Chapter 163
Ketika pemuda itu berkelebat dan menotok pinggangnya, laki-laki itu roboh dan meminta ampun dengan suara memelas.
"Jangan bunuh... jangan bunuh... aku ingin hidup dan ampunilah aku!" Namun, San Tek menendangnya.
Laki-laki itu tercelat dan pedang pun siap menusuk di tangannya yang bergetar. San Tek marah dan geram karena lawan tidak menuruti kata-katanya; disuruh berhenti malah lari. San Tek tidak menyadari bahwa tentu saja lawannya harus melakukan itu. Sebab, siapa yang mau terbunuh?
Namun, ketika San Tek menggeram dan hendak menusukkan pedangnya ke leher untuk menghabisi lawan, tiba-tiba See-ong muncul dan berseru. "San Tek, membunuh seperti ini bukan kejam namanya. Habis ditusuk, habis pulalah nyawa lawanmu. Tidak, berikan siksaan dulu dan perlihatkan bahwa kau suka menyiksa!"
San Tek tertegun dan membelalakkan mata. "Kau ingat kematian ayahmu, bukan? Kau tahu betapa dia dilanda ketakutan dan kengerian hebat sebelum dibunuh? Nah, lakukan itu kepada lawanmu. Dua yang lain itu sudah terlanjur dibunuh cepat, tapi yang terakhir ini biarkan menerima kengerian dulu. Siksa dan takuti jiwanya, tunjukkan bahwa kau pantas menjadi muridku atau kau tidak akan mendapat ilmu kepandaian tinggi dan tidak dapat membalas kematian ayahmu!"
San Tek menggeram. Sekonyong-konyong keberingasannya bangkit kembali, matanya berkilat-kilat, dan tampak pemuda ini jauh menjadi lebih keji daripada tadi. Ketika dia menyambar dan mengangkat tubuh lawan, lalu bertanya pada kakek itu kekejian bagaimana yang harus diperlihatkan, See-ong tertawa serak memandang dua mayat di sana.
"Banyak sekali, satu di antaranya ialah menyembelih mayat di sana itu. Ikat tawananmu ini dan perlihatkan padanya bahwa kau dapat mengganyang jantung musuhmu mentah-mentah!"
"Apa?" San Tek terkejut, ingin muntah. "Mengganyang jantung sebuah mayat?"
"Ha-ha, Hek-kwi-sut menuntut kekejaman yang lebih kejam lagi, San Tek. Kelak kau akan membunuh puluhan orang dan bersamadhi di atas tulang-tulang tengkorak lawanmu. Ini belum apa-apa. Kau harus belajar lebih kejam kalau ingin memperoleh kepandaian tinggi, atau kau tidak akan dapat membalas dendam dan seumur hidup kau menjadi pemuda lemah!"
San Tek membentak. Sambil berkilat dan menampar tawanannya itu, tiba-tiba pemuda ini mengikat sang penjaga, berkelebat, dan sudah menyambar mayat terdekat. Ketika dengan pedang pemuda ini menusuk dada mayat dan mencongkel keluar, sebuah jantung segar telah berada di tangannya. Sang tawanan terbelalak dan hampir pingsan. Dia tidak dapat berkata apa-apa kecuali mengeluarkan suara-suara takut. Rasa ngeri yang hebat memang sedang melandanya saat itu.
See-ong tertawa bergelak dan menyuruh pemuda itu menyikat makanannya, jantung segar yang masih berdenyut perlahan. Ketika San Tek membuka mulut dan mendekatkan jantung segar itu, pemuda ini sudah menggigit dan mengunyahnya seperti harimau buas mendapat kerupuk basah!
"Tidak... oh, tidak...!" Sang penjaga tidak kuat, menangis, dan menutupi mukanya, tapi See-ong tertawa bergelak di balik ilmunya. Kakek ini terbahak menyuruh San Tek mengambil lagi jantung yang lain setelah jantung pertama habis. Mulut dan hidung pemuda ini penuh darah yang amis dan menjijikkan, sungguh membuat orang ingin muntah.
Ketika San Tek mencongkel dan mengeluarkan jantung satunya lagi untuk dimakan di depan tawanannya itu, See-ong terbahak-bahak menyuruh pemuda ini untuk terakhir kalinya mengerat paha laki-laki itu dan memanggangnya untuk dijadikan sate, dimakan di depan pemiliknya!
"Baik!" San Tek sudah kehilangan kepribadiannya, menusuk dan mengerat paha orang. "Kekejaman apa pun yang kau suruh lakukan tentu kulakukan, Locianpwe. Aku akan memanggang paha orang ini dan memanggangnya di depan hidungnya!"
Namun, laki-laki itu pingsan. Begitu San Tek menusuk dan melukai pahanya, mengambil segumpal daging, laki-laki ini tidak kuat lagi. Dia sudah terlalu ngeri dan pucat melihat kekejaman yang diperlihatkan pemuda ini. San Tek seolah bukan manusia lagi, melainkan iblis yang diciptakan See-ong!
Ketika See-ong terbahak-bahak sementara San Tek menyeringai dan memanggang daging paha segar dari manusia yang masih hidup itu, pemuda ini sudah mulai dijejali sebuah kekejaman yang kelak akan membuatnya ganas dan berbahaya. See-ong menyuruh pemuda itu menghabiskan makanannya, menyadarkan, dan menyuruh tawanan lari.
Dan ketika penjaga itu sadar dan lari dengan rintihan dan rasa sakit yang ditahan-tahan, See-ong menyuruh pemuda itu mengejar dan menangkapnya kembali. "Tangkap dan kerat dagingnya sepotong lagi setiap ketemu. Bebaskan dan cari lagi sampai lawan benar-benar dapat menyembunyikan diri!"
Namun, mana mungkin laki-laki itu dapat menyelamatkan diri? Dikerat sepotong saja dia sudah mengaduh-aduh. San Tek bersikap seperti anjing pemburu terhadap tikus hutan, tertangkap sebentar lalu dilepaskan lagi. Karena tiga kali dia tertangkap—yang berarti tiga kali pula dagingnya diiris si pemuda sebagai hukuman—akhirnya tawanan ini tidak kuat lagi untuk berlari jauh. Dia roboh terjerembab, tewas oleh rasa takut dan ngeri yang amat sangat hingga saraf di otaknya pecah!
"Ha-ha, bagus, San Tek. Sekarang kau benar-benar pantas menjadi muridku. Bawa dan lempar kembali tiga penjaga ini ke kerangkengmu!"
San Tek mengusap mulutnya yang penuh minyak dan darah. Dia merasakan kegembiraan yang aneh dalam perburuan ini. Setiap menangkap dan menyiksa lawannya, seakan-akan dia dapat melampiaskan dendamnya yang membakar. Setelah penjaga itu tewas, kakek itu memerintahkan dia untuk membawa tiga mayat itu ke tempat semula. San Tek memungut dan mengikat mereka menjadi satu.
Ketika dia mulai berjalan kembali ke perbatasan, dia tidak gentar atau takut karena tahu See-ong ada di belakangnya. Kakek iblis ini tertawa bergelak dan berseri-seri melihat calon muridnya itu. Penjaga yang ada di depan tentu saja kaget dan berteriak melihat sikap yang mengerikan dari pemuda ini. Namun, sebelum mereka bergerak atau membunyikan tanda bahaya, See-ong mengangkat tangannya dan semua penjaga itu roboh—bukan tewas, melainkan pingsan karena kakek ini tidak bermaksud membunuh mereka. Mereka itu adalah anak buah muridnya dan tenaganya diperlukan. Serangan ke kota raja masih jauh dan kakek ini tidak mau merugikan Siang Le, biarpun kini sudah mendapat murid baru.
Ketika San Tek melempar tiga mayat itu ke dalam kerangkeng, tertawa, dan membalikkan badan, See-ong berkelebat dan menepuk pundaknya. "Sekarang kau resmi menjadi muridku. Marilah, pegang tanganku dan bersembunyi di balik Hek-kwi-sut!"
San Tek mengikuti. Pemuda ini memegang tangan si kakek dan tiba-tiba ubun-ubunnya ditiup. Semacam angin dingin mengusap tengkuknya pula dan mendadak dia terangkat. Ketika San Tek terkejut karena tubuhnya tiba-tiba dirasa mengecil hingga lenyap, dia sudah memasuki sebuah gulungan hitam yang muncul dari tubuh See-ong.
"Ha-ha, sekarang kau aman. Tak ada lagi yang melihatmu dan mulai hari ini juga kau belajar mewarisi kepandaianku!"
San Tek serasa dibawa ke alam gaib. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan kakek See-ong tampak begitu besar di matanya, yang kini kecil seperti sebuah boneka. Dia tidak mengerti bahwa dia telah disembunyikan kakek iblis ini ke dalam ilmu hitam, Hek-kwi-sut. Sejak saat itu, San Tek bersama gurunya; bayang-bayang dirinya sudah menjadi bayang-bayang See-ong pula.
Malam itu, ketika tiga penjaga tewas dan San Tek tidak ada di kerangkengnya, pasukan menjadi gempar. Mereka melapor pada Siang Le. Begitu Siang Le menyaksikan tiga mayat melintang tak keruan—dua di antaranya sudah tidak berjantung lagi—dia tertegun, bergidik, dan marah. Dia cepat mencari gurunya karena mengira gurunya yang melepas tawanan dan membunuhnya di lain tempat.
Namun, ketika gurunya dengan tenang berkata bahwa tawanan sama sekali tidak dibunuh, Siang Le terhenyak. "Kau tidak perlu menuduhku yang bukan-bukan. Buat apa aku membunuh bocah itu? Pergilah, tidak perlu aku berbohong di depanmu, Siang Le. Kalau aku melepas dan membunuhnya, tentu aku tidak perlu takut mengaku di depanmu!"
"Jadi siapa yang melepas? Kenapa pemuda itu pergi?"
"Heh, kenapa bertanya kepadaku, bocah? Anak itu pergi tentu karena tidak kerasan di tempat. Dan yang melepas tentu tiga pembantumu yang bodoh itu!"
"Hm, baiklah. Syukur kalau begitu, aku percaya padamu!"
Siang Le yang lega melompat pergi, tetapi tiba-tiba membuat gurunya memanggil. "He, nanti dulu. Tunggu dan sebutkan kenapa malah kebetulan!"
"Aku memang tidak berniat membunuh San Tek. Pemuda itu kelihatan sebagai pemuda baik-baik, dan aku merencanakan untuk membebaskannya beberapa hari lagi!"
Siang Le menjawab, berhenti, dan memandang gurunya itu. See-ong melebarkan mata. Dia heran bahwa diam-diam ternyata muridnya hendak melepaskan tawanan. Namun, dia tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak muridnya itu sebelum berkelebat duduk kembali.
"Baiklah, bagus kalau begitu, Siang Le. Berarti kau tidak membenci pemuda itu!"
"Kenapa harus membencinya? Dia bukan musuh dan termasuk pemuda yang gagah perkasa. Aku justru bersimpati pada nasibnya yang buruk dan menyesalkan kematian ayahnya itu!"
"Ha-ha, bagaimana kalau dia menjadi saudaramu?" See-ong tiba-tiba berkata. "Bagaimana kalau kelak kau bertemu dia lagi?"
"Saudara? Hm, tidak mungkin. Pemuda itu memusuhiku, Suhu. Aku kasihan dan simpati padanya, tapi tidak mungkin kata-katamu itu terjadi. Sudahlah, aku lega dia melarikan diri meskipun agak aneh rasanya pemuda itu dapat lolos dengan selamat!"
Siang Le pergi, berkelebat meninggalkan gurunya, dan terbahaklah See-ong mendengar jawaban muridnya itu.