Chapter 161
"Dan ayahmu mampus! Hm, kau mau membalas dendam, anak muda? Kau berani menghadapi orang yang telah membunuh ayahmu si tolol itu?"
"Ayahku tak tolol, dia panglima dan pahlawan sejati!"
"Ha-ha, kalau tak tolol tentu tak mampus. Eh, jangan tersinggung kalau aku memaki ayahmu, bocah. Ayahmu memang tolol dan kau lebih tolol lagi. Tapi kau memiliki keberanian. Hm, dan aku paling suka dengan anak-anak muda yang pemberani."
Kakek itu menoleh pada muridnya, tiba-tiba menggoyangkan lengan menyuruh muridnya keluar. "Tinggalkan aku sebentar dengan anak muda ini, Siang Le. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya!"
"Suhu mau apa?" Siang Le mengerutkan kening. "Mau main gila?"
"Hm, kau terlalu curiga dan semakin kurang ajar saja! Ha-ha, tidak. Aku hendak meminjam sebentar tawananmu ini dan percayalah, dia akan kukembalikan baik-baik kepadamu, utuh!"
Siang Le ragu. Dia memandang tajam gurunya itu dengan sangsi. Gurunya ini orang aneh dan apa saja dapat dilakukannya secara tiba-tiba. Namun, ketika gurunya tertawa dan berkata bahwa dia dapat membunuh San Tek meskipun dirinya ada di situ, Siang Le menarik napas panjang dan pergi.
"Aku tak akan mengapakan bocah ini, hanya ingin berbicara sedikit. Kalau aku mau membunuh, apakah sangkamu aku tidak bisa? Biarpun kau menghalangi, tetap saja aku dapat melakukannya, Siang Le. Pergilah dan tinggalkan aku sebentar!"
Siang Le sadar. Dia melompat dan pergi meninggalkan gurunya, namun berkata bahwa ia akan meminta pertanggungjawaban gurunya kalau sampai gurunya menipu. See-ong tersenyum dan kini sudah berhadapan lagi dengan putra San-ciangkun itu; pandangan aneh terpancar di mata kakek ini. San Tek tertegun dan seolah terhisap oleh pandangan mata si kakek yang dalam, begitu menusuk dan tajam. Namun, ketika kakek itu menggapai ke arahnya dan entah bagaimana tubuhnya tiba-tiba terangkat naik dan jatuh di depan lawannya, pemuda ini terkesiap untuk kesekian kalinya.
"Aku mau bicara baik-baik padamu. Kau dengarlah!" Melihat pemuda itu meringis kesakitan karena lututnya yang retak, tiba-tiba See-ong mengusapkan telapak tangannya dan lutut San Tek sembuh, seperti sihir!
"Lihat, kesaktianku tinggi. Aku akan bersikap baik-baik kalau kau juga bersikap baik-baik. Hm, apakah kau suka mempelajari ilmu silat tinggi, bocah? Kau tak ingin memiliki kesaktian seperti yang kumiliki?"
"Apa maksudmu?" San Tek tertegun. "Aku tak mengerti dan bingung. Aku belum tahu ke mana kau akan membawa pembicaraan ini. Dan sebutkan dulu siapa kau dan muridmu itu!"
"Ha-ha, aku See-ong. Dan muridku tadi, Siang Le."
"See-ong? Kakek iblis dari Barat itu?" San Tek terkejut bukan main, terbelalak, dan tiba-tiba perasaannya terguncang. Memang dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan See-ong. Pantas begitu lihai dan kejam! Ketika kakek itu tertawa dan mengangguk, mendadak pemuda ini mengeluarkan keringat dingin, namun sekejap saja karena tiba-tiba ia tidak gentar atau takut lagi. Kepalanya ditegakkan dengan gagah!
"Hm, kau kiranya sudah mengenal aku, tapi kau tidak takut! Bagus, tahukah kau siksaan apa saja yang dapat kuberikan padamu, anak muda? Pernahkah kau digigiti ribuan semut api dengan sebuah totokan perlahan? Seperti ini?"
See-ong menggerakkan jarinya perlahan, menotok pemuda itu dan San Tek berjengit. Tepat seperti yang dikatakan si kakek, tiba-tiba saja sekujur tubuhnya seperti digigiti ribuan semut api; bukan main panas dan sakitnya, melebihi ditusuk-tusuk jarum! Namun, ketika dia menggeliat dan mendesis, melawan rasa sakit, si kakek sudah membebaskannya tapi memberi totokan lain.
"Dan ini, kau akan tertawa terbahak-bahak!"
Benar saja, San Tek tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal. Namun, ketika si kakek menghentikan totokannya dan menotok jalan-jalan darah lain, berturut-turut pemuda itu merasakan perasaan yang berlainan seperti gatal atau ingin menangis, kesetrum, dan terakhir sekali dia merasa sebelah tubuhnya mati separuh; dia roboh dan menggeliat-geliat seraya merintih kesakitan. Bagian tubuhnya yang separuh itu rasanya hilang atau buntung. Pemuda ini kaget dan membelalakkan mata, namun kaki tangannya masih utuh. Itulah akibat kesaktian See-ong yang ditunjukkan kepadanya, entah untuk maksud apa.
Ketika dia mengeluh dan melihat kakek itu menyeringai lebar lalu menghentikan perbuatannya, San Tek bertanya apa maksud kakek itu.
"Kau ingin memiliki kesaktian seperti ini? Kau tak ingin membalas dendam?"
"Maksudmu?" San Tek mengulang. "Apa yang tersembunyi di hatimu, See-ong? Katakan terus terang saja dan jangan memutar!"
"Heh-heh, bodoh dan tolol. Aku ingin mengangkatmu sebagai murid, San Tek, menggemblengmu ilmu-ilmu silat tinggi dan membuat kau ditakuti orang!"
"Apa? Menjadi muridmu? Kau hendak mengambil aku sebagai murid padahal kau sudah mempunyai murid bernama Siang Le itu?"
"Hm, aku tak puas padanya. Kau lihat sendiri muridku itu tak pantas sebagai murid See-ong!"
"Maksudmu...?"
"Siang Le terlalu lemah, tak memiliki sama sekali kekejaman layaknya murid seorang tokoh sesat. Aku mencari murid baru agar dapat memenuhi seleraku!"
"Jadi...."
"Benar. Satu saja syarat yang kuminta padamu kalau kau mau. Yakni kau harus kejam dan telengas sebagaimana layaknya murid seorang tokoh sesat! Kau mau?"
San Tek tertegun. Tiba-tiba saja dia seakan tak percaya pada kata-kata kakek ini. See-ong hendak mengambilnya sebagai murid, bukan main. Hal yang serasa mimpi dan hampir tak dapat dipercaya! Tapi ketika dia ragu dan bimbang, kakek itu bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan kedua lengannya.
"Aku memiliki sebuah ilmu dahsyat yang tidak mau dipelajari muridku itu, Hek-kwi-sut namanya. Kalau kau mau menjadi muridku maka justru ilmuku yang hebat ini hendak kuwariskan padamu. Aku tak mau ilmuku yang luar biasa ini kelak lenyap kalau aku mati. Nah, itulah ceritanya, inti persoalannya. Kalau kau mengerti sekarang juga kau jawab, tapi kalau tidak, yach... aku tak mau menemuimu lagi!"
San Tek terkejut. See-ong mendadak lenyap dan entah berada di mana. Tadi secara cepat tubuhnya sudah berganti asap hitam keabu-abuan seperti roh, hilang dan sirna dari depan matanya. Ketika dia terbelalak dan mengeluarkan seruan tertahan seperti sedang berhadapan dengan hantu atau iblis, mendadak pundaknya ditepuk orang dari belakang.
"Aku di sini!"
San Tek menoleh, tak ada siapa-siapa.
"Aku di sini, ha-ha...!" Dan ketika pemuda itu menoleh tapi tak ada lagi, maka berturut-turut See-ong telah menepuk dan mengurut tengkuk atau leher pemuda itu, terakhir memijat mata kakinya hingga pemuda ini menjerit. See-ong memperlihatkan ilmunya yang hebat itu dan tentu saja pemuda ini ngeri. Dia bukan berhadapan dengan manusia lagi melainkan dengan iblis, roh jahat!
Ketika pemuda itu pucat pasi namun akhirnya dapat mengendalikan diri, marah karena tiba-tiba merasa dipermainkan, mendadak dia membentak.
"See-ong, jangan main-main. Kalau kau main-main aku akan memakimu!"
"Ha-ha, makilah. Coba kau maki. Aku tak akan mengambilmu sebagai murid..."
"Kau kakek jahanam busuk! Kau See-ong jahanam keparat! Aku tak menjadi muridmu juga tak apa dan boleh aku mati di sini.... Dess!"
San Tek yang terpelanting oleh sebuah pukulan perlahan tiba-tiba berhenti berteriak ketika memotong ucapan kakek tadi. See-ong tertawa bergelak. Kakek itu tadi mencoba, namun si pemuda ternyata memiliki keberanian besar. Keteguhan pendirian telah diperlihatkan putra San-ciangkun itu dan mendaratlah sebuah tamparan kakek ini ke pundak lawan. San Tek terbanting dan terguling-guling dengan kaget, pucat, siap menerima kematian, tapi anehnya pukulan ke pundaknya tadi tidak sakit, biarpun tampaknya keras dan menggetarkan ruangan.
Ketika dia melompat bangun dan sudah melihat kakek itu berdiri di depannya, muncul seperti iblis, pemuda ini melongo melihat kakek itu tertawa-tawa meremas bahunya.
"Kau lulus, ujian pertama berhasil. Kau dapat menjadi muridku, namun malam nanti masih harus kau buktikan lagi!"
"Apa... apa? Kau... kau tidak marah dan membunuhku?"
"Ha-ha, keberanian dan keteguhan watakmu dapat dijadikan ukuran, San Tek. Kau berani mati dan siap menerima akibat apa pun kalau sudah bertekad akan sesuatu. Bagus, cocok sekali dengan apa yang kudengar ketika kau dalam peperangan tadi. Nah, sekarang selesai dan malam nanti kita bertemu!"
Lalu, dia berpesan agar pemuda itu tidak membicarakan hasil pembicaraan pada Siang Le. Saat Siang Le dipanggil dan ditepuk gurunya, See-ong berkata bahwa pemuda itu selesai dipinjam.
"Silakan, bawa kembali. Lihat, aku tak mengganggu seujung rambutnya dan lempar dia ke dalam kerangkengnya!"
Siang Le lega. Dia berjaga di pintu tapi tak mendengar atau melihat apa yang dilakukan suhunya. Dia berdebar dan tegang saat mendengar suara tawa gurunya yang keras, juga maki-makian San Tek yang keras. Tapi ketika selanjutnya semua pembicaraan dilakukan secara perlahan dan Siang Le tak mendengar, gurunya itu tiba-tiba memanggilnya dan menyuruhnya membawa kembali tawanan.
San Tek tak menampakkan perubahan kecuali di sinar mata pemuda itu terbayang kegembiraan. Siang Le heran dan tak mengerti, namun dia tak curiga. Siang Le tak menduga bahwa diam-diam tawanannya ini kelak menjadi sutenya, diterima dan telah menerima isyarat gurunya agar rahasia itu disembunyikan. See-ong memang tak menghendaki rencananya ini diketahui, atau pemuda itu akan dibunuh.
Ketika See-ong berbisik dalam ilmunya mengirim suara bahwa nanti malam mereka akan bertemu lagi dan meminta pemuda itu tak membicarakan apa pun yang telah mereka bicarakan, San Tek berdebar karena sesuatu yang baru akan mengubah hidupnya. Dia telah memutuskan untuk menerima tawaran kakek itu sebagai muridnya, bukan karena apa-apa, melainkan semata demi membalas dendam. Dia teringat kematian ayahnya dan mata pemuda ini berapi-api. Kepandaiannya memang terlalu rendah dan hanya dengan menjadi murid See-ong itu dia akan menjadi pandai.