Halo!

Istana Hantu - Chapter 164

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 164

Dia lalu berkemak-kemik dan muncullah San Tek di hadapannya. Pemuda itu telah mendengar kata-kata Siang Le, dan See-ong bertanya bagaimana reaksi pemuda itu. Ketika San Tek tersenyum, mengangguk, dan mengacungkan jempol, pemuda ini menyeringai.

"Suheng memang orang baik-baik. Tak kusangka kalau dia diam-diam bermaksud membebaskanku. Hm, baik benar muridmu itu, Suhu. Kau beruntung!"

"Ha-ha, beruntung hidungmu! Justru itu membuat namaku jatuh, San Tek. Menjadi murid See-ong harus ganas dan tak kenal kasihan. Sudahlah, kau kembali bersembunyi dan baik-baiklah hanya kepada Suheng-mu itu!"

Sang kakek menepuk, San Tek mengecilkan tubuhnya dan tiba-tiba lenyap di balik asap hitam di belakang punggung kakek ini. Itulah keadaan San Tek sekarang. Hari-hari selanjutnya dilalui pemuda ini di balik bayang-bayang gurunya, tersembunyi dan menjadi satu dengan badan halus kakek itu di dalam Hek-kwi-sut, sementara pasukan liar ini terus bergerak melakukan serbuan ke selatan.

Mereka akhirnya tak menghiraukan San Tek lagi, dan Siang Le diajak rekannya, Togur, menggempur serta memasuki daerah pedalaman. Di sini Siang Le harus menahan perasaannya melihat sepak terjang Togur, kekejaman, dan keganasannya ketika menghadapi musuh. Togur mendobrak pintu gerbang seperti saat menyerbu perbatasan Tembok Besar dahulu, mendaki dan naik ke atas layaknya cicak terbang. Tak ada yang mampu menghalangi pemuda itu. Ia berkelebat di dalam daerah musuh dibantu kelima gurunya.

Karena mereka adalah orang-orang hebat dan tidak ada satu pun panglima yang sanggup menahan majunya pemuda ini, satu per satu kota Cin-po dan Cin-yang direbut, bahkan akhirnya Tai-yuan juga diserbu. Kota ini sudah termasuk wilayah Shan-si dan tanpa terasa tiga provinsi sudah dikuasai pasukan Togur dan Siang Le. Hanya sebulan sejak serangan besar-besaran ini dimulai, banyak panglima atau jenderal telah dirobohkan, hingga Ho-nan menjadi provinsi keempat yang siap digempur Togur.

Pemuda ini tertawa bergelak dan selalu merayakan kemenangannya dengan pesta pora. Siang Le harus membuang muka dan menjauh jika melihat itu. Togur mempermainkan wanita-wanita rampasan, sementara pasukannya bersorak-sorai ketika tawanan dibagi-bagi seperti anak kecil mendapat kembang gula. Setiap kali Siang Le hendak memberontak atau marah-marah, gurunya muncul, berdehem, dan mengajaknya menjauh. Hanya karena gurunyalah Siang Le menahan semua perasaan yang terbakar.

Ketika rencana serbuan ke Ho-nan—yang berarti kian mendekati kota raja—diumumkan dan mendapat sorakan ramai, Togur mengutus seorang gurunya untuk menemui kaisar.

"Berikan surat ini kepada kaisar dan suruh dia menyerah baik-baik. Pasukanku tinggal seminggu lagi mencapai istana, atau kaisar akan kuturunkan dari takhtanya secara paksa. Nah, temui penguasa tolol itu, Subo. Berikan surat ini dan kembalilah dalam tiga hari!"

Ternyata Togur memerintahkan Nenek Naga. Nenek itu telah diberi sepucuk surat yang isinya pemberitahuan sekaligus ancaman bagi kaisar bahwa penyerbuan tidak dapat ditahan lagi. Pasukan kerajaan sudah porak-poranda dan kota demi kota direbut. Istana memang gelisah; tidak ada seorang pun yang tidak pucat. Para selir dan putri-putri cantik di istana rata-rata gemetar. Mereka telah mendengar kebuasan dan kebrutalan Togur, yang dalam waktu singkat dikenal sebagai pemuda mengerikan, berkepandaian tinggi, amat ganas, dan kejam.

Ketika tiga provinsi sudah direbut dan pasukan bangsa liar siap menggempur Ho-nan, yang merupakan benteng terakhir bagi istana, saat itulah Nenek Naga berangkat. Nenek ini berseri-seri dan kesukaannya yang aneh timbul. Melihat muridnya mempermainkan wanita-wanita cantik, ia pun mulai mempermainkan pemuda-pemuda tampan. Ada kebiasaan buruk baru yang mulai menghinggapi nenek ini, juga dua nenek yang lain, Toa-ci dan Ji-moi.

Setelah melihat kebrutalan perang dan kebuasan prajurit yang lahap memperebutkan tawanan wanita, Nenek Naga dan yang lain tergerak. Bangkit berahi yang terpendam, mereka yang mulanya hanya menonton kini mulai merasa tidak puas. Nenek Naga dan dua nenek yang lain mulai melakukan hal yang sama. Mereka tertawa dan membagi pemuda-pemuda tampan—hal yang mudah dilakukan karena kepandaian mereka yang tinggi. Kesenangan itu kian memuncak, tidak lagi hanya mengincar pemuda biasa, tetapi juga putra-putra pembesar atau bangsawan tinggi. Baik wanita maupun pria menjadi korban Togur dan nenek-nenek ini. Tindak-tanduk mereka kian menggila dan membuat ngeri siapa pun yang melihatnya. Togur dan guru-gurunya serasa orang-orang yang tidak waras lagi.

Namun, ketika Nenek Naga berangkat melaksanakan tugas menemui kaisar dengan tenggat waktu tiga hari, ternyata ia tidak kembali. Togur menunggu tiga hari lagi, namun Subo-nya itu tak muncul juga. Pemuda itu terkejut dan heran. Tak biasanya si nenek membangkang. Pasti ada sesuatu. Ketika ia mengutus dua Subo-nya yang lain, Toa-ci dan Ji-moi, ternyata kedua nenek itu juga tidak kembali.

Apa yang terjadi? Membelotkah nenek-nenek sakti itu? Tak mungkin. Mereka adalah nenek-nenek iblis yang sudah di bawah kekuasaan muridnya sendiri. Kehebatan dan kesaktian Togur sekarang sudah bukan tandingan mereka. Ketika Togur di sana terbelalak dan mengepalkan tinju, marah, dan siap menemui See-ong untuk membicarakan ini, di lain tempat memang terjadi sesuatu yang menimpa Nenek Naga, Toa-ci, serta Ji-moi yang sial.

Kereta berkuda itu lewat dengan tenang. Derapnya yang teratur dan iramanya yang tik-plok-tik-plok memberi kesan bahwa penumpangnya sedang melakukan perjalanan santai. Benar, itu tidak salah. Mereka terdiri dari tiga orang dewasa dan seorang anak laki-laki kecil. Anak ini, yang duduk di sebelah kusir, tampak tertawa-tawa membunyikan kelenengan. Kelenengan itu dibunyikan setiap kaki kuda berirama silih berganti, membentuk sebuah lagu yang sederhana namun enak didengar telinga. Sedap!

Anak itu tertawa-tawa dan kusir di sebelahnya, seorang laki-laki gagah berambut keemasan, tersenyum melihat ulah anak ini. Itulah Pendekar Rambut Emas bersama keluarganya. Anak laki-laki kecil itu bukan lain adalah Beng An, Kim Beng An, seorang anak laki-laki yang berani, berwatak keras, gagah, dan hebat untuk anak seusianya karena sejak kecil sudah digembleng ilmu silat oleh ayah ibunya.

