Halo!

Istana Hantu - Chapter 162

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 162

Malam itu, saat pemuda tersebut dimasukkan kembali ke kerangkengnya dan dijaga oleh pasukan Siang Le, pasukan pun beristirahat karena pertempuran hari pertama telah usai.

Entah bagaimana, San Tek mendadak menguap panjang. Malam yang dingin dan suasana yang sepi membuat pemuda itu mengantuk berat. Tiga orang penjaga yang berdiri tak jauh dari kurungannya juga tiba-tiba menguap. Mereka yang tadi sempat bercakap-cakap tiba-tiba roboh. San Tek membelalakkan mata melihat kejadian itu, namun tak lama kemudian ia pun terguling.

Ada suatu pengaruh kuat yang menyerangnya, yakni rasa kantuk yang hebat. Ada perasaan ingin tidur dan melepas lelah. Sebenarnya ia tidak ingin terlelap karena sedang menunggu See-ong. Kakek itu berjanji akan menemuinya, sehingga San Tek tidak ingin tertidur. Namun, ketika kantuk itu datang begitu dahsyat dan ia tak kuasa menahannya lagi, pemuda itu roboh dan masuk ke dalam mimpi yang aneh.

Mula-mula, ia melihat sebuah bayangan hitam yang tinggi besar dan menyeramkan. Itulah See-ong, kakek yang dikenalnya. Saat ia berteriak memanggil, suaranya tak keluar. See-ong tertawa, lalu masuk ke dalam kerangkeng itu begitu saja tanpa membuka pintu, seolah menembus jeruji layaknya bayangan atau roh halus.

"Ha-ha, selamat malam, bocah. Ini aku. Ayo, kita ke hutan di luar sana!"

San Tek membelalakkan mata. Dalam mimpinya yang samar, tiba-tiba ia sudah disambar oleh si kakek. See-ong berkelebat keluar, melewati celah jeruji besi itu dengan mudah, seolah bukan makhluk berwujud. San Tek terkejut karena tubuh kakek itu yang besar bisa melewati ruji-ruji besi yang lebarnya hanya lima sentimeter.

Saat ia dibawa kabur, kakek itu menggerakkan tangan kirinya. Ketiga penjaga yang roboh tadi tersedot dan dibawa lari seperti boneka ringan. "Ha-ha, malam ini ujian kedua untukmu, San Tek. Aku ingin melihat apakah kau pantas menjadi murid kedua See-ong!"

San Tek dibawa ke hutan sementara ketiga penjaga itu diringkus dengan tangan kiri si kakek. Ia tak mengerti bagaimana kakek itu mampu membawa tiga orang bertubuh besar dengan mudah. Semuanya terasa seperti sihir; San Tek merasa melayang ke dalam mimpi yang ganjil. Ia tidak tahu apakah semua itu nyata atau hanya khayalan, yang jelas ia merasa terbang bersama kakek itu ke hutan di depan. Ketika kakek itu sampai di tujuan dan melemparkan tubuhnya ke tanah, ketiga penjaga itu pun dibuang dan terbanting di atas rumput.

"Nah, katakan, apakah kau mau menjadi muridku atau tidak!" tanya kakek itu.

San Tek masih ternganga. Ia merasa seperti sedang bermimpi. Namun, karena mengetahui See-ong adalah datuk sesat yang lihai luar biasa, ia menjatuhkan diri dan berlutut dengan girang. "Kalau kau ingin mengambil aku sebagai murid, tentu saja aku suka. Bolehkan aku memanggilmu Suhu sekarang?"

"Ha-ha, nanti dulu, San Tek. Kau telah berhasil melewati ujian pertama. Watakmu yang berani dan kekerasan hatimu sungguh tepat untuk menjadi muridku. Tapi, kau belum menunjukkan kekejaman yang pantas dimiliki oleh murid seorang tokoh sesat. Sekarang, tunjukkan padaku watakmu yang kejam agar kunilai apakah kau cukup berbobot menjadi murid See-ong!"

"Apa yang harus kulakukan?"

"Membunuh! Siksa ketiga orang ini. Bunuhlah mereka dengan cara yang paling kejam agar kutahu kau memang mampu melakukannya!"

San Tek tertegun. "Kau tak mampu?" tantang kakek itu.

"Hm!" Mata pemuda itu berkilat. "Siapa bilang? Mereka adalah musuh-musuhku, orang yang telah membunuh ayahku. Aku akan membunuh mereka kalau itu yang kau inginkan!"

"Bagus. Kalau begitu, kubangunkan mereka. Ambil pedang ini!" See-ong melemparkan sebatang pedang kepada pemuda itu, lalu menotok tubuh ketiga penjaga tersebut untuk menyadarkan mereka.

Penjaga itu terkejut dan melompat bangun. See-ong menghilang setelah menggunakan ilmu *Hek-kwi-sut*. San Tek pun terkejut melihat kakek itu lenyap seketika. Ketiga penjaga yang sadar melihat San Tek dan berteriak, "Heii, tawanan lolos! Tangkap dan robohkan dia!"

San Tek mendengus. Tubrukan ketiga orang itu berhasil ia kelit dengan mudah. Saat mereka menyerang kembali dengan senjata terhunus, San Tek menggerakkan pedangnya. *Crangg!* Tiga golok terpental. San Tek berkelebat cepat; satu tusukan mendarat di tubuh penjaga pertama hingga ia mengaduh, disusul sapuan kaki yang membuat penjaga kedua roboh. Penjaga terakhir menjerit saat jari kelingkingnya putus terkena sabetan pedang.

Dua penjaga yang belum terluka parah mencoba bangkit, namun San Tek terus mendesak. Setelah mereka terpojok, San Tek menusuk paha keduanya hingga mereka ambruk. "Aduh, ampun... ampun!"

San Tek tertawa dingin. Ia berdiri di depan mereka sambil mengayunkan pedang yang berkilat diterpa sinar bulan. Saat ia menyuruh mereka berlutut, San Tek menebas leher salah satu penjaga hingga kepalanya terpenggal. "Kalian tak dapat diberi ampun. Ini pelajaran, bertobatlah pada ayahku di akhirat!"

Kepala yang menggelinding itu membuat penjaga ketiga yang jari kelingkingnya putus berteriak ketakutan. Ia memutar tubuh dan berlari lintang-pukang memanggil bantuan. San Tek segera melompat mengejarnya. Saat musuh tak mau berhenti, San Tek melemparkan pedangnya. *Crep!* Pedang itu menancap tepat di punggung penjaga tersebut hingga ia tewas seketika.

Penjaga kedua, yang pahanya terluka, mencoba melarikan diri meski tertatih-tatih. Ia masuk ke dalam hutan yang gelap. San Tek mengejarnya, namun ia sempat kehilangan jejak karena rimbunnya pepohonan.

"Ha-ha, dia di sana!" sebuah suara tiba-tiba terdengar. Itu adalah suara See-ong.

Setiap kali penjaga itu bersembunyi, suara See-ong selalu memberi tahu lokasinya. Penjaga itu merasa seperti dikejar setan. Akhirnya, ia tak berdaya karena kedua lututnya mendadak lumpuh, membuatnya terduduk gemetaran saat San Tek menemukannya di balik semak yang lebat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment