Chapter 167
Mereka itu seolah-olah dikejar sesuatu dan semuanya tampak ketakutan. Aum dan pekikan gajah pun terdengar di sana, menggetarkan hutan. Ketika semua terkejut karena hutan seolah-olah roboh oleh suara-suara dahsyat itu, dua harimau yang sudah dijinakkan pun mendadak lari dan melompat ketakutan.
"Hei!" Beng An bergerak sigap. "Jangan pergi, Siauw-houw (Harimau Kecil). Jangan takut. Ke sini!"
"Dan kau juga!" Swat Eng membentak, melihat harimau betina mengaum dan meloncat jauh. "Jangan pergi, Bi-houw (Harimau Betina). Ada aku di sini, jangan takut!"
Dua kakak-beradik itu mencengkeram dan menyambar harimau masing-masing, lalu menepuk-nepuk binatang tunggangan mereka karena kedua harimau itu ketakutan hebat. Suara-suara di luar hutan itu begitu gaduh dan memekakkan telinga seolah hutan diserang bahaya. Kim-mou-eng dan istrinya terkejut. Mereka tiba-tiba berkelebat dan melihat ratusan binatang besar-kecil berlari panik ke sana kemari, berteriak, dan mengaum. Mereka pun merasa perlu mencari tahu penyebabnya.
Ada sesuatu di luar sana yang jelas menakutkan penghuni hutan itu; sesuatu yang membuat mereka gelisah dan kalut. Ketika Kim-mou-eng berseru pada putra-putrinya agar waspada dan kembali ke kereta, ia dan istrinya berkelebat menghilang ke arah depan. Mereka menyongsong keributan itu, berkali-kali menampar atau menggerakkan tangan untuk mementalkan binatang-binatang yang panik dan nyaris menabrak mereka.
Di luar hutan terdengar sorak-sorai ratusan manusia. Kim-mou-eng tertegun melihat apa yang terjadi. Ternyata hampir lima ratus orang sedang menggebah binatang-binatang itu. Mereka memasuki hutan dengan gaduh, banyak yang melepas panah dan membunuh binatang-binatang tersebut. Ketika Kim-mou-eng melihat banyak anak-anak, kakek-kakek, dan nenek-nenek di dalam rombongan itu yang menangis atau menjerit, ia dan istrinya saling pandang dengan terkejut.
"Mereka seperti pengungsi, bukan tentara! Apa yang terjadi dan kenapa mereka memasuki hutan ini? Kenapa begitu banyak kereta dan gerobak dorong? Ah, mereka seperti orang-orang yang menghindari perang, suamiku. Orang-orang itu juga ketakutan dan panik!"
"Ya, kau benar. Mari kita lihat!"
Pendekar Rambut Emas bergerak mendahului istrinya. Ia berkelebat dan muncul di depan orang-orang itu seperti iblis. "Hei! Tunggu, Saudara-saudara. Tunggu! Berhenti dan jangan berteriak-teriak demikian gaduh!"
Ratusan orang yang membawa gerobak dan buntalan besar itu tertegun. Mereka terkejut dan berhenti karena Pendekar Rambut Emas muncul tiba-tiba. Namun, ketika rombongan terdepan sadar bahwa mereka hanya menghadapi seorang diri, mereka segera mengepung dan menodongkan senjata ke arah pendekar itu. Mereka menilai penampilan pendekar itu aneh dan ganjil karena rambutnya yang berwarna keemasan, jelas bukan orang Han.
"Kau!" seorang bertubuh tinggi besar menghardik. "Siapa dan mau apa? Kau pemilik hutan ini? Perampok?"
Kim-mou-eng tersenyum kecil dengan sabar. "Sobat, jangan buru-buru menuduh begitu. Aku bukan perampok dan bukan pemilik hutan ini. Aku orang biasa. Siapa kalian dan kenapa mengungsi besar-besaran? Tampaknya seperti dilanda perang saja!"
"Dia orang Tartar!" seseorang tiba-tiba berseru, menuding, dan memutus percakapan itu. "Jangan banyak bicara lagi kepadanya, Hok Gim. Bunuh laki-laki ini!"
Melihat Kim-mou-eng memang seorang Tartar dengan hidung mancung dan kulit agak gelap, orang-orang itu pun menerjangnya. Hok Gim si tinggi besar ikut terpengaruh dan menyerang. Namun, saat pendekar itu berkelebat, orang-orang itu terkejut karena ia telah menghilang.
"Siluman, dia tidak ada!"
"Aku di sini," Pendekar Rambut Emas muncul di luar kepungan. "Tahan dan jangan serang aku, Sobat. Aku bukan musuh."
Namun, sebelum kata-katanya usai, orang-orang itu berbalik dan kembali menerjangnya dengan marah, disusul golok dan parang yang berhamburan ke arah tubuh sang pendekar. Saat Kim-mou-eng berkelebat dan hilang lagi di tempat lain, saat itulah Swat Lian muncul.
"Berhenti, atau kalian kulempar dari sini jika berani menyerang suamiku!"
Orang-orang itu terkejut melihat wanita cantik yang wajahnya memerah karena marah itu. Swat Lian, yang merupakan wanita Han sama seperti mereka, membentak lagi, "Hujin (Nyonya), kau siapakah? Ini suamimu?"
"Benar," mata Swat Lian berkilat marah. "Ini suamiku, dan kalian buta tidak mengenal Pendekar Rambut Emas! Siapa yang ingin kuhajar dan main gila di sini?"
"Apa? Pendekar Rambut Emas? Kim-mou-eng?" Ketika Hok Gim dan kawan-kawannya mendengar nama yang tersohor di seluruh Tiong-goan itu, mereka menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun. "Maaf, ampun, Hujin. Kami tidak tahu. Kalau begitu, kau adalah putri Hu-taihiap dari Ce-bu itu!"
Beberapa orang yang mengenal ilmu silat segera gemetar di depan Swat Lian. Mereka sadar bahwa istri Pendekar Rambut Emas adalah putri Hu-taihiap, tokoh yang namanya semakin melambung setelah peristiwa Cermin Naga di Ce-bu. Karena itulah, nama Swat Lian ikut tersohor, apalagi setelah menikah dengan Kim-mou-eng.
Setelah orang-orang itu sadar dan memohon ampun, Pendekar Rambut Emas mengambil alih pembicaraan sambil menggenggam lengan istrinya dengan lembut. "Kami... kami diserang bangsa biadab dari utara. Cin-yang dan Cin-po jatuh. Kami mengungsi!"
"Hm, bangsa biadab yang mana? Dipimpin siapa?" tanya Kim-mou-eng.
Orang-orang itu ragu untuk menjawab. Mereka tahu Togur adalah murid keponakan Pendekar Rambut Emas. Ayah pemuda itu, Gurba, juga cukup terkenal sebagai suheng pendekar ini. Namun, saat mereka bimbang, Swat Lian membentak, "Kalian tidak usah takut. Katakan saja siapa pemimpin serbuan itu. Apakah Togur si bocah keparat?"
"Be... benar..." Hok Gim membenturkan dahinya. "Memang benar pemuda itu, Hujin. Dan dia dibantu See-ong. Tak ada pasukan kerajaan yang mampu menghadapi mereka, dan terakhir sekali Tai-yuan jatuh!"
"Apa?" Kim-mou-eng terkejut. "Pemuda itu sudah menguasai Provinsi Shan-si? Dan See-ong ada di sana?"
"Benar, Taihiap, begitu yang kami dengar. Pemuda itu sendiri sudah lihai, mana mungkin dilawan? Apalagi dibantu kakek iblis itu yang dapat menghilang seperti siluman!"
"Seperti Taihiap!" seseorang nyeletuk. Meski temannya membentak orang tersebut, Kim-mou-eng hanya tertawa kecut. Ia paham bahwa yang dimaksud adalah kesaktiannya, bukan sepak terjang See-ong.
Setelah menghela napas, Pendekar Rambut Emas bertanya lagi mengenai kabar yang beredar. "Mereka hendak menyerbu kota raja, membunuh kaisar. Tiga provinsi telah mereka rebut dan banyak panglima atau perwira yang mereka bantai!"
"Hm, baiklah. Terima kasih, Hok Gim. Pertemuan kita penting. Silakan melanjutkan perjalanan dan memang sebaiknya kalian tidak menghadapi pasukan penyerbu itu!"
Kim-mou-eng menarik lengan istrinya, lalu berkelebat dan menghilang dari situ. Untuk kesekian kalinya pendekar itu menunjukkan kesaktiannya, membuat orang-orang yang melihatnya tertegun. Namun, saat Hok Gim dan temannya sadar, mereka berteriak kaget.