Halo!

Istana Hantu - Chapter 166

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 166

"Ha-ha, maaf, Enci. Aku hanya menggoda betina ini. Lihat, kalau dia mau menggigit, masakah aku tak dapat melindungi diri? Jangankan taringnya, pisau ini pun tak dapat melukai aku... Srat!"

Beng An menarik serta menusukkan pisaunya ke lengan sendiri. Soat Eng tertegun dan memuji adiknya itu; kulitnya tidak terluka karena Beng An mengerahkan *sinkang*. Sekecil itu, anak laki-laki ini sudah dapat membuat tubuhnya kebal. Tentu saja taring harimau atau pisau setajam apa pun tak mungkin melukainya, kecuali jika Beng An berhadapan dengan lawan tangguh yang memiliki *sinkang* lebih kuat.

Ketika Soat Eng sadar dan tertawa sembari menepuk pundak adiknya—girang karena Beng An demikian pandai—mereka segera membalut dan menolong harimau betina itu. Mula-mula raja rimba ini memandang dengan garang dan penuh ketakutan; ia curiga dan tentu saja tidak percaya begitu saja. Beng An yang menaklukkannya dengan mudah belum membuat binatang ini memiliki rasa persahabatan. Namun, ketika panah dan paku tulang itu dicabut dan luka-lukanya diobati, serta Beng An tertawa sambil menepuk-nepuk pundaknya, mendadak si harimau merasakan bahwa ia tidak disakiti.

"Nah, sekarang beres. Kubebaskan totokanmu dan jangan menyerang!"

Aneh, harimau itu mengeluarkan suara perlahan. Ia terbebas dan tiba-tiba dapat meloncat bangun. Meskipun pincang, ia tak mendekam lumpuh lagi. Ketika Beng An tertawa dan membebaskan anak harimau yang menguik kecil, anak itu langsung melompat dan berlari ke induknya.

"Ha-ha, lucu sekali!" Beng An terbahak geli. "Anak harimau ini jadi ingin kujadikan teman, Enci. Maukah engkau memperkenankannya?"

"Kau mau memelihara kucing hutan ini?"

"Kalau kau tak melarang, Enci. Tapi, eh... jangan lari!"

Beng An terkejut melihat harimau betina dan anaknya tiba-tiba lari. Mereka meloncat cepat dan dalam sekejap melesat ke dalam hutan. Si betina mengaum perlahan, dan anaknya pun mengeluarkan suara auman yang lucu. Anak harimau itu sebesar kambing berumur tiga atau empat bulan, masih kecil tapi ternyata sudah memiliki kegesitan seperti induknya. Soat Eng tertawa geli saat adiknya berseru keras, mengejar, dan melompat berjungkir balik.

"Hei, jangan lari! Hei... heii...!"

Adiknya mengerahkan *ginkang* dengan kecepatan yang luar biasa untuk anak seukurannya. Tiba-tiba Beng An telah mendahului dan lewat di atas kepala si harimau betina. Ketika binatang itu tampak terkejut dan membalik, tahu-tahu Beng An telah duduk di atas punggungnya sambil memutar tubuh sedikit.

"Ha-ha, kau tak boleh pergi. Hayo, kembali...!"

Harimau itu terkejut dan meronta, namun Beng An mengurut punggungnya sekali lagi, persis cara melumpuhkan seekor ular. Harimau itu mengaum dan mendekam di tanah, kehilangan tenaga. Anak harimau pun terbirit-birit karena takut. Namun, Beng An sekali lagi mengeluarkan seruan keras. Ia telah menotok si betina dan kini membentak ke arah anak harimau itu, berjungkir balik, dan mendarat tepat di punggung lawannya.

Ketika harimau itu menjerit dan memutar kepalanya hendak menggigit, Beng An tertawa sambil menyodorkan lengannya. "Gigitlah... gigitlah sepuas-puasmu, ha-ha... krak-krak!"

Lengan Beng An sekeras besi. Anak harimau itu terkejut setengah mati karena tidak bisa melukai lawannya. Ia tertindih dan roboh terguling bersama Beng An. Ketika anak itu menotok dan mengurut punggungnya, anak harimau pun lumpuh dan mengaum perlahan.

Saat itu Soat Eng berkelebat. "Satu di antaranya harus dijinakkan dulu. Lepaskan yang betina itu dan kejar serta lumpuhkan setiap dia melawan!"

Beng An tertawa. Akhirnya, anak ini menjadi gembira karena mendapat mainan baru. Ia melepaskan totokan si betina. Benar saja, harimau itu lari lintang-pukang, namun Beng An mengejar lagi dan duduk di atas punggungnya. Ketika harimau itu melawan, Beng An menotoknya hingga roboh. Hal itu terjadi berulang kali. Anak harimau dijaga oleh Soat Eng yang menonton sambil tertawa-tawa. Gadis ini merasa senang mendapat tontonan menarik melihat adiknya menaklukkan harimau yang berkali-kali roboh ditunggangi.

Setelah delapan kali Beng An membebaskan serta melumpuhkan binatang itu setiap kali ia melawan, akhirnya hewan ini terengah-engah dan roboh mendekam di depan Beng An. Meskipun sudah menggigit, kaki atau tangan anak laki-laki itu sekuat baja; harimau tidak dapat melukai atau mencakar kulit pemuda cilik yang tadi sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya. Ketika harimau itu takluk dan menyerah sambil mengaum perlahan, Beng An tertawa nakal, meloncat ke atas punggungnya, lalu menyambar sebatang akar yang mirip cambuk.

"Hayo, sekarang ajak aku berkeliling di sekitar sini. Bangun!"

Harimau itu bangun. Mula-mula ia tidak mengerti dan masih mendekam, tapi ketika Beng An melecut pantatnya, binatang ini berjengit dan berdiri. Beng An segera membentak-bentaknya untuk berjalan. Mula-mula harimau itu meloncat, namun anak ini menjambak rambut kepalanya. Dengan cara itulah akhirnya anak ini melatih tunggangannya. Ketika harimau mulai mengerti dan berjalan atau berhenti sesuai perintah Beng An, anak itu pun berhasil menguasai dan menjinakkan binatang buas ini.

"Ha-ha, lihat Enci. Aku mempunyai tunggangan istimewa!"

Soat Eng tersenyum-senyum. Ia melihat bahwa adiknya berhasil menguasai harimau betina; disuruh ke mana pun ia menurut. Ini berkat kepandaian Beng An yang mampu menjinakkan binatang buas. Ketika Soat Eng berkata bahwa anak harimau masih di sana dan belum dijinakkan, Beng An tertawa dan melompat turun.

"Gampang, lebih mudah lagi. Lihat, aku pun akan menjinakkannya, Enci. Si betina akan kusuruh mengajari anaknya untuk tunduk kepadaku!"

Beng An membebaskan si loreng cilik itu. Sama seperti induknya, harimau itu meloncat ketakutan, melarikan diri, dan berlindung di dekat induknya. Namun, ketika Beng An mengejar dan menotoknya, ia berhasil menguasainya. Sang induk menggeram perlahan, mungkin memberi tahu atau memarahi anaknya agar tunduk kepada Beng An karena bocah itu adalah majikan mereka. Sejam kemudian, anak harimau itu menurut dan dapat disuruh berputar-putar ditunggangi Beng An.

"Enci, kita mempunyai sahabat dua ekor sekaligus. Hayo, kau naiki yang betina itu dan rasakan nikmatnya duduk di punggung harimau!"

Soat Eng tertawa. Melihat adiknya menundukkan harimau, ia pun ingin mencoba. Gadis itu berkelebat, melayang, dan hinggap di punggung si betina. Harimau itu terkejut, namun ketika Soat Eng mencengkeram urat punggungnya, ia merasa tergetar. Beng An berseru agar harimau itu melayani encinya sama seperti melayani dirinya. Akhirnya, Soat Eng terkekeh dibawa berputar-putar. Rupanya harimau ini merasa bahwa gadis di atas punggungnya bukanlah gadis sembarangan; ia sama lihainya dengan bocah tadi, bahkan mungkin lebih lihai.

Beng An terbahak dan melupakan niatnya berburu. Selama dua jam mereka bermain-main. Tak terasa sudah seperempat hari lamanya mereka bercanda dengan tunggangan itu. Tiba-tiba, dua bayangan berkelebat disertai bentakan—Pendekar Rambut Emas dan istrinya muncul.

"Eng-ji, An-ji, kalian tidak kenal waktu dan bergurau saja di sini? Tidak cepat kembali dan mengkhawatirkan orang tua?"

"Ah, maaf...!" Beng An mendahului turun. "Aku yang menahan Enci di sini, Ayah. Aku berhasil menjinakkan dua harimau ini. Lihat, mereka dapat kuperintah apa saja!"

Beng An tertawa tak peduli. Untungnya, Pendekar Rambut Emas dan istrinya tidak marah setelah melihat dua anak mereka baik-baik saja. Beng An menunjukkan keahliannya menyuruh harimau itu melakukan berbagai gerakan. Dua harimau yang mulai terbiasa dengan manusia itu tidak menolak kehadiran Kim-mou-eng suami-istri, apalagi setelah Beng An dan Soat Eng menenangkan mereka.

Ketika suami-istri itu tersenyum melihat tingkah laku Beng An, di luar hutan sebelah sana tiba-tiba terdengar hiruk-pikuk dan kegaduhan luar biasa. Bermacam-macam binatang buas, juga yang tidak buas seperti kuda atau rusa, berlarian panik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment