Halo!

Istana Hantu - Chapter 17

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 17

"Sudahlah, cukup, Suhu. Sekarang katakan maumu dengan semua peninggalan Istana Hantu ini."

"Ha-ha, apalagi? Kita bawa, Siang Le. Dan kita hidup seperti Raja Beng!"

"Suhu mau membawa semua harta ini?"

"Benar. Aku ingin tidur di atasnya, Siang Le. Ingin kubuat seperti kasur dan aku meram-melek di situ, ha-ha!"

"Tak mungkin," muridnya menggeleng. "Kita tak sanggup membawanya, Suhu. Lagi pula kapal kita hancur."

"Ah, dua orang tolol itu ada di sana, Siang Le. Suruh mereka membuat kapal baru dan harta ini dibawa!"

"Hmm, menurutku tak usah semua. Kau tak dapat menghabiskannya dalam tujuh turunan, Suhu. Lagi pula terlampau berat membawanya. Pikirku diambil secukupnya saja dan yang lain ditinggal."

"Heh, sekantung?" Kakek itu menggeleng. "Tidak. Semuanya, Siang Le. Aku ingin semua harta peninggalan ini kubawa. Ingat, aku hampir mampus digencet raja yang curang itu. Kalau tak ada kau di sini, barangkali Raja Beng tertawa bergelak menyambut arwahku di neraka!"

"Suhu," Siang Le mengerutkan kening. "Membawa semuanya ini berarti muatan kapal menjadi sarat, lagi pula mengundang bahaya. Apakah Suhu tak ingat kalau orang kangouw mendengar kau yang mendapatkannya, lalu berbondong-bondong merampasnya? Tidak, sekantung saja cukup, Suhu. Yang lain kita tinggal di sini, dan aku juga sekantung."

"Ha-ha, kau mau bersenang-senang?"

"Hmm, bukan untukku pribadi, Suhu, melainkan untuk fakir miskin."

"Keparat, fakir miskin bukan urusan kita, Siang Le. Tak usah beramal karena ini adalah milik kita, jerih payah kita!"

"Tidak, fakir miskin perlu kubagi, Suhu. Betapapun harta ini adalah harta temuan. Seandainya milikku sekali pun, kalau berlebihan seperti ini harus dibagikan sebagian, tak boleh tamak!"

"Eh, sejak kapan kau berpikiran tidak waras begini? Kita hidup tak usah mempedulikan orang lain, Siang Le. Mereka pun hidup tak mempedulikan kita. Jangan sok!"

"Bukan sok," pemuda itu membantah. "Ini kewajiban kita, Suhu. Bukan kita sendiri yang hidup di dunia ini. Banyak yang lain dan mereka itu menderita!"

"Hmm!" See-ong meloncat, melotot memandang muridnya itu. "Apa-apaan kau ini, Siang Le? Kau mau membantah gurumu dan selalu melawan? Aku tak mau membawa sebagian, aku ingin mengambilnya semua dan persetan orang lain!"

"Kalau begitu silakan Suhu ambil, aku tak mau membantu!" Dan Siang Le yang berkelebat keluar ruangan tiba-tiba diteriaki gurunya.

"He, nanti dulu, bocah. Tunggu!" See-ong yang marah berjungkir balik, tiba-tiba menghadang dan meluncur turun di depan muridnya. "Siang Le, kau selamanya kurang ajar. Apakah ini pembangkanganmu yang terakhir?"

Pemuda itu bersinar-sinar, berhenti dan menghadapi gurunya, gagah dan tak takut. "Suhu, dalam hal ini aku berbeda prinsip. Aku tak melawanmu kecuali berkata bahwa aku tak mau membawa harta itu, kecuali sekantung. Siapa melawan dan mau kurang ajar? Kau tetap guruku, Suhu, juga orang tuaku. Kau seperti ayah dan barangkali melebihi ayah kandung! Aku hanya tak mau membawa harta itu banyak-banyak karena aku tak suka. Aku tak ingin mengundang permusuhan dan kalau kau ngotot dengan kemauanmu, maka silakan ambil, tapi aku tak mau ikut campur!"

"Itu sama halnya melawan, anak setan. Membantah keinginanku sama halnya melawan! Aku ingin kau membantuku dan bawa semua harta ini keluar!"

"Tidak, dengan sekantung saja kau sudah dapat hidup mewah, Suhu. Aku tak suka kau tamak harta. Kalau kau memaksa dan hendak merangketku silakan, kau bunuh pun aku tetap pada pendirianku!"

"Keparat!" Dan kakek ini yang mendelik serta kalah gertak tiba-tiba tertawa, menampar muridnya itu hingga Siang Le terpelanting. See-ong geram namun tak berdaya; Siang Le adalah pemuda teguh pendirian yang akan mempertahankan pendiriannya sampai mati, biar dibunuh sekali pun.

Maka tahu watak muridnya itu dan apa boleh buat dia harus mengalah, maka See-ong menendang dan muridnya pun terbanting, tidak terluka dan Siang Le tersenyum. Pemuda itu tahu bahwa gurunya mengalah. Soat Eng dan Thai Liong yang bersembunyi merasa simpatik dan dua orang muda itu siap bergerak kalau See-ong menghajar muridnya.

Tapi ketika kakek itu tertawa dan Siang Le bangkit dengan roman muka geli, maka dua kakak beradik itu tertegun dan murid si kakek iblis ini semakin menarik perhatian mereka.

"Haram jadah!" Kakek itu memaki. "Kau selalu memenangkan perdebatan, Siang Le. Kalau bukan muridku tentu benar-benar kubunuh! Baiklah, aku mengambil sekantung dan kau sekantung!"

Thai Liong lega. See-ong tertawa setelah memaki muridnya. Siang Le masuk lagi ke ruangan itu dan mengambil buntalannya. Dan kalau See-ong tampak meraup harta peninggalan itu dengan mata bersinar-sinar tamak, maka pemuda itu tenang-tenang saja mengambil apa yang disuka, tidak banyak memilih karena apa yang diambil pemuda itu sebenarnya bukan untuk dirinya pribadi.

Soat Eng dan kakaknya telah mendengar bahwa pemuda itu akan membagi-bagi sekantung harta itu pada fakir miskin, pernyataan yang membuat dua kakak beradik itu kagum. Dan ketika semuanya selesai dan See-ong menutup buntalannya, maka kakek itu berkelebat dan berkata pada muridnya, "Tutup pintu. Lain kali kita datang lagi, Siang Le. Hayo keluar dan bawa buntalanmu!"

Pemuda itu bergerak. Mengikuti gurunya, pemuda ini sudah membawa sekantung harta Istana Hantu, tidak banyak bicara dan keluar menutup pintunya. Kini ruangan itu tak berbahaya lagi karena panah-panah beracun sudah berhamburan, tiga batu besar di atasnya juga sudah hancur semua, dan sewaktu-waktu mereka dapat mendatangi lagi tempat itu dengan mudah.

Tapi ketika See-ong berkelebat ke atas dan kakek itu naik untuk menuju ke jalan keluar, tiba-tiba kakek itu berhenti dan mendengus-dengus.

"Siluman! Kau mencium sesuatu, Siang Le?"

Pemuda itu tertegun. "Eh, kau mencium sesuatu atau tidak?"

"Hmm, ya..." Pemuda itu terkejut. "Wangi-wangian, Suhu... bau wangi-wangian...!"

"Apakah ada hantu yang belum pergi? Atau ada orang di sekitar sini?"

Thai Liong dan adiknya terkejut. Ternyata bau tubuh Soat Eng tercium; gadis itu memang memakai wangi-wangian, tidak banyak, hanya sedikit saja, tapi See-ong ternyata menciumnya. Hal itu dapat terjadi karena bau tubuh gadis ini tertinggal di belakang, hal yang dilupakan Soat Eng. Kakak beradik itu tercekat, sadar bahwa mereka kelupaan sesuatu.

Dan ketika mereka melihat See-ong membelalakkan matanya dan kakek tinggi besar itu berhenti, sepasang mata kakek itu berputar dan Thai Liong serta adiknya menarik kepala.

"Siang Le, selidiki tempat ini!"

Pemuda itu bergerak. See-ong sendiri berkelebat dan sudah menuju ruangan samping, muridnya ke kanan, dan secepat kilat Thai Liong membawa adiknya ke atas. Di sana ada belandar tebal yang dapat menyembunyikan tubuh mereka berdua. Dan ketika dua orang itu berkelebatan dan tak lama kemudian tempat mereka dijenguk Siang Le, pemuda itu tertegun dan berhenti di sini.

"Suhu, bau wangi-wangian itu berasal dari sini. Lihat!"

See-ong berkelebat. Kakek ini muncul seperti iblis, muridnya menunjuk dan hidung kakek itu mengendus. Dan ketika seperti anjing mencium tahi, hidung kakek ini kembang-kempis, maka kakek itu menggeram dan melotot ke kiri kanan.

"Keparat! Kalau begitu ada seseorang yang masuk di sini, Siang Le. Selidiki dan tangkap orang itu!"

"Nanti dulu," muridnya teringat. "Di luar menjaga dua pembantu kita, Suhu. Mana mungkin ada yang masuk? Kalau pun ada maka kita tentu mendengarnya. Di luar sana tak ada ribut-ribut, sebaiknya Suhu memeriksa ruangan hantu itu dan lihat apakah ada hantu betina yang keluyuran!"

Soat Eng mendongkol. Tanpa sengaja dia sudah dimaki sebagai hantu betina, mukanya merah dan matanya pun berapi, hampir meloncat namun kakaknya mencekal. Memang gadis ini mudah marah. Dan ketika kakaknya berbisik agar ia bersabar, See-ong tampak tertegun mendengar kata-kata muridnya.

"Begitukah?" Kening kakek ini berkerut. "Baiklah, coba kuselidiki tempat itu, Siang Le. Dan kau tetap di sini!"

See-ong lenyap, berkelebat meninggalkan muridnya dan pemuda itu sendirian berjaga. Soat Eng dan kakaknya yang baru saja meninggalkan tempat itu malah mempertebal kecurigaan guru dan murid ini. Di tempat itu bau tubuh Soat Eng tertinggal paling jelas, maklum, mereka baru saja pergi. Dan ketika tak lama kemudian See-ong muncul lagi dengan sikap uring-uringan, kakek ini berseru:

"Tak ada. Ruangan itu bersih dari hantu. Mereka masih tak berani kembali kalau aku ada di sini!"

"Hmm, kalau begitu siapa, Suhu? Memangnya siluman?"

"Tak mungkin. Ini pasti manusia, Siang Le, seorang wanita!"

"Tapi di luar tak ada ribut-ribut!"

"Sebaiknya kau periksa ke sana!"

Dan See-ong yang marah menyuruh muridnya lalu berganti menjaga di situ, menoleh ke kiri kanan dan Siang Le berkelebat. Kini pemuda itu keluar dan gurunya di dalam. Dan ketika tak lama kemudian pemuda itu muncul lagi sambil menggeleng, Siang Le berseru:

"Tidak, di luar tak ada apa-apa, Suhu. Thian Po dan Thian Cong berada di atas!"

"Kalau begitu dugaanku benar, di sini ada orang ketiga! Heh, kita putari seluruh istana ini, Siang Le. Kau ke kiri dan aku ke kanan!"

"Ah, nanti dulu!" muridnya tertegun. "Istana ini luas, Suhu. Orang itu dapat bersembunyi dan bermain petak umpet. Sebaiknya kita tunggu di luar dan berjaga di sana. Betapapun tak mungkin dia mengurung diri dan terus-terusan tinggal di sini!"

"Hmm, berapa lama?" Gurunya tak setuju. "Aku yang tak sabar, Siang Le. Sebaiknya kumaki dia dan biar keluar mendengar makian kotor!"

Dan See-ong yang mulai berteriak mengeluarkan makian kotor akhirnya berkelebat dan mengutuk serta menyumpah Soat Eng, memaki gadis itu sebagai kuntilanak hina yang busuk, atau iblis betina yang tak tahu malu. Dan ketika makian tiba pada pernyataan bahwa gadis itu pengecut dan penakut, Soat Eng tak tahan dan tiba-tiba membentak turun, mengejutkan kakaknya.

"Heh, tutup mulutmu, See-ong. Aku ada di sini!"

Soat Eng berjungkir balik, meluncur turun dengan gerakan indah dan tertegunlah dua orang guru dan murid itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment