan mendengar semuanya, ia merasa heran sekaligus kagum terhadap Siang Le. Ia tak menyangkal bahwa pemuda itu lihai dan bukan tandingannya. Tiga kali ia menyerang, tiga kali pula ia dirobohkan tanpa tersiksa seperti saat dihajar kakek iblis itu. Karena Siang Le baik dan ia baru mengetahui kakek itu adalah guru Siang Le—yang jauh berbeda wataknya dengan sang murid—San Tek menahan sakit dan amarahnya saat ditanya sekali lagi oleh See-ong.

"Nah, katakan siapa namamu. Belajarlah bicara yang baik di depan orang tua."

"Aku San Tek..."

"Apa hubunganmu dengan San-ciangkun?"

"Dia ayahku..."

"Ha, bagus."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment