Chapter 168
"Taihiap, tolonglah kami! Tak ada seorang pun yang dapat menghadapi musuh kecuali Anda berdua!"
"Jangan khawatir," jawab Pendekar Rambut Emas dari kejauhan. "Aku di pihak kalian, Hok Gim. Aku minta kalian menyelamatkan wanita dan anak-anak itu, tapi tolong jangan bunuh binatang-binatang di sini!"
Hok Gim dan kawan-kawannya merasa girang. Mereka mengucap terima kasih sembari teringat akan cerita orang-orang bahwa Pendekar Rambut Emas sudah berkali-kali menolong istana. Pada masa pemberontakan Gurba dan pasukannya yang berambisi menguasai Tiongkok, pendekar itu pun berpihak pada istana. Entah sudah berapa kali Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas itu menolong Kaisar beserta keluarga dan pembantunya.
Ketika orang-orang itu dengan girang menyatakan terima kasih dan membentur-benturkan dahi sebagai tanda syukur, Pendekar Rambut Emas telah terbang bersama istrinya kembali ke kereta untuk menemui anak-anak mereka.
"Togur kelewat batas, bahkan melebihi ayahnya. Keparat, bocah itu harus dihajar dan ditangkap!"
"Kau benar," Pendekar Rambut Emas mengerutkan dahi. "Bocah itu tak kenal jera. Sekarang dia malah dibantu See-ong. Celaka kalau mereka menuju kota raja!"
"Bagaimana pendapatmu? Kita labrak pemuda itu dan pasukannya?"
"Tidak, kita ke kota raja. Kita temui Han-taijin dan Kaisar!"
"Kenapa mencari mereka? Togur akan sudah maju jauh, suamiku. Keadaan bisa menjadi berbahaya!"
"Kalau kita tak membantu, memang benar. Namun, jika kita ada di sana, kita dapat mengatasi keadaan. Melabrak dan mencari pemuda itu tanpa sepengetahuan Kaisar atau Han-taijin mungkin dianggap lancang, karena kita harus meminta pasukan pula untuk menghadapi pasukan mereka."
"Kita tak perlu mencari pasukan, langsung saja tangkap pemuda itu dan See-ong!"
"Hm, kau kira mudah? Kalau mereka terdesak, tentu mereka akan mengerahkan pasukannya, seperti dulu ketika aku menghadapi pemuda itu. Togur akhirnya lari dan bersembunyi di balik ribuan orangnya, dan aku tak mungkin harus membunuh ribuan orang! Pasukan itu harus dihadapi dengan pasukan pula, dan ini bisa kita peroleh atas persetujuan Kaisar atau Han-taijin!"
Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening, teringat kejadian saat Togur berlindung di balik kelima gurunya dan ribuan prajurit. Ketika kelima gurunya lari dan berlindung di balik pasukan besar, mereka pun lolos. Kim-mou-eng tidak ingin membantai banyak orang hanya karena mereka menghalangi pengejarannya. Setelah menceritakan hal itu kepada istrinya, Swat Lian mengepalkan tinju. Nyonya itu marah dan gemas kepada pemuda putra Gurba yang mewarisi watak bapaknya, bahkan lebih menggila.
Ketika suaminya berkelebat sampai di kereta, Beng An yang menunggu bersama Soat Eng bertanya apa yang terjadi.
"Kita berbelok ke kanan, ada kekacauan."
"Kekacauan apa, Yah? Perampok? Mari hadapi saja, atau biarkan aku maju!"
"Bukan itu. Ini peperangan, perang besar. Kita harus menyelamatkan Kaisar dan para pembantunya di kota raja!"
Kim-mou-eng menceritakan secara singkat apa yang ia ketahui, lalu menyuruh istri dan anak-anaknya naik. Namun, keempat kuda itu tiba-tiba meringkik keras ketika melihat Bi-houw dan anaknya muncul, karena tadi Beng An menyembunyikan dua harimau itu di belakang kereta.
"Aku ingin membawa mereka. Bagaimana, Yah?"
Kim-mou-eng tertegun dan memandang istrinya. "Bagaimana pendapatmu?"
"Hm, keempat ekor kuda kita takut melihat harimau-harimau ini. Sebaiknya dilepaskan saja, nanti perjalanan terganggu!"
"Tidak, jangan, Ibu," Beng An merengek. "Aku mencintai mereka, aku menyayangi mereka. Susah payah aku menundukkan dan menjinakkan mereka, masa harus dilepas lagi? Aku ingin Bi-houw dan Siauw-houw tetap dibawa, atau aku akan menunggang mereka dan berjalan di belakang!"
"Itu akan membuat geger orang-orang! Jangan menarik perhatian dengan ulahmu, An-ji. Jangan mengacau. Aku tak suka kalau kau membuat ribut di jalan!"
"Kalau begitu, mereka bersamaku di dalam kereta sebagai penumpang. Ibu dan Ayah di depan sebagai kusir!"
"Apa? Dua binatang buas ini mau dijadikan penumpang? Kau..."
"Sudahlah," Kim-mou-eng tertawa melihat kenakalan sekaligus kasih sayang putranya. "Kukira tak apa memenuhi permintaan An-ji. Kita berdua di depan, Beng An dan Eng-ji di dalam bersama harimau-harimau mereka. Anak kita benar, dia sudah bersusah payah menjinakkan harimau itu."
"Huh, aku kalah. Baiklah, kau boleh bersama harimau-harimaumu, Beng An. Tapi jaga jangan sampai lepas. Kalau mereka membuat ribut, kau harus tunduk pada ibumu dan tak usah membawa harimau itu lagi!"
Beng An tertawa, mencium ibunya, dan mengucap terima kasih. Ketika Soat Eng juga merasa lega karena ibunya mengizinkan, dua harimau itu segera disuruh naik.
"Ayo, jangan menakut-nakuti kuda. Naik!"
Bi-houw dan anaknya melompat masuk. Mereka sangat jinak dan paham akan perintah anak itu, lalu duduk mendekam dengan santai. Ketika Kim-mou-eng meloncat ke depan dan mengajak istrinya yang masih cemberut, kereta pun mulai berjalan. Kuda sempat meringkik ketakutan, tetapi setelah harimau itu masuk ke dalam kereta dan tidak terlihat, kuda-kuda itu pun tenang. Kim-mou-eng mengarahkan kereta menuju kota raja dengan jalan memutar dari arah barat ke selatan, berbeda dengan Togur yang menyerbu dari utara.
Beberapa hari kemudian, mereka sampai di kota raja. Kedatangan pendekar itu disambut gembira, bahkan disambut sorak-sorai. Kim-taijin dan Han-taijin yang mendengar kedatangan pendekar itu bergegas menyambut di gerbang kota raja dengan menunggang kuda.
"Kim-taihiap... Kim-hujin...!"
Kim-mou-eng tersenyum saat dua pembesar itu turun dari kereta dengan mata berkaca-kaca. Ketika Kim-mou-eng menjura, dua pembesar itu buru-buru membalas hormat.
"Ah, selamat datang! Kau pasti kemari karena mendengar serbuan musuh yang besar-besaran. Terima kasih, Taihiap. Kami tak bisa mengutus orang untuk meminta bantuanmu ke utara karena jalan ke sana tertutup!"
"Aku tahu. Tak usah khawatir, kami datang untuk membantumu, Taijin, serta berunding mengenai cara menolong."
"Heii...!" suara anak kecil tiba-tiba berteriak. "Apakah kami harus tetap di sini, Ayah? Dikurung dan tidak boleh keluar?"
"Siapa itu? Putra Taihiap?" tanya Kim-taijin terkejut.
"Beng An, dia memang anakku," jawab Kim-mou-eng.
Namun, ketika seekor anak harimau tiba-tiba meloncat keluar dari kereta, disusul oleh Bi-houw, Kim-taijin dan para pengawal menjerit ketakutan dan mundur menjauh. Dua harimau itu menggeram karena mengira Beng An dikepung musuh.
Setelah Beng An membentak harimau-harimaunya agar diam, disusul Soat Eng yang ikut membentak, Swat Lian tampak merah mukanya sementara suaminya tertawa lebar.
"Beng An, kembali ke tempatmu. Jangan membuat panik!" tegur sang Ayah.
"Tapi kami pegal-pegal, tiga hari di dalam kereta! Aku ingin berjalan-jalan bersama Siauw-houw mencari angin!"
"Jangan membantah!" hardik sang Ibu. "Kembali ke tempatmu atau harimau-harimau itu kutendang!"
"Baiklah... baiklah," Beng An menjulurkan lidah dengan lucu. "Aku kembali ke dalam, Ibu. Tapi berjanjilah nanti aku boleh melemaskan punggung dengan dua harimauku!"
Semua orang tertawa, merasa lega sekaligus geli melihat anak laki-laki itu. Mereka geleng-geleng kepala karena Beng An membawa harimau. Namun, karena ia adalah putra Pendekar Rambut Emas yang kesaktiannya sudah diakui, mereka tidak lagi merasa heran. Soat Eng kemudian ditegur ibunya karena membiarkan adiknya keluar, namun gadis itu menjelaskan bahwa Beng An tadi nyelonong keluar tanpa izin, diikuti oleh Siauw-houw yang sudah akrab dengannya.