Beng An telah mempelajari pukulan Tiat-lui-kang ataupun Pek-sian-ciang, juga sering berlatih dengan sebatang pit hitam seperti ayahnya. Kadang-kadang pit ini disisipkan di atas telinganya. Sepintas, ia terlihat seperti bocah tukang gambar yang siap melukis. Anak ini memang mulai gemar melukis dan agaknya bakat ayahnya menurun. Pendekar Rambut Emas, sebagaimana diketahui, adalah juga seorang ahli lukis. Dulu, lukisannya telah membuat heboh istana ketika kaisar tergila-gila pada Cao Cun, putri Wang-taijin. Karena ia seorang ahli lukis, kadang-kadang Pendekar Rambut Emas pun mempergunakan pit hitamnya itu untuk menghadapi lawan. Beng An mewarisi bakat ayahnya yang senang melukis.

Pagi itu, mereka melanjutkan perjalanan setelah menginap semalam di kampung Hok-chungcu (kepala kampung Hok). Beng An merasa gembira karena mereka melewati hutan.

"Kita menerabas di tengah-tengah saja, sekalian berburu!"

"Hush," ayahnya tersenyum. "Ransum makanan sudah cukup, Beng An. Jangan berkeliaran lagi. Tadi Hok-chungcu telah memberi kita dendeng dan roti kering."

"Ah, aku tidak bermaksud mencari makanan, Ayah, melainkan ingin melatih otot-ototku dengan bertarung melawan binatang buas. Sudah seminggu ini tubuhku kurang semangat karena tak menghadapi lawan tangguh. Aku ingin mencari harimau atau singa seperti di padang perburuan kita!"

"Ha-ha, kau ini selalu gatal. Pagi-pagi begini mana ada hewan seperti yang kau harapkan? Mereka masih tidur, Beng An, belum ada yang bangun!"

"Ah, Ayah bohong. Tak perlu membujukku. Aku tahu saat begini justru si raja rimba biasanya mencari mangsa. Ayolah, Ayah. Biarkan aku berolahraga dan mencari buruanku!"

"He, nanti dulu!" Sang ayah mencengkeram pundak putranya yang hendak keluar. "Beritahu ibumu dulu, Beng An. Jangan nyelonong dan meminta izin kepadaku seorang. Aku takut ibumu marah kalau aku memberimu izin keluyuran!"

"Ah, Ibu pasti membolehkan!"

Beng An yang tertawa berjungkir balik ke belakang, lalu menyingkap tirai kereta dan berbicara kepada ibunya. "Ibu, aku boleh main-main di hutan ini, bukan? Seminggu tubuhku sakit semua, tak bertarung dengan raja rimba. Aku ingin berolahraga dan mencari keringat!"

"Hm," Swat Lian yang tersenyum mendengar pembicaraan itu tertawa. "Permintaanmu sama dengan perintah, An-ji. Tidak boleh pun kau pasti merengek. Baiklah, tapi jangan sendiri. Suruh ayahmu berhenti dan biar Encimu, Soat Eng, menemani."

"Hore, Ibu baik sekali!"

Beng An bersorak, mencium pipi ibunya, lalu berkelebat dan berjungkir balik menemui ayahnya. "Yah, Ibu mengizinkan. Kau diminta berhenti dan aku akan main-main dengan Enci Soat Eng!"

Pendekar Rambut Emas menghentikan keretanya. Empat ekor kuda itu meringkik dan Beng An sudah meloncat turun. Bersorak dan berteriak-teriak gembira, anak laki-laki itu sudah menyambar panahnya, berkelebat, dan memasuki bagian hutan yang gelap. Di pinggangnya sudah tersisip pula sebuah pisau kecil; semuanya merupakan alat-alat berburu bagi anak laki-laki ini. Soat Eng berteriak dan membentak adiknya, lalu tanpa menunggu lebih lama, ia pun masuk dan lenyap di hutan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment