Halo!

Istana Hantu - Chapter 169

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 169

Siauw-houw, si harimau cilik, tampak cocok sekali menjadi teman sepermainan Beng An yang juga masih bocah. Ketika Soat Eng diminta menjaga adiknya agar tidak membuat onar, kedua pembesar itu menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.

"Bukan main, bukan main. Anak naga memang lahir dari seekor naga pula. Ah, anakmu itu mengagumkan sekali, Taihiap. Dan itu tadi puterimu, Kim-siocia? Wah, dia sudah dewasa dan cantik!"

"Tapi Kim-kongcu tak kelihatan. Apakah tidak bersama Taihiap?"

"Hm, kami sebetulnya mencari anak kami itu, Thai Liong. Namun, setelah mendengar berita peperangan, kami segera kemari. Apakah Taijin tidak melihatnya datang ke sini?"

"Tidak. Ah, maaf, Taihiap. Mari kita ke istana dan di sana kita bercakap-cakap!"

Kim-taijin tiba-tiba melihat kerutan di wajah Pendekar Rambut Emas itu. Ia menyadari bahwa sang pendekar sedang murung karena mencari putranya, Thai Liong, yang memang belum terdengar kabar kedatangannya ke ibu kota.

Ketika semua kembali naik ke kereta menuju istana, iring-iringan itu bertambah panjang. Rakyat di sekitar tiba-tiba ribut dan menyambut dengan gembira kedatangan Pendekar Rambut Emas yang namanya cepat tersiar dari mulut ke mulut. Setibanya di istana, ternyata Kaisar sudah menunggu di halaman dan menyambut di anak tangga terbawah.

Kim-mou-eng terkejut. Ini adalah penghormatan luar biasa baginya. Ia dan istrinya segera turun dari kereta, sementara Kim-taijin dan yang lainnya sudah berlutut. Namun, saat Kim-mou-eng hendak berlutut dan merendahkan diri, Kaisar tersenyum dan menyentuh pundaknya.

"Kau pun pemimpin suku bangsa; biarlah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Selamat datang, Kim-taihiap. Selamat bertemu kembali. Dan selamat untuk Kim-hujin pula!"

Wajah Swat Lian memerah karena bangga. Sebagai wanita Han, seharusnya ia berlutut di depan Kaisar sesuai adat istiadat. Namun, karena ia adalah istri Pendekar Rambut Emas sekaligus ratu bagi suku bangsa suaminya di utara, ia tidak perlu terlalu merendah. Sikapnya tadi hanyalah bentuk tata tertib. Kaisar justru menolak jika ia berlutut dan memintanya bersikap seperti suaminya: berdiri dan melipat tubuh dalam-dalam untuk memberi hormat. Kaisar diam-diam kagum melihat nyonya ini masih tampak cantik dan gagah, dengan mata bersinar bak harimau betina yang siap menerjang siapa saja yang berani mengganggu. Hari itu, Kim-mou-eng disambut hangat di istana.

Suami istri itu dibawa masuk melewati anak tangga bertingkat yang cukup tinggi. Semua orang berlutut selama Kaisar masih terlihat. Namun, begitu Kaisar lenyap ke dalam istana, diikuti oleh Kim-taijin dan Han-taijin, Beng An yang disuruh encinya berlutut di dalam kereta malah menjengking dan mengomel karena tidak bisa melihat wajah Kaisar.

"Ssst, jangan ribut. Ini peraturan. Ayah dan Ibu akan mendampratmu jika dianggap tidak tahu sopan santun! Ayo, jangan membuat malu. Kau adalah putra Pendekar Rambut Emas yang harus mengerti adat!"

"Wah, dan kau sendiri?" tanya Beng An. "Kenapa tidak berlutut dan menjalankan adat, Enci? Kau tidak adil, menyuruhku menjengking tapi kau sendiri tidak!"

"Hush!" Soat Eng hampir tertawa. "Aku melatihmu untuk menghormat Kaisar, Beng An, sekaligus menjaga kalau-kalau dua harimau ini meloncat keluar. Sudahlah, berlutut saja, nanti kalau selesai kuberitahu!"

Penghormatan pun selesai. Kaisar telah masuk ke dalam, dan Beng An bertanya bagaimana mereka selanjutnya. Mereka tidak mungkin ikut Ayah atau Ibu yang sedang disambut Kaisar. Namun, encinya yang tersenyum segera meloncat keluar kereta dan meminta pengawal Han-taijin agar kereta diistirahatkan di tempat yang semestinya.

"Kau di dalam dulu, aku membantu Tek-ciangkun ini memarkir kereta."

Beng An mengomel. Encinya mengancam agar ia tidak membantah, sehingga Beng An terpaksa menurut. Namun, diam-diam ia menguak tirai kereta. Ia belum pernah melihat kebesaran dan kemegahan istana, dan kini saatnya. Ia mendecak kagum melihat istana yang terdiri dari banyak bangunan besar, luas, dengan gedung-gedung dan taman-taman yang indah.

Sementara itu, kereta dibawa ke samping istana untuk diparkir. Beng An mendengar encinya berbincang dan mengetahui bahwa mereka diminta Kim-taijin untuk beristirahat di sebuah gedung di sebelah timur istana. Kim-mou-eng dan keluarganya mendapat tempat di sana, tidak jauh dari pusat istana, agar pendekar itu bisa melindungi Kaisar jika terjadi sesuatu.

Ketika kereta berhenti dan Beng An meloncat keluar, Bi-houw dan Siauw-houw pun ikut keluar. Tek-ciangkun bersiap dengan waspada.

"Jangan takut, tidak akan menggigit. Biarkan kami sendiri, Ciangkun. Terima kasih atas semua bantuanmu."

"Maaf, tugasku selesai, Siocia. Namun, jika Siocia memiliki keperluan, dapat memanggilku di pos penjagaan itu. Selamat beristirahat!"

Perwira berusia empat puluh tujuh tahun itu memberi hormat. Ia kagum dan tidak berani main-main dengan gadis itu yang jelas lihai dan memiliki sinar mata penuh tenaga sakti. Setelah perwira itu pergi, Beng An bertanya pada encinya apa yang harus mereka lakukan.

"Menunggu Ayah. Kita dipesan agar tidak membuat ribut atau gaduh di sini."

"Kapan Enci menerima pesannya?"

"Tadi."

"Tapi aku tak melihat Ayah menghampirimu!"

"Hm, Ayah mengirim pesan lewat ilmu *coanbit*, Beng An, tentu saja kau tidak tahu!"

"Wah, benar. Coba tunjukkan padaku ilmu mengirim suara itu, Enci. Biar aku lihat!"

"Hm, kau mau main-main? Baiklah, dengarlah!"

Soat Eng berkelebat lenyap di balik pohon dan tiba-tiba mengirim suaranya dari jauh. Ia meminta adiknya menjaga harimau dan anaknya. Beng An tertawa karena suara encinya terdengar jelas di telinganya, namun sayup terbawa angin bagi orang lain. Beng An ingin membuktikan apakah orang lain benar-benar tidak mendengar suara encinya, maka ia tiba-tiba memanggil Tek-ciangkun.

"Hei...!"

Tek-ciangkun terkejut. "Ke sini sebentar, Ciangkun. Aku ada perlu!"

"Eh," tanya encinya, "Kau mau apa, Beng An? Kenapa memanggil Tek-ciangkun?"

"Ha-ha, aku ingin tahu apakah *coanbit*-mu benar-benar tidak didengar orang lain, Enci. Biar puas hatiku!"

"Kau gila!"

Namun, Tek-ciangkun sudah berlari menghampiri dan bertanya apa yang diinginkan Beng An.

"Ha-ha, dengarlah. Apa kata-kata enciku!"

"Di mana encimu? Di mana Kim-siocia?" Tek-ciangkun celingukan. Ia heran dan tidak mengerti kenapa Beng An terpingkal-pingkal. Perwira itu tidak tahu bahwa saat itu Soat Eng sedang memaki-maki adiknya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Beng An. Beng An berseru agar encinya berteriak lebih keras lagi, namun perwira itu tetap tidak mendengar apa-apa.

Ketika Beng An puas membuktikan hal tersebut, ia menepuk pundak perwira itu. "Terima kasih, aku sekarang puas. Ha-ha, terima kasih, Ciangkun. Sekarang kembalilah!"

Wajah perwira itu memerah. Ia merasa dipermainkan dan tersinggung. Namun, ketika sebuah suara terdengar—suara Soat Eng yang meminta maaf atas kelakuan adiknya dan menjelaskan bahwa adiknya hanya ingin menguji ilmu *coanbit*—perwira itu mengangguk mengerti sambil tertawa.

"Kau lihat adikku yang kurang ajar itu? Kusuruh kau menempelengnya pun tidak akan dia dengar!"

"Ha-ha," tawa perwira itu. "Begitukah, Kim-siocia? Coba kau suruh aku dan coba kutanya dia!"

"Cobalah, dekati dan tanya apa yang baru saja kukatakan padamu. Pasti dia tidak tahu!"

"Benarkah, Kim-siocia?" Perwira itu mendekati Beng An. "Kau tahu apa yang disuruh encimu kepadaku?"

"Apa?" Beng An menghentikan tawanya.

"Enciku menyuruhmu?"

"Ya, coba dengar!"

Beng An yang tidak mendengar apa pun menjadi terbelalak heran, sementara Tek-ciangkun terbahak-bahak karena Soat Eng sedang memaki-maki adiknya di telinga sang perwira. Soat Eng ingin membuktikan bahwa Beng An pun tidak akan mendengar suaranya. Setelah puas, Soat Eng berkata, "Nah, kau lihat, Ciangkun. Adikku sendiri tidak tahu kalau kumaki-maki, begitu pula kau tadi. Sekarang kembalilah dan maafkan kenakalan adikku yang suka menggoda orang!"

"Ah, tidak apa-apa!" Sang perwira tersenyum lebar. "Sekarang aku mengerti, Siocia. Terima kasih. Kalian benar-benar hebat!"

Setelah perwira itu pergi, Soat Eng muncul kembali. Beng An mendongak dan bertanya apa yang dikatakan encinya pada Tek-ciangkun. Soat Eng menjawab bahwa ia meminta maaf karena adiknya telah lancang menggoda orang tua. Namun, ketika melihat Tek-ciangkun berseru agar mereka tidak sungkan, Beng An menyadari bahwa encinya telah membalas memberikan pesan *coanbit* kepada perwira itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment