Halo!

Istana Hantu - Chapter 165

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 165

Ketika gadis itu melesat dan berjungkir balik melalui jendela kereta, ia pun sudah mengejar dan menyusul adiknya, Beng An yang nakal.

"Hei, tunggu, Beng An! Kujewer telingamu nanti. Ingat pesan Ibu bahwa kau tak boleh sendiri!"

"Ha-ha, kau lamban sekali, Enci. Menunggumu sama dengan menunggu jalannya siput. Ayolah, kejar aku dan kita dengar auman di depan itu!"

Soat Eng memaki adiknya. Memang, tiba-tiba di depan sana terdengar auman perlahan sang raja rimba. Soat Eng berkelebat menyusul adiknya. Ia melihat adiknya merunduk dan sudah bersiap dengan busur serta panah di tangan, sikapnya gagah dan tak kenal takut. Mengagumkan. Sekecil itu, ia sudah siap menghadapi bahaya dan justru menyongsongnya.

Ketika gadis itu menyambar dan menangkap lengan adiknya untuk berhati-hati, Pendekar Rambut Emas dan istrinya tersenyum saling pandang. Mereka tidak khawatir karena tahu kepandaian putra mereka, apalagi di bawah kawalan sang kakak.

"Anakmu itu gagah sekali, tak kenal takut. Hm, sungguh pemberani!"

"Ih, anak siapa? Bukankah anakmu juga? Eh, memuji anakku berarti memuji anakmu juga, Suamiku. Jangan berpura-pura!"

"Ha-ha, kau benar. Eh, aku memang keliru!"

Pendekar Rambut Emas menyambar serta memeluk istrinya, lalu mendaratkan ciuman sayang di bibir wanita itu.

"Hush, jangan di sini. Eng-ji dan An-ji ada di depan!"

"Wah, depan mana? Mereka lenyap di kejauhan sana, Isteriku. Jangan membuat aku gagal menumpahkan perasaan ini, ha-ha!"

Pendekar Rambut Emas tak memedulikan gertakan istrinya. Ia mencium lagi, yang disambut tawa dan senyum wanita cantik itu. Swat Lian menyambutnya, dan berciumanlah mereka dengan bahagia. Ah, saat-saat seperti itu serasa surga bagi mereka. Namun, ketika sang suami hendak mengajaknya ke kereta untuk memadu kasih, wanita ini menolak.

"Jangan gila, semalam sudah kuberi!"

"Ah, kurang, Lian-moi. Mana cukup? Sekali lagi baru puas, ha-ha!"

Namun, ketika Swat Lian mengelak dan mendorong suaminya, ia berkata bahwa Soat Eng dan Beng An bisa saja sewaktu-waktu kembali. Mereka tidak boleh melakukan itu dan biarlah nanti di penginapan berikutnya. Agaknya, memasuki usia empat puluhan, semangat Pendekar Rambut Emas ini bertambah. Barangkali, masa puber keduanya!

Ketika pendekar itu sadar dan mengeluh kecewa sambil melepaskan istrinya, Swat Lian membujuk agar suaminya tidak marah.

"Tempat ini terbuka, lagi pula amat terang. Percayalah, malam nanti aku melayanimu lebih dari semalam!"

"Hm-hm, sudahlah, aku tak marah. Kau benar, Lian-moi. Agaknya aku yang terlalu bersemangat. Entah jamu apa yang kau berikan padaku!"

"Ih, jamu apa? Kau sendiri yang menenggak anggur itu. Sudah kubilang agar jangan, tapi kau tak menghiraukan!"

"Ha-ha, sudahlah. Aku mengerti. Marilah kita duduk dan bersamadhi di situ sambil menunggu anak-anak!"

Pendekar Rambut Emas tertawa. Memang pagi tadi dia menenggak sesloki anggur penambah semangat dan benar saja, pagi itu ia lupa diri. Istrinya tampak begitu cantik dan bersinar-sinar. Tubuh istrinya masih padat dan entah kenapa ia selalu bergairah jika memandang tubuh istrinya ini. Swat Lian memang pandai menjaga diri. Selera suami selalu diketahuinya dengan tepat dan agaknya itulah yang selalu menimbulkan gairah di hati Pendekar Rambut Emas.

Ketika mereka duduk dan sama-sama tersenyum, geli oleh kejadian tadi, Kim-mou-eng mengajak istrinya bersila. Inilah kebiasaan yang dilakukan pendekar itu di waktu-waktu senggang. Mereka tak pernah membuang waktu dengan sia-sia; begitu kelihatan kosong, segera diisi.

Saat mereka bersila dan duduk mengatur tenaga serta pernapasan, di sana Beng An dan Soat Eng berkelebat mencari sumber suara harimau. Kakak-beradik ini mendengar suara aneh di depan. Sang raja hutan itu entah kenapa mengaum lemah; tampaknya ia sedang menghadapi sesuatu yang menyusahkan hatinya.

Beng An berkelebat, namun segera mengendap ketika auman itu terdengar lebih dekat. Ini berarti jaraknya dengan si raja hutan sudah tidak jauh lagi. Anak ini bergetar dan panah di busurnya siap dibidik. Kalau ia diserang dan belum mendapat posisi bagus, tentu ia akan melepaskan panahnya, lalu bertarung satu lawan satu; begitu biasanya.

Namun, ketika si raja hutan sudah terlihat dan Soat Eng maupun adiknya bersiap menghadapi harimau ini, mendadak kedua kakak-beradik itu tertegun.

"Dia membawa anaknya!"

Beng An mengangguk. Akhirnya mereka melihat harimau betina dan anaknya sedang bersimpuh. Rupanya, harimau betina itu terluka. Sang anak menguik-nguik dan sang induk tidak dapat bangkit berdiri. Begitu Soat Eng dan Beng An muncul, mengejutkan harimau itu, mendadak aum yang keras meluncur dari mulut si betina. Ia bangkit, namun roboh lagi, sementara si anak macan ketakutan.

Beng An dan Soat Eng yang muncul tiba-tiba membuat anak harimau itu terkejut dan menyelinap, namun celaka sekali ia tertimpa tubuh induknya yang tadi sempat bangkit namun roboh kembali!

Ketika Soat Eng terkejut dan Beng An mengeluarkan seruan kaget, mendadak anak ini berkelebat menolong si loreng cilik itu. Maksudnya hendak mengangkat tubuh si induk, tapi tentu saja harimau betina itu menyangka lain. Beng An dikira menyerangnya dan anaknya mau diganggu. Harimau itu mengaum, kedua kakinya terangkat, mencakar, dan mulutnya dibuka lebar-lebar untuk menggigit. Beng An diserang!

Tetapi, ketika anak ini berkelit dan cakaran si betina disambut busurnya, harimau itu terbanting. Beng An cepat sekali menyambar anak harimau yang tadi terjepit tubuh induknya.

"Dess!"

Harimau itu kaget. Ia mengaum dan terguling dua kali. Kini terlihatlah bahwa di belakang pantatnya menancap sebatang panah besar, juga sebuah duri atau paku menancap di telapak kaki belakang bagian kanan. Ah, itulah agaknya yang membuat si harimau tidak dapat bangkit berdiri. Ia terpanah dan terkena paku atau duri tulang.

Ketika Beng An maupun encinya melihat itu, Beng An yang sudah menyambar dan menggendong anak macan tiba-tiba digigit dan dicakar.

"Hei!" Beng An mengelak dari serangan. "Aku tidak bermaksud mencelakaimu, anak loreng. Jangan serang!"

Ketika si anak macan terkejut dan masih berusaha mencakar serta menggigitnya, apa boleh buat, Beng An melumpuhkan bagian tengkuk anak macan ini. Ia mengerahkan tenaganya dan anak macan itu pun menguik. Beng An tidak membunuhnya, ia hanya melumpuhkannya saja. Rahang anak macan itu terkatup dan tidak dapat menggigit lagi. Ketika Beng An menotok dan mengurut jalan darah di punggung si anak macan, anak macan itu pun tidak dapat mencakar lagi karena keempat kakinya sudah lunglai.

"Ha-ha, sekarang kau jinak!"

Beng An melemparkan anak macan ini dengan tidak keras. Si anak macan ketakutan; ia mau berlari, tapi keempat kakinya tidak mau digerakkan. Yang dapat ia lakukan hanya berdiri saja, tidak dapat lebih. Persis seperti boneka kaku yang hidup, yang hanya dapat menggerak-gerakkan kedua matanya seperti bola menari-nari!

Ketika Beng An tertawa dan membungkuk sambil mengusap punggungnya, anak macan ini mendengar kata-kata lembut anak laki-laki itu. "Aku tak membunuhmu, tak jadi memusuhi indukmu juga. Lihatlah dan tenang di sini karena aku tak akan apa-apakan dirimu!"

Lalu, ketika si induk mengaum marah tapi juga ketakutan melihat anaknya dibelai Beng An, Soat Eng berseru pada adiknya bahwa harimau itu terluka.

"Aku tahu, tapi biarkan aku yang melihatnya, Enci. Jangan bantu!"

Beng An yang berdiri memutar tubuh, lalu berjalan menghampiri si induk. Busur dan anak panah sudah ia sembunyikan di belakang punggung. Terkejut serta terbelalaklah harimau betina itu. Ia menggeram dan membuka mulutnya ketika Beng An semakin mendekati, mengaum dan memperlihatkan taring-taring tajamnya. Namun, Beng An tidak takut. Anak ini terus melangkah dan akhirnya berhadapan dengan harimau betina itu.

Harimau ini tidak dapat lari lagi karena luka-lukanya. Ketika Beng An menggerakkan tangan untuk digigit—hal yang mengejutkan Soat Eng—tiba-tiba tangan satunya bergerak menampar.

"Hei, jangan menyerang. Robohlah!"

Harimau itu terputar, terkena tamparan anak ini, dan selanjutnya Beng An sudah menotok bagian punggung lawannya. Berkali-kali menghadapi binatang buas akhirnya membuat anak ini hafal tempat-tempat yang melumpuhkan. Harimau itu pun jatuh berdebuk. Beng An tertawa, menggerakkan jarinya lagi, dan terkatuplah rahang binatang buas itu.

Beng An telah melumpuhkan harimau betina ini seperti melumpuhkan anaknya. Harimau itu gentar dan ketakutan, tidak dapat mengaum kecuali mengeluarkan rintihan seperti orang gemetar, mengira anak ini akan menyiksanya atau membunuhnya. Namun, ketika Beng An berlutut dan memeriksa luka di belakang, panah, dan paku tulang itu, anak ini mengangguk-angguk lalu mengambil buntalan obatnya.

"Wah, bengkak. Pantas kalau kesakitan! Eng-cici, kemarilah sebentar. Bantu aku membalut luka-luka ini!"

Soat Eng sudah berkelebat. Tadi, melihat adiknya menyodorkan lengan untuk digigit harimau, ia sudah siap untuk bergerak. Kalau adiknya sampai tergigit, tentu ia akan membunuh harimau itu, menamparnya dengan sebuah pukulan maut. Tapi, ketika adiknya ternyata hanya memperdaya si betina dan merobohkannya dengan mudah, gadis ini mengomel dan menegur adiknya.

"Beng An, lain kali jangan membuat aku terkejut. Kalau kau sembrono dan ada apa-apa, tentu Ayah dan Ibu akan memarahi aku!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment